Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
3 Kereta Malam
#11
(25-04-2014, 11:35 AM)teguh_bs2000 Wrote: Didalam kereta, rasanya sudah tidak seperti naik kereta api lagi, tapi seperti pesawat terbang, bedanya yang ini leg-roomnya jauh lebih baik.

[Image: 43ICE-Interior-4.jpg]

Kursinya enakan mana? K2 ICE (jelas2 ini K2, kalau K1 confignya 2-1) atau kursi KA Argo? Lebar kursinya selebar kursi Argo atau justru sempit?

Lightingnya enak juga yaa....... Tanpa lampu tengah, nggak ada alasan naik ICE nggak uenak sama kyk naik Turanzonk blablabla. Seat pitchnya sempit g?

Nggak bayangin kalau yang ngerawat Dipo SDT, nanti jadi apa ya........... Ngeledek Dioplos Turanzonk mungkin?

(25-04-2014, 11:35 AM)teguh_bs2000 Wrote: Dan tentu saja kecepatannya, 10 menit selepas stasiun Frankfurt kereta sudah mulai berakselerasi

[Image: 38ICE-2.jpg]

Nggak mbayangin, Kalau Gojat dari GMR/JNG 10 menit langsung ngejoss ke angka 200-300an km/h berapa jam ya nyampe CN?

(25-04-2014, 11:35 AM)teguh_bs2000 Wrote: Dengan letak stasiun yang pada umumnya di tengah kota, tidak heran jika kereta api cepat benar-benar menjadi ancaman bagi penerbangan jarak pendek di Eropa. Jarak Frankfurt – Munich sejauh 500-an km ditempuh hanya dalam waktu 3 jam. Menjelang stasiun Munich tampak gerbong-gerbong pengangkut VW dan Audi yang berderet-deret enggak habis-habis.

Jaraknya sama kyk Argo Soloensis (cmiiw) tapi........ waktu tempuhnya kayak naik Gojat........ Disana ada istilah berhenti silang dan hajar taspat g? (Setahu ane taspat disana berkisar 250-300an km/h)

Oh iya, disana pakai bogie apa? Setipe sama K9 mungkin kalau ngeliat air sampe nggak kekocok pas naik ICE? Anggrek jaman Pink under 2007 aja air full nggak sampe tumpah kok

[Image: 15620049065_16949137b2_o.jpg]
Reply
#12
(25-04-2014, 08:22 PM)LufthansaPilot Wrote:
(25-04-2014, 11:35 AM)teguh_bs2000 Wrote: Didalam kereta, rasanya sudah tidak seperti naik kereta api lagi, tapi seperti pesawat terbang, bedanya yang ini leg-roomnya jauh lebih baik.

Kursinya enakan mana? K2 ICE (jelas2 ini K2, kalau K1 confignya 2-1) atau kursi KA Argo? Lebar kursinya selebar kursi Argo atau justru sempit?

Lightingnya enak juga yaa....... Tanpa lampu tengah, nggak ada alasan naik ICE nggak uenak sama kyk naik Turanzonk blablabla. Seat pitchnya sempit g?

Nggak bayangin kalau yang ngerawat Dipo SDT, nanti jadi apa ya........... Ngeledek Dioplos Turanzonk mungkin?

(25-04-2014, 11:35 AM)teguh_bs2000 Wrote: Dan tentu saja kecepatannya, 10 menit selepas stasiun Frankfurt kereta sudah mulai berakselerasi

Nggak mbayangin, Kalau Gojat dari GMR/JNG 10 menit langsung ngejoss ke angka 200-300an km/h berapa jam ya nyampe CN?

(25-04-2014, 11:35 AM)teguh_bs2000 Wrote: Dengan letak stasiun yang pada umumnya di tengah kota, tidak heran jika kereta api cepat benar-benar menjadi ancaman bagi penerbangan jarak pendek di Eropa. Jarak Frankfurt – Munich sejauh 500-an km ditempuh hanya dalam waktu 3 jam. Menjelang stasiun Munich tampak gerbong-gerbong pengangkut VW dan Audi yang berderet-deret enggak habis-habis.

Jaraknya sama kyk Argo Soloensis (cmiiw) tapi........ waktu tempuhnya kayak naik Gojat........ Disana ada istilah berhenti silang dan hajar taspat g? (Setahu ane taspat disana berkisar 250-300an km/h)

Oh iya, disana pakai bogie apa? Setipe sama K9 mungkin kalau ngeliat air sampe nggak kekocok pas naik ICE? Anggrek jaman Pink under 2007 aja air full nggak sampe tumpah kok

Kalo nikmat kursi, sih masih nikmat kursi Muria/Bromo/Anggrek. Lebar kursinya kurang lebih sama dengan Muria atau Bromo biasa, masih lebaran Anggrek malah. Kalo empuknya terus terang empuk Muria, yang ICE busanya tipis Ngeledek. Belum lagi seatpitch, menang Muria dan Bromo jauh, disini selonjor dah mepet sama kursi depan, apalagi rekliningnya lebih jauh Muria dan Bromo, cuma kalo dilawanin sama kursi pesawat terbang ya bak bumi dan langit....

Tentang bogie, bogie-nya enggak sendiri2 per gerbong, jadi modelnya dua gerbong ditumpuk di satu bogie, mulai dari kepala sampe kepala lagi, baru kali ini liat sepur yang kepalanya ada dua....Bingung. Lagian bogie-nya ada fairingnya, jadi cuma keliatan separo rodanya, tapi kayaknya model bogie-nya Anggrek ya, gak pake per keong gitu. Apa model bogie bareng-bareng gini yang bikin kereta enggak goyang2 ya ?... terus ril-nya juga lurus, hampir gak ada belokannya, kalo disini meskipun jalur pantura kan sering tuh bisa liat lokomotif, apalagi kalo dah mau masuk Semarang, kalo yang ini gak ngerasain belok-belok gitu.

Kalo silangan, saya naik sepur 3 macem blas gak pernah gantian silangan tuh, yang ada tiap pindah Negara, jadi dari Austria - Itali dan Itali - Perancis, yang ada ganti lokomotif.

(25-04-2014, 03:49 PM)Maulana Malik Wrote: itu walaupun kelas ekonomi tapi nyaman juga yak keliatannya
buset ada kargo mobil juga yak Big Grin

Tu kargo mobil ketemunya dah mau masuk Munich, kandangnya BMW, VW dan Mercedes, nah panjang rangkaiannya duapuluh gerebong per spoor aja lewat, terus ada 4 spoor-an yang keisi rangkaian macam ini, kalo satu gerbong isinya 7 mobil (kayak truk mobil disini) dah 560 mobil tuh...Heran
Saya kan hari2 nyangkulnya di Cikarang, ngebayangin kalo aja ada kereta macam ini dari Cikarang - Priuk kayaknya tiap pulang kantor gak perlu rebutan ama trailer, truk angkut mobil dan container. Jadi selain ngimpi punya ICE juga ngimpi kapaaan ya tu container segitu banyak diangkut pake sepur...
Reply
#13
mantep trit kereta eropa-nya....
Reply
#14
Cuma 1 kalimat:
KEREN BANGET!
Hanya seorang penglaju Jakarta-Bandung
Banyak sekali kenangan manis di antara Stasiun Jatinegara - Stasiun Bandung
Reply
#15
Kurang dari 2 menit kereta Munich – Budapest via Salzburg dan Wina meninggalkan platform Munich Hbf. Setelah naik ICE, kereta Railjet ini berasa biasa saja, konvensional dengan lokomotif dan gerbong biasa. Secara seatpitch masih lega Sembrani apalagi Anggrek, cuma ini interiornya lebih terawat dan WC-nya lebih bersih.
Terus di kereta ini juga ada trolley jualan makan-minum, sama kayak di Argo juga. Jadi inget sedikit nostalgia, kayaknya sekarang di kereta dah pake trolley semua ya ?, udah enggak ada lagi yang bawa baki dengan es teh, es kopi dibawa dari restorka dari depan sampe ke belakang tanpa tumpah....Heran


[Image: 51RJ-Interior-3.jpg]

[Image: 50RJ-Interior-2.jpg]

Melalui pegunungan Alpen Jerman kereta bergerak “pelan”, relatif dibanding ICE, tapi cukup cepat, di GPS sekitar 70 – 90 km/jam. Nah disini karena jalurnya mulai berliku kadang-kadang lokomotifnya kelihatan.
Melintasi sungai Salzach yang membelah Salzburg, kereta masuk ke Stasiun Salzburg pukul 15.00, hujan deras dan cukup berangin.


[Image: 53RJ.jpg]

Saya upload foto yang ada bogie-nya. Sekilas seperti bogie-nya Anggrek, kayak pake bantalan karet gitu (di pojok kanan bawah) bedanya yang ini bantalan karet-nya satu, gede....

Disini sih yang paling populer adalah ini

[Image: 102FestungfromSalzach.jpg]

Lokasi shooting film The Sound of Music......

Esok hari, untuk berangkat ke Venice saya sudah memesan OBB Euronight jurusan Wina – Graz – Salzburg – Venice, dari Wina jam 19.00 dan sampai di Salzburg jam 01.30. Karena kami checkout dari hotel jam 19.00 kami menunggu agak lama di stasiun. Mungkin karena krisis, disini ruang tunggunya bukan penuh penumpang tapi penuh gelandangan yang memanfaatkan heater ruang tunggu, jadi akhirnya penumpang aslinya kedinginan di peron..


[Image: 113SalzburgHbf-Peron-2.jpg]

[Image: 114SalzburgHbf-Platform.jpg]

Untungnya kereta datang tepat waktu, pukul 01.15. Segera kami naik ke gerbong yang tertera di tiket dan menuju ke kabin, eh ternyata koq lampu tanda kabin occupied menyala, untungnya ada kondektur liwat, jadi kami serahkan tiket ke dia.
Setelah sejenak serius melihat tiket kita, dengan logat Jerman yang kental dan muka yang super serius sang kondektur berkata, “You make mistake, you book for 01.30 this time is 23.45”..... Lho ?, jadi bener pak kondektur, saya beli tiket 01.15 hari Senin, jika kereta berangkat 19.00 hari Senin berarti sampai di Salzburg 01.15 hari SELASA !!!!!....
gubraks...., apes lagi ni, mana di Austria pula yang katanya orangnya dingin, formal, tertib aturan...., enggak ilang di Jerman alamat ilang di Austria.
Tapi mungkin karena ngeliat muka kita berdua yang pucat, barangkali sang kondektur jatuh kasihan karena kemudian dia menambahkan sambil tersenyum, “But your ticket is for 1st class, I have second class empty”. Langsung aja saya iyain, mau second class kek, mau third class kek, mau baggage class kek yang penting sampe ke Venice.
Ternyata second class yang dia maksud adalah kelas couchette, atau sama-sama kelas tidur tapi untuk 4 orang, dan malam itu dia memberikan kabin itu untuk kami semua.

[Image: 116Couchette-Exterior-1.jpg]
Kalo yang sleeper tertutup rapat, kalo yang ini tertutup korden......

[Image: 117Couchette-Exterior-2.jpg]

[Image: 115Couchette-Interior.jpg]
Sekilas couchette ini mengingatkan saya pada gerbong Bima 20 tahun yang lalu, bedanya, kalau Bima satu kompartemen isi cuma 3 bed tumpuk tiga, yang ini satu kompartemen isi 4, kalau kerasnya kasur sih sama2 aja. Jadi kangen sama kereta malam Bima, itu ada yang ngerti enggak ya nasibnya gerbong2 kereta tidur itu ada dimana ?....

Saya sendiri yang kondisi fisiknya masih belum prima sejak kejadian di Jerman langsung tertidur pulas, meskipun kata istri menjelang pagi kereta bergoyang kiri kanan dan menanjak naik turun. Ketika saya terbangun pukul 05.30 kereta sedang dalam final leg menuruni Alpine Pass, dan sekali-sekali diselingi oleh terowongan, dan sempat berhenti agak lama di perbatasan, karena gelap jadi gak ada foto2nya...
Kami masuk ke dataran lembah Po kurang lebih pukul 6.30 ditandai dengan dataran yang sudah melandai dengan pertanian di sana-sini.

[Image: 119PoValley-Countryside.jpg]
Pukul 7.00 kami mendapatkan kejutan menyenangkan, ternyata meskipun kami naik di kelas couchette kami masih mendapatkan fasilitas kelas sleeper berupa sarapan pagi.

[Image: 118Sarapan-Couchette.jpg]
Jam seperti ini, orang-orang di kota Udine sudah mulai berangkat bekerja, modis juga ya dandanannya.... (Di Udine yang ini enggak tau sama dengan Udinese yang klub sepak bola itu atau ada kota lain yang namanya Udine...)

[Image: 120PoValley-Udine.jpg]
Kereta masuk Stasiun Mestre pukul 08.30 dan melintasi Ponte della Liberta untuk kemudian berhenti di stasiun Santa Lucia Venice pukul 08.50, tepat waktu, cuma terlambat 5 menit.
Ternyata semalam kereta ditarik oleh 2 lokomotif untuk mendaki pegunungan Alpen, dan lokomotifnya buatan Italia semua !. Jadi di perbatasan Austria – Italia, lokomotif OBB tadi diganti dengan lokomotif Trenitalia, gak Cuma satu, langsung dua....

[Image: OBB-20.jpg]
Ini tampak depannya

[Image: 123Trenitalia-Locomotive.jpg]
Ini plat nomernya, bikinan Ansaldo tahun 1995, dah 19 tahun tapi masih kuat narik ngeliwatin gunung Alpen meskipun harus gandeng2an.....

[Image: 125Trenitalia-Locomotive-MadeinItaly.jpg]
Jadi kesimpulan hari ini : orang Jerman bukannya tidak punya hati, tapi baik hati dan suka menolong, kedua ?, made in Italy bisa jauh lebih reliable daripada made in Germany, jadi bisa aja Fiat lebih reliable dari BMW.....
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)