Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Subway atau MRT buat Jakarta?
#61
brita terbaru,

http://www.beritajakarta.com/2008/id/ber...wsId=35526

Quote:Pasar Tradisional Akan Terintegrasi dengan MRT


lenny/beritajakarta.com
BERITAJAKARTA.COM — 08-10-2009 19:41
Seiring dengan rencana pembangunan mass rapid transit (MRT) di Provinsi DKI Jakarta, Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya bersama PT MRT Jakarta merencanakan akan mensinergiskan pembangunan stasiun MRT dengan pasar-pasar tradisional yang telah ada di ibu kota. Hingga kini, PD Pasar Jaya sedang menunggu disain tepat yang menyatukan stasiun dengan pasar secara langsung. Paling tidak, konsep umumnya berupa pasar itu akan dibuat seperti model pasar modern, ada hotel kecil di sekitar lokasi pasar serta akses jalan langsung menuju pasar.

Sejumlah pasar tradisional akan diintegrasikan dengan stasiun mass rapid transit (MRT) yaitu Pasar Blok A, Pasar Bendungan Hilir, Pasar Blora, Pasar Tanah Tinggi Poncol, Pasar Tanah Abang (Jakarta Pusat, Pasar Blok M (Jakarta Selatan), Pasar Glodok (Jakarta Barat), serta Pasar Palmeriam (Jakarta Timur).

Direktur Utama PD Pasar Jaya, Djangga Lubis, mengatakan seluruh pasar tradisional yang akan terintegrasi dengan stasiun MRT akan dibangun lebih bersih, rapi, dan berkesan modern. Bahkan di sekitarnya akan dibangun hotel kecil dan akses jalan langsung menuju pasar dan stasiun. Juga akan dibangun fasilitas jembatan toko dan gedung perkantoran. Untuk akses jalan ke stasiun akan lebih bagus lagi dibangun akses langsung bawah tanah dari stasiun yang tembus ke pintu pasar.

"Itu konsep sederhananya. Tetapi saat ini kami masih menunggu disain dari mereka. Kalau sudah ada, kami akan langsung bangun bersamaan dengan pengerjaan fisik MRT," kata Djangga Lubis, Kamis (8/10).

Guna penyesuaian ini, lanjut Djangga, disain bangunan delapan pasar ini akan diubah sesuai dengan bentuk fisik stasiun. Penambahan fasilitas yang masih dalam perencanaan yaitu penyatuan hotel dan perkantoran dengan pasar juga akan diakomodasikan dengan disain dasar pembangunan MRT. Dengan penyatuan ini diharapkan pasar akan lebih ramai.

Selain itu, bentuk pasar juga akan diubah menjadi disain hanggarisasi sehingga transaksi pembelian pun menjadi cepat, bersih, dan bentuk bangunan menjadi sederhana. Pihaknya juga akan menambah pasar tematik seperti pasar obat, pasar burung, pasar batu aji, pasar ikan hias, dan pasar bunga.

Karena dananya terbatas, Djangga menegaskan, peremajaan ini akan dikerjasamakan dengan pihak ketiga. "Kalau untuk peremajaan pasar dalam bentuk tematik, hanggarisasi dan terintegrasi dengan hotel dan gedung perkantoran, kita perlu menggandeng developer. Sebab mereka mempunyai dana yang cukup besar. Sedangkan kita dananya terbatas," imbuhnya. Namun untuk membangun atau merevitalisasi pasar-pasar kecil, PD Pasar Jaya akan berupaya meminimalisasikan partisipasi developer. "Kalau bisa kita bangun sendiri pasar kecil itu agar bisa memberikan harga kios yang murah kepada pedagang," tambahnya.

Selanjutnya, sambung Djangga, sebagai pusat penyuplai usaha dan distribusi bagi pedagang, maka pihaknya juga akan membangun depo logistik. Pasar yang akan dijadikan depo ini yaitu Pasar Rumput (Jakarta Selatan), Cengkareng (Jakarta Barat), Perumnas Klender (Jakarta Timur), Pasar Grogol dan Pasar Sindang (Jakarta Utara). Sejumlah distributor juga akan digandeng yaitu Unilever, Indofood, ABC, Wings dan P&G. Pihaknya juga akan membentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) khusus trading bagi pengembangan depo. Sayangnya, Djangga juga belum tahu kapan realisasi depo logistik ini. "Depo memang penting untuk memutus mata rantai pasokan ke pedagang yang cukup panjang," tuturnya.

Direktur Utama PT MRT, Tribudi Rahadrjo, mengakui adanya integrasi dengan sejumlah pasar tradisional tersebut. Integrasi ini akan dilakukan di jalur MRT tahap I yaitu Lebak Bulus hingga Dukuh Atas. "Dalam basic design mendatang integrasi ini akan kami kaji lebih mendalam," ujar Tribudi di Jakarta, Kamis (8/10). Seperti diketahui, MRT tahap I Lebak Bulus-Dukuh Atas mempunyai sepanjang 14,2Km. Jalur ini akan memiliki sembilan stasiun layang (Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, Sisingamangaraja, dan Senayan) serta tiga stasiun bawah tanah (Bendungan Hilir, Setiabudi, dan Dukuh Atas).


Reporter: lenny
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#62
Dari surat kabar "Koran Jakarta" edisi 12/10 (halamannya saya tak ingat), saya mendapat berita sebagai berikut:

Dephub akan membangun sistem transportasi massal yang dinamai JMRT (Jakarta Mass Rapid Transit), dengan spesifikasi berikut:

Jumlah stasiun : 12 (8 stasiun layang, 4 stasiun subway)
Gauge : 1435 mm
Rute: Dukuh Atas - Lebak Bulus via Fatmawati & Blok M, stasiun Lebak Bulus berada di atas terminal bus Lebak Bulus
Tenaga: Listrik 1800-2000 VAC
Sistem keamanan : standar Jepang (ATS-SN)

Akan tetapi dalam tendernya terjadi perdebatan soal pemenang tender pembangunan proyek tsb, yaitu kisruh pembatalan perusahaan Jepang Nippon Koei sebagai pemenang tender.

Adakah yang bisa menjelasan lebih terperinci berita ini??
Silakan berdiskusi soal proyek Dephub ini...
Reply
#63
ada berita yang lebih jelas mas. dari http://www.kompas.com/read/xml/2009/10/0...arus.tegas

Quote:Kisruh Pemenang Tender MRT, KPPU Harus Tegas

FRANS AGUNG

Rabu, 7 Oktober 2009 | 12:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) didesak untuk segera mengambil tindakan tegas dalam menangani kisruh pemenang tender mass rapid transportation (MRT). Pasalnya, sudah lebih dari satu tahun kisruh ini belum juga terselesaikan.

"Sampai saat ini belum ada keputusan dan tindakan tegas dari KPPU untuk kasus pemenang MRT," ujar Hayie Muhammad, Direktur Investigasi dan Program Indonesia Procurement Watch (IPW), dalam konferensi persnya di Jakarta, Rabu (7/10).

Kasus tersebut berawal saat pemerintah mengadakan evaluasi terhadap hasil tender megaproyek MRT senilai Rp 11 triliun. Tender tersebut diikuti oleh 3 konsorsium, yaitu Nippon Koei Co, Ltd, Katahira Engineering Internasional, dan Pacific Consultan. Pada pertengahan tender, Pacific Consultan mengundurkan diri.

Awalnya yang keluar sebagai pemenang tender adalah Katahira Engineering Internasional dengan nilai 75,43. Namun, keputusan tersebut berubah dan tiba-tiba saja Nippon Koei dinyatakan sebagai pemenang.

Hayie mengatakan, pihaknya telah mengadukan kasus tersebut sejak Juli 2009 lalu, tetapi hingga saat ini belum ada tanggapan dari KPPU. Padahal, waktu normal untuk menyelesaikan suatu permasalahan selama tiga bulan. "Baru satu kali KPPU menghubungi kami, itu pun hanya untuk meminta surat pengaduan resmi," jelasnya.

Menurut Hayie, lamanya proses tersebut disebabkan karena KPPU belum merasa yakin kasus MRT tersebut termasuk kasus persaingan usaha. Hayie mengatakan saat ini kebingungan tersebut sudah tidak beralasan lagi. Pasalnya, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) memutuskan Nippon Koei melakukan kecurangan dalam tender tersebut.

Nippon Koei, kata dia, mengeluarkan dua surat yang diberikan kepada Direktur Jenderal Perkeretaapian tertanggal 14 Oktober 2008 dan kepada Menteri Perhubungan tertanggal 14 Oktober 2008.

Dalam dua surat tersebut Nikkon Koei menyebutkan kelebihan-kelebihan yang mereka punyai dan menjelekkan peserta tender lain. Oleh karena itu, kata Hayie, KPPU harus segera memberikan keputusan yang jelas mengenai kasus tender MRT ini. "Keputusan LKPP menguatkan kasus persaingan. KPPU harus bertindak karena ini masih menjadi ranah mereka," tegasnya.

RDI

kalo gak selesai, proyek bakalan molor nih.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#64
Saya cuman berharap semoga MRT jakarta ini jadi. Sebenarnya KRL sekarang adalah hal terdekat dengan MRT, tapi oleh PT KA mereka nggak berpikir ke situ.
Mereka nggak berpikir kalau KRL itu bisa digunakan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas. Bagi mereka...entah apa isi otak mereka dlaam menjalankan KRL?
Masak KRL dibuat tidak nyaman, tidak aman, tidak tepat waktu, stasiunnya jadi kantong kekumuhan...dsb.

Jadinya, orang-orang beralih ke kendaraan pribadi yang pada akhirnya membuat sesak jalan raya.

Padahal kalau saja KRL dibuat berAC semua, stasiunnya aman untuk memarkir mobil mewah, steril dari gangguan...dijamin akan menjadi MRT ala Jakarta.
Reply
#65
^
saya gak tahu berapa penumpang perhari krl tahun 2009. kalo tahun 2008 kayaknya sekitar 400 ribuan. sebenarnya krl bisa dimaksimalkan kapasitasnya sampai 1-1,5 juta penumpang perhari. lumayan untuk menyerap mobilitas warga jakarta yang 7 juta orang perhari itu.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#66
iya jangan sampe terbengkalai lagi
Reply
#67
salah satu sebab kenapa krl tak mampu memecahkan masalah macet di jakarta adalah banyaknya sentra2 bisnis dan perkantoran yang tidak dilalui oleh jalur krl.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#68
ada kabar terbaru.
setelah koridor 1 lebak bulus-dukuh atas, dan koridor 2 dukuh atas-kota, rumornya koridor 3 adalah balaraja-cikarang !!

[spoiler= ini beritanya...]
Quote:MRT III butuh Rp33 triliun

filed in bisnis.com on Jan.21, 2010
sumber : http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-...56884.html

JAKARTA: Proyek mass rapid transit (MRT) jalur Balaraja-Cikarang sepanjang 87,3 km diperkirakan menelan investasi US$3,54 miliar atau sekitar Rp33 triliun.

Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan mengungkapkan nilai investasi itu mengacu pada perkiraan biaya pembangunan MRT tahap ketiga yang rata-rata mencapai US$40,6 juta per km setara Rp381 miliar.

“Berdasarkan rekomendasi Japan International Cooperation Agency (JICA), salah satu alternatif jalur MRT tahap ketiga yang dinilai terbaik memiliki panjang 87,3 km dengan biaya rata-rata US$40,6 juta per km,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Tundjung menjelaskan alternatif jalur MRT yang membentang dari barat ke arah timur Jakarta tersebut melalui rute Balaraja-Tangerang-Duri-Grogol-antara Mangga Besar dan Sawah Besar-Kemayoran-Kelapa Gading-Cikarang.

Rute MRT itu terdiri atas lintasan jalur di atas permukaan tanah (elevated) sepanjang 58,2 km, jalur di bawah tanah (underground) 12,6 km, serta jalur existing atau at grade sepanjang 16,5 km dengan jumlah stasiun sebanyak 46 unit.

Jalur elevated sendiri meliputi Balaraja-Tangerang (17,6 km) dan Kelapa Gading-Cikarang (40,6 km), jalur bawah tanah Grogol-Kelapa Gading (12,6 km), dan jalur at grade Tangerang-Duri sepanjang 16,5 km.

Tundjung menilai rute tersebut merupakan yang terbaik dari empat rute alternatif lain yang juga dikaji JICA. Keempat rute alternatif itu yakni Balaraja-Cileduk-Blok M-Cawang-Setu; Balaraja-Tangerang-Grogol-Dukuh Atas-Cikarang; Balaraja-Kemanggisan-Dukuh Atas-Cikarang; dan Grogol-Senayan-Mampang-Pondok Kopi. (lihat infografis)

Menurut dia, Pemerintah Jepang kemungkinan besar akan mendanai proyek MRT tahap ketiga rute Balaraja-Cikarang, tentunya setelah proses studi kelayakan yang dilakukan JICA selesai pada akhir tahun ini.

“Biasanya seperti itu. Kalau JICA yang melakukan studi, Pemerintah Jepang yang kemudian mendanai proyek bersangkutan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Tundjung juga mengungkapkan JICA telah menyelesaikan studi kelayakan proyek MRT tahap kedua rute Dukuh Atas-Stasiun Kota sepanjang 7,4 km dengan lintasan di bawah tanah.

Menurut rencana, pada jalur MRT tahap kedua itu akan dibangun sembilan unit stasiun di bawah tanah. Biaya pembangunannya sendiri ditaksir US$81,6 juta hingga US$131,9 juta per km, setara Rp767 miliar-Rp1,24 triliun.

Kementerian Perhubungan, lanjutnya, akan memprioritaskan program pembangunan MRT jalur Dukuh Atas-Kota. MRT tahap kedua itu merupakan kelanjutan MRT tahap pertama jalur Lebak Bulus-Dukuh Atas sepanjang 14,5 km senilai Rp10,26 triliun.

Biaya proyek MRT tahap pertama sendiri bersumber dari JICA Rp8,36 triliun, pemerintah pusat Rp1,25 triliun, dan APBD DKI Rp0,65 triliun. Pinjaman JICA yang bertenor 30 tahun dengan masa tenggang 10 tahun akan ditanggung DKI Rp4,8 triliun dan sisanya oleh pusat.

Setelah masa tenggang, di luar kewajiban menutup pembiayaan proyek Rp651 miliar, APBD DKI akan tergerus Rp184 miliar setiap tahun. Dari plafon pinjaman tersebut, pencairannya baru mencapai Rp5,5 triliun yang terbagi atas dua tahap.

Saat ini, sudah terdapat tiga kontraktor Jepang yang mengincar proyek tersebut, yaitu Sumitomo Corp, Marubeni Corp, dan Itochu Corp. Tender konstruksinya baru akan digelar tahun depan.

Sistem tiket

Di tempat terpisah, Gubernur DKI Fauzi Bowo mengatakan Pemprov DKI berencana menjadikan stasiun-stasiun di jalur MRT rute Balaraja-Cikarang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, selain fungsi utamanya sebagai prasarana transportasi kota.

Guna mendukung rencana itu, Pemprov DKI akan mengintegrasikan stasiun MRT dengan stasiun transportasi massal lain seperti busway dan kereta api dalam kota. “Ini juga berkaitan dengan rencana menyinergikan sistem tiket transportasi massal di Ibu Kota.”

Direktur Utama PT MRT Jakarta Tribudi Rahardjo menambahkan salah satu stasiun yang diharapkan dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru itu adalah stasiun perlintasan yang menghubungkan tiga rute MRT.

“Tapi sampai saat ini, perlintasan yang menghubungkan antara rute MRT tahap ketiga dengan rute MRT tahap pertama dan kedua itu belum ditentukan. Yang pasti, titik pertemuan itu akan berada di antara stasiun Harmoni sampai stasiun Glodok,” katanya.

Mengomentari rencana ini, Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit menyatakan rencana menjadikan stasiun MRT sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru itu harus dipersiapkan secara matang.

Untuk itu, dia berpendapat, pemerintah harus mengedepankan prinsip pengembangan kawasan transit atau transit oriented development (TOD), yakni dengan memadukan pengembangan kawasan transit dan properti atau perniagaan.

“Meski dalam dokumen rencana tata ruang dan wilayah DKI sendiri konsep itu sudah dikenal, sampai sekarang belum ada kejelasan bagaimana prinsip TOD itu akan diterapkan. Artinya, belum ada kejelasan pengembangan properti di sekitar stasiun MRT.”

Danang menilai proyek MRT tahap ketiga dengan membuat jalur angkutan massal cepat dari barat ke timur lebih didasarkan kepentingan mengurangi kemacetan jalan di Ibu Kota, bukan sebagai proyek pengembangan kota secara berkelanjutan.

Karena itu, sambungnya, pemerintah pusat dan Pemprov DKI perlu segera duduk satu meja guna membahas proyek MRT tahap ketiga itu secara terbuka dengan melibatkan warga. “Sebagai sebuah proyek pasti harus disosialisasikan secara terbuka,” ujarnya.

Proyek MRT sendiri merupakan program prioritas nasional yang masuk ke dalam salah satu rencana pembangunan jangka menengah nasional. Pelaksanaan proyek ini diserahkan kepada Kementerian Perhubungan dan Pemprov DKI.

Kepastian pembangunan MRT yang membentang dari barat ke timur wilayah Jakarta itu sendiri dituangkan dalam rancangan peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2010-2030 yang akan disahkan pada tahun ini.

Bersaman dengan itu, Pemprov DKI juga menyiapkan peraturan daerah tentang pemanfaatan ruang bawah tanah. Perda yang ditargetkan terbit semester I/2010 itu akan mengatur sekaligus melindungi aset pemerintah maupun swasta yang berada di bawah tanah. (Hery Lazuardi/Bastanul Siregar) (hendra.wibawa@bisnis.co. id/mia.chitra@ bisnis.co.id)

Oleh Hendra Wibawa & Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia
[/spoiler]
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#69
update berita lagi Xie Xie

ternyata ada perubahan desain. awalnya koridor I punya 4 stasiun bawah tanah yaitu stadion BK, benhil, setiabudi, dan dukuatas/sudirman.
atas rekomendasi pak kumis, st. bawah tanah di tambah 1 kearah hulu. jadi nanti di ratu plaza/senayan sudah masuk perut bumi itu mrt nya. sehingga seluruh jalan jendral sudirman bersih dari elevated track.

[spoiler=beritanya]
Quote:http://properti.kompas.com/read/xml/2010...RT.Jakarta

Ada Lima Stasiun Bawah Tanah di Jalur MRT Jakarta

Jumat, 19/2/2010 | 00:26 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah kian serius menggarap Proyek kereta bawah tanah atau Mass Rapid Transportation (MRT) di Jakarta. Buktinya, berbagai persiapan terus dilakukan terkait realisasi proyek tersebut. Salah satunya, adalah rencananya proyek MRT tahap satu yang melayani rute Lebak Bulus-Dukuh Atas akan menggunakan lima stasiun bawah tanah.

Menurut Chief Corporate and Planning Officer PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Eddi Santoso, lima stasiun pada rute yang memakan biaya investasi 120,017 miliar yen itu berada pada titik Ratu Plaza, Senayan, Bendungan Hilir, Setiabudi, dan Dukuh Atas. “Jadi jalan Sudirman bersih dari bangunan-bangunan rel,” ujar Eddi, Rabu (17/2).

Sebagaimana proyek tahap satu, lanjut dia, pembangunan rute tahap dua Dukuh Atas-Bunderan Hotel Indonesia-Glodok juga menggunakan konsep stasiun bawah tanah. “Karena kita melewati ring satu, jadi harus dibawah,” katanya. (Raymond Reynaldi/KONTAN)

Editor: ksp
[/spoiler]
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#70
Kalau yang saya amati dari berita2 yang ada tahap wacana atau paling maksimal hanya pemilihan pemenang (itu pun masih kisruh), dan belum dalam tahap pelaksanaan.. misalnya pun sudah mulai tahap pembangunan tak ada jaminan bahwa proyek tersebut akan lancar (seperti monorail), belum lagi ancaman krisis ekonomi yang bisa dengan mudah mematikan proyek (seperti jalan tol kalimalang).. Dan seandainya sudah jadi pun belum tentu berjalan tepat waktu atau akankah berjalan (seperti koridor2 akhir busway yang tidak ada bisnya).. skeptis yah??
Begitulah pandangan saya melihat proyek2 ambisius dan (seemingly) breakthrough dari pemda atau pemerintah pusat, yang mana selalu lebih besar kepentingan politis jangka pendek ketimbang pembangunan yang berkesinambungan.. (maklum saja pemilu dan pilkada 5 tahun sekali)..
Jadi.. bagaimana seandainya Subway hadir di Jakarta?
pertama mungkin masalah teknis pembangunan.. walau ada banyak saluran dan pipa2 di bawah tanah bukan menjadi masalah, karena teknologi TBM (tunnel boring machine) saat ini sudah canggih untuk menggali puluhan meter dibawah tanah..
nah bagaimana dengan banjir? tentunya perlu engineering yang luar biasa canggih untuk mengatasi luapan air dari atas permukaan, dengan anggapan bahwa drainase sekitar pintu masuk stasiun masih parah (kayak di benhil dan sudirman-thamrin)..
kedua adalah masalah efektifitas.. karena sebagian besar kemacetan adalah trafik dari rumah-kantor maka untuk berhasil dibutuhkan jalur2 yang tepat untuk mengangkut penumpan dari daerah pemukiman ke daerah perkantoran. klo dibuat sebagai sistem end-to-end maka sedikit banyak akan overlaping dengan existing sistem (krl jabodetabek), dan klo dibuat sebagai sistem gabungan maka akan ada titik kritis tempat pertemuan sistem yang berpotensi menjadi bottleneck (misalnya di MRI dimana KRL bisa terhambat kereta jawa).
ketiga adalah akseptabilitas.. bagaimana sebuah layanan publik bisa diterima dan diandalkan oleh masyarakat kalau misalnya tidak tepat waktu dan lebih mahal? karena investasinya yang pasti luar biasa besar maka tarifnya pun tidak mungkin murah tanpa subsidi.. disini akan teruji apakah proyek dibuat sebagai sarana investasi atau pelayanan publik..
dengan kondisi saat ini dimana sarana transportasi paling murah dan praktis adalah sepeda motor (bensin 15rb/minggu, parkir 50rb/bulan) maka ketepatan waktu dan kenyamanan adalah faktor penting. Jadwal yang tidak tepat dan pembatalan perjalanan bukan hal langka di KRL, suasana berdesak2an (bahkan di express) dan keberadaan 'kontaminan' (asongan, pengamen, pengemis, copet) juga bukan hal baru.
Jadi proyek pelayanan publik tidak berakhir ketika diresmikan, tetapi berkesinambungan dengan tujuan adanya perbaikan kualitas layanan dan kelancaran transportasi jabodetabek secara keseluruhan... (which is not making a significant financial profit, therefore making the least interest)
#moral of the story: Subway? OK.. MRT? Ok.. asal jangan nasibnya kayak busway aja.. Pisss ahhh...
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)