Thread Rating:
  • 1 Vote(s) - 5 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Tanjungsari-Jatinangor
(15-06-2011, 09:37 AM)ahmadi Wrote: mblusukan yang mantap Top Banget

Kang Asep, dulu waktu jalur ini aktif. Ujung relnya sampai tunggul hideung atau viaduct pinggir jalan raya yang sekarang dirobohkan?

sampai tiang yg di robohkan, trayek utama adalah rancaekek-tanjungsari tetapi pembangunan dikerjakan terus guna menyambungkan dgn jalur cirebon-kadipaten yg jaraknya hanya 37an lg. sayang seribu sayang, jepang keburu masuk indonesia

Reply
(18-06-2011, 07:36 AM)asep_0907 Wrote:
(15-06-2011, 09:37 AM)ahmadi Wrote: mblusukan yang mantap Top Banget

Kang Asep, dulu waktu jalur ini aktif. Ujung relnya sampai tunggul hideung atau viaduct pinggir jalan raya yang sekarang dirobohkan?

sampai tiang yg di robohkan, trayek utama adalah rancaekek-tanjungsari tetapi pembangunan dikerjakan terus guna menyambungkan dgn jalur cirebon-kadipaten yg jaraknya hanya 37an lg. sayang seribu sayang, jepang keburu masuk indonesia

Hatur Nuhun pencerahannya Kang,,
Sayang pake dirobohkan, dulu waktu masih operasional hanya sampai Tanjung Sari. Berarti, Tanjung Sari-Tunggul Hideung mungkin baru beberapa kali diinjak KA sudah layu. Sedih
Padahal kalau dari rel yang di Kadipaten masih bisa nyambung kalau sampe Sumedang saja. Tinggal Cadas Pangeran masalah yang paling berat.

[Image: stasiunkeretaapibogor.jpg]
Reply
(18-06-2011, 10:08 AM)ahmadi Wrote:
(18-06-2011, 07:36 AM)asep_0907 Wrote:
(15-06-2011, 09:37 AM)ahmadi Wrote: mblusukan yang mantap Top Banget

Kang Asep, dulu waktu jalur ini aktif. Ujung relnya sampai tunggul hideung atau viaduct pinggir jalan raya yang sekarang dirobohkan?

sampai tiang yg di robohkan, trayek utama adalah rancaekek-tanjungsari tetapi pembangunan dikerjakan terus guna menyambungkan dgn jalur cirebon-kadipaten yg jaraknya hanya 37an lg. sayang seribu sayang, jepang keburu masuk indonesia

Hatur Nuhun pencerahannya Kang,,
Sayang pake dirobohkan, dulu waktu masih operasional hanya sampai Tanjung Sari. Berarti, Tanjung Sari-Tunggul Hideung mungkin baru beberapa kali diinjak KA sudah layu. Sedih
Padahal kalau dari rel yang di Kadipaten masih bisa nyambung kalau sampe Sumedang saja. Tinggal Cadas Pangeran masalah yang paling berat.

kalau ndak salah, masterplanenya jalur ini tidak melalui Kota Sumedang....jadi dia terus diatas Cadaspangeran....

Reply
Nampaknya Indonesia khususnya pulau Jawa mesti punya banyak prpinsi min. kyk Thailand yah yg punya 70 propinsi di negaranya. Masing2 ada ibukotanya dan si ibukota propinsi itu punya Daops tersendiri. Maka dg itu rel2 mati bisa dihidupin lagi nampaknya yah... Misalnya ibukota Jatinangor itu propinsinya Pasundan. Hehe...

Reply
Sesudah kami mengabdikannya, kami mencoba menyusuri bekas jalur KA yang ke arah Jatinangor.

[Image: RCK-TAS09.jpg]

Tampak bekas jalur KA tersebut kini sudah diaspal dan diurug karena makin ke depan kontur menurun cukup curam. Kami terus menyusuri bekas jalur ini, makin kesana lama-lama jalan tersebut berganti kontur, dari aspal ke cor-coran dan akhirnya menjadi gundukan tanah yang menyerupai tanggul atau cerukan di tengah-tengah hamparan sawah, makin ketara bahwa memang dulunya jalan ini adalah bekas jalur.

[Image: RCK-TAS10.jpg]

Diantara rumah-rumah penduduk, masih tersisa beberapa bekas tiang telegraf yang ternyata tingginya berbeda dengan tiang telegraf yang masih masih ada di jalur aktif.

[Image: RCK-TAS11.jpg]

Jalan makin kesana berkontur tanah merah yang licin padahal sudah 3 hari tidak turun hujan, disuatu tempat kami sempat terjatuh dari motor karena saking licinnya dan motor salah ban juga, harusnya ban pake untuk jalanan tanah dan berbatu yang ada grifnya, eh ini pake ban buat jalan raya.

[Image: RCK-TAS12.jpg]


[Image: RCK-TAS13.jpg]


Reply

[Image: RCK-TAS14.jpg]

Di suatu tempat, terpaksa kami harus turun karena harus melewati sebuah jembatan yang terbuat dari anyaman bambu yang sialnya sudah bolong disana-sini, kami takut jembatan tersebut tidak kuat nahan gandar hehehe…..

[Image: RCK-TAS15.jpg]


[Image: RCK-TAS16.jpg]

Sebrang jembatan ternyata ada jalan mulus yang melintas/memotong bekas jalur KA, orang-orang yang melihat kami keheranan kok kami nongol lewat jalan setapak dan jelek gitu…Ternyata setelah bertemu dengan perlintasan sebidang tersabut bekas jalur KA di cor dan menjadi jalan desa. 20 meter dari perlintasan kami akhirnya tiba di bekas Jembatan Cileles.

[Image: RCK-TAS17.jpg]

Kontruksi jembatan Cileles hampir sama dengan Jembatan Cikuda, yakni terbuat dari susunan bata merah. Disisi sebelah kanan masih terdapat 2 pengaman buat orang yang jalan jika pas berpapasan dengan kereta, pengaman tersebut terbuat dari Baja/besi yang tampak masih kokoh.

[Image: RCK-TAS18.jpg]

Reply
(01-07-2011, 05:51 PM)asep_0907 Wrote:
[Image: RCK-TAS14.jpg]

Di suatu tempat, terpaksa kami harus turun karena harus melewati sebuah jembatan yang terbuat dari anyaman bambu yang sialnya sudah bolong disana-sini, kami takut jembatan tersebut tidak kuat nahan gandar hehehe…..

[Image: RCK-TAS15.jpg]


[Image: RCK-TAS16.jpg]

Sebrang jembatan ternyata ada jalan mulus yang melintas/memotong bekas jalur KA, orang-orang yang melihat kami keheranan kok kami nongol lewat jalan setapak dan jelek gitu…Ternyata setelah bertemu dengan perlintasan sebidang tersabut bekas jalur KA di cor dan menjadi jalan desa. 20 meter dari perlintasan kami akhirnya tiba di bekas Jembatan Cileles.

[Image: RCK-TAS17.jpg]

Kontruksi jembatan Cileles hampir sama dengan Jembatan Cikuda, yakni terbuat dari susunan bata merah. Disisi sebelah kanan masih terdapat 2 pengaman buat orang yang jalan jika pas berpapasan dengan kereta, pengaman tersebut terbuat dari Baja/besi yang tampak masih kokoh.

[Image: RCK-TAS18.jpg]

heubat euy...kang asep nu gumasep tea...
blusukannnya sangat menarik....kalau bisa pinjam metal detektor...untuk mengecek kalau2 ada bekas2 relnya..
hatur nuhun kang ...mangga dilajengkeun...
RF fahrizal, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Jan 2011.
Reply
Setelah jepret-jepret diatas, kami mencoba untuk ke bawah dan ternyata susah karena memang tidak ada jalan ke bawah disisi kiri, alhasil kami hanya motret di balik pepohonan bambu. Kami lihat sekeliling ternyata tanah dipepohonan bambu tersebut rata kayak sering dipake “mojok” dikala senja hari.

[Image: RCK-TAS19.jpg]


[Image: RCK-TAS20.jpg]

Setelah puas kami balik ke atas dan meneruskan perjalanan menyusuri bekas jalur KA tersebut yang ternyata dicor hingga ke desa lainnya. Sambil berjalan kami celingak-celinguk mencari bekas Stasiun Cileles yang jarak dari Tanjungsari sekitar 3,1 km. Setiap melewati rumah-rumah penduduk kami pada dilihatin sama “penghuni” tanah milik PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan penuh selidik. Ditengah jalan kami menemukan bekas tandon air untuk pengisian air ke lokomotif uap. Kini bekas penampungan air tersebut digunakan untuk pengairan ke sawah-sawah.

[Image: RCK-TAS21.jpg]

Perjalanan dilanjutkan dengan terus menyusuri bekas jalur KA yang kini sangat mulus. Ternyata pemandangan di bekas jalur ini sangat indah, hamparan sawah dan perkebunan yang menghijau, bukit-bukit yang menghijau juga serta Gunung Geulis yang mempesona.

[Image: RCK-TAS23.jpg]

Akhirnya disuatu tempat bekas jalur KA menjadi sawah, sedangkan jalan desa belok kanan menanjak. Sambil istirahat kami membuka peta topografi untuk melihat bekas jalur KA selanjutnya kemana. Ketika sedang diskusi harus kemana, melintas seorang bapak yang mengendarai sepeda motor, kamipun bertanya arah ke Jembatan Cikuda ke sebelah mana, ternyata beliau juga searah dengan kita maka kamipun mengikutinya.

[Image: RCK-TAS24.jpg]

Reply
Ternyata jalan yang kami lalui dibawahnya bekas jalur KA, jalanan yang kami lalui bersemak. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami sampai dijalanan desa yang agak besar walau tidak mulus dan ternyata kami melenceng agak jauh dari bekas jalur KA. Setelah berjalan ke arah timur, akhirnya kami bertemu dengan bekas jalur KA yang melintas di jalan desa tersebut. Akhirnya kami memilih memasuki bekas jalur KA yang ke arah Tanjungsari, pengen tahu mentoknya sampai dimana.

Di daerah Desa Neglasari kami istirahat dulu dekat pos kamling karena bekas jalur kA hanya menyisakan jalan setapak, sambil istirahat kami membeli es potong (hanya ada itu, warung entah dimana).

[Image: RCK-TAS25.jpg]


[Image: RCK-TAS26.jpg]

Setelah reda capeknya kami meneruskan menyusuri bekas jalur KA tersebut. Di halaman rumah penduduk kami menemukan patok besi dari rel yang menandakan bahwa tanah tersebut milik Perumka (PT. Kereta Api Indonesia (Persero)).

[Image: RCK-TAS27.jpg]

Setelah berjalan beberapa meter ternyata jalan setapak tersebut kami anggap bisa dilalui oleh motor, maka kamipun menyusuri bekas jalur KA tersebut dengan motor.

[Image: RCK-TAS28.jpg]


[Image: RCK-TAS33.jpg]

Reply
aduh aduh mantabh banget ternyata mash ada bekas bekasnya,,,,, lalu kapan realisasi pengaktifan jalur ini dari tahun tahun sbelumnya digembor gemborkan,,
abah sebagai orang sumedang sangat mengharapkan sekali jalur ini,,,, karena jalan raya sudah cukup padat apalagi lepas tanjungsari smp jatinangor,,,
minimallah sumedang punya kereta sampai kotanya atau tanjungsari juga ga apa2 biar gmpng kamana2 kitu juragan.

lebar eta jembatan cikuda,,,, tunggul hideung,, eumh eumh
hirupkeun deui eta jalur,,,,

Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)