12-11-2009, 02:23 PM
(12-11-2009, 11:57 AM)WOODWARD Wrote:(12-11-2009, 08:17 AM)Charles Wrote: Jawaban:
1. Tidak, komputer tsb mengatur semua kerja part dari 1 ROM yang nantinya diproses sesuai komponen apa yang melakukan interupsi (interrupt request)...
2. CC 204 generasi awal masih pakai generator exciter AC, tapi kalau CC 204 batch II sudah otomatis.
3. Kalau pengaturan field biasanya pakai rangkaian attenuator yang terdiri dari resistor-resistor yang besarnya disesuaikan dengan besar arus keluaran, tapi di dalam MGnya gak ada alat lain.
4. Seluruh TM pada CC 204 batch II sudah diparalel, tapi kalau CC 204 batch I kalau tidak salah memiliki delay transisi antar TM.
5. Kalau masalah bahan bakar saya kurang tahu pasti karena belum pernah lihat yang seperti itu, tapi biasanya gejala seperti itu menandakan ketidakberesan katup yang berada di antara mesin dan saluran bahan bakar.
6. Sistem pengamanannya masih sama dengan lok-lok GE lain seperti yang disebutkan di atas.
7.Maksudnya jalan hanya dengan lok kah?
Kalau tak ada tenaga seperti itu ada hubungannya dengan saluran bahan bakar yang mungkin terjadi kemacetan aliran bahan bakar atau adanya masalah di katup seperti yang sudah dijelaskan pada (5) sehingga mesin kekurangan HSD dan "mbrebet".
Efeknya sangat terasa saat menarik rangkaian, di mana pada traksi rendah sangat berat untuk melaju tetapi pada saat traksi tinggi lancar jaya (seperti gejala "mbrebet" pada septor).
NB:
septor = sepeda motor
mbrebet = tanda mesin kekurangan bahan bakar, gejalanya putaran mesin tidak teratur dalam satu periode waktu
CMIIW
Saya akan jawab pertanyaan lainnya di lain waktu...
terima kasih banyak jawabannya
berguna sekali untuk mengatasi gangguan selama di perjalanan
yang maksudnya tidak bertenaga saat Loks itu, eksitasi tidak bisa maksimal
apa karena tidak ada beban jadi dibatasi?
lalu soal bahanbakar yang tinggi tekanannya itu ada di lok CC 204 17 waktu baru peresmian. tekanan Bahanbakarnya mencapai 80 psi, aneh atau normal?
jika TM tepasang paralel berarti bisa di potong langsung per TM yah? tanpa harus potong yang genap dulu?
Jawaban:
1. Ada atau tidak adanya beban yang dirangkai lok mempengaruhi tenaga yang dibutuhkan untuk akselerasi, jadi pada kasus lok yang digabung dengan rangkaian gaya dorong yang ditimbulkan oleh mesin tidak cukup kuat untuk menarik beban pada notch 1, sehingga dibutuhkan notch 2 atau lebih.
Kalau untuk lok yang solo run kasus tersebut biasanya menandakan ada masalah pada sistem pembakaran di mesin, coba ditengok dulu bentuk dan warna asap lok tsb saat solo run.
2. Tekanan 80 psi itu sebenarnya masih berada dalam ambang normal, tetapi jika sudah melebihi 90 psi bisa dikatakan terjadi masalah pada katup/klep yang berfungsi mengatur aliran bahan bakar atau adanya endapan sisa HSD yang tidak terbakar sempurna pada saluran bahan bakar.
3. Meskipun TM dipasang paralel, TM harus dipotong/di-skip melalui TM yang di antaranya (analogi dengan rangkaian listrik paralel dengan saklar MPST (multiple pole single throw, satu sumber banyak tujuan) di mana arus dialirkan dari satu cabang ke cabang lain dengan melalui cabang di antaranya).
CMIIW ya...

![[Image: 2r56iya.jpg]](http://i56.tinypic.com/2r56iya.jpg)