15-02-2010, 06:41 PM
(15-02-2010, 12:16 PM)bagus70 Wrote: Ini saya kasih cerita yang moga-moga bisa disampaikan kawan-kawan, mengingat saya tak mungkin hadir di acara ini.
Beberapa hari yang lalu saya berpergian dari Bandung ke Jakarta naik PArahyangan. Seperti biasa, untuk menghindari konflik di counter tiket, saya sudah membeli tiket PP dari Bandung, sehingga otomatis waktu saya jadi terbatas.
Pada saat datang ke Bandung, saya langsung naik KRL Pakuan dari Gambir hingga Jakarta Kota, di perjalanan ini tidak ada masalah hingga saya ketemu kawan di sana.
Nah, pada saat kembali masalah muncul. Semua KRL dari Bogor (termasuk Pakuan) terlambat karena sinyal di stasiun Pasar Minggu rusak. Sehingga waktu jam 4 sore (KA PArahyangan yang mau saya naiki berangkat dari Gambir jam 16.30), KRL Pakuan masih ketahan di Pasar Minggu.
Waktu itu ada KRL ekonomi AC tujuan Bekasi yang bersiap untuk berangkat. Saya tanya ke petugas PAP yang ada, apakah KA ini berhenti di Jatinegara (Parahyangan berhenti di sini), dia menjawab dengan ragu-ragu sambil lihat-lihat buku dan seperti mikir-mikir. Padahal KRL sudah siap berangkat (dan dia sendirilah yang mengumumkan).
Saya pun mulai berbicara agak keras, menanyakan apakah KRL ekonomi AC tersebut berhenti di Jatinegara. Setelah KRL tersebut berangkat dia baru berkata "berhenti".
Otomatis sayapun langsung marah-marah dan mensumpah serapahi petugas tersebut sambil mempertanyakan bagaimana saya bisa ke Gambir?
Tiba-tiba di belakang saya ada seorang petugas PT KA yang berbadan besar dan berpenampilan sangar yang bertanya dengan anda setengah mengancam "Apa maumu?"
Saya tak takut dengan dia dan tetap mempertanyakan bagaimana saya bisa ke Gambir.Si besar menjawab "Nggak tahu. Bukan urusan saya.: Si PAP kecil tadi, mungkin merasa mendapat backup, langsung berkata "Ya, bukan urusan kita."
Mereka juga berkata, "Sinyal rusak itu karena cuaca buruk". Saya perhatikan di daerah lain saya pernah lihat cuaca jauh lebih buruk, tapi sinyalnya normal-normal saja.
Dari cerita tersebut saya menarik kesimpulan bahwa KRL di Jakarta dioperasikan oleh orang-orang angkuh, sok kuasa, dan sok hebat terhadap para penumpang dan pengguna jasa KRL.
Sifat buruk mereka ini ternyata juga tidak disukai oleh pegawai PT KA dari DAOP lain di pulau Jawa, karena saya sering mendengar cerita miring tentang orang-orang KRL ini entah dari masinis, atau PPKA yang pernah menjalani pendidikan di sana.
Akhirnya saya bisa ke Gambri setelah naik KRL ekonomi kukus (ekonomi non-AC) yang disambung dengan bajaj dari Juanda ke Gambir.
wah menarik ini .....
andai saja om bagus bisa hadir di acara ini dan menceritakan langsung kejadian ini ke Pak WAMENHUB / DIRJEN KA nanti ...
Para pengguna jasa KRL COMMUTER JABODETABEK yth, kami mengucapkan terima kasih anda telah & masih setia menggunakan jasa KRL.
Kami mohon maaf atas ketidak nyamanan selama ini, kami tetap berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk anda. tks.
Kami mohon maaf atas ketidak nyamanan selama ini, kami tetap berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk anda. tks.
