02-09-2010, 02:00 PM
(02-09-2010, 11:33 AM)bagus70 Wrote: Ini kesekian kali ada mobil luar Solo yang ketabrak KA. Malah beberapa kali saya ke Solo dengan sopir bapak saya, pak sopir bolak-balik mengira (dengan agak bersikeras) kalau rel itu sudah mati. Tapi begitu lihat KA lewat, dia menarik kata-katanya.kalo gak ditutup aspal kayak jaman dulu pas ada sepur lewat debunya kemana2 kang, jadi bikin mata kelilipan, lebih baik diberi rambu2 yg jelas kayak busway.
Kalau usul saya, mestinya relnya jangan ditutup aspal, tapi biarkan saja terbuka dan kricaknya kelihatan dari luar. Terus di tepi rel dikasih pembatas cor yang tingginya sekitar 25 cm (umumnya kita temui di jalan protokol).
Dengan begini perawatan rel jadi murah, dan disisi lain ini bisa mengingatkan orang yang tidak tahu kalau rel ini masih terpakai.
Saya rasa tidak ada manfaatnya membuat rel tertutup aspal seperti itu.
Dan di Solo, type sopir Jakarta yang macem-macem dan sok tahu bisa ketemu batunya. Kalau di Bandung, paling mereka membuat macet jalan dengan berjalan pelan di tengah, setelah menyalip secara ugal-ugalan, dan memaki "dog you" ke sopir lokal.

kalo cuma di beri marka jalan warna kuning kayak sekarang kurang meyakinkan...

(02-09-2010, 11:43 AM)alin_masuk sepur 5 Wrote: sbg warga asli solo... sy kecewa jg sih,, soalny byk mobil jg yg parkir d relny... jdny ya kykgt dehh...
iya juga sih saya juga orang solo juga geram sering liat mobil parkir sembarangan (bahkan pernah bus pariwisata) kebanyakan platnya luar solo

Obsesi: Bikin perusahaan KA sendiri

