14-12-2008, 12:22 PM
bagus70 Wrote:Sumber daya manusia di PT kereta api kita adalah mereka didesain untuk menangani kelas 3 saja. Sementara penumpang mengharapkan pelayanan kelas 1.
Gob***nya, banyak pejabat PT KA yang suka menyombong di depan penumpang yang mendongkol (dan railfan) tentang prestasi pribadinya, dan menganggap bahwa dia mahluk pintar di dunia, sementara penumpang melihatnya sebagai orang bodoh yang tak tahu selera pembayar jasa KA.
Hal yang saya (dan banyak penumpang KA lainnya) soroti belakangan ini adalah hilangnya lantai karpet dari KA eksekutif, yang diganti dengan vinyl. Vinyl itu lebih cocok untuk KA non-AC, karena lebih mudah dibersihkan serta perawatannya murah. Tetapi ini membuat suara bising makin menjadi-jadi, ambience interior jadi jelek, dan temperature jadi lebih ekstrim.
Di mata beberapa railfan Jakarta (yang sombong), saya dianggap rewel, mengada-ngada, dan manja. Mereka juga menganggap bahwa penumpang KA kita kotor dan tidak peduli tentang. Padahal kenyataannya, bukankah penumpang Ka sekarang makin kritis, dan makin lebih beradab dari mereka?
Bahkan seorang railfan bermental penjilat, pernah menyuruh saya untuk diam pada saat saya berniat untuk memberitahukan perihal ini ke seorang pejabat PT KA.
Jadi masalahnya, PT KA lebih berpihak kepada petugas yang malas dan pejbata yang korup, daripada penumpang setia.
Kembali ke topik. Mengenai KA tidur, sudah saatnya KA jarak jauh seperti Gajayana, Bima atau Sembrani memiliki gerbong tidur. Karena di perjalanan jauh, penumpang berhak untuk mendapatkan pelayanan terbaik.
Faktor gangguan sosial di masa silam (penggunaan gerbong tidur untuk prostitusi terselubung) jelas bukan alasan yang mau didengar oleh penumpang.
Ada memang jalan tengah membuat gerbong tidur bebas dari gangguan sosial seperti dulu.
Kalau saya mengusulkan, bagaimana kalau gerbong tidur dibuat kabin berisi 4-6 bunk, lalu pintunya adalah korden saja. Terus juga pintunya per gerbong hanya 2?
Selain itu juga dibuat agar pintu-pintu itu hanya bisa dibuka di stasiun awal dan akhir (serta keadaan darurat). Jadi dengan begini, asongan tidak bisa masuk.
Saya amat sangat setuju sekali dengan pendapat saodara!! Gerbong tidur memang seharusnya ada,mengingat perjalan kereta jauh dan "sedikit" lebih lama dari pesawat. Masalah sosial bisa disiasati dengan berbagai macam cara dan ada kerja sama dari pihat terkait (termasuk penumpang). Serta disiplin tinggi untuk menaati solusi tersebut!

![[Image: DSC9554.jpg]](http://s15.postimage.org/utmrckg87/DSC9554.jpg)