06-10-2010, 04:51 PM
(06-10-2010, 04:13 PM)tedh10213 Wrote: Kalaupun masinisnya tertidur, akar permasalahannya tetep berada di manajemennya. Dulu pernah ada penelitian di Inggris tentang "micro-sleep", yaitu tertidurnya masinis selama kurang dari satu menit dalam selang waktu tertentu saat menjalankan rangkaian. Dan "micro-sleep" itu pun adalah natural. Oleh sebab itu, bekerja sampai 8 jam bisa dibilang terlalu panjang. Kereta api bukanlah pesawat yang ada auto-pilotnya. Bahkan di Jepang sekalipun ada aturan supir bis malam, setiap dua jam harus istirahat minimal 20 menit, bahkan setelah jam yang keempat harus diganti. Begitu juga dengan masinis kereta api.
Tentang membuat suasana kerja lebih menyenangkan, mungkin bisa belajar dari masinis Jepang. Yaitu teriak2, nunjuk2 sinyal pas lagi menjalankan kereta, walaupun cuman sendiri di kamar masinisnya.
Kesimpulannya, apakah prosedur "tunjuk-sebut" perlu diberlakukan bagi masinis, terutama yang sedang melakukan dinasan malam?
Pasalnya, dalam banyak kasus masinis didapati tertidur walaupun hanya sebentar saat dinasan malam, dan menurut saya hal itu cukup membahayakan baik bagi sang masinis sendiri maupun penumpang.
DMP memang membantu selama dinasan, tetapi fungsi DMP ini menurut saya kurang menjamin bahwa masinis akan segera terbangun dan kecepatan KA akan melambat setelah DMP diinjak.
Satu hal yang masih mengganjal di pikiran saya, mengapa setelah KA 101 SU KD lewat dan KA 116 SU SMT berhenti untuk bersilang, juru wesel stasiun Petarukan yang bertugas saat itu tidak segera memindahkan wesel ke sepur 1 di mana KA 4 ABA dijadwalkan melintas di sana?

![[Image: 2r56iya.jpg]](http://i56.tinypic.com/2r56iya.jpg)