08-10-2010, 07:59 AM
(This post was last modified: 08-10-2010, 08:06 AM by Dana Komuter.)
Mungkin sisi pemaklumannya sbb :
1. Karena jurnalis jg orang awam yang juga buta info akurat dari bbrp narasumber. Kalau persyaratan menjadi jurnalis itu hrs railfans / penggila KA pasti infonya gak asal.
2. Karena jurnalis yg berada di lapangan / TKP taunya dari org2 sekitar alias update warga masyarakat yg mungkin melihat jumlah jenazah dan korban hidup yg ditemukan. Itu namanya update. Makanya di TV anu nyebutnya 20 org, di TV una 23 org, TV itu 19 org. Krn masing2 bertanya ke org2 sekitar, bukan dari sesama rekan jurnalis aja.
3. Karena warga cuma menduga semisal rangkaian yg PLH di mana mrk tinggal / rumah mrk berada di pinggir rel KA itu rangkaian K3 yg harusnya dilaluin KA - KA Klas 3 sesuai rutenya. Tentu pr warga hafal sekali jam brapa si K3 itu lewat, begitu pun yg K1 dan K2 bahkan KA barang sekalipun. Di sinilah rekan2 jurnalis lgsg update terkini. Kalau ternyata ada banyak keterlambatan, itu di luar dugaan mrk yang biasa menetap di pinggir rel KA.
4. Kenapa kronologinya bisa begini begitu? Sesama media massa gak sama? Karena kemungkinan besar si jurnalis dari koran anu dapet info dari saksi mata seorang warga yg lihat scr langsung. Ada jg jurnalis koran una dpt info dr korban yg selamat dr tragedi maut KA tsb. Mungkin juga si jurnalis dari majalah itu taunya dari pakar terkait transportasi kalau kejadiannya kyk gini kemungkinan besarnya.
Tapi di sisi lain, rekan2 jurnalis di media massa dalam hal ini salah satunya di siaran TV juga mengundang bbrp pakar yg terkait spt Dirut PT. KA, masinis, pengamat transportasi, dll agar kronologinya jelas dan tepat biar gak simpang siur. Mengenai korban yg berjatuhan bisa semakin bertambah krn kemungkinan mrk yg meninggal di RS, puskesmas, dll. Bisa saja malah makin berkurang krn kemungkinan yg diduga tewas gak taunya cuma sekarat begitu diberi pertolongan meskipun seadanya.
Gimana menurut kawan2?![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
1 lagi, seorang jurnalis meski dari media massa yg sama semisal dari TV A, infonya akan berubah dan gak sama begitu dapet info yg tadinya wkt update langsung dr TKP bbrp menit stl kejadian dari para korban dan warga yg nyaksiin lgsg, yg ke sekian kalinya dpt info dari KNKT. Lebih konyolnya lagi mrk yg ditanya itu cuma sekedar (ma'af nih...) orang2 di balik tugasnya yg cuma sebagai pembicara aja alias perwakilan pemerintah. 1 lagi yg perlu dicermati adl para penelepon dari telepon interaktif di kebanyakan stasiun TV yg kita tonton. Bisa aja krn tanggapan umumnya warga masyarakat demikian, mk sesama masyarakat akan menaggapi yang sama. Terlebih jadi masukan mrk para jurnalis deh..
1. Karena jurnalis jg orang awam yang juga buta info akurat dari bbrp narasumber. Kalau persyaratan menjadi jurnalis itu hrs railfans / penggila KA pasti infonya gak asal.
2. Karena jurnalis yg berada di lapangan / TKP taunya dari org2 sekitar alias update warga masyarakat yg mungkin melihat jumlah jenazah dan korban hidup yg ditemukan. Itu namanya update. Makanya di TV anu nyebutnya 20 org, di TV una 23 org, TV itu 19 org. Krn masing2 bertanya ke org2 sekitar, bukan dari sesama rekan jurnalis aja.
3. Karena warga cuma menduga semisal rangkaian yg PLH di mana mrk tinggal / rumah mrk berada di pinggir rel KA itu rangkaian K3 yg harusnya dilaluin KA - KA Klas 3 sesuai rutenya. Tentu pr warga hafal sekali jam brapa si K3 itu lewat, begitu pun yg K1 dan K2 bahkan KA barang sekalipun. Di sinilah rekan2 jurnalis lgsg update terkini. Kalau ternyata ada banyak keterlambatan, itu di luar dugaan mrk yang biasa menetap di pinggir rel KA.
4. Kenapa kronologinya bisa begini begitu? Sesama media massa gak sama? Karena kemungkinan besar si jurnalis dari koran anu dapet info dari saksi mata seorang warga yg lihat scr langsung. Ada jg jurnalis koran una dpt info dr korban yg selamat dr tragedi maut KA tsb. Mungkin juga si jurnalis dari majalah itu taunya dari pakar terkait transportasi kalau kejadiannya kyk gini kemungkinan besarnya.
Tapi di sisi lain, rekan2 jurnalis di media massa dalam hal ini salah satunya di siaran TV juga mengundang bbrp pakar yg terkait spt Dirut PT. KA, masinis, pengamat transportasi, dll agar kronologinya jelas dan tepat biar gak simpang siur. Mengenai korban yg berjatuhan bisa semakin bertambah krn kemungkinan mrk yg meninggal di RS, puskesmas, dll. Bisa saja malah makin berkurang krn kemungkinan yg diduga tewas gak taunya cuma sekarat begitu diberi pertolongan meskipun seadanya.
Gimana menurut kawan2?
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
1 lagi, seorang jurnalis meski dari media massa yg sama semisal dari TV A, infonya akan berubah dan gak sama begitu dapet info yg tadinya wkt update langsung dr TKP bbrp menit stl kejadian dari para korban dan warga yg nyaksiin lgsg, yg ke sekian kalinya dpt info dari KNKT. Lebih konyolnya lagi mrk yg ditanya itu cuma sekedar (ma'af nih...) orang2 di balik tugasnya yg cuma sebagai pembicara aja alias perwakilan pemerintah. 1 lagi yg perlu dicermati adl para penelepon dari telepon interaktif di kebanyakan stasiun TV yg kita tonton. Bisa aja krn tanggapan umumnya warga masyarakat demikian, mk sesama masyarakat akan menaggapi yang sama. Terlebih jadi masukan mrk para jurnalis deh..
