01-11-2010, 10:20 AM
31 Oktober 2010 | 20:07 wib
Meski Tarif Naik Peminat KA Madiun Jaya Tetap Tinggi
Solo, CyberNews. Kendati tarif kereta api (KA) Madiun Jaya dinaikkan hingga 25 persen, minat masyarakat untuk menggunakan jasa KA plat merah itu tetap tinggi. Kenaikan tersebut diberlakukan sejak bulan lalu dari Rp 12.000 menjadi Rp 15.000.
Pantauan Suara Merdeka CyberNews di Stasiun Solo Balapan, Minggu (31/10), empat gerbong kereta terlihat penuh. Kapasitas tempat duduk yang berisi 64 unit nampak tidak tersisa. Banyak penumpang yang rela berdiri dan berdesakan.
Memang, kereta berwarna orange itu lebih banyak mengangkut penumpang dari wilayah Sragen ke timur. Sebab, kereta tersebut memiliki rute Madiun-Solo-Yogyakarta, begitu sebaliknya. Sehingga, sebelum tiba di Stasiun terbesar di Kota Bengawan ini, penumpang sudah membludak.
Lestiyani (25), salah seorang penumpang menyatakan, tarif yang diberlakukan PT KA, awalnya memang memberatkan. Sebab, kenaikannya melebihi KA Prameks yang hanya Rp 1.000, dari Rp 8.000 menjadi Rp 9.000. "Tapi, setelah melihat pelayanan dan ketepatan waktu, tidak ada masalah. Lagipula, perjalananannya lebih cepat bila dibanding dengan transportasi yang lain," ujar Lestiyani.
Hal yang sama diungkapkan Pradista (18), warga Laweyan, Solo. Menurut dia, meski tidak mendapat tempat duduk selama perjalanan, tetapi kereta yang baru beroperasi awal tahun ini, dinilai cukup nyaman. Sebab, di dalamnya dilengkapi AC dan musik. "Tidak apa-apa berdiri, toh hanya jarak dekat," tuturnya.
Sebelumnya, kereta api kelas 3 itu hanya memiliki rute Solo-Madiun, Madiun-Solo. Namun, ketika mendapat tanggapan positif dari masyarakat, maka rute perjalanan ditambah hingga Yogyakarta. Sedangkan, jumlah tempat duduk keseluruhan mencapai 236 buah. Rinciannya, dua gerbong terdapat 54 kursi dan dua gerbong yang lain memiliki 64 buah.
Sebelumnya, Humas PT KA Daop VI Eko Budiyanto menyatakan, kereta Madiun Jaya dioperasikan bukan untuk menyaingi Prameks. Menurut dia, meski salah satu rute yang dilalui sama, yakni Solo-Yogyakarta, namun kereta itu lebih ditujukan untuk mengangkut penumpang dari wilayah Sragen, Ngawi dan Madiun.
"Misal di Solo ada yang naik, bukan berarti mereka meninggalkan Prameks. Mungkin saja waktu kedatangan kereta hampir bersamaan dengan Prameks, jadi lebih memilih Madiun Jaya," jelasnya.
Di sisi lain, operasional kereta itu difungsikan untuk menghidupkan akses Sragen-Solo, trayek itu sebelumnya diambil Prambanan Ekspress.
( Arif M Iqbal /CN13 )
Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/rea...tap-Tinggi
.

