23-03-2011, 04:46 PM
Nyambung lagi ya ceritanya...
Tour de Java – chapter 6
Jam 11 lebih 15 menit, KA Taksaka Pagi tujuan Jakarta tiba di Stasiun Kutoarjo. Di stasiun itu kereta berhenti normal sekitar 5 menit untuk mengangkut penumpang. Tapi, kali itu, kereta berhenti lebih lama.
â€ÂMungkin mau bersilangan,†pikir Bobby.
Tapi, 10 menit berlalu, tak satupun kereta datang dari arah Kroya. Beberapa penumpang mulai terlihat gelisah.
â€ÂPak, maaf nih. Mungkin saya bakal telat tiba di Jakarta,†kata seorang eksekutif muda lewat smartphone-nya. â€ÂMasih di Kutoarjo, berhenti lama, ga kayak biasanya. Mungkin mogok keretanya.â€Â
â€ÂMogok? Ah, ga mungkin!†pikir Bobby. â€ÂKalo emang mogok, harusnya udah banyak kereta nyusul atau silangan.â€Â
â€ÂMbak, koq berhentinya lama banget?†tanya seorang penumpang lain.
â€ÂMaaf Pak, saya juga kurang tahu. Belum ada info dari masinis,†jawab prami yang ditanya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara seorang pria.
Mohon perhatiannya. Kami informasikan bahwa kereta api Taksaka tujuan Jakarta masih harus menunggu sekitar 15 menit akibat kereta api Lodaya tujuan Bandung menabrak seekor kambing yang menyeberangi rel secara tiba-tiba. Setelah proses evakuasi selesai, kereta akan kembali diberangkatkan. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terima kasih atas perhatiannya, selamat siang!
â€ÂOh, ternyata gara-gara si kambing toh!†kata Soni yang duduk di depan Bobby.
â€ÂYa, namanya kambing, seruduk sana seruduk sini. Main nyelonong aja, sampe-sampe ga liat ada kereta bakal nyeruduk dia,†jawab Bobby.
Mendengar hal itu, sekelompok turis di dekat Bobby bertanya...
"Sorry, what happened?" tanya seorang dari mereka.
"Another train hit a goat, which was crossing the railway," jawab Bobby.
"By the way, can I know where do you come from?" tanya Soni.
"Oh, we are from Germany. My name is Muller," jawab pria yang sama.
"Nice to meet you, Sir," balas Soni.
Mereka masih terus mengobrol, terutama soal kereta di Jerman seperti InterCity Express (ICE), TGV atau Shinkansen versi Jerman, karena kebetulan Herr Muller juga seorang RF. Tak terasa 15 menit setelah pengumuman dari masinis berlalu, kereta kembali diberangkatkan. Sekitar tengah perjalanan menuju Kroya, masinis mengurangi kecepatan. Bobby sudah siap di bordes dengan kameranya. Tebakannya benar, disitulah tempat si kambing menghembuskan nafas terakhirnya. Terlihat cukup banyak warga berkumpul disitu, ada yang mengerubungi mayat kambing, ada juga yang asyik melihat rangkaian gado-gado Taksaka yang sedang melintas, seperti beberapa bocah yang sedang asyik memperhatikan kereta yang lewat. Bobby tidak lupa untuk mengabadikan moment-moment langka tersebut. Setelah beberapa meter dari TKP, masinis kembali mempercepat laju kereta.
Jam 12:30, KA Taksaka Pagi tiba di Stasiun Kroya. Di sebelah kirinya telah menunggu KA Argo Wilis dari Bandung yang sudah tiba sekitar 10 menit sebelumnya. Tidak lama setelahnya, Argo Wilis diberangkatkan terlebih dahulu, baru kemudian Taksaka berangkat menuju percabangan ke arah Bandung dan Jakarta. Kali ini, Bobby pindah ke sisi kiri kereta. Ketika kereta mengambil cabang ke kanan, ke arah Cirebon, Bobby memotret cabang yang mengarah ke Bandung. Terlihat di antara kedua cabang rel beberapa railfans siap dengan kameranya masing-masing memotret KA Taksaka yang, saat itu, terlambat 30 menit akibat kecelakaan yang menimpa seekor kambing.
Sambil menunggu saat kereta Taksaka yang ditumpangi mereka dari Yogyakarta berpapasan dengan KA Taksaka dari Jakarta, kelima railfans tersebut menikmati santap siang sambil mengobrol tentang banyak hal. Sehabis santap siang, kereta hampir tiba di Stasiun Purwokerto. Disana kereta berhenti cukup lama, hampir 10 menit, untuk menaikkan atau menurunkan penumpang, berhubung Purwokerto adalah salah satu stasiun besar yang dilewati KA Taksaka. Disana, Bobby dan Ari menyempatkan diri turun ke peron sebentar untuk memotret lok CC 204 01 yang dinas hari itu.
Setelah diberi sinyal aman, kereta kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini, keduanya sengaja stand by di bordes karena ingin memotret moment ketika kedua kereta Taksaka saling bersilangan di Linggapura, begitu juga saat bersilangan dengan KA Argo Dwipangga tujuan Solo di Prupuk.
- TBC -
Tour de Java – chapter 6
Jam 11 lebih 15 menit, KA Taksaka Pagi tujuan Jakarta tiba di Stasiun Kutoarjo. Di stasiun itu kereta berhenti normal sekitar 5 menit untuk mengangkut penumpang. Tapi, kali itu, kereta berhenti lebih lama.
â€ÂMungkin mau bersilangan,†pikir Bobby.
Tapi, 10 menit berlalu, tak satupun kereta datang dari arah Kroya. Beberapa penumpang mulai terlihat gelisah.
â€ÂPak, maaf nih. Mungkin saya bakal telat tiba di Jakarta,†kata seorang eksekutif muda lewat smartphone-nya. â€ÂMasih di Kutoarjo, berhenti lama, ga kayak biasanya. Mungkin mogok keretanya.â€Â
â€ÂMogok? Ah, ga mungkin!†pikir Bobby. â€ÂKalo emang mogok, harusnya udah banyak kereta nyusul atau silangan.â€Â
â€ÂMbak, koq berhentinya lama banget?†tanya seorang penumpang lain.
â€ÂMaaf Pak, saya juga kurang tahu. Belum ada info dari masinis,†jawab prami yang ditanya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara seorang pria.
Mohon perhatiannya. Kami informasikan bahwa kereta api Taksaka tujuan Jakarta masih harus menunggu sekitar 15 menit akibat kereta api Lodaya tujuan Bandung menabrak seekor kambing yang menyeberangi rel secara tiba-tiba. Setelah proses evakuasi selesai, kereta akan kembali diberangkatkan. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terima kasih atas perhatiannya, selamat siang!
â€ÂOh, ternyata gara-gara si kambing toh!†kata Soni yang duduk di depan Bobby.
â€ÂYa, namanya kambing, seruduk sana seruduk sini. Main nyelonong aja, sampe-sampe ga liat ada kereta bakal nyeruduk dia,†jawab Bobby.
Mendengar hal itu, sekelompok turis di dekat Bobby bertanya...
"Sorry, what happened?" tanya seorang dari mereka.
"Another train hit a goat, which was crossing the railway," jawab Bobby.
"By the way, can I know where do you come from?" tanya Soni.
"Oh, we are from Germany. My name is Muller," jawab pria yang sama.
"Nice to meet you, Sir," balas Soni.
Mereka masih terus mengobrol, terutama soal kereta di Jerman seperti InterCity Express (ICE), TGV atau Shinkansen versi Jerman, karena kebetulan Herr Muller juga seorang RF. Tak terasa 15 menit setelah pengumuman dari masinis berlalu, kereta kembali diberangkatkan. Sekitar tengah perjalanan menuju Kroya, masinis mengurangi kecepatan. Bobby sudah siap di bordes dengan kameranya. Tebakannya benar, disitulah tempat si kambing menghembuskan nafas terakhirnya. Terlihat cukup banyak warga berkumpul disitu, ada yang mengerubungi mayat kambing, ada juga yang asyik melihat rangkaian gado-gado Taksaka yang sedang melintas, seperti beberapa bocah yang sedang asyik memperhatikan kereta yang lewat. Bobby tidak lupa untuk mengabadikan moment-moment langka tersebut. Setelah beberapa meter dari TKP, masinis kembali mempercepat laju kereta.
Jam 12:30, KA Taksaka Pagi tiba di Stasiun Kroya. Di sebelah kirinya telah menunggu KA Argo Wilis dari Bandung yang sudah tiba sekitar 10 menit sebelumnya. Tidak lama setelahnya, Argo Wilis diberangkatkan terlebih dahulu, baru kemudian Taksaka berangkat menuju percabangan ke arah Bandung dan Jakarta. Kali ini, Bobby pindah ke sisi kiri kereta. Ketika kereta mengambil cabang ke kanan, ke arah Cirebon, Bobby memotret cabang yang mengarah ke Bandung. Terlihat di antara kedua cabang rel beberapa railfans siap dengan kameranya masing-masing memotret KA Taksaka yang, saat itu, terlambat 30 menit akibat kecelakaan yang menimpa seekor kambing.
Sambil menunggu saat kereta Taksaka yang ditumpangi mereka dari Yogyakarta berpapasan dengan KA Taksaka dari Jakarta, kelima railfans tersebut menikmati santap siang sambil mengobrol tentang banyak hal. Sehabis santap siang, kereta hampir tiba di Stasiun Purwokerto. Disana kereta berhenti cukup lama, hampir 10 menit, untuk menaikkan atau menurunkan penumpang, berhubung Purwokerto adalah salah satu stasiun besar yang dilewati KA Taksaka. Disana, Bobby dan Ari menyempatkan diri turun ke peron sebentar untuk memotret lok CC 204 01 yang dinas hari itu.
Setelah diberi sinyal aman, kereta kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini, keduanya sengaja stand by di bordes karena ingin memotret moment ketika kedua kereta Taksaka saling bersilangan di Linggapura, begitu juga saat bersilangan dengan KA Argo Dwipangga tujuan Solo di Prupuk.
- TBC -

