19-04-2011, 10:30 PM
ini ada berita yang bertentangan dengan kabar diatas. mohon para rf menanggapinya dengan arif, santun, bijaksana, dan sedapat mungkin tidak mencaci-maki narasumber seperti yang sudah-sudah.
Quote:http://suaramerdeka.com/v1/index.php/rea...ng-Fisibel
Menghidupkan Jalur KA yang Mati, Kurang Fisibel
Semarang, CyberNews. Rencana pemerintah menghidupkan kembali sejumlah jalur kereta api (KA) antarkota di Jawa Tengah yang telah lama mati, dinilai kurang fisibel.
Pakar ekonomi Universitas Diponegoro, Prof FX Sugiyanto berpandangan, pemerintah Jateng harus menunda kebijakan penghidupan kembali jalur KA antarkota karena tidak layak secara teknis dan ekonomis. "Daripada untuk membangun sarana dan prasarana kereta api, kan lebih baik membangun tol atau menyediakan bus yang lebih nyaman. Ini lebih hemat dan efektif mengurangi kepadatan lalu lintas," tutur dia.
Meski begitu, penghidupan jalur KA tersebut akan menjadi efektif dan efisien jika sasarannya yakni pariwisata, bukan transportasi massal. Pasalnya, dari sisi ekonomi, bisa dirasakan langsung oleh daerah setempat karena secara signifikan bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). "Tapi tetap dengan catatan, digarap dengan serius dan menggunakan manajemen yang profesional," imbuhnya.
Dikatakan, kasus penghentian operasi KA Banyubiru akibat sepi penumpang, jangan sampai terjadi lagi saat penghidupan sejumlah jalur KA nantinya. "Akan percuma jika pemda sudah mengeluarkan duit banyak tapi tidak memberi masukan kas daerah," kata dia.
Sementara Pakar sosial budaya Undip, Prof Mudjahirin Thohir mengharuskan adanya kajian untuk menjawab beberapa pertanyaan. Diantaranya, siapa sasaran konsumen KA jalur baru nantinya, berapa biaya yang harus dibayar konsumen sesuai pelayanan yang diberikan, apakah penglaju atau masyarakat umum, serta apakah ada angkutan umum ke berbagai arah untuk mengangkut penumpang KA selepas turun dari stasiun terutama pada pagi dan malam hari jika sasarannya penglaju.
Jika biaya KA lebih mahal daripada kendaraan pribadi, efektivitas waktu tidak memenuhi, dan beberapa pertanyaan lain di atas tidak terjawab, maka kebijakan penghidupan jalur baru KA yang telah mati, patut ditinjau ulang.
"Sebab, jawabannya sudah jelas, orang tak akan tertarik naik KA itu dan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi karena lebih mobile. Pemerintah harus sampai berpikir bahwa masyarakat sekarang rasional dan tak akan tertarik dengan hal yang unpredictible," tutur dia.
Mungkin, saat awal peluncuran KA jalur baru itu, akan banyak warga yang tertarik, tetapi dalam waktu yang singkat, KA akan sepi, karena peluncuran itu sekadar menjadi ajang coba-coba masyarakat terhadap "produk" transportasi baru yang dikeluarkan pemerintah. "Kalau begini, upaya menghidupkan jalur KA yang mati, jelas tidak fisibel," imbuhnya.
Mudjahirin mengharuskan Pemprov bekerja sama dengan pihak lain seperti pemerinatah kota/kabupaten setempat dan pengusaha angkutan, terutama perihal tersedianya angkutan kota yang nyaman dan murah. Sebab, para penumpang KA jalur baru nantinya, pasti mencari hal itu karena tidak mungkin mereka harus terus naik taksi. "Itu kan tergolong prestise yang dilakukan sekali-kali, tidak setiap hari," jelasnya.
( Hadziq Jauhary / CN27 / JBSM )
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
