02-08-2011, 10:23 AM
(15-06-2011, 09:01 AM)rizky nur adrianto Wrote: ckckckckckck..penelusuran yang mantap...berguna buat sejarah kereta api Indonesia..terlepas itu nantinya rel lori atau kereta api jaman belanda...
Beberapa waktu lalu, saya menelusuri jalur ini bersama beberapa RF, yakni Miko Pbr, Bahrul Ulum (PPKA Sengon), Reza Wira dan Wafa The Explorer. Dari pengukuran beberapa bekas jembatan yang kami temukan, ukuran lebar landasan jembatan dari masing-masing sisi terluar rata-rata sekitar 2,25 hingga 2, 50 m. Ukuran ini lebih kecil dari lebar landasan bekas jembatan trem jadul yang biasanya sekitar 3,50 m ke atas diukur dari masing-masing sisi terluar.
Jadi dapat disimpulkan bahwa bekas-bekas jembatan yang masih ada tersebut merupakan sisa dari jalur decauville alias lori 600- 700 mm. Apalagi dalam sejumlah peta, jalur tersebut ditandai sebagai jalur "decauville". Termasuk bekas jembatan di sebelah utara SMKN Purwosari. Jadi diperkirakan jalur tersebut merupakan bekas lori dari PG Alkmaar yang mengarah ke suatu titik dekat Stasiun Sengon.
Keberadaan jalur lori ini didukung pula oleh suatu fakta sejarah bahwa PG Alkmaar berdiri pada dekade 1890 an yang mendahului keberadaan jalur (1067 mm) Pasuruan Stoomtram Mij. Sebab jalur trem yang menghubungkan Pasuruan dan Alkmaar tersebut baru dibuka pada tahun 1900 (CMIIW). Jadi ketika PG Alkmaar membutuhkan suatu alat transportasi untuk mengangkut hasil produksinya, maka dibuatlah jalur lori itu menuju Sengon untuk mengangkut karung-karung gula. Selanjutnya karung gula tersebut diangkut oleh KA SS dari St Sengon.
Namun ketika jalur trem telah mencapai Alkmaar, kemungkinan besar jalur lori tersebut ditutup demi efisiensi. Pengangkutan karung gula tidak lagi melalui St Sengon, melainkan melalui jalur trem PsSM.
Tentang keberadaan versi peta Sengon-Alkmaar/ Purwosari yang digambar sebagai track cape gauge 1067 mm, bekas-bekasnya masih sulit ditelusuri. Adanya dua versi peta ini juga memberikan suatu teka-teki apakah dulu terdapat dua jalur KA berbeda Gauge yang menghubungkan Sengon-Purwosari/ Alkmaar. Terlebih lagi jalur yang digambar sebagai track 1067 mm tersebut melewati rute yang berbeda dari jalur "decauville". Pertanyaan yang masih perlu dipecahkan adalah apakah jalaur 1067 mm itu benar-benar pernah ada atau sekedar suatu jalur yang direncanakan akan dibangun namun tidak pernah terealisasi.
Selain itu, seorang rekan (Pak Rob Van Dort) yang pernah membaca literatur tentang sejarah KA berbahasa Belanda pernah mengatakan pada saya bahwa dulu PsSM diberi konsesi oleh pemerintah Hindia Belanda untuk membangun jalur trem hingga Sengon. Namun belum pernah terealisasi.
Singkat kata, saya dan rekan-rekan yang pernah menelusuri jalur ini sebenarnya belum menemukan suatu kesimpulan final tentang ada dan tidaknya jalur 1067mm milik trem PsSM yang menghubungkan Pasuruan-Alkmaar-Sengon. Masih perlu dijalankan misi "mblusukan" lain yang lebih teliti dan komprehensif. Apalagi pada kenyataannya jalur KA/ trem di seputar Pasuruan sungguh diliputi berbagai misteri. Contoh, temuan Wafa, Miko, Egief dkk atas sebuah bekas jembatan KA cape gauge di sekitar Desa Wrati, Kec Kejayan memberikan suatu pertanyaan besar. Perlu diketahui, jalur KA di sekitar Wrati tersebut belum pernah diketemukan dalam peta dan literatur tentang sejarah KA.
Salam Spoor,

