19-10-2011, 12:04 PM
Mengejar Kereta (Part 2)
--------------------------------
--------------------------------
To be continued ...
--------------------------------
Cerita fiksi, tidak ada hubungan dengan nama, cerita, dan waktu kejadian
Setelah beberapa lama, akhirnya Lukman pun tidak menemukan Claudia, perempuan imut pemilik liontin yang ditemukannya itu, padahal suasana Stasiun Purwokerto sedang sepi, dan hanya beberapa orang saja yang lalu lalang di sekitar peron stasiun. Lukman berpikir mungkin si perempuan itu sudah keluar stasiun, mengingat setelah Kereta Api Kutojaya Utara berangkat, belum ada kereta api lain yang datang, jadi tidak mungkin Claudia meninggalkan stasiun dengan naik kereta api.
Alhasil, Lukman pun terpaksa pulang dengan membawa liontin berbentuk hati emas itu dengan perasaan bersalah, karena sudah menabrak seorang perempuan hingga iPad, dan liontinnya terjatuh, sudah begitu terinjak pula. Sesampainya di rumahnya, di pinggiran kota Purwokerto, Lukman langsung istirahat, merebahkan diri di atas kasur sambil membayangkan kejadian tadi siang di stasiun.
--------------------------------
Empat hari kemudian ...
Lukman sudah bersiap untuk pergi ke Stasiun Purwokerto untuk kembali ke Jogjakarta, karena masa liburan nya sudah menjelang habis, dengan masih membawa liontin emas milik Claudia di dalam saku celana panjangnya. Sesampainya Lukman di stasiun terbesar di DAOP V tersebut dengan diantar temannya, dia bergegas membeli tiket Kereta Api Kutojaya Utara jurusan Jogjakarta yang datang pada pukul sekitar 12.45. Begitu memasuki peron stasiun, Lukman tidak sengaja melihat Claudia menaiki kereta api yang berhenti di peron tiga dari kejauhan. Begitu melihat si pemilik liontin itu, Lukman mencoba berlari menuju peron tiga, namun ternyata perlahan-lahan pintu kereta api tertutup, dan beberapa detik kemudian terdengar pengumuman dari petugas stasiun bahwa Kereta Api Taksaka tujuan Jakarta diberangkatkan.
Begitu Kereta Api Taksaka bergerak perlahan-lahan meninggalkan stasiun, Lukman mencoba berlari sekuat tenaga untuk mengejar kereta api itu sambil melambaikan liontin dari luar jendela kereta dengan berharap Claudia yang berambut sebahu itu melihatnya. Namun, usahanya sia-sia, ular besi Taksaka itu pun semakin menjauh, dan akhirnya Lukman pun berhenti mengejar sambil memandangi kereta api yang sedang melewati sinyal keluar sambil menggenggam liontin itu.
Dengan niat tulus untuk mengembalikan liontin yang ditemukannya empat hari yang lalu itu, Lukman berbalik dan berlari keluar stasiun.
"Man, kamu mau kemana ...?" tanya teman Lukman yang masih di tempat parkir stasiun.
"Aku mau mengejar kereta yang baru berangkat itu," balas Lukman.
"Kamu ketinggalan kereta itu ta ...?" tanya balik teman Lukman sambil memacu sepeda motornya mendekati Lukman.
"Bukan, sulit untuk menjelaskan."
"Ya udah, ayo aku antarkan mengejar kereta itu," kata teman Lukman.
"Nggak apa-apa ta Ris ...?" balik Lukman bertanya kepada Haris, temannya itu.
"Udah nggak apa-apa kok, memangnya kamu mau ngejar naik apa. Ayo."
Akhirnya, Lukman yang dibonceng Haris mencoba mengejar kereta yang sedang melaju kencang demi mengembalikan liontin berharga milik Claudia, yang mungkin kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kalinya. Tak berselang lama, Kereta Api Taksaka tujuan Jakarta berbelok menikung mengikuti kontur perbukitan Purwokerto yang membuat Lukman dan Haris terpisah dari kereta api itu, karena pandangan mereka tertutup oleh perbukitan.
"Gawat, kita tidak bisa melihat kereta itu lagi."
"Ris, stasiun terdekat dari sini mana ...?" tanya Lukman.
"Karang Gandul."
"Baiklah, bisa kita ke sana Ris ...?"
"Oke, tidak begitu jauh dari sini," balas Haris sambil menambah kecepatan hingga speedometer melebihi 80 km/jam
Setelah beberapa lama, akhirnya Lukman pun tidak menemukan Claudia, perempuan imut pemilik liontin yang ditemukannya itu, padahal suasana Stasiun Purwokerto sedang sepi, dan hanya beberapa orang saja yang lalu lalang di sekitar peron stasiun. Lukman berpikir mungkin si perempuan itu sudah keluar stasiun, mengingat setelah Kereta Api Kutojaya Utara berangkat, belum ada kereta api lain yang datang, jadi tidak mungkin Claudia meninggalkan stasiun dengan naik kereta api.
Alhasil, Lukman pun terpaksa pulang dengan membawa liontin berbentuk hati emas itu dengan perasaan bersalah, karena sudah menabrak seorang perempuan hingga iPad, dan liontinnya terjatuh, sudah begitu terinjak pula. Sesampainya di rumahnya, di pinggiran kota Purwokerto, Lukman langsung istirahat, merebahkan diri di atas kasur sambil membayangkan kejadian tadi siang di stasiun.
--------------------------------
Empat hari kemudian ...
Lukman sudah bersiap untuk pergi ke Stasiun Purwokerto untuk kembali ke Jogjakarta, karena masa liburan nya sudah menjelang habis, dengan masih membawa liontin emas milik Claudia di dalam saku celana panjangnya. Sesampainya Lukman di stasiun terbesar di DAOP V tersebut dengan diantar temannya, dia bergegas membeli tiket Kereta Api Kutojaya Utara jurusan Jogjakarta yang datang pada pukul sekitar 12.45. Begitu memasuki peron stasiun, Lukman tidak sengaja melihat Claudia menaiki kereta api yang berhenti di peron tiga dari kejauhan. Begitu melihat si pemilik liontin itu, Lukman mencoba berlari menuju peron tiga, namun ternyata perlahan-lahan pintu kereta api tertutup, dan beberapa detik kemudian terdengar pengumuman dari petugas stasiun bahwa Kereta Api Taksaka tujuan Jakarta diberangkatkan.
Begitu Kereta Api Taksaka bergerak perlahan-lahan meninggalkan stasiun, Lukman mencoba berlari sekuat tenaga untuk mengejar kereta api itu sambil melambaikan liontin dari luar jendela kereta dengan berharap Claudia yang berambut sebahu itu melihatnya. Namun, usahanya sia-sia, ular besi Taksaka itu pun semakin menjauh, dan akhirnya Lukman pun berhenti mengejar sambil memandangi kereta api yang sedang melewati sinyal keluar sambil menggenggam liontin itu.
Dengan niat tulus untuk mengembalikan liontin yang ditemukannya empat hari yang lalu itu, Lukman berbalik dan berlari keluar stasiun.
"Man, kamu mau kemana ...?" tanya teman Lukman yang masih di tempat parkir stasiun.
"Aku mau mengejar kereta yang baru berangkat itu," balas Lukman.
"Kamu ketinggalan kereta itu ta ...?" tanya balik teman Lukman sambil memacu sepeda motornya mendekati Lukman.
"Bukan, sulit untuk menjelaskan."
"Ya udah, ayo aku antarkan mengejar kereta itu," kata teman Lukman.
"Nggak apa-apa ta Ris ...?" balik Lukman bertanya kepada Haris, temannya itu.
"Udah nggak apa-apa kok, memangnya kamu mau ngejar naik apa. Ayo."
Akhirnya, Lukman yang dibonceng Haris mencoba mengejar kereta yang sedang melaju kencang demi mengembalikan liontin berharga milik Claudia, yang mungkin kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kalinya. Tak berselang lama, Kereta Api Taksaka tujuan Jakarta berbelok menikung mengikuti kontur perbukitan Purwokerto yang membuat Lukman dan Haris terpisah dari kereta api itu, karena pandangan mereka tertutup oleh perbukitan.
"Gawat, kita tidak bisa melihat kereta itu lagi."
"Ris, stasiun terdekat dari sini mana ...?" tanya Lukman.
"Karang Gandul."
"Baiklah, bisa kita ke sana Ris ...?"
"Oke, tidak begitu jauh dari sini," balas Haris sambil menambah kecepatan hingga speedometer melebihi 80 km/jam
--------------------------------
To be continued ...
- R y z k y W i d i A T m a j a -

