20-10-2011, 01:53 PM
(This post was last modified: 20-10-2011, 01:56 PM by Jefta Bwan.)
Quote:ini kerjaan kan bukan makan waktu satu dua hari tapi sebulan,
tapi nyatanya tidak ada pemimpin yg berani mengambil keputusan, baik dari PT KCJ yg mengelola jalur ini , PT. Kereta Api Indonesia (Persero) BUMN yg juga induk perusahaan dari KCJ , maupun dari Dephub (pemerintah), seolah olah semua tidak mau rugi, akhirnya biar rakyat nya yg menderita.
saya sebenarnya kurang paham masalah stock loko dan gerbong , secara logika saja kenapa tidak menggunakan rangkaian formasi tambahan lebaran ( baik loko maupun rangkaiannya ) , PT KCJ harusnya merundingkan hal ini ke PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan juga Dephub, ini dephubnya cuman bilang operasional KRL beda , masinis beda ..."Dari sisi teknis, tidak cocok KRDE dengan KRL, baik untuk rel, masinis maupun hal-hal lainnya," Sumber: KRDE batal dioperasikan......, ya memang beda anak TK juga tahu kalau KRL itu kereta rel listrik , KA UAP pakai air , kereta diesel pakai solar.
makanya perlu dipirkan sejak jauh hari anda itu (Dephub, PT KCJ,PT. Kereta Api Indonesia (Persero)) diamanatkan oleh rakyat untuk memikirkan dan mensolusikan hal hal kayak begini bukan malah rakyatnya yg disuruh mikir cari transportasi lainnya.
Setuju ama Kang Joko Tingkir
. anak TK juga udah bisa bedain. sekarang gini ajah, kadang gua suka liat tengah malem ada lok ama kereta barang lewat jalur ini untuk bawa barang ke dipo depok ato bogor. trus ada KRD Bumi geulis yang lewat juga. kadang ada KRD Penolong lewat sini juga. trus beda relnya apa ??
khan sama2 pake r45 bantalan beton ? boong banget dah masinis KRL gak bisa bawa KRDE, KRDI, KRD, ama lok. coba ajah kita tanya langsung ama masinisnya. sungguh alasan yang gak masuk di akal.

