11-11-2011, 10:26 AM
untuk perbadingan jika menggunakan minyak goreng/jelantah, ada baiknya melihat pengalaman bus trans pakuan di bogor.
bus trans pakuan di bogor sudah lama menggunakan minyak jelantah yang diolah menjadi biodisel. hitung2an per unitnya, satu bus perhari membutuhkan 12 liter jelantah yang akan diolah jadi biodisel. lalu dicampur solar menjadi B20 (20%biodisel 80%solar).
dari 20 unit bus transpakuan, hanya 10 yang diberi "minum" B20, karena kekurangan pasokan minyak jelantah yang hanya 10 ribu liter setahun. idealnya diperlukan 43,2 ribu liter jelantah setahun untuk memenuhi kebutuhan seluruh bus transpakuan.
untuk mengumpulkan jelantah, pemkot membeli dari pemilik restoran, rumah makan, dan pedagang kakilima dengan harga Rp. 3000 perliter. yang paling sulit adalah mengumpulkan dari pedagang kakilima/gorengan. sebab mereka biasanya menggunakan minyak goreng sampai habis. untuk memperbanyak pasokan, harga jelantah akan dinaikan jadi Rp 4000 per liter.
bus trans pakuan di bogor sudah lama menggunakan minyak jelantah yang diolah menjadi biodisel. hitung2an per unitnya, satu bus perhari membutuhkan 12 liter jelantah yang akan diolah jadi biodisel. lalu dicampur solar menjadi B20 (20%biodisel 80%solar).
dari 20 unit bus transpakuan, hanya 10 yang diberi "minum" B20, karena kekurangan pasokan minyak jelantah yang hanya 10 ribu liter setahun. idealnya diperlukan 43,2 ribu liter jelantah setahun untuk memenuhi kebutuhan seluruh bus transpakuan.
untuk mengumpulkan jelantah, pemkot membeli dari pemilik restoran, rumah makan, dan pedagang kakilima dengan harga Rp. 3000 perliter. yang paling sulit adalah mengumpulkan dari pedagang kakilima/gorengan. sebab mereka biasanya menggunakan minyak goreng sampai habis. untuk memperbanyak pasokan, harga jelantah akan dinaikan jadi Rp 4000 per liter.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"

