22-12-2011, 10:36 AM
stasiunkastephanie Wrote:Nah, ini dia yang selama ini ane cari2.
Ternyata rel yang bercabang ke selatan dari sta. Bojonegoro itu milik Perhutani, ya?
Tapi, saya mau revisi dulu.
Sebenarnya, jika diliat dari simbah Google Earth/Maps, jalurnya tidak menuju ke Nganjuk, tapi ke Ploso di Jombang.
chupink Wrote:loh emang ada weselnya ya sm jalurnya kai???
stau ane jalurnya kai sm perhutani tu ga pnh nyambung (mohon koreksinya klo slh)
sepur_lori Wrote:jalur perhutani tu gk nyambung ama jalurnya kai, jdi jalur milik sendiri. emang letaknya tu di selatan stasiun bodjonegoro.
stasiunkastephanie Wrote:Kalo menurut analisis saya, mungkin jalur ini memotong rel Jombang-Babat di Ploso (seperti halnya rel lori tebu kebanyakan) & relnya memang tidak pernah bertemu dengan rel PT KA di Bojonegoro, akan tetapi ketika melihat simbah Google Maps/Earth, ternyata rel ini ada terusannya sampai beberapa km sebelah timurnya jalan raya Jombang-Ploso-Babat, tapi untuk masalah ini saya harus menelitinya lebih lanjut.
chupink Wrote:oh gtu,, jadi pernah bersambung ya...
btw tu relnya tipe berapa si?![]()
yang jelas dulu pas lwt situ bantalannya berantakan gitu, ga rapih, cuma kayak kayu dipotong2...
sepur_lori Wrote:a kalau relnya tu ikut sama rel yg pd waktu itu digunakan sama jawatan perkeretaapian terkait, misalnya SCS pakai R42 trus bantalannya dari kayu jati, perhutani bodjonegoro ikut menggunakan jns rel dan bantalan rel tsb.
mungkin karena lama tdk digunakan jadi dibiarkan berserakan tnp ada perhatian dari perhutani setempat
Oke, jadi saya cuma mw meluruskan saja biar tidak ada kebingungan disini. Pertama, perhutani Bojonegoro dan perhutani Ploso itu dua perusahaan yang berbeda. Jadi rel perhutani Bojonegoro tidak menyambung dengan rel perhutani Ploso, kecuali kalau memang ada bukti konkret seperti peta lama, Google Earth, dll. Kedua, masalah lebar gauge. Beda perhutani beda gauge. Perhutani Bojonegoro, seperti telah dijelaskan oleh Pak Rob Dickinson, itu lebar gauge 1067 mm. Kalau perhutani Ploso, itu menurut saya kalau berdasarkan peta lama itu lebar gaugenya 700 mm. Mengapa? Soalnya di peta lama itu tertulis decauville, yang berarti memiliki lebar gauge 600 mm, 700 mm, 800 mm atau 900 mm, dan memang pada umumnya memiliki lebar gauge 700 mm. Hal ini sama seperti perhutani di daerah Jember/Banyuwangi sana, yang juga memiliki lebar gauge 700 mm, atau jalur decauville. Ketiga, masalah rel perhutani menyambung atau tidak dengan rel KA jalur utama (trem atau KA reguler). Kalau yang di Bojonegoro, terus terang saya tidak tahu, tetapi kalau yang di Ploso, saya tahu. Itu soalnya letaknya hanya beberapa meter dari rumah saudara saya. Nah jalur perhutani Ploso itu memiliki lebar gauge 700 mm, dan itu tidak menyambung dengan rel BDSM yang memiliki lebar gauge 1067 mm. Akan tetapi di perhutani Ploso terdapat emplasemen untuk bongkar muat kayu2 yang telah diangkut oleh lori ke jalur KA biasa. Nah, jalur KA biasa inilah yang memiliki wesel yang menyambung ke rel BDSM. Untuk lebih pastinya, ini saya cantumkan peta yang saya ambil dari maps.kit.nl. tahun 1940, seperti terlihat dibawah. Sebagai tambahan, rel yang bersilang dengan rel BDSM yang di daerah Ploso itu bukan decauvillenya perhutani Ploso, melainkan rel decauvillenya Suikerfabriek (SF) Ngelom.
[spoiler=Peta jadul perhutani Ploso]
[/spoiler]Yang saya kasih lingkaran berwarna hijau - biru itu letak perhutani Ploso, atau istilah Belandanya Stapelplaats Boschwezen, yang berarti gudang penyimpanan kayu. Jalur yang saya kasih titik2 kuning itu jalur BDSM yang di kemudian hari diakuisisi oleh SS, yang akhirnya menjadi SS Tram. Yang saya kasih titik2 merah itu jalur SS Tram Krian - Ploso. Sedangkan jalur yang saya kasih titik2 biru gelap itu jalur decauville 700 mm milik perhutani Ploso. Dan jalur yang saya kasih titik2 biru terang itu jalur Decauville en Aanleg, atau jalur decauville yang sedang dikerjakan tetapi akhirnya tidak selesai dan tidak sempat terealisasi karena keburu adanya invasi Jepang. Silahkan dicerna terlebih dahulu.


