25-01-2012, 06:19 PM
(25-01-2012, 06:00 PM)bonbon Wrote: Petikan :
"Jaya menuturkan, lebih baik PT. Kereta Api Indonesia (Persero) membuat kebijakan untuk tidak menjalankan kereta bila masih ada penumpang di atap KRL. Cara itu, menurutnya, lebih mendidik ketimbang memasang bola beton atau palang pintu koboi."
Tapi stasiun bisa ancur lebur, tau sendiri dah sebagian perilaku penumpang...
Dia kan cuman pengamat.....jadi tidak ubahnya seperti penonton sepak bola. Bisa berkata "saya lebih tahu", "idealnya....idealnya...", atau malah yang lebih ekstrim memojokkan!
Tapi bagaimana kalau yang bersangkutan mengalami sendiri susahnya menjadi pekerja perkereta apian.
Saya sering sekali datang ke forum-forum rapat pertemuan dengan orang-orang yang katanya pakar atau pengamat pereketa apian.
Siapakah mereka? Mereka hanya orang-orang akademisi yang lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam gedung kampus yang nyaman, membaca-baca teori dan lain sebagainya. Dan yang pasti jarang ke lapangan.
Salah satu orang yang menurut saya layak mendapat titel "pakar kereta api" adalah pak Ahmad Sujadi. Bayangkan, beliau memulai karirnya di PT KA sebagai portir di stasiun kecil di sekitar Purwokerto, hingga kemudian menjadi figur pejabat PT KA yang dikenal media.
