17-02-2012, 10:26 PM
kalo menurut sudut pandang awam saya, sepertinya PT. KAI lebih cenderung menerapkan kebutuhan lok dan KRL/KRD yang disesuaikan dengan letak geografis suatu daerah. Mungkin pertimbangan utamanya adalah biaya, efektifitas dan fungsionalitas.
Mengingat untuk meng-elektirifikasi seluruh jaringan KA (pake LAA ato pake rel ketiga) di pulau Jawa pastinya akan "memakan" duit yg tidak sedikit. Sedangkan prasarana dan sarana saja masih menunggu antrian, mana yg lebih dulu diurus dan mana yg diurus nanti2 saja.
Sebagai contoh karena daerah Jabodetabek sudah terbentang LAA maka yg diutamakan saat ini untuk digunakan bagi para kaum urban dsbnya adalah KRL. Syukur2 jika nanti LAA sudah terbentang sampai Cikarang/Cikampek, pastinya akan semakin banyak penumpang yg menggunakan jasa kereta api, dengan catatan jadwal tidak ngaret.
Saya ingat (kalo tidak salah), dulu rute JAKK-CKP kan pake KRD ya, sekarang malah berganti menggunakan rangkaian K3 plus lok. Mungkin karena KRD nya sendiri juga tidak bisa menampung beban penumpang yg berlebih ditambah kondisi KRD itu sendiri, maka dipilihlah K3 plus lok untuk melayani penumpang yg ke Cikampek s/d Purwakarta.
Kalo di DAOP 6 dan 8 ada KRDE, hal itu mungkin juga dipengaruhi oleh suatu pemikiran kreatif untuk menjalankan tranportasi massal (komuter) seperti di jabodetabek tapi tanpa LAA, maka lahirlah KRDE2 seperti yg kita kenal saat ini.
Baik lok atau KRL/KRD punya keunggulan dan kelemahan masing2 dalam pengoperasiannya di suatu wilayah. Jadi lok vs EMU (KRL/KRD)???? Saya akan menjawab 22nya, tapi dengan catatan, dia dipilih karena lebih cocok dengan karakter penumpang dan kondisi geografis dari suatu daerah dimana dia akan bekerja. Dengan kata lain "si penarik kereta" ini haruslah efektif dan fungsional agar tidak menimbulkan biaya operasi yg berlebihan.
Ada yang bisa menjelaskan knp sampai saat ini PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tidak lagi menggunakan lok listrik dan lebih cenderung menggunakan KRL untuk layanan komuternya di jabodetabek????
Mengingat untuk meng-elektirifikasi seluruh jaringan KA (pake LAA ato pake rel ketiga) di pulau Jawa pastinya akan "memakan" duit yg tidak sedikit. Sedangkan prasarana dan sarana saja masih menunggu antrian, mana yg lebih dulu diurus dan mana yg diurus nanti2 saja.
Sebagai contoh karena daerah Jabodetabek sudah terbentang LAA maka yg diutamakan saat ini untuk digunakan bagi para kaum urban dsbnya adalah KRL. Syukur2 jika nanti LAA sudah terbentang sampai Cikarang/Cikampek, pastinya akan semakin banyak penumpang yg menggunakan jasa kereta api, dengan catatan jadwal tidak ngaret.
Saya ingat (kalo tidak salah), dulu rute JAKK-CKP kan pake KRD ya, sekarang malah berganti menggunakan rangkaian K3 plus lok. Mungkin karena KRD nya sendiri juga tidak bisa menampung beban penumpang yg berlebih ditambah kondisi KRD itu sendiri, maka dipilihlah K3 plus lok untuk melayani penumpang yg ke Cikampek s/d Purwakarta.
Kalo di DAOP 6 dan 8 ada KRDE, hal itu mungkin juga dipengaruhi oleh suatu pemikiran kreatif untuk menjalankan tranportasi massal (komuter) seperti di jabodetabek tapi tanpa LAA, maka lahirlah KRDE2 seperti yg kita kenal saat ini.
Baik lok atau KRL/KRD punya keunggulan dan kelemahan masing2 dalam pengoperasiannya di suatu wilayah. Jadi lok vs EMU (KRL/KRD)???? Saya akan menjawab 22nya, tapi dengan catatan, dia dipilih karena lebih cocok dengan karakter penumpang dan kondisi geografis dari suatu daerah dimana dia akan bekerja. Dengan kata lain "si penarik kereta" ini haruslah efektif dan fungsional agar tidak menimbulkan biaya operasi yg berlebihan.
Ada yang bisa menjelaskan knp sampai saat ini PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tidak lagi menggunakan lok listrik dan lebih cenderung menggunakan KRL untuk layanan komuternya di jabodetabek????
![[Image: 00031_Iansbiggrandma_1Oktober2008_NEW320x240.jpg]](http://i1118.photobucket.com/albums/k620/nearistudiosoerabaia/00031_Iansbiggrandma_1Oktober2008_NEW320x240.jpg)
Murtini
Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950
Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012
Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali.
Semboyan 40, 41, mama aman berangkat.
