02-09-2012, 10:41 AM
(01-09-2012, 05:52 PM)Didit Achmad Wrote: Kalo untuk Restorasi Gopar sekarang sudah dipegang lagi oleh Reska, alhasil rasanya, menunya, atau hidangannya menurut ane begitu2 saja tidak ada perubahan dan cenderung membosankan juga kurang inovatif, sama halnya dengan pelayanan restorasi Argo Wilis yang dikelola juga oleh ReskaYa maksud gw reska,dulu waktu masih dipegang pusaka nusantara masih lumayan
praminya nggak "nakal"
semenjak dipegang reska gw jadi males kalo mau makan di kereta,bahkan males kalo ke restorasi walapun praminya ganti jadi pada cantik2

tapi itu pengalaman buruk gw pas terakhir mesen makanan bikin buyar
(02-09-2012, 05:12 AM)Gregoriusparahyangan Wrote: GoPar punya potensi besar kalo di kelola dengan baik, pada dasarnya gini, pilihan menggunakan alat transportasi ada di masyarakat terserah masyarakat mau naik apa ke bandung atau ke kota lainnya, dari makanya itu yang seharusnya di lakukan adalah bagaimana caranya supaya masyarakat mau naik kereta api
tapi memang saya akui sebagian besar pasti memilih naik mobil karena cepat dan pergerakan di kota bandung akan lebih mudah, apalagi tarifnya lebih murah dan itu tarif permobil, orang juga naik travel karena harganya relatif wajar dengan jam tempuh travel itu. Hanya pada saat saat tertentu GoPar bisa unggul kaya waktu demo buruh dan macet arus mudik
Mungkin istilah ekstrimnya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) harus bisa me "doktrin" penumpang supaya mau naik kereta api...
sebenernya kalo gopar masih menerapkan harga tiket yang dulu di rate 60-70 masih bisa bersaing mengingat kecepatan kereta yang konstan dan relatif bisa dipastikan nyampenya
cuma PT. KAI terlalu pede semenjak lebaran tahun lalu menerapkan harga 80k, bahkan lebaran kemaren nembus 90k kalo naek lagi siap2 aja ditutup tuh rute
My Train Frequent Passanger Card
[spoiler]
[/spoiler]
[spoiler]
[/spoiler]
