05-07-2013, 12:21 AM
(20-09-2012, 08:28 PM)pecintabordes Wrote: Kalau saya tidak setuju sama sekali kalau K3 non AC yang sudah berjalan di jadikan K3 AC semuanya. Sebab yang menggunakan K3 non AC lebih banyak orang-orang yang kurang mampu; yang jika K3 non AC Dijadikan K3 AC semua dan harganya naik, maka mereka benar-benar terbuang dari pelayanan PT. KAI karena tidak tersedianya kelas yang sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka. Jika demikian, maka PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan Pemerintah telah dengan sengaja tidak berusaha untuk memenuhi HAK-HAK sipil Seluruh rakyak Indonesia!!!!!
Yang saya setujui adalah jika semua K3 non AC tetap berjalan dan ditambahkan dengan beberapa rangkaian K3 AC. Fungsinya adalah untuk menampung penumpang yang tertendang dari K3 non AC tetapi masih memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk membeli K3 AC dan juga untuk menampung para penumpang yang juga tidak kebagian K2 karena habis....
Sehingga Pelayanan terhadap seluruh rakyat Indonesia akan tercapai dan akan memajukan perkereta apian Indonesia....
Wah, kalo merasa tdk setuju berarti menentang standar pelayanan minimum yg dikeluarkan Pemerintah dong, dalam hal ini Menteri Perhubungan. Coba dech cek di Peraturan Menteri No 9 Tahun tentang STANDAR PELAYANAN MINIMUM
UNTUK ANGKUTAN ORANG DENGAN KERETA API. Di dalam lampirannya tertulis fasilitas untuk sirkulasi udara dalam kereta, dapat menggunakan Kipas Angin (fan) atau AC dan suhu dalam kabin 25°-28° C. Nah utk kondisi sekarang ini apa nguber kipas angin bs menjaga suhu dlm kabin 25°-28° C...? Jd yg keliru sapa tuch...? Operator KA nya atau regulator yg bikin aturan SPM ini...?

Selain itu saya mencoba mengkomentari kalimat yg saya bold, mesti dipahami dl fungsi masing2. Operator KA berbentuk PT itu berhubung masih BUMN tetap pada fungsinya yaitu nyari duit & untung. Lha gimana harus untung, ya harus survive. Pasang harganya harus sesuai dgn tarif dasar yg meliputi biaya operasional & profit. Lha kalo tarifnya ternyata mahal & tdk dijangkau oleh masyarakat tdk mampu / miskin ya minta subsidi ke Pemerintah. Lha yg minta subsidi itu siapa....? Ya rakyat itu sendiri. Kalo Pemerintahnya pengertian ya langsung dikucurin subsidinya nggak perlu sampai di demo segala. Kan gitu....
(03-07-2013, 02:38 PM)dipoindukJNG Wrote: kalau menurut gw sih basic gov't itu harus subsidi kereta api, at least k3 (gw belum liat undang-undangnya), kalau sangat murah sekali ga mungkin lah ya tapi yg pasti PSO jalan, itu hak sipil menurut gw..PSO buat nutup harga yg harus dibayar kaum kecil, nah kenaikan dari k3 sebelumnya untuk jaga-jaga ongkos maintenance
idealnya k3 yg maksa dipasangin ac udah kandangin aja, dephub sbg gov't order k3 ac biru ala gajahwong bogowonto baru kasih ke KAI. nah itu diPSOkan (sebagian). ingat bahwa kerugian kemacetan,jalanan rusak lebih besar ketimbang profit oriented terhadap K3..
kalau mau untung sbg tugas BUMN, KAI geber aja KA argo dan barang..
Waduh, nggak bis gitu Kang.... Kalo K3 yg isi 106 seat dikandangin semua mau ditaroh di mana...? Lgpl kalo mau me replace secara langsung K3 yg isi 106 seat dgn K3Ac isi 80 seat itu butuh biaya brp milyar...? Lgpl apa sanggup INKA membuat kereta2 tsb dlm waktu singkat...? Coba cek, K3 livery kuning biru itu ada brp set...?
Tugas operator KA berbentuk PT itu disuruh nyari duit & harus untung. Kalo jualan jasanya ada 3 kelas KA penumpang ya harus semuanya bs menghasilkan untung. Masa mengoperasikan K3 nggak boleh untung hanya karena disebut kereta rakyat sich...? Bukankah dlm Peraturan Menteri No 28 Tahun 2012 tentang pedoman pentarifan sdh diatur kalo kereta ekonomi yg merupakan penugasan Pemerintah margin profit yg diperkenan maksimal 8%...? Ya paling nggak untung 8% kudu diraih dong...

