01-05-2014, 05:48 PM
(03-11-2010, 08:06 PM)bagus70 Wrote: Walaupun tadinya saya menganggap judul thread ini terkesan konyol, tapi sebenarnya relevan dengan kenyataan KRL di Jakarta sana. Bahwa di sana ada KRL yang dianak tirikan dan dianak emaskan menunjukkan bahwa KRL gagal menjadi transportasi alternatif untuk menghindari kemacetan.
Bagaimana tidak, di KRL Jabodetabek ada segregasi kelas. Dan antara kelas satu dengan lain bagaikan bumi dan langit.
KRL ekonomi itu bagaikan pasar kumuh diatas rel dengan tarif yang sangat (maaf) tolol sekali murahnya. Masak jauh atau dekat (termasuk Jakarta-Bogor) hanya Rp 2.000an???
Sementara yang KRL ekspress AC sudah tarifnya mahal sekali, yaitu Rp 17.000an, entah jauh atau dekat, dan parahnya lagi tidak berhenti di setiap stasiun.
Kalau itu kurang, rata-rata stasiun KRL di Jakarta adalah kantung kekumuhan. Malah ada satu atau dua stasiun KRL di jalur Jakarta-Bogor yang, walaupun disekelilingnya adalah daerah mewah dan rapi, tapi stasiun itu kumuhnya minta ampun.
KAlau mau benar, namanya KA komuter (dalam hal ini KRL) harusnya:
-stasiun bersih dan steril.
-semua KA ber-AC.
-berhenti di tiap stasiun.
-harga tarif berdasar jarak, bukan kelas.
Dengan begitu KRL Jabodetabek akan berperan besar mengurangi kemacetan di Jakarta dsk.
dan keinginan anda itu (khususnya di point ke 3 & 4), sudah terwujud mulai di pertengahan tahun kemarin atau tepat setelah 32 bulan kemudian, dari anda berkomentar..
