24-09-2014, 06:53 AM
(22-09-2014, 10:13 PM)pws1996 Wrote:(22-09-2014, 06:56 PM)panji084 Wrote:Saya juga ingin menyampaikan opini saya:(22-09-2014, 06:00 PM)slamtrack Wrote:(22-09-2014, 03:31 PM)pws1996 Wrote:Salam RF..dear:(22-09-2014, 12:34 PM)DiasWU Wrote: [spoiler][spoiler]
Buat Petisi yuk supaya KA Jaka Tingkir bisa reguler, khususnya untuk Jumat malam dari PSE. Progo sudah kelebihan beban soalnya. Lebih baik Jaka Tingkir IDR 95rb drpd Bogowonto IDR 160rb, toh sama-sama AC dan duduknya tegak..
[/spoiler]
Sebenarnya dari sudut pandang penumpang yg punya harapan, bukan cuma ka jakatingkir aja yg reguler menemani progo, ka ekonomi pso lain juga mau kok klo diberangkatkan tengah malam dari pse, misal kutojaya utara sama tawangjaya (banyak penumpng tawangjaya yg merindukan berangkat malam hari dari pse) [/spoiler]
Maaf dulu sebelumnya prihal pendapat sy mungkin rada sensitip .
Menurut sy...masalah progo/kutut/tajay/gembes/kerta dl ..justru sy melihat dari sisi sudut pandang lain yg cukup berbeda:
Okupansi k3 ac splite non lokalan yg selalu full dikarenakan:
1 Sebagian mental para penumpang yg cenderung berbangga hati tanpa melihat latar belakang peruntukan PSO. Seyogyanya ka Pso non lokalan diperuntukan tuk kalangan masyrakat yg identik dengan cukup masih jauh dari kemapanan hidup ....idem dengan hak murni mendapatkan jps..raskin...pekerja serabutan..dll. Nah coba lihat yg naik Progo dll kebanyakan mereka pada bawa laptop..hp smart..dan bawaan mewah lainnya..seharusnya mereka tau diri .... maaf ya.
Apa jadinya...hak yg seharusnya peruntukannya untuk kalangan kurang beruntung dalam kemapanan hidup...mungkin karena gaptek...gelap IT ...dll ya kagak bakalan bisa mendapatkan haknya untuk naik ka Pso...pantes aja ka nya selalu penuh..
Seandainya sebagian mental para penumpang ka PSO non lakalan ketularan kaya penonton pertandingan /kejuaraan di negara maju yg akan marah besar jika dia dapat nonton karena dapat tiket semacam subsidian...justru mereka bangga jika tetap sebagai penonton tulen yg bayar utuh walo dia dapat undangan sekalipun sebagai tamu kehormatan2. Seharusnya menurut sy untuk bisa naik ka PSO K3 ac splite PT. Kereta Api Indonesia (Persero) menambah syarat tambahan ketika akan boarding pas yaitu... semacam menunjukan kartu miskin.../ dan sejenisnya sehingga peruntukan ka PSO non lokal sesuai benar benar dengan peruntukannya..
3. Untuk tambahan peruntukan ka PSO seyogyanya tetap mengedepankan hak mahasiswa...dll sehubungan masih berstatus pelajar..
KESIMPULA SAYA:
Penuhnya ka Progo dll...karena di kerubuti....oleh sebagian penumpang...yg seyogyanya...hak nya lebih diberikan...oleh orang yg seharusnya lebih berhak naik ka ini.
sekali lagi ini cuma pendapat sy....kalo ada keliru mohon maaf dan juga doa nya. dan tolong dicomen yak...![]()
1. Karena gak semua orang mobilitasnya tinggi. Terlebih orang2 yg lebih berhak mendapatkan pso, pulang kampung seminggu sekali aja masih mikir. Misal buruh/ pekerja serabutan hanya bisa libur pas mereka cuti. Berbeda dg yg bisa libur sabtu, minggu yg lebih sering menikmati pso dan sudah punya jadwal libur tetap. Jadi bisa dilihat kalo weekend memang dikuasai pekerja kantoran, sedangkan libur besar si kaya dan si miskin sering kok duduk barengan. Mslh gaptek ato gelap IT bukan jd halangan. Msh bisa beli melalui superngampret2 dkt rumah. Ato mungkin rela ngantri di loket.
2. Semua boleh menggunakan KA. Golongan ekonomi kebawah pun boleh menggunakan K1 tanpa syarat apapun (hanya wajib memiliki ID card yg msh berlaku). Gak ada batasan2 antara si kaya dan si miskin. Yg penting rencanakan jadwal libur dan pesan tiket jauh2 hari.
1. Sebenarnya laku kerasnya ka progo dan ka non komersil lsainnya bukan karna mental yg bangga menggunakan pso, tapi karna kebijaksanaan menakar kemampuan diri, bagi orang yg berkemampuan lebih pasti juga akan memilih k1 atau k2 sesuai kemampuan dan kenyamanan yg diinginkan, lihat saja bagi sebagian orang pasti akan beli tiket k1 atau k2 jauh jauh hari bukan karena tiket k3 habis, dan mereka juga bangga kok.
Dan kalau ka pso hanya diperuntukkan bagi orang yg punya surat keterangan miskin, mungkin ka pso tidak akan laku krn yg punya surat tsb blm tentu semua punya mobilitas tinggi yg mengharuskan sering naik ka, dan orang orang yg berkemampuan naik ka pso belum tentu layak dapat surat keterangan miskin.
2. Idem mas panji
3. Sebenarnyaopini/harapan saya agar ka non komersil banyak yg berangkat malam hari dari pse bukan karena pso nya, tai karena permintaan masyarakat yg berkemampuan paspasan (bukan miskin) sangat banyak. Walaupun ka ekonomi non komersil dicabut psonya, saya yakin ka progo (dan yg lain) akan tetap laku keras.
KESIMPULAN SAYA
ka progo laku keras bukan karna orang bangga menggunakan pso, tapi karena permintaan masyarakat di kelas tsb sangat banyak, dan alternatif ka ekonomi lainnya bogowonto maksutnya, harganya masih kemahalan untuk ka ekonomi (anggapan banyak orang), orang akan tetap pilih progo yg tatifnya 85 000(tanpa pso) dibanding bogowonto yg tarifnya mencapai 200 000
Kalau menurut saya sih,,PT. Kereta Api Indonesia (Persero) melakukan "pembatasan" perjalanan penumpang untuk KA PSO ,dan saya yakin yg pulang kampung tiap jumat itu orang-orang yang sama ,dan sekarang kan udah memakai NIK E-KTP ,jadi dibatasi aja tuh penumpang yang pulkam tiap jumat,setidaknya dibtasi sebulan 2x...kan bisa memberikan kesempatan penumpang yang lain juga


[/spoiler]
