26-04-2016, 10:27 PM
(26-04-2016, 10:16 PM)oke_sr Wrote: KA 3, Argo Anggrek Malam
K1-4
Sabtu, 30 Januari 2016
Surabaya Pasar Turi - Jatinegara
Perjalanan balik ke Jakarta saya mencoba naik KA 3 ABA Malam. Untuk menuju kesana diperlukan oper beberapa kali angkutan umum sebab saya berangkat dari kampung halaman di Malang.
Rencana awal, berangkat dari rumah pkl 13.00wib, setelah shalat Dzuhur sempat leyeh-leyeh dulu di kasur dan kebablasan hingga pkl 13.20wib, dengan tergopoh2(untungnya sudah mandi, packing, ganti baju, dll) bersama istri segera ambil sepatu dan pamit ke Ibu untuk bersiap pulang.
Dari rumah rencananya naik mikrolet jurusan Tidar-Arjosari yang sekiranya akan menempuh perjalanan selama sejam(normal 20-30 menit dengan kendaraan pribadi). Namun rencana tetaplah rencana yang dapat berubah. Lama menunggu mikrolet hingga 15 menit, membuat kami memutuskan beralih menggunakan mikrolet yang menyambungkan rute Landungsari - Arjosari. Untungnya armada mikrolet di rute ini cukup banyak. Tak perlu menunggu sudah ada mikrolet yang siap mengantarkan saya menuju Terminal Arjosari.
Perjalanan ke terminal Arjosari diantar istri cukup lancar. Sekitar 40an menit akhirnya mikrolet tiba di terminal Arjosari tanpa mengalami kendala kemacetan di jalan. Segera saya menuju tempat pemberangkatan bis antar kota. Pada saat itu di terminal Arjosari terdapat bis patas dan biasa jurusan Malang - Surabaya (Bungurasih). Menimbang waktu yang tercepat berangkat dan kenyamanan akhirnya saya memilih menggunakan bus Patas dengan karcis seharga 25.000 rupiah. Bus hanya ngetem sebentar, tak sampai 5 menit bus telah penuh dan siap diberangkatkan. Kali ini perjalanan ke Surabaya hanya saya sendiri. Istri 'cukup' mengantar hingga terminal Arjosari dan setelahnya kembali ke rumah.
Perjalanan ke Surabaya untungnya cukup lancar dan bus tiba di terminal Bungurasih pada pkl 16.00wib. Setelahnya saya segera menuju terminal keberangkatan bus kota, Saya lupa bus kota mana yang saya naiki, tapi yang jelas bukan bus patas P5, karena seingat saya bus yang saya naiki tak lewat tol, tak ber AC, dengan biaya sekitar 6ribu rupiah melewati beberapa jalanan protokol di Surabaya seperti Jl Pasar Kembang, Kupang dan Jl Raya Diponegoro. Saya ingat2 sudah lama juga tak naik bus kota jurusan Bungurasih - Pasar Turi, terakhir naik Agustus 2005 lalu setelah turun dari KA Gumarang.
Bus kota yang saya naiki menunggu sekitar setengah jam lebih, dan pkl 16.44wib dan sampai di Stasiun Pasar Turi sejam kemudian.
Sampai di Stasiun Pasar Turi sejenak mengagumi perubahan arsitektur stasiun pasar Turi yang tampak bersih, rapi dan megah. Apalagi di depan stasiun terdapat monumen kereta uap yang masih kinclong terawat.
Sambil menunggu Adzan Maghrib saya membuka bekal yang dibuat istri berupa dua (iya dua) porsi nasi goreng yang dijadikan satu, ditambah sosis goreng, dan 2 buah Tahu isi suwiran ayam. Mantabhh, makan besar. Sengaja saya habiskan bekal ini agar di atas kereta nanti tinggal 'hibernasi' dan tak mengunyah makanan lagi. Tak dapat dipungkiri betapa saya agak bersusah payah menghabiskan makan besar kali itu. Apalagi cita rasa nasi goreng rumahan buatan istri lebih enak dibandingkan nasi goreng buatan PT Reska (peace yahh PT Reska, semoga dijadikan pelecut untuk meningkatan mutu layanannya lagi).
Skip, selepas menghabiskan bekal, saya menuju masjid di samping stasiun Pasar Turi untuk menunaikan shalat maghrib + isya sekaligus (jamak). Sesudahnya pada pkl 18.30wib, saya bergegas menuju stasiun Pasar Turi utk 'ngaso' di ruang tunggu eksekutif.
Kesan yang saya dapatkan dari ruang tunggu eksekutif di stasiun pasar Turi menurut saya sangat nyaman (bersih dan rapi tentu saja). Tempat duduknya berupa kursi kulit yang jauh lebih empuk dibandingkan yang terdapat di Stasiun Gambir maupun Pasar Turi. Kapasitas ruang tunggunya cukup besar dibandingkan dengan yang ada di Stasiun ML. Di ruang tunggu ini pula terdapat toilet yang cukup bersih dan dibedakan untuk penumpang pria dan wanita.
Pada pkl 19.00wib, counter check in dibuka. Saya bergegas check in dan menuju peron stasiun. Suasana peron stasiun pada saat itu cukup sepi, hanya ada penumpang KA3 disana. KA3 sendiri dilangsir mulai pkl 19.30wib dan 5-10 menit sesudahnya penumpang dipersilakan masuk kedalam kereta.
Tak sampai 30 menit kemudian, atau tepatnya pada pkl 20.00wib KA3 diberangkatkan dari Stasiun Pasar Turi tepat waktu. Kondisi kereta yang saya naiki (K1-4) cukup penuh, dan sebelah saya terdapat seorang pria yang hendak bepergian ke Jakarta dan turun di Gambir. Posisi kursi terletak di bagian paling belakang K1-4. Artinya hampir tak terjangkau untuk mendapatkan tontonan video/film KA TV. Sebenarnya ada TV di bagian belakang persis dari kursi yang saya tempat. Tapi rasanya rempong juga jika harus sering-sering menengok ke belakang. Opsi memutar kursi juga saya kesampingkan, terutama faktor kenyamanan (posisi duduk akan melawan arah dengan perjalanan kereta api).
Kondisi AC cukup dingin, Sejak memasuki kereta, posisi suhu udara sudah menunjukkan angka dibawah 25 derajat celcius. Top!! Kebersihan didalam kabin cukup bagus. Demikian pula dengan kedua buah toilet yang terletak dibagian belakang kereta yang saya naiki kondisi kebersihannya terjaga dengan sangat-sangat baik (terbaik dari yang pernah saya rasakan selama naik K1 selama ini). Parameternya berupa ketersediaan prasarana (tisu, sabun, dll), wangi, dan kloset tanpa noda dan berfungsi dengan sempurna.
Saya sendiri berkesempatan mencoba kloset didalam KA ABA ini. Ceritanya sekitar pkl 22.30an atau sekiranya KA 3 sedang melaju di provinsi Jawa Tengah mendadak perut mules. Daripada menahan hingga KA tiba di Jakarta, akhirnya saya sudah derita kali ini.Bersyukur masih tersedia air didalam toilet yang cukup untuk bilas dan membuang 'noda'.
Skip, pada pkl 23.21wib KA3 tiba di Stasiun Semarang Tawang. Setelahnya saya mencoba untuk tidur karena esok harinya langsung masuk kerja kembali. Beberapa jam kemudian atau lebih tepatnya pada pkl 02.10wib, KA3 telah sampai di Stasiun Cirebon. KA ABA Malam yang saya naiki akhirnya tiba di Stasiun Jatinegara pada pkl 04.59wib. Meleset 12 menitan dari jadwal. Tapi gakpapalah masih cukup waktu sebelum melanjutkan perjalanan ke Cikarang sembari mencari mushola dan melakukan shalat subuh dulu.
[spoiler=monumen KA]
[/spoiler]
[spoiler=KA2 Gambir-SBI]
[/spoiler]
[spoiler=KA2 Gambir-SBI]
[/spoiler]
Melihat cerita masnya yg naik si Anggrek ini, saya jadi kepingin naik juga, cuma apa daya, tarif khusus SBI-SMT aja 200.000, bikin kantong jebol...
Wah kenapa tdk pake Penataran atau Bima aja ke SGU? Kalo turun SB tinggal naik angkot ijo telor asin (lupa kodenya) yg ke PGS, terus jalan kaki, kalo SGU saya lupa pake angkot yg mana, tapi bisa sampai SBI juga, hehehe...
Buah dari perjuangan adalah kebahagiaan
Semakin keras kita berjuang bagi hidup kita, semakin manis pula buahnya
Semakin santai perjuangan kita, semakin pahit pula buahnya
FLICKR Stephanie Anastasia stasiunkastephanie
Semakin keras kita berjuang bagi hidup kita, semakin manis pula buahnya
Semakin santai perjuangan kita, semakin pahit pula buahnya
FLICKR Stephanie Anastasia stasiunkastephanie


Bersyukur masih tersedia air didalam toilet yang cukup untuk bilas dan membuang 'noda'.
[/spoiler]
[/spoiler]
[/spoiler]