10-10-2016, 07:08 PM
(This post was last modified: 10-10-2016, 07:11 PM by Dana Komuter.)
Home » Nasional » PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Akui Rangkaian Baru KA Ekonomi Bermasalah
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Akui Rangkaian Baru KA Ekonomi Bermasalah
4 Oktober 2016 19:46 WIB
BANDUNG, suaramerdeka.com – PT Kereta Api Indonesia (KAI) tak membantah persoalan ketidak nyamanan dari rangkaian baru kereta kelas ekonomi komersial yang baru dioperasikan pasca HUT perseroan pada akhit September 2016. Meski demikian, operator plat merah itu tak mau menjadikannya sebagai sebuah masalah besar terlebih harus menilai performa produk PT INKA itu. “Kami tak mau berpolemik siapa yang mendesain bagian interiornya, bahwa kereta itu tidak nyaman seperti dikeluhkan, sudah kami ketahui,”kata Jubir PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Pusat, Agus Komaruddin. Dia menjelaskan bahwa pihaknya menerima rangkaian gres tersebut berdasarkan pemesanan yang dilakukan pada 2014. Pemesanan itu dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik. Bahwa kenyamanan akan menganggu citra perusahaan sekali pun gerbongnya mewah, Agus tak menampiknya. Karenanya, pihaknya langsung melakukan evaluasi terhadap keberadaan gerbong penumpang tersebut.
“Intinya keluhan itu kami terima dan kami siap melakukan evaluasi sekaligus melakukan perbaikan, termasuk opsi mengubah tata letaknya,”katanya. Opsi lain adalah menjadikan keluhan itu sebagai catatan mengingat PT. Kereta Api Indonesia (Persero) masih banyak melakukan pemesanan terhadap INKA sehingga gerbongnya memberikan kenyamanan bagi penumpang. Pada 2017, pengadaan gerbong yang dipercayakan ke pabrik kereta yang berbasis di Madiun adalah sebanyak 438 unit. Rinciannya 210 kereta kelas eksekutif, 143 kereta kelas ekonomi dengan masing-masing 80 seat, 7 kereta kelas ekonomi 64 seat, 32 kereta makan kelas eksekutif, 7 kereta makan kelas ekonomi dan 39 kereta pembangkit.
Sebagai perusahaan yang terus mendapat apresiasi pasca perubahan atas pelayanannya, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) memang harus merespon cepat. Jangan sampai kemudian, penumpang dianggap angin lalu seperti kesan yang muncul pada lembar pengumuman di sebuah stasiun wilayah Daop VII Madiun. Isinya, “Kepada Penumpang yang Turun dari Kereta Api Kami Persilahkan untuk Keluar Maksimal 15 Menit Setelah Turun dari Kereta, Terima Kasih….!!!”. Padahal, penumpang sudah keluar banyak uang karena tiket tak lagi murah. Seorang penumpang meminta perbaikan itu dapat segera dilakukan. Minimal kenyamannya bisa menyamai kondisi kereta kelas bisnis yang oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bakal dilikuidasi sepenuhnya. “Masih lebih bagus kursi kelas bisnis yang dulu kalau lihat kereta yang baru ini, harusnya dipikir dulu, masa sempit kayak gini, percuma dalamnya bagus tapi kita tak menikmati perjalanan gara-gara kursi,” kata Elly Yunalia (63), penumpang KA Mutiara Selatan rute Bandung-Surabaya.
(Setyadi Dwi/CN34/SM Network)
http://berita.suaramerdeka.com/pt-kai-ak...ermasalah/
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Akui Rangkaian Baru KA Ekonomi Bermasalah
4 Oktober 2016 19:46 WIB
BANDUNG, suaramerdeka.com – PT Kereta Api Indonesia (KAI) tak membantah persoalan ketidak nyamanan dari rangkaian baru kereta kelas ekonomi komersial yang baru dioperasikan pasca HUT perseroan pada akhit September 2016. Meski demikian, operator plat merah itu tak mau menjadikannya sebagai sebuah masalah besar terlebih harus menilai performa produk PT INKA itu. “Kami tak mau berpolemik siapa yang mendesain bagian interiornya, bahwa kereta itu tidak nyaman seperti dikeluhkan, sudah kami ketahui,”kata Jubir PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Pusat, Agus Komaruddin. Dia menjelaskan bahwa pihaknya menerima rangkaian gres tersebut berdasarkan pemesanan yang dilakukan pada 2014. Pemesanan itu dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik. Bahwa kenyamanan akan menganggu citra perusahaan sekali pun gerbongnya mewah, Agus tak menampiknya. Karenanya, pihaknya langsung melakukan evaluasi terhadap keberadaan gerbong penumpang tersebut.
“Intinya keluhan itu kami terima dan kami siap melakukan evaluasi sekaligus melakukan perbaikan, termasuk opsi mengubah tata letaknya,”katanya. Opsi lain adalah menjadikan keluhan itu sebagai catatan mengingat PT. Kereta Api Indonesia (Persero) masih banyak melakukan pemesanan terhadap INKA sehingga gerbongnya memberikan kenyamanan bagi penumpang. Pada 2017, pengadaan gerbong yang dipercayakan ke pabrik kereta yang berbasis di Madiun adalah sebanyak 438 unit. Rinciannya 210 kereta kelas eksekutif, 143 kereta kelas ekonomi dengan masing-masing 80 seat, 7 kereta kelas ekonomi 64 seat, 32 kereta makan kelas eksekutif, 7 kereta makan kelas ekonomi dan 39 kereta pembangkit.
Sebagai perusahaan yang terus mendapat apresiasi pasca perubahan atas pelayanannya, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) memang harus merespon cepat. Jangan sampai kemudian, penumpang dianggap angin lalu seperti kesan yang muncul pada lembar pengumuman di sebuah stasiun wilayah Daop VII Madiun. Isinya, “Kepada Penumpang yang Turun dari Kereta Api Kami Persilahkan untuk Keluar Maksimal 15 Menit Setelah Turun dari Kereta, Terima Kasih….!!!”. Padahal, penumpang sudah keluar banyak uang karena tiket tak lagi murah. Seorang penumpang meminta perbaikan itu dapat segera dilakukan. Minimal kenyamannya bisa menyamai kondisi kereta kelas bisnis yang oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bakal dilikuidasi sepenuhnya. “Masih lebih bagus kursi kelas bisnis yang dulu kalau lihat kereta yang baru ini, harusnya dipikir dulu, masa sempit kayak gini, percuma dalamnya bagus tapi kita tak menikmati perjalanan gara-gara kursi,” kata Elly Yunalia (63), penumpang KA Mutiara Selatan rute Bandung-Surabaya.
(Setyadi Dwi/CN34/SM Network)
http://berita.suaramerdeka.com/pt-kai-ak...ermasalah/

