04-04-2009, 11:05 PM
Rekan-rekan,
Beberapa hari lalu, saya melanjutkan "blusukan" untuk mencari jejak-jejak jalur tram Gondanglegi-Kepanjen yang dulu dibangun oleh Malang Stoomtram Mij. Jalur rel yang dibongkar Jepang pada 1943 ini (Tim TBN, 1997) keberadaannya tidak banyak diketahui oleh warga Malang karena memang bekas-bekas relnya sudah tidak ada.
Penelusuran saya awali dari Gondanglegi. Dari berbagai info yang saya dapatkan dari penduduk Gondanglegi (terutama saksi yang pernah melihat keberadaan jalur itu, antara lain Pak Supandri), akhirnya saya bisa mendapatkan suatu gambaran bahwa jalur trem bercabang di suatu titik pada pasar Gondanglegi. Rel yang berbelok ke timur menuju Dampit, sedangkan rel jurusan Kepanjen berbelok arah barat menyusuri Jl. Diponegoro, Gondanglegi. Di sebelah barat toko Meubel Kurnia, rel berbelok ke arah barat daya dan menyusuri jalan hingga sampai pada suatu titik di depan Kantor Dinas Pengairan Gondanglegi(dekat emplasemen lori PG Krebet) di mana rel akhirnya berbelok memasuki kawasan yang sekarang populer dengan sebutan Kampung Trem Banjarejo. Lengkungan bekas rel terlihat jelas di lokasi tersebut.
Di sepanjang Kampung Trem memang sudah tidak ada lagi bekas rel, namun cerita bahwa di lokasi tersebut pernah dilewati trem sangat kuat di kalangan penduduk setempat. Penduduk setempat mengatakan kepada saya agar menyusuri saja kampung itu dan saya pasti bisa sampai ke Kepanjen. Akhirnya saya benar-benar menyusuri kampung itu. Dengan terus berjalan mengendari sepeda motor ke arah Barat, saya menemukan lokasi yang oleh penduduk setempat disebut sebagai lokasi bekas halte/ stasiun Kanigoro. Sayang, saya tak menemukan lagi bekas bangunannya.
Setelah melewati deretan sawah-sawah dan perkampungan, akhirnya saya tiba di sebuah jembatan yang menghubungkan kawasan Jambegedhe (bagian dari Kecamatan Pagelaran) dan kawasan persil Bumiayu (wilayah Kepanjen). Jembatan itu melintasi Kali Brantas dan masih nampak sebagai bekas jembatan kereta api dan oleh penduduk dinamai sebagai jembatan "Afiat" . Apalagi pilar-pilarnya masih ada dan sebagian besi bekas landasan/ penyangga rel masih nampak. Patut dicatat, lebar jembatan hanya sekitar 2 meter dan tidak bisa dilewati mobil. Gambarnya bisa dilihat di sini:
http://www.flickr.com/photos/23392902@N05/3407891512/
Di Bumiayu, saya juga menemukan suatu saluran irigasi yang dilewatkan melalui semacam terowongan/ underpass karena adanya lintasan rel trem ini. Dari Bumiayu menuju ke arah barat, akhirnya jalur bekas rel memasuki kawasan Sengguruh. Kebetulan di dekat bekas lokasi halte trem Sengguruh saya bertemu dan berkenalan dengan Pak Satimo alias Pak Usman seorang warga sepuh asli Sengguruh kelahiran 1924 yang sempat melihat langsung masa aktif sekaligus pembongkaran rel di sana pada jaman Jepang. Pak Satimo sungguh berbaik hati dan menjelaskan keberadaan jalur trem melalui gambar sederhana yang dibuatnya.
Dari halte Sengguruh, menurut Pak Satimo, rel mengarah ke Utara melewati Mangunrejo, Sanggrahan hingga memasuki kawasan Jalan sumedang di mana rel bersilang dengan jalur KA (SS) dan berbelok ke timur pada titik di sebelah selatan Indomaret Jl. Sumedang Kepanjen. Di sekitar lokasi itu, saya kembali menemukan saksi mata lainnya, yakni Pak Munawar (yang jika ditanya lahir pada jaman Ratu Wilhelmina). Menurut Pak Munawar, setelah berbelok dari Jl. Sumedang, rel menyusuri pinggir Sungai Molek hingga memasuki Stasiun Trem Kepanjen yang berlokasi di area SMP Islam Kepanjen saat ini. Jadi lokasi stasiun trem Kepanjen terletak di sebelah barat daya stasiun KA Kepanjen namu bekas bangunan sudah tidak ada.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa di Kepanjen dulu terdapat dua stasiun, yakni Stasiun KA Kepanjen dan Stasiun Trem Kepanjen.
Barangkali agar temuan ini menjadi lebih valid, cross check dengan pejabat KA di Stasiun Kotabaru, Malang. Dengan demikian temuan ini bisa dijadikan suatu referensi ilmiah penulisan sejarah, khususnya sejarah perkeretaapian.
Salam,
Toto
Beberapa hari lalu, saya melanjutkan "blusukan" untuk mencari jejak-jejak jalur tram Gondanglegi-Kepanjen yang dulu dibangun oleh Malang Stoomtram Mij. Jalur rel yang dibongkar Jepang pada 1943 ini (Tim TBN, 1997) keberadaannya tidak banyak diketahui oleh warga Malang karena memang bekas-bekas relnya sudah tidak ada.
Penelusuran saya awali dari Gondanglegi. Dari berbagai info yang saya dapatkan dari penduduk Gondanglegi (terutama saksi yang pernah melihat keberadaan jalur itu, antara lain Pak Supandri), akhirnya saya bisa mendapatkan suatu gambaran bahwa jalur trem bercabang di suatu titik pada pasar Gondanglegi. Rel yang berbelok ke timur menuju Dampit, sedangkan rel jurusan Kepanjen berbelok arah barat menyusuri Jl. Diponegoro, Gondanglegi. Di sebelah barat toko Meubel Kurnia, rel berbelok ke arah barat daya dan menyusuri jalan hingga sampai pada suatu titik di depan Kantor Dinas Pengairan Gondanglegi(dekat emplasemen lori PG Krebet) di mana rel akhirnya berbelok memasuki kawasan yang sekarang populer dengan sebutan Kampung Trem Banjarejo. Lengkungan bekas rel terlihat jelas di lokasi tersebut.
Di sepanjang Kampung Trem memang sudah tidak ada lagi bekas rel, namun cerita bahwa di lokasi tersebut pernah dilewati trem sangat kuat di kalangan penduduk setempat. Penduduk setempat mengatakan kepada saya agar menyusuri saja kampung itu dan saya pasti bisa sampai ke Kepanjen. Akhirnya saya benar-benar menyusuri kampung itu. Dengan terus berjalan mengendari sepeda motor ke arah Barat, saya menemukan lokasi yang oleh penduduk setempat disebut sebagai lokasi bekas halte/ stasiun Kanigoro. Sayang, saya tak menemukan lagi bekas bangunannya.
Setelah melewati deretan sawah-sawah dan perkampungan, akhirnya saya tiba di sebuah jembatan yang menghubungkan kawasan Jambegedhe (bagian dari Kecamatan Pagelaran) dan kawasan persil Bumiayu (wilayah Kepanjen). Jembatan itu melintasi Kali Brantas dan masih nampak sebagai bekas jembatan kereta api dan oleh penduduk dinamai sebagai jembatan "Afiat" . Apalagi pilar-pilarnya masih ada dan sebagian besi bekas landasan/ penyangga rel masih nampak. Patut dicatat, lebar jembatan hanya sekitar 2 meter dan tidak bisa dilewati mobil. Gambarnya bisa dilihat di sini:
http://www.flickr.com/photos/23392902@N05/3407891512/
Di Bumiayu, saya juga menemukan suatu saluran irigasi yang dilewatkan melalui semacam terowongan/ underpass karena adanya lintasan rel trem ini. Dari Bumiayu menuju ke arah barat, akhirnya jalur bekas rel memasuki kawasan Sengguruh. Kebetulan di dekat bekas lokasi halte trem Sengguruh saya bertemu dan berkenalan dengan Pak Satimo alias Pak Usman seorang warga sepuh asli Sengguruh kelahiran 1924 yang sempat melihat langsung masa aktif sekaligus pembongkaran rel di sana pada jaman Jepang. Pak Satimo sungguh berbaik hati dan menjelaskan keberadaan jalur trem melalui gambar sederhana yang dibuatnya.
Dari halte Sengguruh, menurut Pak Satimo, rel mengarah ke Utara melewati Mangunrejo, Sanggrahan hingga memasuki kawasan Jalan sumedang di mana rel bersilang dengan jalur KA (SS) dan berbelok ke timur pada titik di sebelah selatan Indomaret Jl. Sumedang Kepanjen. Di sekitar lokasi itu, saya kembali menemukan saksi mata lainnya, yakni Pak Munawar (yang jika ditanya lahir pada jaman Ratu Wilhelmina). Menurut Pak Munawar, setelah berbelok dari Jl. Sumedang, rel menyusuri pinggir Sungai Molek hingga memasuki Stasiun Trem Kepanjen yang berlokasi di area SMP Islam Kepanjen saat ini. Jadi lokasi stasiun trem Kepanjen terletak di sebelah barat daya stasiun KA Kepanjen namu bekas bangunan sudah tidak ada.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa di Kepanjen dulu terdapat dua stasiun, yakni Stasiun KA Kepanjen dan Stasiun Trem Kepanjen.
Barangkali agar temuan ini menjadi lebih valid, cross check dengan pejabat KA di Stasiun Kotabaru, Malang. Dengan demikian temuan ini bisa dijadikan suatu referensi ilmiah penulisan sejarah, khususnya sejarah perkeretaapian.
Salam,
Toto

