04-10-2009, 03:50 PM
Nambah lagi: 
02 Oktober 2009
Revitalisasi Jalur KA Magelang-Yogyakarta (3-Habis)
Becermin dari Keberhasilan Prameks
SEBELUM dioperasikannya KA Prambanan Ekspres (Prameks) banyak kalangan yang pesimistis.
Tapi di luar dugaan setelah sebulan berjalan, jalur Kutoarjo-Yogyakarta-Solo okupansinya mencapai 70%. Bahkan untuk akhir pekan mencapai 100%.
Okupansi Prameks dikatakan 100% jika dihitung dari posisi semua tempat duduk (270 kursi) terisi. Dengan perhitungan itu, Prameks reguler Senin-Kamis sudah mencapai okupansi lebih 100% dengan total penumpang 6.000-8.000/hari.
Dari data itu setidaknya menunjukkan masih tingginya minat masyarakat menggunakan moda transportasi KA yang relatif murah dan aman.
Bahkan Prameks wisata atau biasa disebut kereta luar biasa (KLB) yang melayani penumpang akhirnya pekan juga diminati masyarakat.
Nah, kalau begitu tak ada salahnya berpikir positif atas wacana dibukanya jalur KA Magelang-Yogyakarta. Apalagi banyak kalangan yang optimistis akan meramaikan arus wisatawan dari Yogyakarta ke Magelang.
Dirjen Perhubungan Darat menganalisis, dalam revitalisasi jalur itu nantinya dimungkinkan pihak swasta bisa dirangkul asalkan biayanya murah dan menguntungkan. Misalnya saja, BUMD dapat juga membangun dan mengoperasikannya.
Contohnya jalur KA Banjar-Cijulang di Jabar sepanjang 83 km potensial dilirik swasta jika pemda setempat sudah melaksanakan studi kelayakan.
Ruas tersebut diproyeksikan menguntungkan karena merupakan akses wisata ke Pantai Pangandaran.
Biaya Dapat Ditekan Untuk percepatan program KA Magelang-Yogyakarta, juga ditawarkan model light train atau kereta berbobot ringan atau railbus agar investasi dan biaya perawatannya lebih ringan. Sebab, jika masih menggunakan model heavy train seperti sekarang, dapat dipastikan sulit untuk mendorong partisipasi swasta.
Selain itu kebutuhan konstruksi dan perawatan light train bisa lebih rendah 50% dibanding heavy train. Light train mempunyai tekanan gandar (jarak ruang roda) yang ringan sehingga biaya untuk membangun prasarana dan penyediaan sarana jadi dapat ditekan.
Berdasarkan pengamatan Dirjen Perhubungan Darat Dephub, selain menunjang potensi daerah, revitalisasi jalur KA yang mati diharapkan dapat meningkatkan peran KA sebagai sarana transportasi massal.
Berdasarkan catatan Dephub, hingga kini pangsa pasar KA untuk angkutan barang baru 0,7% dan penumpang 7,3% dari total 6.482 km jaringan KA di Jawa, Madura, dan Sumatera dengan 2.122 km di antaranya tidak beroperasi.
Di Jawa dan Madura, rel KA yang tidak beroperasi sepanjang 1.060 km meliputi Jabar 410 km, Jateng-DIY 585 km, dan Jatim serta Madura 615 km.
Jika memang benar hal itu terwujud maka akan mengulang kejayaan jalur Magelang-Yogyakarta yang dahulu juga digunakan SBY pelesir ke Kota Pelajar saat menjadi taruna Akmil di Kota Magelang. Keterlibatan pemda setempat juga turut mendorong percepatan program tersebut.
“Pemda setempat sudah selayaknya terlibat aktif dalam kajian dan perencanaanya. Karena hal itu juga demi kesejahteraan masyarakat setempat yang turut menikmati dampak sosial, ekonomi, dan pariwisata,†tandas Koordinator Kota Toea, Bagus Priyana, kemarin. (Sholahuddin al-Ahmed-70)

02 Oktober 2009
Revitalisasi Jalur KA Magelang-Yogyakarta (3-Habis)
Becermin dari Keberhasilan Prameks
SEBELUM dioperasikannya KA Prambanan Ekspres (Prameks) banyak kalangan yang pesimistis.
Tapi di luar dugaan setelah sebulan berjalan, jalur Kutoarjo-Yogyakarta-Solo okupansinya mencapai 70%. Bahkan untuk akhir pekan mencapai 100%.
Okupansi Prameks dikatakan 100% jika dihitung dari posisi semua tempat duduk (270 kursi) terisi. Dengan perhitungan itu, Prameks reguler Senin-Kamis sudah mencapai okupansi lebih 100% dengan total penumpang 6.000-8.000/hari.
Dari data itu setidaknya menunjukkan masih tingginya minat masyarakat menggunakan moda transportasi KA yang relatif murah dan aman.
Bahkan Prameks wisata atau biasa disebut kereta luar biasa (KLB) yang melayani penumpang akhirnya pekan juga diminati masyarakat.
Nah, kalau begitu tak ada salahnya berpikir positif atas wacana dibukanya jalur KA Magelang-Yogyakarta. Apalagi banyak kalangan yang optimistis akan meramaikan arus wisatawan dari Yogyakarta ke Magelang.
Dirjen Perhubungan Darat menganalisis, dalam revitalisasi jalur itu nantinya dimungkinkan pihak swasta bisa dirangkul asalkan biayanya murah dan menguntungkan. Misalnya saja, BUMD dapat juga membangun dan mengoperasikannya.
Contohnya jalur KA Banjar-Cijulang di Jabar sepanjang 83 km potensial dilirik swasta jika pemda setempat sudah melaksanakan studi kelayakan.
Ruas tersebut diproyeksikan menguntungkan karena merupakan akses wisata ke Pantai Pangandaran.
Biaya Dapat Ditekan Untuk percepatan program KA Magelang-Yogyakarta, juga ditawarkan model light train atau kereta berbobot ringan atau railbus agar investasi dan biaya perawatannya lebih ringan. Sebab, jika masih menggunakan model heavy train seperti sekarang, dapat dipastikan sulit untuk mendorong partisipasi swasta.
Selain itu kebutuhan konstruksi dan perawatan light train bisa lebih rendah 50% dibanding heavy train. Light train mempunyai tekanan gandar (jarak ruang roda) yang ringan sehingga biaya untuk membangun prasarana dan penyediaan sarana jadi dapat ditekan.
Berdasarkan pengamatan Dirjen Perhubungan Darat Dephub, selain menunjang potensi daerah, revitalisasi jalur KA yang mati diharapkan dapat meningkatkan peran KA sebagai sarana transportasi massal.
Berdasarkan catatan Dephub, hingga kini pangsa pasar KA untuk angkutan barang baru 0,7% dan penumpang 7,3% dari total 6.482 km jaringan KA di Jawa, Madura, dan Sumatera dengan 2.122 km di antaranya tidak beroperasi.
Di Jawa dan Madura, rel KA yang tidak beroperasi sepanjang 1.060 km meliputi Jabar 410 km, Jateng-DIY 585 km, dan Jatim serta Madura 615 km.
Jika memang benar hal itu terwujud maka akan mengulang kejayaan jalur Magelang-Yogyakarta yang dahulu juga digunakan SBY pelesir ke Kota Pelajar saat menjadi taruna Akmil di Kota Magelang. Keterlibatan pemda setempat juga turut mendorong percepatan program tersebut.
“Pemda setempat sudah selayaknya terlibat aktif dalam kajian dan perencanaanya. Karena hal itu juga demi kesejahteraan masyarakat setempat yang turut menikmati dampak sosial, ekonomi, dan pariwisata,†tandas Koordinator Kota Toea, Bagus Priyana, kemarin. (Sholahuddin al-Ahmed-70)
Naik kereta api tut...tut...tut...
Siapa hendak turut
Ke Bandung, Surabaya
Janganlah naik dengan percuma
Siapa hendak turut
Ke Bandung, Surabaya
Janganlah naik dengan percuma
