17-01-2011, 04:07 PM
K3 selalu menjadi cermin carut marutnya pelayanan publik dan potret kemiskinan terutama yang ada di kota-kota besar, fiuuhh.
KA Sumber Kentjono
|
KA MERUPAKAN PASAR BERJALAN YANG TERBESAR DAN TERLENGKAP
|
|
17-01-2011, 04:07 PM
K3 selalu menjadi cermin carut marutnya pelayanan publik dan potret kemiskinan terutama yang ada di kota-kota besar, fiuuhh.
KA Sumber Kentjono
17-01-2011, 08:28 PM
(This post was last modified: 17-01-2011, 08:45 PM by BAMBANG EKO.)
K3 memang pangsa pasar yang terbesar.
Bagaimana tidak , penumpang klas ekonomi ini terkadang harus meninggalkan unsur2 higienis yang biasanya akrab dilakukan oleh penumpang non ekonomi . Take & give . Pedagang dan penumpang bersinergis , customer dan suplyer . Terkadang saya bingung , bagaimana tidak , penjual asongan dengan dagangannya yang tak seberapa besar omsetnya ( Maaf ) ternyata bisa menghidupi keluarganya , hidup memang misteri yang susah untuk disibak, mereka yakin seyakin-yakinnya , rejeki ada yamh ngatur, seperti pada contoh pic sbb : ![]() ![]() Pembeli dan Penjual bersinergis Transaksi yang hanya bernilai sekitar dua ribu rupiah ini ternyata tak bisa diremehkan , Betapa tidak . Wisata Kuliner yang paling murah dan hemat bisa dengan mudah kita temui di sekitar kereta api , stasiun atau apalah yang berbau kereta api. ![]() ![]() ![]() Uniknya lagi
Andai saja kita naik kereta dari Jatinegara ke Jakarta kota atau dari Kampung Bandan ke Tanahabang , sudah bisa dipastikan akan menemukan pemandangan yang mungkin saja jarang ditemukan di kota lain , bahkan kalaupun ada tidak seperti di Jakarta. Kereta Api dan Pasar bersinergis
17-01-2011, 09:06 PM
Dahulu pak Ahmad Sujudi dah mensterilkan yang namanya lapak2 di selatan stasiun Duri ini. Tapi seiring perpindahan tugas beliau ke Daops II Bandung yah... saksikan sendiri deh kalau lagi melintas... Kumuh, pasar, becek, tanah liat, sampah, dll berkumpul lagi... Alasan nyata > Gak ada tempat lagi buat berjualan, kata mereka. Makanya rajin2 nonton Redaksi Sore di Trans 7. Biasanya nayangin yg kayak gini ini... Termasuk di luar topik dr perkereta apian.
17-01-2011, 11:24 PM
Pro: Banyak barang unik yg dijual di dalam KA (entah KRL atau KRD or Loko+Kereta)
Kontra: Bikin kumuh KA, kenyamanan penumpang terganggu
Plymouth PKC menuju hari kejayaannya dengan angkutan yang berbeda, yaitu BATUBARA
walau koleksi foto belon banyak koleksi foto saya
20-01-2011, 12:33 PM
(This post was last modified: 20-01-2011, 12:43 PM by BAMBANG EKO.)
Kereta api Indonesia ini saat2 jaman PJKA mengalokasikan armadanya 70 % untuk kelas ekonomi dan 30% untuk kelas komersial , kini sudah berbanding terbalik . dan pedagang pun jadi terlihat lebih " tampak " karena memang pangsa pemasaran menjadi lebih sempit .Pic pedagang dan KA bersinergis ![]() Pada KA Banteks {Banten Ekspres } relasi Merak - Jakarta yang mempunyai stamformasi CC 201 bawa 6 K3 plus 1 B ini setiap harinya tak kurang dari seribu orang pemerjalan yang mengandalkan kehadirannya , saat2 sampai di stasiun antara , ada saja dagangan yang dimuntahkan dari perut gerbong bagasi ( B ) sekalian dengan para asongan yang senantiasa seiring , sejalan dan seirama yang setia sebagai teman seperjalanan.
![]() ![]() Kereta api Ekonomi ini andai saja kita hitung , betapa banyak insan terkait yang kehidupannya tergantung dari keberadaan sang Kereta Api , Pedagang , Pegawai , Pengamen dan pe...pe yang lain yang sehari2 nya mengandalkan kehadiran sang " Dewi Fortuna " ini sebagai penopang kelangsungan hidup , contoh pada Pic , pengamen yunior yang skilnya pas-pasan pun bisahidup dari keberdaan KA
20-01-2011, 02:31 PM
(17-01-2011, 09:17 AM)sochdi Wrote: kalo kata orang kayak simalakama...di sisi lain dibutuhkan n sisi satunya lagi mengganggu...hmmm bingung juga setuju!! dihilangkan kita yang butuh, di biarkan mereka yang ganggu
CC20408
20-01-2011, 04:22 PM
Pedagang, pengemis dan pengamen jelas mengganggu di kereta ekonomi - komuter khususnya. Seharusnya mereka berada di lingkungan stasiun saja. Penumpang tidak butuh pedagang di atas kereta. Buktinya penumpang ekspress baik-baik saja tanpa ada pedagang, walaupun ada gangguan sehingga perjalanan molor dari 30 menit jadi 2 jam. Kalau tidak ada pedagang, kita bisa berbekal minuman dan makanan kecil sekedarnya.
20-01-2011, 05:19 PM
Jaman DKA , PNKA dulu....
Hampiir setiap perjalanan KA Lokal ( Lintas Cabang / Raya ) stamformasi rangkaiannya dilengkapi dengan sebuah kereta jenis MR ( Kereta Pasar ) yang pada akhirnya para pedagang dan penumpang bisa bersinergis walau berada di dalam gerbong sekalipun . Desain kereta pasar ini biasanya menggunakan pintu yang lebar dan posisinya berada di tengah , sehingga mempercepat bongkar-muat barang dagangan dan naik turun penumpang. Kini , semua telah berlalu , tiada lagi Kereta Pasar , jangan pernah bertanya lagi apa itu MR karena penggantinya walau tidak mirip sudah ada gerbong B ( Bagasi ) yang notabene kurang ramah lingkungan karena ventilasinya terbatas. Duh ..... (16-01-2011, 10:21 PM)BAMBANG EKO Wrote: Penjual minuman dingin dalam botol / Kaleng yang selalu mewarnai perjalanan KRL Ekonomi,penumpang dan pedagang , sama2 saling membutuhkan Ini dia yang bikin lantai rusak, berlubang semen karena tergerus sama roda lori yang terbuat dari laher bekas. Yang paling mengganggu kalau KA sedang penuh, ada pedagang asongan pakai lori beginian. Ditambah di dalam KA mereka silangan sesama pedagang asongan. Serempet sana-serempet sini. Kasihan penumpang, sudah berdiri diserempet sama yang beginian. ![]() (17-01-2011, 08:28 PM)BAMBANG EKO Wrote: Andai saja kita naik kereta dari Jatinegara ke Jakarta kota atau dari Kampung Bandan ke Tanahabang , sudah bisa dipastikan akan menemukan pemandangan yang mungkin saja jarang ditemukan di kota lain , bahkan kalaupun ada tidak seperti di Jakarta. Apa beberapa ratus meter sebelum pasar dipasang semboyan 2A/2B? Kalau tidak salah yang seperti ini di Divre I juga ada. Dulu juga di Depok Baru pemandangannya seperti ini, semenjak PJL ditutup diganti dengan fly over ditambah pagar beton, pasar ditengah rel bubar. ![]()
21-01-2011, 06:28 PM
@ ahmadi > Iya aku sempet ngalamin waktu tahun 1990-an di mana tiap dateng KRL Ekonomi dari Stadela / Depok Lama pasti PJL di selatan Depok Baru langsung bunyiin sirine palang lampu perlintasan sekaligus palang pintunya. Itu tandanya meski si KRL Ekonomi blom berangkat 1 menit lagi, tapi angkot2 dan pengendara motor gak seliweran melintas. Semrawutnya bukan main deh... Kala itu sempet masih rel tunggal waktu yg ganda baru cuma sampai st. Ps. Minggu. Tapi seiring perjalanan waktu, sekitar pertengahan 1990an sudah ganda sampai Stadela. Berlanjut sepenuhnya sampai Bogor gandanya.
Wajah Depok Baru dah seperti yg skarang ini kita lihat. Tapi peron waktu itu blom tinggi alias kita2 masih disuruh manjat seonget aku. FOnya sendiri baru jadi sekitar tahun 2000an ini dan kerap kali memakan korban seinget aku dari pihak pembeli krn pr pembeli umumnya berada di posisi petak relnya. Sementara pr pedagang berjualan di balik pagar kawat krn gak boleh jualan di pinggir rel KA lagi. |
|
« Next Oldest | Next Newest »
|