Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
[ASK]Jarak Pengereman pada kecepatan maksimal kereta api???
#11
Dulu waktu rangkaian Anggrek masih dilengkapi disc-brake, jarak pengereman dari 100km/jam sampai berhenti, ditempuh dalam 200meteran. Setelah disc-brakenya rusak semua, diganti dengan rem primitip he he he jaraknya nambah ratusan meter lagi pastinya Tersenyuum

Reply
#12
(03-08-2011, 02:09 PM)hedwigus Wrote: Dulu waktu rangkaian Anggrek masih dilengkapi disc-brake, jarak pengereman dari 100km/jam sampai berhenti, ditempuh dalam 200meteran. Setelah disc-brakenya rusak semua, diganti dengan rem primitip he he he jaraknya nambah ratusan meter lagi pastinya Tersenyuum

Ini baru bener-bener hebat! 100 ke 0 dalam jarak 200-an meter...

Sekarang kira-kira ABA GG diperlengkapi disc brake lagi ga ya? Soalnya kan mo kejer 9 jam SBI-GMR kayak tahun 1997...
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#13
(03-08-2011, 02:09 PM)hedwigus Wrote: Dulu waktu rangkaian Anggrek masih dilengkapi disc-brake, jarak pengereman dari 100km/jam sampai berhenti, ditempuh dalam 200meteran. Setelah disc-brakenya rusak semua, diganti dengan rem primitip he he he jaraknya nambah ratusan meter lagi pastinya Tersenyuum

wah... ngerem "mendadak" gitu, penumpangnya bisa kayak cendol. grujugan ke arah depan. Heran
Reply
#14
(03-08-2011, 11:45 AM)Gege Wrote: Mungkin beberapa referensi berikut bisa dibaca² :
  1. Dari perpustakaan digital Universitas Diponogoro Semarang
  2. Ini lagi
  3. Yuk lagi
Silahkan dihitung-hitung dan titip salam untuk dosennya....
Yuk dihitung.... Hitung...Hitung

*Abis ngudud n ngupi bareng Mbah Google.... (maap sayah tidak puasa....)*

Setelah saya baca sumber-sumber di atas, koq untuk yg nomor 2 saya seperti menemukan sebuah "kesalahan".

Bukan mau sok pintar, tapi dalam contoh ditekankan bahwa kecepatan adalah 100 km/jam. Sedang jarak abar yg diperoleh satuannya 1179 meter (muatan penuh).

Ketika masuk ke rumus

-a = V² / 2S

satuan si V ga dikonversi ke m/s (100 km/h itu kalo ga salah 360 m/s). HArusnya satuan hasil bukan m/s², tapi

(km²/h²) / m

Tapi, ketika ditemukan waktu yg dibutuhkan (23,6 detik) saya coba masukkan ke dalam rumus

s (jarak) = V * t

Hasilnya... 2.360 meter (2,36 km)!

Mungkin saja sih angkanya, tapi pengolahannya itu lho, menurut saya ada sedikit kesalahan satuan yg cukup fatal...

Tapi lucunya, ketika saya ganti V = 360 m/s, koq setelah melewati rumus-rumus itu hasilnya ga beda jauh ya = 2.358 meter (2,358 kilometer)?

Mohon jika ada kesalahn dari pendapat saya, silakan diperbaiki sebagaimana semestinya. Ini cuma pendapat saya yg baru lulus SMA IPA, mungkin beda dengan rekan-rekan yg kuliah/bekerjs di bidang teknik macam ini. Terima kasih!

N.B.: Penghitungan dibulatkan dengan dua angka di belakang koma (0,00), pembulatan ke atas bila angka terakhir > 5, ke bawah bila angka terakhir < 5...
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#15
(03-08-2011, 04:45 PM)dtRAiNeR Wrote:
(03-08-2011, 11:45 AM)Gege Wrote: Mungkin beberapa referensi berikut bisa dibaca² :
  1. Dari perpustakaan digital Universitas Diponogoro Semarang
  2. Ini lagi
  3. Yuk lagi
Silahkan dihitung-hitung dan titip salam untuk dosennya....
Yuk dihitung.... Hitung...Hitung

*Abis ngudud n ngupi bareng Mbah Google.... (maap sayah tidak puasa....)*

Setelah saya baca sumber-sumber di atas, koq untuk yg nomor 2 saya seperti menemukan sebuah "kesalahan".

Bukan mau sok pintar, tapi dalam contoh ditekankan bahwa kecepatan adalah 100 km/jam. Sedang jarak abar yg diperoleh satuannya 1179 meter (muatan penuh).

Ketika masuk ke rumus

-a = V² / 2S

satuan si V ga dikonversi ke m/s (100 km/h itu kalo ga salah 360 m/s). HArusnya satuan hasil bukan m/s², tapi

(km²/h²) / m

Tapi, ketika ditemukan waktu yg dibutuhkan (23,6 detik) saya coba masukkan ke dalam rumus

s (jarak) = V * t

Hasilnya... 2.360 meter (2,36 km)!

Mungkin saja sih angkanya, tapi pengolahannya itu lho, menurut saya ada sedikit kesalahan satuan yg cukup fatal...

Tapi lucunya, ketika saya ganti V = 360 m/s, koq setelah melewati rumus-rumus itu hasilnya ga beda jauh ya = 2.358 meter (2,358 kilometer)?

Mohon jika ada kesalahn dari pendapat saya, silakan diperbaiki sebagaimana semestinya. Ini cuma pendapat saya yg baru lulus SMA IPA, mungkin beda dengan rekan-rekan yg kuliah/bekerjs di bidang teknik macam ini. Terima kasih!

N.B.: Penghitungan dibulatkan dengan dua angka di belakang koma (0,00), pembulatan ke atas bila angka terakhir > 5, ke bawah bila angka terakhir < 5...
gw juga menemukan kesalahan di teori situ Ngakak
100kmh itu kalo dikonvert ke m/s jadinya 27 m/s Ngeledek
My Train Frequent Passanger Card

[spoiler]
[Image: 0951262e89bc11e1a92a1231381b6f02_7.jpg]
[/spoiler]
Reply
#16
(03-08-2011, 06:46 PM)Gopar new image Wrote: [spoiler]
(03-08-2011, 04:45 PM)dtRAiNeR Wrote:
(03-08-2011, 11:45 AM)Gege Wrote: Mungkin beberapa referensi berikut bisa dibaca² :
  1. Dari perpustakaan digital Universitas Diponogoro Semarang
  2. Ini lagi
  3. Yuk lagi
Silahkan dihitung-hitung dan titip salam untuk dosennya....
Yuk dihitung.... Hitung...Hitung

*Abis ngudud n ngupi bareng Mbah Google.... (maap sayah tidak puasa....)*

Setelah saya baca sumber-sumber di atas, koq untuk yg nomor 2 saya seperti menemukan sebuah "kesalahan".

Bukan mau sok pintar, tapi dalam contoh ditekankan bahwa kecepatan adalah 100 km/jam. Sedang jarak abar yg diperoleh satuannya 1179 meter (muatan penuh).

Ketika masuk ke rumus

-a = V² / 2S

satuan si V ga dikonversi ke m/s (100 km/h itu kalo ga salah 360 m/s). HArusnya satuan hasil bukan m/s², tapi

(km²/h²) / m

Tapi, ketika ditemukan waktu yg dibutuhkan (23,6 detik) saya coba masukkan ke dalam rumus

s (jarak) = V * t

Hasilnya... 2.360 meter (2,36 km)!

Mungkin saja sih angkanya, tapi pengolahannya itu lho, menurut saya ada sedikit kesalahan satuan yg cukup fatal...

Tapi lucunya, ketika saya ganti V = 360 m/s, koq setelah melewati rumus-rumus itu hasilnya ga beda jauh ya = 2.358 meter (2,358 kilometer)?

Mohon jika ada kesalahn dari pendapat saya, silakan diperbaiki sebagaimana semestinya. Ini cuma pendapat saya yg baru lulus SMA IPA, mungkin beda dengan rekan-rekan yg kuliah/bekerjs di bidang teknik macam ini. Terima kasih!

N.B.: Penghitungan dibulatkan dengan dua angka di belakang koma (0,00), pembulatan ke atas bila angka terakhir > 5, ke bawah bila angka terakhir < 5...
[/spoiler]
gw juga menemukan kesalahan di teori situ Ngakak
100kmh itu kalo dikonvert ke m/s jadinya 27 m/s Ngeledek

Eh iya ya, itu mah 100 m/s yg jadi 360 km/h...

Berarti perhitungan berubah, bener ga sih?
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#17
Ini saya kasih sedikit penjelasan. Jarak rem tergantung dari beberapa faktor, keadaan rel, basah, kering, karatan? Panjang rangkaian.

Untuk kereta dengan 10 gerbong dengan muatan penuh jarak rem pada kecepatan 100kmh sekitar 500 meter. Jarak ini kuadratis dengan kecepatan. Kalau kecepatam 2 kali lebih cepat, jarak rem 4 x. Kalau kecepatan separoh, jarak rem seper empat.

Kalau jumlah gerbong naik jarak rem akan naik tetapi ini BUKAN disebabkan oleh kenaikkan massa karena secara theoretis tiap gerbong punya rem jadi meskipun jumlah gerbong naik jarak rem akan tetap tetapi ada problem lain.
Rem kereta dikendali dari loko dengan tekanan angin. Kalau sang massinis menekan rem tekanan angin memerlukan waktu sebelum sampai digerbong, makin jauh jarak loko gerbong makin lama tekanan ini sampai digerbong itu. Kecepatan tekanan ini sekitar kecepatan suara sekitar 300m/s. Kalau panjang rangkaian 1000 meter berarti memerlukan waktu 3 second sebelum tekanan sampai digerbong terachir.
Jadi begitu massinis menekan rem, butuh waktu beberapa second sebelum tenaga rem disemua gerbong ada. Ini membuat jarak rem naik jika rangkaian tambah panjang. Bukan karena kenaikkan massa.

Ini hitungannya rumit sekali tetapi sebagai patokan bisa diambil 500 m untuk rangkaian 10 gerbong dengan kecepatan 100kmh
Reply
#18
Ternyata massa tidak berpengaruh ya karena tiap kereta punya rem sendiri-sendiri.

Oh, satu lagi. Motor traksi menurut teori mesin listrik punya mode pengereman jika diberi arus yang akan menghasilkan torsi berlawanan dengan arah gerak, dengan kata lain, reverser lokomotif/KRL/KRDE di-set mundur saat kereta bergerak maju. Apakah ini bisa dipakai juga untuk mengerem rangkaian?
visit my blog


Obsesi: Menghapuskan 'Api' dari 'Kereta Api' Playboy

RF kikansha_otaku, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Sep 2010.
Reply
#19
jarak pengereman bisa dihitung dengan rumus "minden" (CMIIW)

[Image: Siggy.jpg]
Reply
#20
Dikasih thrust reverse hasilnya minim sekali karena itu tidak diterapkan. Hanya pesawat, (baik jet dan baling2) saja yang pakai rem reverse. Begitu mendarat langsung kasih gas penuh reverse.
Sebabnya di kereta tidak diterapkan adalah sebagai berikut, Roda terhadap rel mempunyai coefficient gesek kalau rel kering sekitar 0,4. Ini artinya gaya yang bisa dicapai diarah maju atau mundur adalah tekanan gandar ( umpama 10 Ton) x 0,4. Jadi bila tekanan gandar 10 ton, daya rem maximal yang bisa dicapai untuk gandar itu adalah 10 x 0,4 = 4 ton. Ini hanya berlaku bila roda masih berputar dan tidak selip. Begitu froda berhenti dan selip, coefficient malah turun jadi sekitar 0,1, Jadi malah tenaga rem turun faktor 4. Jadi kalau umpamanya roda dipaksa berputar kearah berlawanan pun hasilnya tidak banyak karena roda terhadap rel selip dan coefficient gesek cuman 0,1.

Karena itu tenaga rem di tiap gerbong juga disesuaikan dengan berat gerbong. Ini saya tidak tahu di Ind diterapkan atau tidak. Di tiap gandar ada timbangan untuk menentukan tekanan gandar. Ini dipakai untuk mengatur tenaga rem supaya meskipun rem penuh roda jangan sampai berhenti. Tenaga rem diatur sampai pas roda tidak sampai berhenti, dengan demikian bisa dicapai tenaga rem maximum.

Di loko DE ada juga rem dynamis, ini mirip seperti yang pak Otaku sebut tetapi TM tidak dikasih arus berlawanan. TM dilepas dari sumber listrik generator dan bila berputar TM sendiri membangkit tenaga listrik. Tenaga listrik ini disalurkan ke Resistor supaya tenaga listrik ini didisipatie di resistor itu menjadi panas. Ini menghasilkan tenaga rem tetapi ini hanya ada di loko aja. Ini sering dipakai dimana KA jalan di jalur menurun supaya tidak usah memakai rem biasa tetapi bisa pelan2 pakai rem ini. Ini disebut rem dynamis.

Di Tremlistrik kota yang berjalan dengan kecepatan rendah ada rem ketiga untuk mengurangi jarak rem. Ini perlu sekali karena trem kota berjalan bersama kendaraan lain. Di tiap boogie diantara kedua roda ada semacam blok dari besi besar yang menggantung pas diatas rel. Didalamnya ada kumparan. Kalau kumparan dialirin listrik, blok ini menjadi magnetis (elektro magnet) dan lengket ke rel. Roda yang ada dibelakangnya harus mendorong blok ini dengan hasil rem lebih cakem lagi.

Salam
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)