Thread Rating:
  • 2 Vote(s) - 5 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
All About Argo Bromo & Argo Bromo Anggrek
^^^^
8 K1


Share realisasi waktu keberangkatan dan kedatangan KA3 pada 30 Januari, 4 Februari dan 26 Februari 2016
30 Januari 2016, berangkat SBI 20.00 wib, tiba di JNG pkl 04.59wib
4 Februari 2016, berangkat SBI 20.00 wib, tiba di GMR sekitar pkl 05.00wib
26 Februari 2016, berangkat SBI 20.00wib, tiba di GMR 05.26 wib.


Pada 26 Februari 2016 KA2 mengalami keterlambatan tiba di SBI. Kurang lebih pkl 18.00 masih di Cepu, sampai KA3 berangkat KA2 masih belum sampai di SBI.
Reply
(26-02-2016, 07:13 PM)Henggar SP Wrote: Gan sekwrang KA ABA bawa berapa rangkaian ya? 8 K1 apa 9 K1?

hari minggu kemarin sih lihat di CN, KA 1 bawa 9 K1..
kunjungi blog saya di sini Ngeledek


Lok Merah Biru
Reply
(29-02-2016, 10:59 PM)zae abjal Wrote:
(26-02-2016, 07:13 PM)Henggar SP Wrote: Gan sekwrang KA ABA bawa berapa rangkaian ya? 8 K1 apa 9 K1?

hari minggu kemarin sih lihat di CN, KA 1 bawa 9 K1..

yupss
sekarang hampir selalu terlintas bawa 9 K1 selendang pecut
CC 206 xx xx  P -  5 K1 - M -  4 K1  -  B
Reply
KA 3, Argo Anggrek Malam
K1-4
Sabtu, 30 Januari 2016
Surabaya Pasar Turi - Jatinegara



Perjalanan balik ke Jakarta saya mencoba naik KA 3 ABA Malam. Untuk menuju kesana diperlukan oper beberapa kali angkutan umum sebab saya berangkat dari kampung halaman di Malang.

Rencana awal, berangkat dari rumah pkl 13.00wib, setelah shalat Dzuhur sempat leyeh-leyeh dulu di kasur dan kebablasan hingga pkl 13.20wib, dengan tergopoh2(untungnya sudah mandi, packing, ganti baju, dll) bersama istri segera ambil sepatu dan pamit ke Ibu untuk bersiap pulang.

Dari rumah rencananya naik mikrolet jurusan Tidar-Arjosari yang sekiranya akan menempuh perjalanan selama sejam(normal 20-30 menit dengan kendaraan pribadi). Namun rencana tetaplah rencana yang dapat berubah. Lama menunggu mikrolet hingga 15 menit, membuat kami memutuskan beralih  menggunakan mikrolet yang menyambungkan rute Landungsari - Arjosari. Untungnya armada mikrolet di rute ini cukup banyak. Tak perlu menunggu sudah ada mikrolet yang siap mengantarkan saya menuju Terminal Arjosari.

Perjalanan ke terminal Arjosari diantar istri cukup lancar. Sekitar 40an menit akhirnya mikrolet tiba di terminal Arjosari tanpa mengalami kendala kemacetan di jalan. Segera saya menuju tempat pemberangkatan bis antar kota. Pada saat itu di terminal Arjosari terdapat bis patas dan biasa jurusan Malang - Surabaya (Bungurasih). Menimbang waktu yang tercepat berangkat dan kenyamanan akhirnya saya memilih menggunakan bus Patas dengan karcis seharga 25.000 rupiah. Bus hanya ngetem sebentar, tak sampai 5 menit bus telah penuh dan siap diberangkatkan. Kali ini perjalanan ke Surabaya hanya saya sendiri. Istri 'cukup' mengantar hingga terminal Arjosari dan setelahnya kembali ke rumah.

Perjalanan ke Surabaya untungnya cukup lancar dan bus tiba di terminal Bungurasih pada pkl 16.00wib. Setelahnya saya segera menuju terminal keberangkatan bus kota, Saya lupa bus kota mana yang saya naiki, tapi yang jelas bukan bus patas P5, karena seingat saya bus yang saya naiki tak lewat tol, tak ber AC, dengan biaya sekitar 6ribu rupiah melewati beberapa jalanan protokol di Surabaya seperti Jl Pasar Kembang, Kupang dan Jl Raya Diponegoro. Saya ingat2 sudah lama juga tak naik bus kota jurusan Bungurasih - Pasar Turi, terakhir naik Agustus 2005 lalu setelah turun dari KA Gumarang.

Bus kota yang saya naiki menunggu sekitar setengah jam lebih, dan pkl 16.44wib dan sampai di Stasiun Pasar Turi sejam kemudian.

Sampai di Stasiun Pasar Turi sejenak mengagumi perubahan arsitektur stasiun pasar Turi yang tampak bersih, rapi dan megah. Apalagi di depan stasiun terdapat monumen kereta uap yang masih kinclong terawat.

Sambil menunggu Adzan Maghrib saya membuka bekal yang dibuat istri berupa dua (iya dua) porsi nasi goreng yang dijadikan satu, ditambah sosis goreng, dan 2 buah Tahu isi suwiran ayam. Mantabhh, makan besar. Sengaja saya habiskan bekal ini agar di atas kereta nanti tinggal 'hibernasi' dan tak mengunyah makanan lagi. Tak dapat dipungkiri betapa saya agak bersusah payah menghabiskan makan besar kali itu. Apalagi cita rasa nasi goreng rumahan buatan istri lebih enak dibandingkan nasi goreng buatan salah anak perush PT sepur ini (peace yahh, semoga dijadikan pelecut untuk meningkatan mutu layanannya lagi).

Skip, selepas menghabiskan bekal, saya menuju masjid di samping stasiun Pasar Turi untuk menunaikan shalat maghrib + isya sekaligus (jamak). Sesudahnya pada pkl 18.30wib, saya bergegas menuju stasiun Pasar Turi utk 'ngaso' di ruang tunggu eksekutif.

Kesan yang saya dapatkan dari ruang tunggu eksekutif di stasiun pasar Turi menurut saya sangat nyaman (bersih dan rapi tentu saja). Tempat duduknya berupa kursi kulit yang jauh lebih empuk dibandingkan yang terdapat di Stasiun Gambir maupun Pasar Turi. Kapasitas ruang tunggunya cukup besar dibandingkan dengan yang ada di Stasiun ML. Di ruang tunggu ini pula terdapat toilet yang cukup bersih dan dibedakan untuk penumpang pria dan wanita.

Pada pkl 19.00wib, counter check in dibuka. Saya bergegas check in dan menuju peron stasiun. Suasana peron stasiun pada saat itu cukup sepi, hanya ada penumpang KA3 disana. KA3 sendiri dilangsir mulai pkl 19.30wib dan 5-10 menit sesudahnya penumpang dipersilakan masuk kedalam kereta.

Tak sampai 30 menit kemudian, atau tepatnya pada pkl 20.00wib KA3 diberangkatkan dari Stasiun Pasar Turi tepat waktu. Kondisi kereta yang saya naiki (K1-4) cukup penuh, dan sebelah saya terdapat seorang pria yang hendak bepergian ke Jakarta dan turun di Gambir. Posisi kursi terletak di bagian paling belakang K1-4. Artinya hampir tak terjangkau untuk mendapatkan tontonan video/film KA TV. Sebenarnya ada TV di bagian belakang persis dari kursi yang saya tempat. Tapi rasanya rempong juga jika harus sering-sering menengok ke belakang. Opsi memutar kursi juga saya kesampingkan, terutama faktor kenyamanan (posisi duduk akan melawan arah dengan perjalanan kereta api).

Kondisi AC cukup dingin, Sejak memasuki kereta, posisi suhu udara sudah menunjukkan angka dibawah 25 derajat celcius. Top!! Kebersihan didalam kabin cukup bagus. Demikian pula dengan kedua buah toilet yang terletak dibagian belakang kereta yang saya naiki kondisi kebersihannya terjaga dengan sangat-sangat baik (terbaik dari yang pernah saya rasakan selama naik K1 selama ini). Parameternya berupa ketersediaan prasarana (tisu, sabun, dll), wangi, dan kloset tanpa noda dan berfungsi dengan sempurna.

Saya sendiri berkesempatan mencoba kloset didalam KA ABA ini. Ceritanya sekitar pkl 22.30an atau sekiranya KA 3 sedang melaju di provinsi Jawa Tengah mendadak perut mules. Daripada menahan hingga KA tiba di Jakarta, akhirnya saya sudah derita kali ini. Big Grin Bersyukur masih tersedia air didalam toilet yang cukup untuk bilas dan membuang 'noda'.

Skip, pada pkl 23.21wib KA3 tiba di Stasiun Semarang Tawang. Setelahnya saya mencoba untuk tidur karena esok harinya langsung masuk kerja kembali. Beberapa jam kemudian atau lebih tepatnya pada pkl 02.10wib, KA3 telah sampai di Stasiun Cirebon. KA ABA Malam yang saya naiki akhirnya tiba di Stasiun Jatinegara pada pkl 04.59wib. Meleset 12 menitan dari jadwal. Tapi gakpapalah masih cukup waktu sebelum melanjutkan perjalanan ke Cikarang sembari mencari mushola dan melakukan shalat subuh dulu.


[spoiler=monumen KA]
[Image: IMG_20160130_173424.jpg][/spoiler]


[spoiler=KA2 Gambir-SBI]
[Image: IMG_20160130_190437.jpg][/spoiler]


[spoiler=KA2 Gambir-SBI]
[Image: IMG_20160130_190510.jpg][/spoiler]
Reply
(26-04-2016, 10:16 PM)oke_sr Wrote: KA 3, Argo Anggrek Malam
K1-4
Sabtu, 30 Januari 2016
Surabaya Pasar Turi - Jatinegara



Perjalanan balik ke Jakarta saya mencoba naik KA 3 ABA Malam. Untuk menuju kesana diperlukan oper beberapa kali angkutan umum sebab saya berangkat dari kampung halaman di Malang.

Rencana awal, berangkat dari rumah pkl 13.00wib, setelah shalat Dzuhur sempat leyeh-leyeh dulu di kasur dan kebablasan hingga pkl 13.20wib, dengan tergopoh2(untungnya sudah mandi, packing, ganti baju, dll) bersama istri segera ambil sepatu dan pamit ke Ibu untuk bersiap pulang.

Dari rumah rencananya naik mikrolet jurusan Tidar-Arjosari yang sekiranya akan menempuh perjalanan selama sejam(normal 20-30 menit dengan kendaraan pribadi). Namun rencana tetaplah rencana yang dapat berubah. Lama menunggu mikrolet hingga 15 menit, membuat kami memutuskan beralih  menggunakan mikrolet yang menyambungkan rute Landungsari - Arjosari. Untungnya armada mikrolet di rute ini cukup banyak. Tak perlu menunggu sudah ada mikrolet yang siap mengantarkan saya menuju Terminal Arjosari.

Perjalanan ke terminal Arjosari diantar istri cukup lancar. Sekitar 40an menit akhirnya mikrolet tiba di terminal Arjosari tanpa mengalami kendala kemacetan di jalan. Segera saya menuju tempat pemberangkatan bis antar kota. Pada saat itu di terminal Arjosari terdapat bis patas dan biasa jurusan Malang - Surabaya (Bungurasih). Menimbang waktu yang tercepat berangkat dan kenyamanan akhirnya saya memilih menggunakan bus Patas dengan karcis seharga 25.000 rupiah. Bus hanya ngetem sebentar, tak sampai 5 menit bus telah penuh dan siap diberangkatkan. Kali ini perjalanan ke Surabaya hanya saya sendiri. Istri 'cukup' mengantar hingga terminal Arjosari dan setelahnya kembali ke rumah.

Perjalanan ke Surabaya untungnya cukup lancar dan bus tiba di terminal Bungurasih pada pkl 16.00wib. Setelahnya saya segera menuju terminal keberangkatan bus kota, Saya lupa bus kota mana yang saya naiki, tapi yang jelas bukan bus patas P5, karena seingat saya bus yang saya naiki tak lewat tol, tak ber AC, dengan biaya sekitar 6ribu rupiah melewati beberapa jalanan protokol di Surabaya seperti Jl Pasar Kembang, Kupang dan Jl Raya Diponegoro. Saya ingat2 sudah lama juga tak naik bus kota jurusan Bungurasih - Pasar Turi, terakhir naik Agustus 2005 lalu setelah turun dari KA Gumarang.

Bus kota yang saya naiki menunggu sekitar setengah jam lebih, dan pkl 16.44wib dan sampai di Stasiun Pasar Turi sejam kemudian.

Sampai di Stasiun Pasar Turi sejenak mengagumi perubahan arsitektur stasiun pasar Turi yang tampak bersih, rapi dan megah. Apalagi di depan stasiun terdapat monumen kereta uap yang masih kinclong terawat.

Sambil menunggu Adzan Maghrib saya membuka bekal yang dibuat istri berupa dua (iya dua) porsi nasi goreng yang dijadikan satu, ditambah sosis goreng, dan 2 buah Tahu isi suwiran ayam. Mantabhh, makan besar. Sengaja saya habiskan bekal ini agar di atas kereta nanti tinggal 'hibernasi' dan tak mengunyah makanan lagi. Tak dapat dipungkiri betapa saya agak bersusah payah menghabiskan makan besar kali itu. Apalagi cita rasa nasi goreng rumahan buatan istri lebih enak dibandingkan nasi goreng buatan PT Reska (peace yahh PT Reska, semoga dijadikan pelecut untuk meningkatan mutu layanannya lagi).

Skip, selepas menghabiskan bekal, saya menuju masjid di samping stasiun Pasar Turi untuk menunaikan shalat maghrib + isya sekaligus (jamak). Sesudahnya pada pkl 18.30wib, saya bergegas menuju stasiun Pasar Turi utk 'ngaso' di ruang tunggu eksekutif.

Kesan yang saya dapatkan dari ruang tunggu eksekutif di stasiun pasar Turi menurut saya sangat nyaman (bersih dan rapi tentu saja). Tempat duduknya berupa kursi kulit yang jauh lebih empuk dibandingkan yang terdapat di Stasiun Gambir maupun Pasar Turi. Kapasitas ruang tunggunya cukup besar dibandingkan dengan yang ada di Stasiun ML. Di ruang tunggu ini pula terdapat toilet yang cukup bersih dan dibedakan untuk penumpang pria dan wanita.

Pada pkl 19.00wib, counter check in dibuka. Saya bergegas check in dan menuju peron stasiun. Suasana peron stasiun pada saat itu cukup sepi, hanya ada penumpang KA3 disana. KA3 sendiri dilangsir mulai pkl 19.30wib dan 5-10 menit sesudahnya penumpang dipersilakan masuk kedalam kereta.

Tak sampai 30 menit kemudian, atau tepatnya pada pkl 20.00wib KA3 diberangkatkan dari Stasiun Pasar Turi tepat waktu. Kondisi kereta yang saya naiki (K1-4) cukup penuh, dan sebelah saya terdapat seorang pria yang hendak bepergian ke Jakarta dan turun di Gambir. Posisi kursi terletak di bagian paling belakang K1-4. Artinya hampir tak terjangkau untuk mendapatkan tontonan video/film KA TV. Sebenarnya ada TV di bagian belakang persis dari kursi yang saya tempat. Tapi rasanya rempong juga jika harus sering-sering menengok ke belakang. Opsi memutar kursi juga saya kesampingkan, terutama faktor kenyamanan (posisi duduk akan melawan arah dengan perjalanan kereta api).

Kondisi AC cukup dingin, Sejak memasuki kereta, posisi suhu udara sudah menunjukkan angka dibawah 25 derajat celcius. Top!! Kebersihan didalam kabin cukup bagus. Demikian pula dengan kedua buah toilet yang terletak dibagian belakang kereta yang saya naiki kondisi kebersihannya terjaga dengan sangat-sangat baik (terbaik dari yang pernah saya rasakan selama naik K1 selama ini). Parameternya berupa ketersediaan prasarana (tisu, sabun, dll), wangi, dan kloset tanpa noda dan berfungsi dengan sempurna.

Saya sendiri berkesempatan mencoba kloset didalam KA ABA ini. Ceritanya sekitar pkl 22.30an atau sekiranya KA 3 sedang melaju di provinsi Jawa Tengah mendadak perut mules. Daripada menahan hingga KA tiba di Jakarta, akhirnya saya sudah derita kali ini. Big Grin Bersyukur masih tersedia air didalam toilet yang cukup untuk bilas dan membuang 'noda'.

Skip, pada pkl 23.21wib KA3 tiba di Stasiun Semarang Tawang. Setelahnya saya mencoba untuk tidur karena esok harinya langsung masuk kerja kembali. Beberapa jam kemudian atau lebih tepatnya pada pkl 02.10wib, KA3 telah sampai di Stasiun Cirebon. KA ABA Malam yang saya naiki akhirnya tiba di Stasiun Jatinegara pada pkl 04.59wib. Meleset 12 menitan dari jadwal. Tapi gakpapalah masih cukup waktu sebelum melanjutkan perjalanan ke Cikarang sembari mencari mushola dan melakukan shalat subuh dulu.


[spoiler=monumen KA]
[Image: IMG_20160130_173424.jpg][/spoiler]


[spoiler=KA2 Gambir-SBI]
[Image: IMG_20160130_190437.jpg][/spoiler]


[spoiler=KA2 Gambir-SBI]
[Image: IMG_20160130_190510.jpg][/spoiler]

Melihat cerita masnya yg naik si Anggrek ini, saya jadi kepingin naik juga, cuma apa daya, tarif khusus SBI-SMT aja 200.000, bikin kantong jebol... Sedih

Wah kenapa tdk pake Penataran atau Bima aja ke SGU? Kalo turun SB tinggal naik angkot ijo telor asin (lupa kodenya) yg ke PGS, terus jalan kaki, kalo SGU saya lupa pake angkot yg mana, tapi bisa sampai SBI juga, hehehe... Xie Xie
Buah dari perjuangan adalah kebahagiaan
Semakin keras kita berjuang bagi hidup kita, semakin manis pula buahnya
Semakin santai perjuangan kita, semakin pahit pula buahnya


FLICKR Stephanie Anastasia stasiunkastephanie
Reply
(26-04-2016, 10:27 PM)stasiunkastephanie Wrote: Melihat cerita masnya yg naik si Anggrek ini, saya jadi kepingin naik juga, cuma apa daya, tarif khusus SBI-SMT aja 200.000, bikin kantong jebol... Sedih

Wah kenapa tdk pake Penataran atau Bima aja ke SGU? Kalo turun SB tinggal naik angkot ijo telor asin (lupa kodenya) yg ke PGS, terus jalan kaki, kalo SGU saya lupa pake angkot yg mana, tapi bisa sampai SBI juga, hehehe... Xie Xie

Ceritanya sih pas kemarin ada rezeki dan diburu waktu juga sih mbak, jadi mesti nyari angkutan umum yang bisa sampe Jakarta sebelum pkl 07.00wib. Nahh itu, kemarin juga heran kenapa gak kepikiran naik Bima ke SGU dari stasiun, secara masih ada waktu cukup buat booking, dll. Cuma iya sih mbak, dari SGU ke SBInya masih blank naik angkutan selain ojek, dan taksi. Kalau spare waktu masih sisa banyak saya mau coba2 naik angkot menuju SBI Big Grin
Reply
KA 3, Argo Anggrek Malam
K1-5
Jumat, 26 Februari 2016
Surabaya Pasar Turi -Gambir






Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di kampung halaman tiba saatnya saya kembali balik ke Jakarta. Berangkat dari rumah diantar istri setelah ashar tiba, perjalanan ke Surabaya nyaris tak mengalami hambatan. Sepanjang perjalanan menuju tol Gempol-Surabaya cuaca cerah-mendung. Namun ketika melintasi Sidoarjo-Surabaya hujan mulai mengguyur jalanan tol terpanjang di Jawa Timur tersebut.


Skip, akhirnya mobil yang kami tumpangi keluar dari tol Dupak. Dari sini perjalanan menuju Stasiun Pasar Turi mengalami kepadatan+kemacetan yang disebabkan oleh beberapa sebab, yakni beberapa titik genangan di Jl Dupak(tertinggi mencapai 20-30cm) maupun perempatan jalan yang menghubungkan Jl Demak dan Jl Dupak tersebut. Jelang masuk belokan Stasiun Pasar Turi(tepatnya di Jl Dupak Raya, sekitaran Pusat Grosir Surabaya), sebuah sirine dari PJL berbunyi dan melintaslah kereta pengangkut BBM (yang ini tak terportret). 


Kami tiba di Stasiun Pasar Turi pada pkl 17.30an wib. Kondisi stasiun kala itu banyak genangan setinggi 10-20cm di area parkir maupun jalan depan kompleks stasiun. Genangan ini bertahan sekitar sejam kemudian dan berangsur-angsur berkurang volumenya.


Skip, setelah menunaikan ibadah maghrib kami bergegas mengambil tempat duduk di depan ruang tunggu eksekutif. Sekitar pkl 19.30 saya masuk ke ruang tunggu eksekutif dan melakukan check in beberapa menit setelahnya.

Kondisi Stasiun Pasar Turi cukup ramai juga jelang langsirnya KA3. Ada sekitar seratusan penumpang yang siap menaiki KA yang menghubungkan rute Stasiun Pasar Turi dan Gambir tersebut. Oh iya, kala itu terjadi keterlambatan kedatangan KA 2 dari Gambir. Sampai dengan KA3 berangkat, posisi KA2 masih di sekitar Lamongan.

Kembali ke KA3, kereta yang saya naiki akhirnya diberangkatkan tepat waktu pada pkl 20.00wib. KA ABA menyusuri petak demi petak dengan kecepatan yang cukup tinggi tanpa goncangan yang berarti. Saya naik di kursi 10B, dan saya menemui keberuntungan dobel ketika mendapatkan tiket dan kursi ini.


Sejak berangkat dari Stasiun Pasar Turi, kursi sebelah saya kosong. Alhasil saya dapat berpindah ke kursi 10A dan menguasai dua bangku sekaligus selama perjalanan dari Surabaya menuju Jakarta.

Kondisi interior KA ABA kala itu sangat terawat, bersih dan kinclong. Toilet pada kereta bernomor K1 097 19 yang saya naiki juga sangat bersih, kering dan harum. Ketersediaan prasarana berupa tissur toilet, sabun dan air sangat baik. Yang sedikit mengasyikkan, pencahayaan didalam kabin cukup baik, lampunya tak menyilaukan mata.

Saya tak mengingat/mencatat waktu KA 3 berhenti/berangkat dari Stasiun Semarang Tawang, hingga akhirnya KA tiba di Cirebon pada pkl 02.14wib. Rupanya keberuntungan saya bertambah, kedua penumpang didepan saya turun di stasiun ini dan tak ada penumpang yang naik dan duduk di kursinya. Alhasil kedua kursi didepan kosong dan saya putar agar saya dapat gunakan untuk bersandarnya kaki. Lumayan satu tiket 'menguasai' 4 kursi...


Menjelang tiba di Stasiun Jatinegara, KA sempat tertahan sinyal dua kali dan baru tiba pada pkl 05.08wib. Disini KA berhenti hanya 2 menitan dan diberangkatkan kembali hingga tiba di Stasiun Gambir pada pkl 05.26wib. 

Sepanjang perjalanan KA3 memutar 2 film yakni L*tt*rs to Juli*t(2010) dan S**king a fri*nd for th* *nd of th* world(2012).


Genangan Air
[spoiler=foto]
[Image: DSC_0654.jpg][/spoiler]


Interior KA
[spoiler=foto]
[Image: DSC_0659.jpg][/spoiler]



Peron Pasar Turi
[spoiler=foto]
[Image: DSC_0663.jpg][/spoiler]



K1 097 19
[spoiler=foto]
[Image: DSC_0672.jpg][/spoiler]



4 Kursi jadi satu
[spoiler=foto]
[Image: DSC_0667.jpg][/spoiler]


M1 097 01
[spoiler=foto]
[Image: DSC_0676.jpg][/spoiler]
Reply
Hari ini KA ABA pagi Gmr - Sbi engga pakai aling2 B seperti biasanya , kenapa yah
Reply
Seri Argo Bromo Anggrek

Part 1

Facebook : Garry RP
Twitter : GarryKAHP
Flickr : GarryKAHP
Youtube : Gerikahp
Majulah Perkeretaapian Indonesia
Reply
Lanjutan yang atas

Part 2
Facebook : Garry RP
Twitter : GarryKAHP
Flickr : GarryKAHP
Youtube : Gerikahp
Majulah Perkeretaapian Indonesia
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 3 Guest(s)