05-01-2011, 09:04 AM
BP dan K1 yang menabrak teridentifikasi bernomor BP-09501, K1-09501, K1-09503 dan K1-01504, yang mana sehari sebelum PLH ini mereka berdua dipergoki sedang stabling di JAKK.
Tambahan kondisi di TKP:
![[Image: img05012011851951.jpg]](http://www.pontianakpost.com/uploads/berita/dir05012011/img05012011851951.jpg)
![[Image: 1747025620X310.JPG]](http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/01/04/1747025620X310.JPG)
Berita dari Radar Malang:
Yang jadi pertanyaan, apakah perlu untuk mencari siapa yang telah lalai dalam menjalankan tugasnya sehingga menyebabkan peristiwa semacam ini?
Tambahan kondisi di TKP:
![[Image: img05012011851951.jpg]](http://www.pontianakpost.com/uploads/berita/dir05012011/img05012011851951.jpg)
Berita dari Radar Malang:
Quote:Rabu, 05 Januari 2011 , 07:17:00
Empat Gerbong Tabrak 3 Rumah, Balita Tewas
MALANG – Kecelakaan kereta api (KA) kemarin siang di Malang ini tergolong langka. Bagaimana tidak, tanpa diketahui penyebabnya, empat gerbong KA Gajayana tiba-tiba menggelinding cukup kencang dari Stasiun Besar Kota Malang ke arah Stasiun Kotalama Kota Malang.Gerbong-gerbong yang meluncur dengan kecepatan sekitar 40 kilometer per jam itu sampai keluar rel dan baru berhenti setelah menabrak tiga rumah. Atap salah satu rumah, yakni milik Misno, 38, sampai runtuh. Dua rumah lainnya adalah milik Jamil, 50, dan Sutrisno, 40. Tiga rumah bernomor 16, 18, dan 20 tersebut beralamat di Jl Simpang Peltu Sujono Ciptomulyo, Sukun, RT 11 RW 09.Akibat peristiwa itu, bocah berusia 2,5 tahun bernama Muhammad Nur Rosyid tewas setelah dirawat di RS Panti Nirmala. Putra Misno tersebut meninggal karena terkena reruntuhan bangunan rumah. Beruntung, adiknya, M. Riski, 1,5, hanya mengalami luka lecet. Tak hanya korban jiwa, empat sepeda motor dan dua becak juga ringsek dilindas gerbong tanpa penumpang itu.
Sebenarnya, laju gerbong-gerbong itu sudah diarahkan ke boks penahan (area pembuangan KA dalam kondisi darurat) di sebelah utara tiga rumah tersebut. Namun, boks penahan itu tak kuat dan ambrol. Kereta pun terus meluncur menyeruduk rumah. Hingga kemarin, belum diketahui pasti penyebab empat gerbong KA Gajayana itu meluncur bebas dari Stasiun Besar Kota Malang ke arah Stasiun Kotalama. Jarak antara dua stasiun itu sekitar 2,5 kilometer dan terdapat dua jembatan, kelokan tajam, serta tiga palang pintu. ’’Saya lihat sendiri empat gerbong tanpa lokomotif menabrak sepur badok itu (boks penahan KA, Red). Saya teriak sepur larat... sepur larat (gerbong yang melaju tanpa lokomotif, Red). Memang tidak ada lokomotifnya,’’ kata seorang ibu pemilik warung yang berjualan di dekat boks penahan KA.
Berdasar informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, empat gerbong yang menggelinding itu meluncur pukul 13.10 dari Stasiun Besar Kota Malang. Saat itu, empat gerbong tersebut berada di jalur empat dan sedang diperbaiki. Tiba-tiba, gerbong itu meluncur tanpa penghalang menyusuri rel. Bahkan, setiba di perempatan Kotalama, palang pintu kereta tak sempat ditutup. Sebab, gerbong yang meluncur tersebut memang tak terjadwal. ’’Di perlintasan Kotalama, pintu tak sempat ditutup. Untungnya, saat itu kendaraan sepi,’’ ujar Abdul Mujib, pemilik Bengkel Ateng di perempatan Kotalama.Empat gerbong yang meluncur kencang itu menyusuri jalur utama yang menghubungkan Malang–Kepanjen. Karena empat gerbong itu bisa membahayakan laju KA Penataran dari arah Blitar yang bakal melewati Stasiun Kotalama dalam beberapa menit, jalur pun dipindah ke jalur pembuangan.
Pengalihan jalur ke posisi aman itu dilakukan penjaga rumah sinyal, Ahmad Suyuti, atas perintah kepala Stasiun Kotalama. ’’Atas perintah KS (kepala stasiun), Pak,’’ kata Suyuti kepada polisi yang menginterogasi. Para penghuni rumah di bantaran rel yang berdekatan dengan boks penahan juga sedang sepi. Siang itu, sebagian besar warga bekerja. Hanya beberapa penghuni yang berada di dalam rumah. Termasuk penghuni tiga rumah yang ditabrak rangkaian gerbong itu.Beberapa menit setelah kecelakaan, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) langsung mengevakuasi dua gerbong penumpang eksekutif paling belakang. Yakni, gerbong bernomor K1-09503 dan K1-09501. Evakuasi itu bisa mudah dilakukan karena dua gerbong tersebut masih berada di atas rel. Dua gerbong lainnya, yakni gerbong pembangkit BP-09501 dan gerbong penumpang K1-01504, belum dievakuasi.
Polisi memasang garis di dua gerbong yang belum bisa dievakuasi tersebut. Proses menarik dua gerbong itu tidak mudah karena hampir seluruh rodanya keluar rel. Situasi di lokasi kejadian hingga kemarin sore masih ramai. Warga sekitar berdatangan untuk menyaksikan dua gerbong yang belum dievakuasi tersebut. Polisi repot mengatur warga yang ingin menyaksikan. Apalagi warga masuk dalam jalur kereta api.Hingga kemarin sore, pihak berwenang belum bisa menyimpulkan penyebab meluncurnya rangkaian gerbong KA Gajayana tanpa lokomotif itu. Humas PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daops 8 Sriwinarto menyatakan bahwa pihaknya masih menyelidiki. Bersama kepolisian, mereka juga tengah menunggu hasil pemeriksaan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Hasil pemeriksaan tim Daops 8, ada beberapa data yang mendukung bahwa bisa jadi empat gerbong itu meluncur karena perbedaan ketinggian. Berdasar data tim, ketinggian Stasiun Besar Kota Malang adalah 444 meter dpl (di atas permukaan laut). Sementara itu, Stasiun Kotalama berada di posisi 429 meter di atas permukaan laut. Ada perbedaan ketinggian 15 meter antara dua stasiun yang berjarak 2,5 kilometer itu. ’’Kami meneliti ada kelandaian, sehingga memungkinkan kereta meluncur tanpa mesin,’’ jelas Sriwinarto kemarin.Soal pemicu kereta bisa mulai bergerak dan melaju, dia menyatakan belum tahu. Menurut laporan, empat gerbong itu sedang berhenti di jalur empat. Ada beberapa perbaikan dan pembersihan yang dilakukan. Jenis perbaikan itu adalah mengganti karet yang menghubungkan gerbong satu dengan gerbong lainnya.
Rangkaian KA Gajayana terdiri atas sembilan gerbong. Yakni, satu gerbong pembangkit, satu gerbong restorasi (makan), dan tujuh gerbong penumpang eksekutif. Saat perbaikan tersebut tinggal empat gerbong. Sebab, lima gerbong lainnya telah dilepas dari rangkaian dan ditarik dengan lokomotif. Terkait dengan kelangsungan perjalanan KA Gajayana, Sriwinarto menegaskan tidak ada penundaan, namun terlambat sekitar 1,5 jam. KA Gajayana jurusan Malang–Jakarta itu tetap berangkat pukul 19.30 dari seharusnya pukul 17.30. Pihaknya meminta kiriman gerbong pembangkit dari Surabaya. Begitu gerbong pembangkit datang, tujuh gerbong penumpang yang berisi 350 orang langsung diberangkatkan ke Jakarta.
Sementara itu, untuk seorang bocah korban yang meninggal, Sriwinarto menegaskan bahwa PT. Kereta Api Indonesia (Persero) akan memberikan bantuan uang duka. Termasuk memberikan santunan asuransi Jasa Raharja. Soal bangunan, dia menegaskan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tidak memberikan ganti rugi. Sebab, posisi tiga rumah di belakang boks penahan tersebut dianggap tidak resmi. Kapolres Malang Kota AKBP Agus Salim menyatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan KNKT mencari tahu penyebab kecelakaan tersebut. Apakah ada unsur kelalaian atau tidak. Polisi memeriksa lima saksi warga setempat dan meminta keterangan dari kepala Stasiun Kotalama serta kepala Stasiun Besar Kota Malang.(yos/ziz/jpnn)
Yang jadi pertanyaan, apakah perlu untuk mencari siapa yang telah lalai dalam menjalankan tugasnya sehingga menyebabkan peristiwa semacam ini?


![[Image: 2r56iya.jpg]](http://i56.tinypic.com/2r56iya.jpg)






tiap hari emang disimpen di spoor 4 ![[Image: 4465346396_1def117691_o.jpg]](http://farm3.static.flickr.com/2505/4465346396_1def117691_o.jpg)