Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
2009; awal tamatnya riwayat KRL non-AC Jabodetabek?
#51
denger2 juga tarifnya bakal dibuat per-jarak tempuh ya?
bener nggak??
SRP - UI : transit THB / MRI
Reply
#52
(12-11-2009, 05:13 PM)galuh KRL bangetz Wrote:
(27-09-2009, 10:14 AM)Faris GM-MarKA Wrote: Bukan ngerasa rugi TAP, tapi lebih kepada 'pemborosan' kalo naiknya terlalu dekat (misal DP-UI, TNT-PSM)...
Kalo BOO-BJD sih jauh, setara DP-TNT...

kalo merasa "BOROS" silahkan naik krl ekonomi berikut'a kan ada....

atau kalau tidak mau lama menunggu naik saja transportasi lain... bisa kan ???

tapi untuk sistem harga karcis sprti demikian itu sdh diputuskan oleh yg berwenang , dgn pertimbangan2 lain.... tks....

Enak banget ngomongnya XD
dengan bicara seperti itu berarti anda seolah-olah mencoba mengurangi penumpang KA dengan menyuruhnya pindah ke moda lain!
sekarang liat aja kemungkinan terburuk, misalkan ada orang mau berpergian jarak dekat, contohlah DP-UI. dan sedang terburu waktu.
biasanya orang tersebut menggunakan KRL Ekonomi, dengan tarif Rp.1.000,- sementara yang akan masuk stasiun terlebih dahulu adalah ekonomi AC, namun tidak ada KRL ekonomi yang jaraknya dekat dari ekonomi AC setelahnya, dan jika menunggu akan lebih lama waktu yang terbuang.
mau pindah ke moda lain, selain tarif bisa lebih mahal juga ada resiko macet dan lambat.
akhirnya mau tidak mau orang itu harus membeli tiket Ekonomi AC dengan tarif Rp.5.500,- , kalo tetap ingin naik kereta, meskipun jaraknya dekat...
jadilah ia mengeluarkan tarif yang hampir 5x lipat lebih mahal dari biasanya.
bagi sebagian orang, ini namanya pemborosan, walau mungkin memang ga semua orang merasa begitu.
tapi faktanya, tidak semua penumpang ekonomi AC adalah orang kalangan menengah keatas,,,
dan patut anda ketahui juga, walaupun ada, faktanya KRL Ekonomi sering hanya 1 set dan banyak perjalanan dibatalkan...
orang kan pilih kereta api supaya cepat-tepat-aman-nyaman.
masak disuruh pindah ke moda lain?

gak bisa seenaknya tuh, nyuruh orang nunggu lebih lama atau pindah ke moda lain,,,

makanya saya pribadi berharap, moga nanti tarif ekonomi AC ini diatur sesuai jaraknya, tidak seperti sekarang, tarif dipukul sama rata dalam 1 line...
[Image: photo.php?pid=379024&id=100000253048256&ref=fbx_album]

KCJ 7000 series-7117F
Reply
#53
(13-11-2009, 06:14 AM)Faris GM-MarKA Wrote:
(12-11-2009, 05:13 PM)galuh KRL bangetz Wrote:
(27-09-2009, 10:14 AM)Faris GM-MarKA Wrote: Bukan ngerasa rugi TAP, tapi lebih kepada 'pemborosan' kalo naiknya terlalu dekat (misal DP-UI, TNT-PSM)...
Kalo BOO-BJD sih jauh, setara DP-TNT...

kalo merasa "BOROS" silahkan naik krl ekonomi berikut'a kan ada....

atau kalau tidak mau lama menunggu naik saja transportasi lain... bisa kan ???

tapi untuk sistem harga karcis sprti demikian itu sdh diputuskan oleh yg berwenang , dgn pertimbangan2 lain.... tks....

Enak banget ngomongnya XD
dengan bicara seperti itu berarti anda seolah-olah mencoba mengurangi penumpang KA dengan menyuruhnya pindah ke moda lain!
sekarang liat aja kemungkinan terburuk, misalkan ada orang mau berpergian jarak dekat, contohlah DP-UI. dan sedang terburu waktu.
biasanya orang tersebut menggunakan KRL Ekonomi, dengan tarif Rp.1.000,- sementara yang akan masuk stasiun terlebih dahulu adalah ekonomi AC, namun tidak ada KRL ekonomi yang jaraknya dekat dari ekonomi AC setelahnya, dan jika menunggu akan lebih lama waktu yang terbuang.
mau pindah ke moda lain, selain tarif bisa lebih mahal juga ada resiko macet dan lambat.
akhirnya mau tidak mau orang itu harus membeli tiket Ekonomi AC dengan tarif Rp.5.500,- , kalo tetap ingin naik kereta, meskipun jaraknya dekat...
jadilah ia mengeluarkan tarif yang hampir 5x lipat lebih mahal dari biasanya.
bagi sebagian orang, ini namanya pemborosan, walau mungkin memang ga semua orang merasa begitu.
tapi faktanya, tidak semua penumpang ekonomi AC adalah orang kalangan menengah keatas,,,
dan patut anda ketahui juga, walaupun ada, faktanya KRL Ekonomi sering hanya 1 set dan banyak perjalanan dibatalkan...
orang kan pilih kereta api supaya cepat-tepat-aman-nyaman.
masak disuruh pindah ke moda lain?

gak bisa seenaknya tuh, nyuruh orang nunggu lebih lama atau pindah ke moda lain,,,

makanya saya pribadi berharap, moga nanti tarif ekonomi AC ini diatur sesuai jaraknya, tidak seperti sekarang, tarif dipukul sama rata dalam 1 line...

seperti anda ketahui lah.
kondisi KRL kita gmana...

hal yg anda maksud diatas itu merupakan resiko yang didapat dr pengguna jasa...

karena operator armada'a terbatas, maka pengguna jasa patut menerima'a walau pahit...

saya berkata :"atau kalau tidak mau lama menunggu naik saja transportasi lain... bisa kan ??? "
itu merupakan pilihan lain, terserah anda mau menunggu atau tidak ! dalam hal ini saya memberikan alternatif lain mas.....
Para pengguna jasa KRL COMMUTER JABODETABEK yth, kami mengucapkan terima kasih anda telah & masih setia menggunakan jasa KRL.
Kami mohon maaf atas ketidak nyamanan selama ini, kami tetap berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk anda. tks.
Reply
#54
jarak deket depok ui naik motor aja bro. per km cuma rp. 100. daripada nungguin krl tua di stasiun.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#55
(12-11-2009, 05:13 PM)galuh KRL bangetz Wrote:
(27-09-2009, 10:14 AM)Faris GM-MarKA Wrote: Bukan ngerasa rugi TAP, tapi lebih kepada 'pemborosan' kalo naiknya terlalu dekat (misal DP-UI, TNT-PSM)...
Kalo BOO-BJD sih jauh, setara DP-TNT...

kalo merasa "BOROS" silahkan naik krl ekonomi berikut'a kan ada....

atau kalau tidak mau lama menunggu naik saja transportasi lain... bisa kan ???

tapi untuk sistem harga karcis sprti demikian itu sdh diputuskan oleh yg berwenang , dgn pertimbangan2 lain.... tks....

Sembarangan... di Jepang saja tarifnya per zonasi atau per stasiun kok. Cuman KCJ sama Jasa Marga aja yang konyol, tarif dipukul rata antara jarak jauh dan dekat...
[Image: NQma0.jpg]
Reply
#56
(13-11-2009, 09:58 AM)Shin Muhammad Wrote:
(12-11-2009, 05:13 PM)galuh KRL bangetz Wrote:
(27-09-2009, 10:14 AM)Faris GM-MarKA Wrote: Bukan ngerasa rugi TAP, tapi lebih kepada 'pemborosan' kalo naiknya terlalu dekat (misal DP-UI, TNT-PSM)...
Kalo BOO-BJD sih jauh, setara DP-TNT...

kalo merasa "BOROS" silahkan naik krl ekonomi berikut'a kan ada....

atau kalau tidak mau lama menunggu naik saja transportasi lain... bisa kan ???

tapi untuk sistem harga karcis sprti demikian itu sdh diputuskan oleh yg berwenang , dgn pertimbangan2 lain.... tks....

Sembarangan... di Jepang saja tarifnya per zonasi atau per stasiun kok. Cuman KCJ sama Jasa Marga aja yang konyol, tarif dipukul rata antara jarak jauh dan dekat...

ya itu di Jepang....

setiap zona benar demikian, kan dsana juga orang2'a taat & disiplin om...

coba di kita... lg juga sistim tiketing dsini msh kacau....
Para pengguna jasa KRL COMMUTER JABODETABEK yth, kami mengucapkan terima kasih anda telah & masih setia menggunakan jasa KRL.
Kami mohon maaf atas ketidak nyamanan selama ini, kami tetap berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk anda. tks.
Reply
#57
(13-11-2009, 10:07 AM)galuh KRL bangetz Wrote: ya itu di Jepang....

setiap zona benar demikian, kan dsana juga orang2'a taat & disiplin om...

coba di kita... lg juga sistim tiketing dsini msh kacau....

Sekarang begini. Mereka yang naek kereta tanpa membayar itu kan umumnya orang-orang yang cenderung vandal, tidak beretika atau berbudaya kalau naek KA. Sebagian lagi memaksa dengan berbagai alasan, misal ngaku anggota (oknum) TNI, polisi, railfans, dan lainnya.

Saya kira, tidak masalah memberlakukan sistem zonasi di KCJ. Karena, sistem flat hanya menguntungkan pengguna jarak jauh.

Hitung-hitungan saya, ke Depok naik KRL (ekonomi AC rp 5500) malah lebih rugi, ketimbang kalau naik bis (yang meski non AC, rp 4000) dan setelah ditambah ongkos angkot dll dan hitungan waktu, ternyata naik bis lebih baik ketimbang naik kereta.

Dan, kalau mau diterapkan pukul rata, umumnya pengguna itu adalah pengguna jarak menengah (Bojong-Pasar Minggu, Depok - Pasar Minggu, Depok - Cawang/Tebet, Bogor-Depok, dll) yang jumlahnya lebih besar. (Pengguna jarak jauh umumnya lebih senang naik Pakuan Ekspres atau sejenisnya). Dan mereka ini yang akan terkena pukulan pertama akibat sistem jarak ini.
[Image: NQma0.jpg]
Reply
#58
(12-11-2009, 04:28 PM)Gege Wrote:
(12-11-2009, 04:13 PM)wiryawan Wrote: saya nggak setuju KRL eko-non AC dihapusin & diganti Eko AC. Gak semua orang mampu bayar rate tiket eko AC sekarang (5500) atau AC Ekspres. PT. Kereta Api (Persero) & pemerintah masih punya kewajiban melayani semua golongan masyarakat. Kecuali PT. Kereta Api (Persero) sudah full di-privatisasi, dan murni mencari laba semata.

Tolong dibaca halaman-halaman awal dengan teliti Mas....
Ngeledek

Kita tidak setujupun, Operator KA tetep akan menghapuskan KRL Ekonomi.
AFAIK, dengan pertimbangan-pertimbangan :
  1. KRL Ekonomi dengan tarif terjauh (JAKK-BOO) Rp. 1.500 (sedangkan kita pipis ajah bayar Rp.1.000 kalo BAB Rp. 2.000) ndak menutup biaya operasional
  2. Dengan tarif segitu ajah banyak penumpang gelap, banyak yang ngeluh tanpa mau MEMBELI KARCIS dan menjaga aset KRL!!!!!
  3. Dengan dihapusnya KRL Ekonomi, maka tarif KRL AC Ekonomi akan disesuaikan dibawah harga yang ada sekarang
  4. PT. KCJ pun masih melayani penumpang dengan sepenuh hati, walaupun yang dilayani masih pingin mintak lebih tanpa memberikan kewajibannya sebagai penumpang!

So, be optimistic terhadap keputusan-keputusan operator KA, serta tularkan kecintaan kita kepada orang lain terhadap kendaraan masal ini!!!!

Demikian semoga jelas.

PS : Info ini saya dapat dari penjelasan Petinggi PT. KCJ saat kunjungan pengguna & pecinta KRL ke Dipo Depok.

betul mas, saya juga yakin, bahwa operator KA pun sudah megap-megap mikir bagaimana agar KA tetap operasional. saya tidak menyalahkan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) seluruhnya. sebagian porsi kesalahan ada di lemahnya komitmen pemerintah dalam melayani rakyatnya.

tarif 1500-2500 mungkin memang terlalu murah. saya setuju kalau dinaikkan. tetapi jangan terlalu besar, karena konsumen pengguna KA juga orang2 biasa, para pedagang kecil yang kalau pagi biasanya menggunakan sarana ini sebagai alat transportasi termurah, atau gerombolan karyawan/buruh yang suka bikin konser fals bin gaduh gak diundang di gerbong Bingung. Sebenarnya saya ingin pemerintah menunjukkan komitmennya terhadap misi pelayanan publik, sehingga KA tetap bisa menjadi milik masyarakat luas.

sebelumnya saya minta maaf atas ketidak-tahuan saya. tetapi yang disebut dana PSO itu sebenarnya bagaimana maksudnya ya? kalau sepengetahuan saya, PSO adalah sejumlah dana yang diberikan pemerintah kepada sektor layanan publik seperti PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Saya berharap seandainya pemerintah bisa lebih perhatian terhadap moda transportasi ini..maaf nih jadi nyerempet politik..

saya juga mengapresiasi upaya yang dilakukan PT. Kereta Api Indonesia (Persero)/KCJ selama ini dalam mengatasi penumpang gelap. mulai dari memagari stasiun, razia tiket, dll. sepertinya jumlah penumpang gelap bisa dikurangi drastis dengan metode ini. Tapi kalau menaikkan harga tiket terlalu tinggi, saya pikir malah kontra produktif dengan upaya menumbuhkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap KA.

terima kasih mas, saya baru tahu kalau KA ekonomi non-AC dihapuskan, tarif ekonomi AC akan disesuaikan. semoga harga tiket barunya lebih manusiawi buat konsumen.

terima kasih.
Reply
#59
btw berani bertaruh, KRL ekonomi 80% penumpangnya pada ga bayar..
yah gimana bisa punya duit buat ngerawat klo pada ga mau bayar,... huh..
Antara Cinta dan Obsesi...
[Image: 13758.gif]



Reply
#60
(16-11-2009, 02:44 PM)rifqipahlevie Wrote: btw berani bertaruh, KRL ekonomi 80% penumpangnya pada ga bayar..
yah gimana bisa punya duit buat ngerawat klo pada ga mau bayar,... huh..

80% ???
wah, bukan angka kecil itu...
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)