Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
ka bengkulu
#71
mudah2an bisa diatasi dengan perencanaan yg baik, jd dr segi keamanan dan kenyaman perjalanan dapat berjalan dgn baik.
TRAVEL WARNING TRAIN DANGEROUSLY exotic VEHICLE

[Image: 2euifjl.jpg]
Reply
#72
Wah masinisnya Bisa stress tuh,kelamaan di terowongan gelap macam terowongan sasaksaat
BOBOTOH PERSIB
Reply
#73
berita dari antara, seminggu yang lalu:

Quote:Dua Pelabuhan di Bengkulu Jadi Pusat Ekspor-impor

Sabtu, 22 Agustus 2009 23:29 WIB

Bengkulu (ANTARA News) - Dua pelabuhan samudra di Provinsi Bengkulu berpotensi menjadi pusat kegiatan ekspor-impor karena lokasinya sangat strategis.
"Kita memiliki dua pelabuhan samudra, yakni Pulau Baai dan Linau, keduanya berpotensi menjadi pusat kegiatan ekspor-impor karena letaknya mudah dijangkau dari berbagai daerah di Sumatra," kata Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamuddin di Bengkulu, Sabtu.

Pulau Baai terletak di Kota Bengkulu, kini sedang dalam penataan oleh PT Pathaway International satu paket dengan pembangunan rel kereta api dari Kota Padang ke pelabuhan itu sepanjang 130 Km.
Perusahaan penanaman modal asing itu mengivestasikan senilai Rp21 triliun untuk penataan pelabuhan Pulau Baai dan pembangunan rel kereta api tersebut.
Dari total investasi itu, senilai Rp5 triliun untuk pengembangan dan penambahan fasilitas pelabuhan, termasuk perbaikan tanggul pemecah gelombang dan Rp16 triliun sisanya untuk pembangunan rel KA.

Sedangkan penataan Linau dan pembangunan rel kereta api dari Tanjung Enim Provinsi Sumatra Selatan ke pelabuhan yang terletak di Kabupaten Kaur Bengkulu itu dilakukan oleh PT Internasional Rajawali Nusantara (IRN).

"Kegiatan penataan dua pelabuhan dan pembangunan rel itu kini sedang berjalan," katanya.

PT Pathaway International kini sedang melakukan pengerukan alur pelabuhan yang merupakan bagian dari penataan Pulau Baai.
Sementara PT IRN saat ini sedang melaksanakan proses Detail Engering Design (DED) berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, karena pembangunan rel tersebut lintas provinsi.
Ia optimistis dengan pembangunan rel dan pelabuhan itu akan bisa mendorong percepatan pembangunan Bengkulu, sekaligus membuka keterisolasian daerah itu.(*)

COPYRIGHT © 2009

berarti ada 2 jalur yang mau dibangun ya? pertama dari kotapadang (sumsel) ke bengkulu. jalur kedua dari tanjung enim ke linau. linau berjarak kira2 170 km selatan bengkulu, dekat dengan perbatasan prov. lampung.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#74
bagus lah lambat laun jalur KA di Sumatra bisa terintergarsi...

Reply
#75
dapet dari mbah gogel

Sudah Terkonsep
Pihak Dephub dalam cetak birunya (blue print) sudah mengkonsep rencana pembangunan jalur KA Trans Sumatera Railway yang membentang dari Banda Aceh – Medan – Dumai Pekanbaru- Muaro – Muara Bungo – Jambi – Palembang – Tanjungkarang dan Bakauheni, selanjutnya interkoneksi lewat kapal feri atau JSS (Jembatan Selat Sunda) terus ke Pulau Jawa. Selain itu, ada konsep pembangunan jalur koridor lintas cabang dari jalur utama, seperti lintas Kota Pinang – Padang Sidempuan – Sibolga (Sumut), lintas Pekanbaru – Rengat – Kuala Enok (Riau), lintas Tebingtinggi-Bengkulu – Padang, lintas Lubuklinggau – Jambi, lintas Kertapati - Indralaya – Kayu Agung – Mesuji (Sumsel), lintas Terbanggi Besar – Menggala – Unit II – Mesuji, lintas Rejosari – Metro – Sukadana – Labuhan Maringgai dan lintas Tegineneng – Pringsewu – Kota Agung (Lampung). Bahkan sebuah perusahaan swasta nasional, PT Pathaway International, berencana membangun jalur KA listrik angkutan batubara menghubungkan Tanjungenim – Bengkulu sepanjang 300 Km dan perusahaan Trans Pacific Railway Infrastructure bekerjasama dengan PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) dan China Railway Enginering Group berencana membangun jalur baru double track antara Tanjung Enim – Baturaja – Srengsem (Bandar Lampung) sepanjang 345 Km untuk angkutan khusus batubara. Kapasitas angkutan batubara mencapai 20 juta ton per tahun. Dibanding angkutan KA Babaranjang (batubara rangkaian panjang) sekarang hanya mampu mengangkut 7 juta ton batubara per tahun. Apalagi banyak wilayah di Pulau Sumatera yang memiliki potensi hasil tambang, komoditas pertanian, perkebunan, kehutanan, agro industri, belum terlayani moda transportasi sarana angkutan KA. Masih menggunakan angkutan truk bertonase besar yang tentu saja sangat merusak jalan raya dan biaya pemeliharaan jalan menjadi sangat besar karena sering rusak, dan ongkos angkut lebih mahal, selain sering terjadi kemacetan dan kecelakaan. Dengan melalui transportasi KA, maka biaya lebih murah, volume angkutan lebih banyak, lebih aman, lebih cepat dan mengurangi kepadatan lalu lintas jalan raya khususnya truk. Jadi, sudah sewajarnya pemerintah pusat stop dulu berfikir pola Jawa sentris, atau membangun sarana dan prasarana transportasi hanya di Pulau Jawa. Sudah waktunya Sumatera menggeliat sekarang dan potensi wilayah ini yang masih tidur akan bangkit dan memiliki prospek pertumbuhan ekonomi luar biasa seperti di China dan India, jika segala sarana transportasinya memadai dan pemerintahnya fokus perhatiannya pada bidang ini. *** (penulis: jurnalis tinggal di Lampung)

diposkan oleh H. Fajrun Najah Ahmad pada 23:02
Cikeusal stasion

Sedih
Reply
#76
Ini realisasinya kapan ya?
Jangan cuma wacana doang, kaya program menghidupkan jalur mati Banjar-Cijulang dan pembangunan kereta cepat Surabaya - Banyuwangi.

[Image: 5147433576_a332603046.jpg]
Pengin naik kereta ke Pangandaran lagi
Jalur hidup bisa mati, tapi jalur yang mati lebih baik dihidupkan lagi
Reply
#77
Saya tidak bisa bilang setuju atau tidak soal jalur KA ini. Bolehlah fanatik pada apapun, termasuk kereta api. Tapi marilah melakukannya dengan benar, logis dan positif.

Begitu juga soal lingkungan hidup. Sekecil apapun peradaban manusia yang menyentuh hutan atau cagar alam, itu sudah mempengaruhi ekosistem kawasan itu. Sadarkah bahwa ekosistem kita sebagai manusia pun sering merasa terusik dengan kehadiran mahkluk lain? Contoh kecil, kita tak pernah membiarkan semut, nyamuk, kecoak, kucing garong hingga alien masuk ke rumah, karena kita (tanpa sadar) mengklaim habitat andalah adalah yang pertama disitu.

Tanpa ada tendensi terhadap LSM, pemerintah, railfans dan siapapun.. saya mengambil sikap netral. Ini juga karena saya punya embel² dianggap sebagai railfan, dianggap (mantan) aktifis lingkungan, dan memang pernah dekat dengan WALHI.

Saya agak alergi dengan menyebut diri "railfan", kecuali rekan² yang menyebutnya begitu, silahkan saja. Dulupun ga mau dianggap pecinta alam (seperti di avatar) atau pecinta lingkungan. Saya cuman suka kluyuran di jalur mati, nongkrong di stasiun, serta naik gunung dan hutan.

[Image: 4860986383_7d35fd903e_b.jpg]
Reply
#78
kalo saya beda bro penjelajah. saya lebih melihat dari sisi manfaatnya lebih banyak ketimbang keburukannya. rekan2 walhi mengkuatirkan kalo ada jalan ka akan berpotensi merusak hutan karena ada peluang pembalakan liar, satwa2 terganggu, dll.

saya bisa bantah itu. pembalakan liar dari mana? memangnya orang bisa membabat hutan lewat rel? kalo tidak dibangun stasiun khusus untuk logging camp mana bisa? justru yang bahaya itu kalo jalan raya yang dibangun. karena jalan raya bisa diakses oleh siapapun termasuk pembabat hutan.

satwa2 dan ekosistem terganggu. oleh apa? suara lokomotif? tidak bisa migrasi? kan bisa dibuat terowongan pada jalur migrasi hewan seperti jalan rel china-tibet.

apalagi nanti bakalan dibuat tunel sepanjang 4 km karena kompromi dengan kawasan hutan lindung. jadi rel ka nya mengalah. ini sudah merupakan kompromi yang baik menurut saya. proyek ka bengkulu bisa jalan, sementara walhi tak perlu khawatir kawasan hutan lindungnya terjamah rel ka.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#79
Saya setuju sama sampean kang ady. Ini pun walau mengganggu ekosistem juga gak seberapa besar efeknya. Bukannya saya menganggap remeh suatu hal kecil nggak. tapi ini juga dipikirkan bagaimana menjalin kelangsungan interaksi sosial manusia dengan manusia dan juga alam serta makhluk lainnya agar tidak timbul kontra antara manusia dan ekosistem hutan.
Reply
#80
Kalau dibaca lebih teliti lagi, saya tak pernah bilang tidak setuju. Mungkin WALHI belum menyadari bahwa kereta api itu lebih ramah lingkungan, maka bisa dibilang memang lebih bodoh soal kereta api dibanding kita. Jadi kita sendiripun tak perlu sok paham banget soal lingkungan hidup. Solusinya bukannya berdebat, tapi saling memberi masukan. Makanya disinilah pentingnya sosialisasi dan pemahaman antara pemerintah, LSM, dan masyarakat (yang didalamnya termasuk railfans) sebagaimana yang dikemukakan bung katyusha.

Yang jelas hal ini memang akhirnya tidak terhindarkan. Rakyat harus didahulukan kepentingan transportasinya. Efek dan pengaruh dari proyek KA Bengkulu ini tidak mungkin nol, tapi harus diminimalisir sebisa mungkin. Akhirnya manusia sendirilah yang tetap menjadi aktor utamanya, dimana disini intinya adalah pemerintah dahulu. Harus bisa mengantisipasi AMDAL (Analisis Masalah dan Dampak Lingkungan) dengan baik. Jika tidak, jangankan hewan, manusianya sendiri juga tidak terima, seperti kasus jalur KA Aceh.

Saya pribadi sih, cuman geleng² kepala kalau ada rel KA harus memutar ber ratus² kilometer demi sebuah cagar alam.....

[Image: 4860986383_7d35fd903e_b.jpg]
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)