Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
harga yang dibayarkan berbanding dengan kualitas yang didapat
#1
Thread pertama ni, kalo ada salah-salah tolong jangan dimarahin, kalo salah kamar bolehlah dipindahin n kalo udah pernah ikhlaslah aku kalo dihapus...cuma pengen mengeluarkan unek-unek selama pake jasa transportasi yang bernama kereta api.

Memang ga bisa dipungkiri lagi, operator penyedia jasa angkutan kereta api di Indonesia sampai detik ini masih dimonopoli oleh satu perusahaan. Sayangnya, sistem monopoli yang diterapkan di negri ini, masih cenderung lebih banyak mengecewakan daripada memuaskan konsumen. Terutama dalam hal kualitas pelayanan yang diberikan, ga bisa menutup mata masih banyak kurang disana-sini. Penerapan sistem monopoli sering kali menimbulkan sikap arogan dari mereka yang diberikan hak istimewa tersebut.

Sebagai satu-satunya penyedia jasa layanan transportasi kereta api, PT.KAI pun terkena demam hak monopoli tersebut. Walaupun sudah ada usaha untuk menjadi lebih baik, masih banyak kekurangan-kekurangan yang akhirnya menutupi kebaikan yang ada. Pelayanan yang seharusnya menjadi ujung tombak dari sebuah perusahaan penyedia jasa, seakan masih dikesampingkan. Motivasi mencari keuntungan yang setinggi-tingginya sampai saat ini masih belum seimbang dengan motivasi memberi layanan sebaik-baiknya.

Dimulai dari ketika calon konsumen akan membeli tiket, banyak sekali kekecewaan yang muncul. Pertama, petugas ticketing yang kurang ramah dan terkesan malas-malasan (contoh: penulis pernah membeli tiket di pusat layanan reservasi tiket, dengan kondisi saat itu banyak yang antri, petugas terkesan cuek dengan kondisi tersebut. Dari 6 loket yang tersedia, hanya 2 loket yang difungsikan, dan itupun dengan petugas yang bekerja dengan sangat lambat.) Kedua, konsumen seakan tidak punya hak untuk memilih tempat duduk yang diinginkan, kenapa fasilitas itu tidak diadakan, bis patas ekonomi saja memberi kebebasan untuk calon penumpangnya untuk memilih nomor kursi, kenapa KA tidak? (contoh: penulis pernah merasa tidak nyaman karena harus duduk berhadap-hadapan dengan penumpang lain di kelas bisnis, terlepas dari masalah egoisme, saya lebih senang menyebutnya dengan privasi. Padahal saat itu penulis berangkat sendiri, dan penumpang di kursi depan juga bukanlah penumpang grup yang nyaman duduk hadap2an terpaksa harus duduk di kursi yang berhadap-hadapan, dan itu sangat tidak nyaman, apabila penumpang diberi keleluasaan untuk memilih nomor kursinya sendiri, situasi seperti ini tidak akan terjadi.)

Perjalanan kereta-pun dimulai, lagi-lagi ketidaknyamanan muncul. Ketidakpedulian petugas terhadap apa yang namanya kenyamanan penumpang, menjadikan banyak sekali pedagang, pengamen, pengemis dan lainnya untuk turut sepanjang perjalanan dan berperan penuh untuk mengurangi kenyamanan penumpang. Memang setiap orang berhak mencari rejeki, tapi bukan berarti harus mengorbankan yang lain kan?

Alasan konsumen untuk memilih moda transportasi kereta-api apalagi kalo bukan waktu tempuh yang lebih cepat dari angkutan darat lainnya. Tapi apa yang terjadi di lapangan? Keterlambatan seolah menjadi hal yang biasa, dan sebagai penyedia jasa layanan transportasi, keterlambatan seharusnya menjadi musuh besar, sedangkan bagi PT.KAI, keterlambatan seolah menjadi "prestasi" yang wajib dipertahankan. Sebenarnya, masih banyak keluhan-keluhan yang bisa dibicarakan, tapi saya rasa saya tidak perlu mebahas satu persatu dengan detail.

Dengan masih rendahnya kualitas pelayanan yang diberikan tersebut, sebandingkah harga yang kita bayarkan dengan pelayanan yang kita dapatkan?

Kalau berkenan, mohon pendapat dari kawan2 yang lain dari pertanyaan saya yang terakhir tersebut. Sekian dan terimaksih
Reply
#2
Saya rasa tidak.

Faktor pemain tunggal membuat PT KA seperti berada di zona nyaman terus menerus, sehingga akhirnya mereka bisa melecehkan pengguna jasa KA seenak mereka.

Sampai ada seorang anggota semboyan35.com mempunyai paradigma seperti ini.

Penghapusan makanan tuslah itu karena ternyata pihak penyedia jasa makanan menagih tinggi sekali ke PT KA, kontras dengan kuantitas dan kualitas makanannya.
Reply
#3
kalau ditanyakan sekarang ke pihak PT KA, mungkinkah jawabannya akan seperti yang sudah2? yaitu:
[spoiler]
kurangnya perawatan dan pelayanan KA adalah sebagai akibat kerugian yang ditimbulkan dari pengoperasian K3 (dimana harga tiket K3 (bersubsidi) tidak bisa menutup biaya operasional kereta tersebut)
[/spoiler]
KA Sumber Kentjono
Reply
#4
kalo dipikir-pikir...sebenernya kerugian yang dialami sama PT.KAI ga jauh akibat ulahnya sendiri.....
1. mana ada orang yang mau naik moda transportasi yang telatan
2. ketidaktegasan mereka untuk menindak oknum dalam yang jadi penggembala kambing udah ngurangi pemasukan KA
3. dengan alasan merugi lalu mengurangi pelayanan...ya sama saja mereka menggali kuburan sendiri, toh di dalam bisnis jasa yang dijual itu pelayanan..jangankan penumpang K3..penumpang K1 aja sering kali pelayananya kurang (dimulai dari tiketing sampai perjalanan)
4. arogansi orang-orang didalam tubuh perusahaan ini,karena monopoli,mereka jadi merasa dibutuhkan,akibatnya mereka merasa berhak semau mereka sendiri (termasuk mempermainkan harga seenak udel mereka sendiri)

keluar dari yang atas....cuma membandingkan antara kereta api dengan bis jakarta - jogja
bis Ramayana :
harga : antara 120(ekse)- 160(vip)
Fasilitas : AC, kursi empuk makanan ringan/makan berat
Waktu tempuh : kurang lebih 12 jam (dan selalu tepat waktu)

KA Fajar/Senja utama :
harga : 120 - 150 (bisnis)
Fasilitas : AC (angin cendela), kursi empuk, makanan ringan (langsung dari penjual), musik (langsung pengamen), memupuk sifat dermawan (banyak pengemis dan penodong kadang2 pencuri), makan berat (dengan harga yang ga wajar) dan suara-suara khas para pemberi fasilitas itu yang mengganggu tidur
Waktu tempuh :8 jam (biasanya ada bonus tambahan 1-2 jam)

Ga ada yang salah dengan kereta api............................yang salah hanya operatornya...................karena kereta api cuma sekedar alat

pilih yang mana? kalo saya sih orangnya realistis...... Tersenyuum
Reply
#5
Pelayanan: satu kata yang implikasi dan lingkupannya besar sekali....
Reply
#6
(14-07-2010, 12:16 PM)bagus70 Wrote: Saya rasa tidak.

Faktor pemain tunggal membuat PT KA seperti berada di zona nyaman terus menerus, sehingga akhirnya mereka bisa melecehkan pengguna jasa KA seenak mereka.

Sampai ada seorang anggota semboyan35.com mempunyai paradigma seperti ini.

Penghapusan makanan tuslah itu karena ternyata pihak penyedia jasa makanan menagih tinggi sekali ke PT KA, kontras dengan kuantitas dan kualitas makanannya.

Bukannya Reska itu anak perusahaannya PT KA ya bos? Kok bisa seenaknya nagih begitu?
Tapi logikanya dimana2 itu kalo ada servis yang dikurangi, harusnya harganya diturunkan. Lha ini makanan dihapus kok harga tiketnya malah naik?? Bingung Bethe
NAIK Depok Express EMANG PALING OKE
Reply
#7
jiwa monopolist yang tidak kreatif dan tidak peka terhadap keinginan konsumen sepertinya selalu mendominasi organisasi PT KA (Persero).
kapan ini semua akan berakhir??!!
KA Sumber Kentjono
Reply
#8
Kalo saja pelayanan jasa kereta api bagus dan mengikuti masukan pendapat pengguna jasa tersebut. Kayaknya Parahiangan, Prieks, Maleks dan yang lainnya tidak akan ditinggalkan penggunanya sehingga tidak sampe di hapus.
[Image: 5147433576_a332603046.jpg]
Pengin naik kereta ke Pangandaran lagi
Jalur hidup bisa mati, tapi jalur yang mati lebih baik dihidupkan lagi
Reply
#9
ya jadi...

mungkin wajar akhir-2 ini banyak kejadian tak terduga..seperti kecelakaan KA, terjadinya KA Anjlok secara beruntun..

Mungkin ini salah satu KUTUKAN dari sekian kekecewaan konsumen terhadap pelayanan yang diberikan..
bukannya mengkambing hitamkan pelayanan, tapi seharusnya wajar. karna kita pembeli jasa. dan kita BAYAR KOK!!!!

kalau satu orang kecewa pada saat mendapatkan pelayanan yang tidak maksimal, saya rasa wajar komat-komit mengeluhkan apa yang dia rasa, dan tidak menutup kemungkinan keluarlah do'a yang "MENGANCAM" karna dia merasa teraniaya.. itu baru satu orang dikali satu kereta dikali lagi seluruh kereta, bagaimana kalow rutinitas ini setiap hari....

ya tidak bisa disalahkan keluarlah "KUTUKAN"...

maaf kalau berlebihan....
Reply
#10
tapi bagaimanapun kereta api mempunyai peran yang sangat besar dalam sejarah bangsa ini, jadi bagaimanapun keadaannya saya tidak kuasa untuk menilai jelek kereta api indonesia.....Xie Xie (maaf kalo kurang sopan karena saya termasuk keluarga karyawan kereta api)
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)