Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kumpulan Cerpen Kereta Api
#71
Ada yang pernah baca cerita seri Goosebumps yang edisi spesial ...? Dimana ada banyak pilihan jalan cerita, dan kita harus bolak - balik halaman depan - belakang untuk membaca jalan cerita yang kita pilih.

Mau buat cerpen seperti itu, tapi di Forum ini sepertinya sulit, mengingat ini halaman web, bukan buku ... Sakit
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
#72
Ada yang suka cerita Thriller Horor ndak ...? Saya mau mencoba buat cerpen Thriller + KA jadi satu, semoga saya bisa, mengingat saya bukan ahli bidang bahasa dan sastra.
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
#73
Nyambung lagi ya ceritanya...

Tour de Java – chapter 6

Jam 11 lebih 15 menit, KA Taksaka Pagi tujuan Jakarta tiba di Stasiun Kutoarjo. Di stasiun itu kereta berhenti normal sekitar 5 menit untuk mengangkut penumpang. Tapi, kali itu, kereta berhenti lebih lama.

”Mungkin mau bersilangan,” pikir Bobby.

Tapi, 10 menit berlalu, tak satupun kereta datang dari arah Kroya. Beberapa penumpang mulai terlihat gelisah.

”Pak, maaf nih. Mungkin saya bakal telat tiba di Jakarta,” kata seorang eksekutif muda lewat smartphone-nya. ”Masih di Kutoarjo, berhenti lama, ga kayak biasanya. Mungkin mogok keretanya.”

”Mogok? Ah, ga mungkin!” pikir Bobby. ”Kalo emang mogok, harusnya udah banyak kereta nyusul atau silangan.”

”Mbak, koq berhentinya lama banget?” tanya seorang penumpang lain.
”Maaf Pak, saya juga kurang tahu. Belum ada info dari masinis,” jawab prami yang ditanya.

Tidak lama kemudian, terdengar suara seorang pria.

Mohon perhatiannya. Kami informasikan bahwa kereta api Taksaka tujuan Jakarta masih harus menunggu sekitar 15 menit akibat kereta api Lodaya tujuan Bandung menabrak seekor kambing yang menyeberangi rel secara tiba-tiba. Setelah proses evakuasi selesai, kereta akan kembali diberangkatkan. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terima kasih atas perhatiannya, selamat siang!


”Oh, ternyata gara-gara si kambing toh!” kata Soni yang duduk di depan Bobby.
”Ya, namanya kambing, seruduk sana seruduk sini. Main nyelonong aja, sampe-sampe ga liat ada kereta bakal nyeruduk dia,” jawab Bobby.

Mendengar hal itu, sekelompok turis di dekat Bobby bertanya...

"Sorry, what happened?" tanya seorang dari mereka.
"Another train hit a goat, which was crossing the railway," jawab Bobby.
"By the way, can I know where do you come from?" tanya Soni.
"Oh, we are from Germany. My name is Muller," jawab pria yang sama.
"Nice to meet you, Sir," balas Soni.

Mereka masih terus mengobrol, terutama soal kereta di Jerman seperti InterCity Express (ICE), TGV atau Shinkansen versi Jerman, karena kebetulan Herr Muller juga seorang RF. Tak terasa 15 menit setelah pengumuman dari masinis berlalu, kereta kembali diberangkatkan. Sekitar tengah perjalanan menuju Kroya, masinis mengurangi kecepatan. Bobby sudah siap di bordes dengan kameranya. Tebakannya benar, disitulah tempat si kambing menghembuskan nafas terakhirnya. Terlihat cukup banyak warga berkumpul disitu, ada yang mengerubungi mayat kambing, ada juga yang asyik melihat rangkaian gado-gado Taksaka yang sedang melintas, seperti beberapa bocah yang sedang asyik memperhatikan kereta yang lewat. Bobby tidak lupa untuk mengabadikan moment-moment langka tersebut. Setelah beberapa meter dari TKP, masinis kembali mempercepat laju kereta.

Jam 12:30, KA Taksaka Pagi tiba di Stasiun Kroya. Di sebelah kirinya telah menunggu KA Argo Wilis dari Bandung yang sudah tiba sekitar 10 menit sebelumnya. Tidak lama setelahnya, Argo Wilis diberangkatkan terlebih dahulu, baru kemudian Taksaka berangkat menuju percabangan ke arah Bandung dan Jakarta. Kali ini, Bobby pindah ke sisi kiri kereta. Ketika kereta mengambil cabang ke kanan, ke arah Cirebon, Bobby memotret cabang yang mengarah ke Bandung. Terlihat di antara kedua cabang rel beberapa railfans siap dengan kameranya masing-masing memotret KA Taksaka yang, saat itu, terlambat 30 menit akibat kecelakaan yang menimpa seekor kambing.

Sambil menunggu saat kereta Taksaka yang ditumpangi mereka dari Yogyakarta berpapasan dengan KA Taksaka dari Jakarta, kelima railfans tersebut menikmati santap siang sambil mengobrol tentang banyak hal. Sehabis santap siang, kereta hampir tiba di Stasiun Purwokerto. Disana kereta berhenti cukup lama, hampir 10 menit, untuk menaikkan atau menurunkan penumpang, berhubung Purwokerto adalah salah satu stasiun besar yang dilewati KA Taksaka. Disana, Bobby dan Ari menyempatkan diri turun ke peron sebentar untuk memotret lok CC 204 01 yang dinas hari itu.

Setelah diberi sinyal aman, kereta kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini, keduanya sengaja stand by di bordes karena ingin memotret moment ketika kedua kereta Taksaka saling bersilangan di Linggapura, begitu juga saat bersilangan dengan KA Argo Dwipangga tujuan Solo di Prupuk.

- TBC -
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#74
Singkat kata, pukul 15:07, KA Taksaka Pagi tiba di Stasiun Cirebon Kejaksan, masuk jalur 3. Di jalur 1 telah tersedia KA Cirebon Ekspres, dan di jalur 2 ada KA Argo Bromo Anggrek, dengan tujuan yang sama, Jakarta (Gambir). Sambil menunggu keberangkatan jam 15:12, 3 menit setelah keberangkatan ABA, Bobby, Ari dan Herr Muller turun untuk memotret kesibukan di stasiun saat itu.

"Sorry, is this Argo Anggrek from Surabaya?" tanya Herr Muller menunjuk ke arah rangkaian K1 hijau di jalur 2.
"Yes, it is," jawab Bobby.

Anehnya, sampai jam 15:15, belum ada 1 kereta pun diberangkatkan. Padahal, Argo Anggrek dijadwalkan berangkat jam 15:09, diikuti Taksaka jam 15:12, lalu Cirebon Ekspres jam 15:15. Saat itu, seorang petugas PPKA mendatangi masinis CC 201 77 23 SDT, yang saat itu dinas Argo Anggrek.

"Pak, kenapa ABA belum jalan juga?" tanya Soni.
"Ehm, katanya bakal ada rombongan KLB Presiden lewat," jawab petugas tersebut.

Tak lama kemudian, muncul sebuah kereta yang cukup aneh.

"Hey, what train is it?" tanya Herr Muller.
"Rail One, Sir," jawab petugas PPKA. "Vorrijder for the Presidential Train."
"Can we take pictures of it?" tanya Herr Muller lagi.
"Yes, but you have to keep a distance from the train," jawab petugas tersebut dengan bahasa Inggris yang lancar. "None allowed to get near Presidential Train, you know why."

Maka keempatnya berjalan menjauhi jalur yang akan dilalui KLB RI 1. Terlihat banyak pasukan khusus (paskhas) dan anggota PKD berdiri di samping KA Taksaka. Tak lama setelah KAIS Rail One lewat, datang rangkaian KLB RI 1 ditarik lok CC 204 23. Menjelang masuk stasiun, masinis membunyikan S35 cukup panjang disertai sorot lampu. Ketiga fotografer yang telah diizinkan PPKA mengabadikan moment cukup langka itu tak melewatkan kesempatan sekecil apa pun. Selang 1 menit setelah KLB RI 1 lewat, menyusul KAIS Wijayakusuma dari belakang. Moment ini pun tidak lupa diabadikan Bobby, Ari, dan Herr Muller.

Setelah itu, aktivitas di stasiun kembali berjalan seperti biasa. Pukul 15:20, masinis CC 201 77 23 membunyikan S35 tanda KA ABA siap diberangkatkan. Bobby masih menyempatkan diri memotret detik-detik keberangkatan KA ABA. Setelah itu, dia berlari menuju gerbong 6. Pukul 15:22, giliran KA Taksaka yang ditumpanginya berjalan meninggalkan Stasiun Kejaksan beserta rangkaian KA Cireks yang masih menunggu sinyal aman pemberangkatan...
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#75
Ketiganya kembali ke tempat duduk mereka di gerbong 6. Disana Herr Muller mengajak bermain kartu bridge berpasangan: ia dan istrinya, sedang Bobby berpasangan dengan Ari. Setelah Herr Muller menjelaskan sedikit mengenai permainan tersebut, mereka memulai permainan. Cukup susah, memang. Tetapi akhirnya Bobby dan Ari terbiasa dengan variasi permainan yang bagi mereka baru. Setelah usai, giliran Bobby dan Ari menunjukkan permainan kartu yang baru buat Herr Muller dan istrinya.

Tak terasa kereta sudah hampir tiba di Stasiun Cikampek ketika permainan kartu selesai. Herr Muller mengajak Bobby dan Ari untuk ke bordes memotret moment saat kereta memasuki Stasiun Cikampek. Saat itu sudah jam 5 sore.

"Wanna take pictures when we arrive at Cikampek?" tanya Herr Muller.
"Oh, why not?" jawab Ari.

Anehnya, ketika tiba di Stasiun Cikampek, kereta berhenti cukup lama. Malahan, KA Cirebon Ekspres yang tadi masih stabling di Cirebon saat Taksaka berangkat, menyusul Taksaka di Cikampek 5 menit setelah Taksaka berhenti.

"Bob, kenapa keretanya berhenti?" tanya Abby di bordes.
"Ga tau tuh. Cireks aja nyusul," jawab Bobby.

Tak lama, terdengar kembali suara masinis lewat speaker gerbong.

Selamat sore, para penumpang yang saya hormati. Mohon maaf apabila KA Taksaka harus berhenti cukup lama. Lokomotif mendadak mogok sehingga harus menunggu lokomotif bantuan dari Jakarta. Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terwujud, terima kasih atas perhatian Anda.

Tapi, keberuntungan seakan memihak kepada para crew dan penumpang KA Taksaka. Setelah masinis mengakhiri pengumuman, dari arah Bandung masuk KA Argo Parahyangan ditarik CC 201 100 BD DT CC 201 99 BD. PPKA Cikampek berinisiatif meminjam salah satu lok Argo Parahyangan untuk menggantikan CC 204 03 01 YK yang tiba-tiba mogok diluar dugaan. Dan akhirnya CC 201 100 bertukar posisi membawa rangkaian KA Taksaka, dan CC 204 03 01 digandengkan di belakang CC 201 99 yang akan membawa Argo Parahyangan.

"Wah, ternyata ketemu si Cepe lagi!" seru Bobby, yang tidak lupa mengabadikan moment pertukaran lokomotif.

Berkat inisiatif petugas tersebut, penumpang KA Taksaka tidak perlu menunggu kedatangan lok bantuan dari Jakarta, yang kira-kira memakan waktu 1 jam. Tidak lama setelah pemasangan CC 201 100, KA Taksaka kembali diberangkatkan, disusul KA Argo Parahyangan.

Singkat kata, jam 17:30, KA melewati Stasiun Karawang, dimana berpapasan dengan KA Bima tujuan Surabaya Gubeng. Sepuluh menit kemudian, KA Taksaka kembali menyusul KA Cireks di Stasiun Bekasi.
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#76
Perjalanan terus lancar sampai menjelang masuk Stasiun Jatinegara. Entah karena alasan apa, semua perjalanan KA ke arah barat terhenti di Jatinegara. Taksaka masuk di jalur 3, di samping KA ABA yang sudah menunggu di jalur 2 sejak 15 menit sebelumnya. Lagi-lagi, perjalanan KA Taksaka kembali terhambat...

"Ada apa lagi, Mbak?" tanya si eksekutif muda yang dari tadi gelisah setiap kali kereta berhenti lama.
"Maaf Mas, saya kurang tahu. Yang pasti keretanya tidak mogok," jawab prami yang ditanya.
"Mo coba ke depan ga, lihat apa yang terjadi?" tanya Bobby kepada teman-temannya.
"Boleh aja," jawab Ari.
"Gue disini aja ya," jawab Abby.
"Mo ikut ga?" tanya Soni kepada pacarnya, Novi.
"Ga usah, gue bareng Abby aja disini," jawabnya.

Maka ketiga pemuda tersebut berjalan ke arah lokomotif. Disana mereka bertemu sekelompok railfans yang biasanya berkumpul di stasiun.

"Permisi Mas," kata Bobby. "Boleh tahu ada apa nih, kereta berhenti lama?"
"Katanya ada kereta anjlok, tapi kurang pasti apa itu," jawab seorang dari mereka.
"Mungkinkah Sindoro ke Semarang?" tanya Soni.
"Bisa saja," jawab orang tersebut.
"Kalo boleh, kenalan donk. Saya Ari, RF dari Surabaya," lanjut Ari.
"Oh, saya Ronny, dari sini," jawab orang tersebut. "Kalian semua dari Surabaya? Koq naik Taksaka, bukan ABA?"
"Enggak, kita baru abis keliling naik kereta. Tadi pagi abis dari Jogja," jawab Bobby. "Oh ya, kenalin, gue Bobby dari Bandung."
"Soni, RF Tangerang," lanjut Soni.
"Oh, jadi kalian dari berbeda kota?" tanya Ronny kaget.
"Iya, kenalan di S35 , trus pertama ketemu di ABA," jawab Ari.
"Oh, ternyata kenalan di forum toh. BTW, gue juga dari S35 ," balas Ronny.

Mereka masih mengobrol selama 10 menit sampai akhirnya diketahui penyebab kemacetan lalu lintas kereta menuju Gambir.

Perhatian, perhatian! Kami sampaikan bahwa seluruh perjalanan KA akan dialihkan melewati Stasiun Pasar Senen, dilanjutkan ke Stasiun Kota, disebabkan anjloknya rangkaian kereta api Argo Sindoro tujuan Semarang di Stasiun Manggarai. Kepada calon penumpang kereta api Argo Sindoro, dimohon menunggu untuk diberangkatkan menggunakan rangkaian cadangan. Terima kasih atas perhatian Anda!

"Tuh kan, tebakan gue bener," kata Soni.
"Jadi inget pas ABA anjlok di Manggarai," kata Ronny. "Semua gerbong Anggrek langsung ditarik atas perintah Menhub."
"Tapi, kenapa bisa anjlok ya?" tanya Ari.
"Ya, kita lihat aja nanti penyebabnya," jawab Ronny.

Perhatian, perhatian, dari jalur 2 dan 3 kereta api Argo Anggrek dan Taksaka akan segera diberangkatkan.

"Wah, udah mo jalan," kata Bobby. "Yuk, pergi dulu ya."
"OK, kapan-kapan main ke sini lagi ya!" seru Ronny.

Maka ketiganya kembali ke gerbong 6. Disana Herr Muller menanti kabar penyebab terhentinya perjalanan kereta.

"What's wrong again?" tanya Herr Muller.
"Argo Sindoro was derailed at Manggarai," jawab Bobby.
"So when we will depart again?"
"Maybe in a few minutes. The train will go through Pasar Senen, not through Manggarai."

5 menit kemudian, KA Taksaka kembali diberangkatkan. Bobby berjalan menuju bordes untuk melambaikan tangan ke arah Ronny yang masih berada di peron. Sekitar 10 menit sesudah itu, kereta tiba di Stasiun Pasar Senen. Disana kereta tidak berhenti, melanjutkan perjalanannya ke Stasiun Jakarta Kota. Disana telah siap CC 203 26 JNG untuk menarik KA Taksaka ke Stasiun Gambir, karena setibanya di Stasiun Kota, posisi CC 201 100 ada di bagian ekor rangkaian.

Singkat kata, jam 18:37, tepat 1 jam setelah waktu kedatangan Taksaka sesuai jadwal, kereta tiba di tujuan akhir, Stasiun Gambir. Dalam sekejap, peron yang masih setengah penuh setelah kedatangan ABA, dipenuhi kembali oleh penumpang KA Taksaka. Rombongan sepasang turis Jerman dan 5 orang railfans yang juga penumpang KA Taksaka ikut turun ke pintu utama yang terletak di lantai dasar. Disana, Bobby dan teman-teman berpisah dengan Herr Muller dan istrinya.

"OK, we have to leave now," kata Herr Muller. "See you again! Good bye!"
"Auf wiedersehen!" seru Bobby dalam bahasa Jerman.
"Have a nice holiday!" seru Ari.

Setelah Herr Muller dan istrinya meninggalkan stasiun menggunakan taksi, Soni mengantarkan teman-temannya ke mobilnya untuk kemudian berangkat ke rumahnya.

- TBC -
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#77
Jam 5 pagi, Bobby, Ari dan Soni sudah terbangun. Hari Minggu ini merupakan hari terakhir dari rencana mereka berwisata dengan menggunakan jasa kereta api. Hari ini, mereka akan berpisah di Stasiun Gambir. Ari akan kembali ke Surabaya menggunakan kereta api Argo Bromo Anggrek Pagi keberangkatan pukul 09:30, sedangkan Bobby dan Abby pulang ke Bandung menggunakan kereta api Argo Parahyangan, yang berangkat 15 menit sebelum keberangkatan ABA.

"Wah, pagi banget bangunnya," kata ibu Soni ketika melihat ketiganya keluar dari kamar. "Pada mau pulang ya?"
"Iya, tante. Saya harus pulang pagi ini, jauh soalnya," jawab Ari.
"Oh, kamu yang dari Surabaya ya?"
"Iya."
"Oh, berarti satunya lagi dari Bandung? Bareng pacarnya."
"Iya, tante. Tapi kita juga pulang pagi, biar sore udah bisa main di Bandung," jawab Bobby.

Maka mereka pun pergi ke meja makan untuk sarapan, padahal jam dinding di ruang makan masih menunjukkan pukul 05:30. Takut kejebak macet, kata Soni. Selesai sarapan, barulah muncul Abby, yang masih setengah mengantuk.

"Eh, udah bangun," kata Bobby. "Dipikir mo jadi dedenya Soni."
"Bisa aja kamu nih," kata Abby. "Entar mo sekolah dimana? Trus gimana ketemuan? Masak harus naik kereta tiap hari cuma buat ketemuan?"
"Ya udah, sarapan dulu! Entar gue ga bisa naik ABA pagi," kata Ari.

Maka Abby pun mengambil sepiring nasi dan sepotong ayam goreng yang telah tersedia di meja makan. Sambil menunggunya, ketiga cowok tadi pergi bersiap-siap. Setelah selesai mandi, sikat gigi, dan membereskan pakaian dan barang-barang lain, mereka menunggu pukul 7 untuk berangkat ke Stasiun Gambir.

"Ma, udah jam 7," kata Soni. "Jalan dulu ya!"
"OK, salam buat yang di Bandung dan Surabaya!" seru ibu Soni dari dapur.

Maka Soni mengantarkan ketiga temannya ke Stasiun Gambir menggunakan mobilnya. Tak lupa ia menjemput Novi, pacarnya, yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Ternyata tebakan Soni lagi-lagi tepat. Mereka terjebak kemacetan cukup lama, sekitar 30 menit. Beruntung, mereka dapat tiba jam 08:15 di Stasiun Gambir. Setelah memarkirkan mobilnya, Soni dan teman-temannya bergegas ke loket, agar bisa memilih tempat duduk.

"Mbak, pesen 1 tiket Argo Anggrek, yang tarif promo," kata Ari.
"Beruntung sekali Mas, ini tiket promo yang terakhir buat Anggrek pagi," kata petugas loket. "Gerbong 5, kursi 13B."

Maka Ari mengeluarkan selembar uang pecahan 100 ribu rupiah. Setelah itu, mereka kembali berkumpul di pintu masuk.

"Dapet tiket promo ga?" tanya Ari.
"Enggak. Kan kita duduk bareng, sedang jatah promo kan 1 kursi per gerbong," jawab Bobby. "Lu gimana?"
"Dapet, yang terakhir lagi."

Maka mereka pun naik ke lantai 2. Terlebih dahulu mereka ke peron jalur 3 dan 4 tempat dimana biasanya KA Argo Parahyangan berada. Ketika mereka tiba di peron, rangkaian yang akan ditumpangi Bobby dan Abby baru saja tiba dari Bandung.

Perhatian, perhatian! Jalur 4 dari selatan masuk kereta api Argo Parahyangan dari Bandung.

Terlihat sebuah lokomotif hidung kotak berjalan memasuki jalur 4 Stasiun Gambir. Lagi-lagi, lokomotif itu bernomor seri CC 201 100. Dan, tebakan Bobby benar, hari itu gerbong Eksekutif Batik bernomor seri K1-02527 BD dinas Argo Parahyangan Pagi, sebagai gerbong Eksekutif 2, dimana Bobby dan Abby akan duduk selama perjalanan...

"Tuh kan, bener tebakan gue!" seru Bobby. "GoPar bawa Batik di gerbong 2!"

Penumpang pun mulai memenuhi peron sebelah barat tersebut. Setelah kosong, kelima RF tadi naik ke gerbong 2 bercorak batik tersebut. Sayang, dalamnya terlihat seperti biasanya, tanpa dekorasi tambahan...

"Coba ada tambahan dekorasi, pasti lebih bagus," kata Soni.

Kebetulan masih kosong, Bobby dan Abby meminta tolong Ari memotret mereka yang ingin bernarsis ria di dalam gerbong. Setelah itu, mereka kembali ke luar kereta untuk bernarsis di samping gerbong Batik tersebut. Tak terasa sudah jam 9, kereta sudah dipenuhi kembali oleh calon penumpang KA Argo Parahyangan tujuan Bandung. Sementara, rangkaian KA Argo Anggrek tujuan Surabaya baru didatangkan dari dipo Manggarai. Disitulah, mereka berpisah.

"OK deh, gue ke jalur 1 ya, mo naik ABA," kata Ari.
"Kapan jalan-kalan bareng lagi?" tanya Bobby.
"Nanti PM-PM-an aja di S35 !" jawab Ari.
"OK deh, sampe ketemu lagi!" kata Bobby.

Dan disitulah akhir dari joyride bersama mereka. Singkat kata, kedua KA mengalami keterlambatan 1 jam akibat diberlakukan sepur salah di daerah Karawang. Setibanya di Bandung, Bobby menyusun rapi trip reportnya lalu memasukkannya ke dalam forum S35 , diberi judul "Tour de Java bareng RF Daop I dan VIII"...

- THE END -
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#78
Lanjut bikin cerpen baru, akan saya coba update 1 chapter per hari...

Ini cerpen (sebenarnya hampir mendekati cerita panjang) buatan saya, mohon maaf apabila ada kesamaan nama dan tempat. Cerita hanyalah karangan fiksi belaka.

Selamat menikmati!

____________________________________________________________________________________

Minggu, 14 Maret 2010. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi justru emplasemen utara Stasiun Bandung dipenuhi sekelompok anak SMA. Belum ditambah gelombang penumpang KA Argo Wilis yang baru tiba dari Surabaya, makin bertambah penuhlah stasiun tersibuk di Parijs van Java ini. Beruntung saja, penumpang KA Lodaya Malam telah diberangkatkan menuju Solo, kalo tidak makin penuhlah stasiun ini.

Melongok ke arah barat, terlihat 2 rangkaian kereta. Di jalur 5 ada KA Argo Parahyangan tujuan Jakarta, pemberangkatan terakhir dari Bandung 5 menit kemudian, dan di jalur 6 ada KA Harina tujuan Semarang, berangkat pukul 20:30. Itulah KA yang akan gue dan temen-temen – rombongan anak SMA tadi – bakal tumpangi ke Surabaya.

Lho, kenapa ga naik Turangga? Atau yang lain? Soalnya tujuan akhir kita bukan Surabaya, tapi Bojonegoro. Itupun masih harus melakukan perjalanan 30 menit dengan mobil ke suatu daerah pedesaan diantara dua kota besar itu. Kalo naik Turangga emang lebih cepat, tapi butuh transportasi lain ke Bojonegoro, yang setelah dihitung-hitung jadi lebih mahal ketimbang naik Harina lalu nyambung Rajawali sampe Bojonegoro.

Jam 20:05, terdengar jelas suara S35 menandakan sebuah kereta akan diberangkatkan.

“Kereta kitakah itu?” Tanya salah seorang guru pembimbing, Pak Anto.
“Bukan, Pak. Itu Argo Parahyangan,” jawabku. “Kereta kita berangkat setengah sembilan.”
“Bobby gitu lho, pasti tahu kalo ditanya soal kereta!” celetuk sahabatku Ben, yang berdiri di sampingku.
“Makanya saya minta tolong dia urusin kereta buat pergi live-in,” kata Pak Anto lagi.

Gimana enggak? Gue adalah orang yang paling tahu soal kereta diantara teman seangkatan gue. Itulah ciri seorang penggemar kereta api, railfan kata orang bule. Layaknya seorang filatelis yang pasti tau soal segala sesuatu di balik panggung persuratan, seorang railfan pun tahu seluk beluk perkeretaapian, mulai dari sejarah, kelas-kelas gerbong, semboyan-semboyan, sampai pada spesifikasi terperinci sebuah lokomotif, misalnya. Dan, itupun hanya orang-orang tertentu yang sudah menguasai semuanya. Katakanlah para professor perkeretaapian. Dan gue belum mencapai tingkatan itu. Tapi, setidaknya, lewat hal “kecil” ini gue berhasil membuat beberapa temen terjangkit “virus” railfan ini, termasuk Ben sahabatku.

Back to Stasiun Bandung, singkat cerita kamipun bergerak menuju rangkaian Harina di jalur 6. Kami mendapat tempat di gerbong 1 dan 2, di bagian belakang rangkaian saat itu. Ternyata itu adalah gerbong tambahan, terlihat dari kode gerbong: K1-98803 BD sebagai Eksekutif 1 dan K1-65801 BD sebagai Eksekutif 2. Kelas gue mendapat jatah kursi di gerbong 1. Gue pun mengambil kursi single di bagian belakang, nomor 13B, karena Ben duduk bareng pacarnya di 13 C-D.

Setelah membereskan barang – kira-kira pukul 20:15 – kami berdua meminta izin kepada Pak Anto, yang duduk di single seat depan – nomor 1C – untuk melihat-lihat kedepan. Setelah diizinkan, kami berjalan ke bagian depan rangkaian. Terlihat lokomotif yang akan dinas CC 204 11 SMC, posisi longhood. Berurutan di belakangnya ada gerbong barang, Eksekutif 6, 5, 4, gerbong makan, Eksekutif 3, 2, 1. Terlihat gerbong Eksekutif 3-6 juga hamper terisi penuh. Setelah puas mengamati, dan juga memotret, kami kembali ke gerbong 1. Tepat pukul 20:30, KA Harina memulai perjalanan panjangnya menuju Semarang.

Good bye Bandung, Semarang, we’re coming!

- TBC -
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#79
Tak terasa sudah jam 10 kurang 5 menit. Saat itu kereta akan memasuki Stasiun Purwakarta. Gue pun berjalan ke bordes dengan membawa kamera andalanku, sebuah DSLR. Samar-samar terlihat nyala lampu sebuah lokomotif. Gue pun bersiap-siap untuk memotret benda yang memancarkan sinar yang menembus gelapnya malam. Selidik punya selidik, ternyata itu adalah CC 203 11, dinas kereta Argo Parahyangan terakhir dari Jakarta. Setelah berhenti 5 menit, yang duluan diberangkatkan adalah KA Argo Parahyangan, diikuti keberangkatan KA Harina. Dari kejauhan gue melihat ke belakang, Stasiun Purwakarta kembali sepi. Tahu-tahu, muncul sesosok pria di bordes. Ternyata Pak Anto, hendak ke toilet…

“Bobby? Lagi ngapain?” tanya Pak Anto.
“Enggak, Cuma lagi ngeliatin pas tadi kereta masuk Purwakarta,” jawabku.
“Oh begitu. Ya sudah, saya ke toilet dulu,” lanjutnya.

Maka gue kembali ke tempat dudukku, sedang Pak Anto pergi ke toilet. Di dalam, ternyata Ben kembali terbangun…

“Lu dari mana?” tanya Ben setengah mengantuk.
“Dari bordes. Kenapa?” tanyaku balik.
“Udah nyampe mana?” tanya Ben lagi.
“Baru lewat Purwakarta,” jawabku. “Bentar lagi nyampe Cikampek?”
“Ah masa bentar?” tanya Ben.
“Hehe, setengah jam palingan,” jawabku. “Entar mo ikut motret pas lokonya pindah posisi?”
“Boleh aja,” jawabnya.

Maka gue pun duduk sebentar, melihat hasil foto tadi, lalu menyimpannya, karena ingin pergi ke toilet. Tahu-tahu, di bordes Pak Anto lagi bercakap-cakap dengan seseorang.

“Ada apa Bobby?” tanyanya yang telah selesai berbicara lewat HP.
“Oh, cuma mo ke toilet,” jawabku.

Maka gue pun masuk ke dalam toilet, dan Pak Anto kembali ke tempat duduknya. Setelah beres dari toilet, gue kembali ke tempatku. Tahu-tahu kereta berbelok ke kiri dan mengurangi kecepatan…

“Udah nyampe Cikampek ya?” tanya Ben.
“Yup. Mo turun ga nih?” kataku. “Ga bakal ditinggal koq.”

Maka, seberhentinya kereta, kami membuka pintu gerbong paling belakang – nantinya bakal jadi paling depan – lalu memotret keadaan di stasiun malam itu. Tak berselang lama, lokomotif sudah berada di depan gerbong kami. Kami kembali naik untuk memotret moment pemasangan coupler lokomotif dari atas, karena di sisi samping lok berkumpul staff yang akan membantu pemasangan coupler. Sekarang posisi CC 204 11 sudah shorthood. Setelah selesai, 5 menit kemudian kereta kembali diberangkatkan.
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#80
Chapter 3

Tak terasa sudah jam 12 tengah malam. Gue ingin tahu sudah sampai dimana. Sistem GPS di HP menandakan posisi gue diantara Jatibarang dan Cirebon, kurang lebih 10 km arah barat Arjawinangun. Sesuai jadwal, setengah jam lagi kereta tiba di Cirebon. Di sebelah, Ben dan pacarnya telah tertidur. Gue pun mengeluarkan iPod untuk mendengarkan musik, dan mini laptop untuk menyimpan foto-foto selama perjalanan. Tak lupa juga, sesuai janji, meng-update trip report selama 2 jam terakhir di forum S35 . Tak lama kemudian, kereta pun mengurangi kecepatan. Gue menyimpan laptop ke dalam tas, lalu bergegas menuju bordes untuk memotret moment tibanya Harina di Cirebon. Tak berapa lama setelah kereta dari Bandung tiba, datang juga kembarannya dari Semarang. Malam itu, Harina dari Semarang ditarik lokomotif CC 201 141R SMC, posisi shorthood.

Anehnya, lima menit sebelum berangkat, datang seorang bapak beserta keluarganya ke dalam gerbong 1. Alangkah kagetnya dia melihat jatah kursinya, 7-8 A-B, telah ditempati 4 orang penumpang lainnya, yang tidak lain adalah teman sekelas gue.

”Lho, koq kursi saya ada orangnya?” tanya si bapak kepada teman-temanku yang juga mendapatkan tiket di kursi 7-8 A-B.
”Pak, maaf, gerbong ini memang sudah terisi penuh,” kata Pak Anto melihat keempat bocah dan keempat anggota keluarga yang kebingungan itu.
”Tapi tadi kata mbak di loket, gerbong 1 masih kosong,” lanjut si bapak.
”Boleh saya lihat tiketnya?” tanya Pak Anto. Bapak itu pun menyerahkan tiketnya, yang sedari tadi sudah digenggamnya.
”Bobby, gimana ini? Di tiket si bapak juga tertulis: Eksekutif 1, 7A_7B_8A_8B.”

Gue pun datang membawa tiket milik kami bersama. Alangkah terkejutnya gue melihat kemiripan yang terdapat pada kedua lembar tiket, milik kami dan milik si bapak. Perbedaannya hanyalah pada stasiun keberangkatan (Bandung vs Cirebon) dan tanggal keberangkatan. Ya, tanggal keberangkatan, 15 Maret 2010 pada tiket si bapak vs 14 Maret 2010 pada tiket yang gue pegang.

”Wah, ini sih tiket buat besok Pak,” kataku.
”Lho, koq besok?” tanya kedua pria di depanku serempak.
“Jelas-jelas sudah tanggal 15 sekarang, koq buat besok?” tanya si bapak lagi.
”Memang sekarang sudah tanggal 15, tapi di tiket bapak seharusnya tertera tanggal keberangkatan kereta dari stasiun awal, yaitu tanggal 14 Maret,” jelasku.
”Ah masak?” tanya si bapak tidak percaya. ”Masalahnya saya harus tiba di Semarang pagi ini, tapi kereta yang lain pada penuh, tinggal Harina ini.”
”Tapi memang begini peraturannya, Pak,” jelasku. ”Tapi coba saja Bapak tanyakan kepada kondektur, siapa tahu Bapak bisa dapat tempat di gerbong lain.”

Maka si bapak dan keluarganya menghampiri kondektur yang, kebetulan, sedang berada di gerbong 1. Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya kondektur membawa mereka ke gerbong lain, mencari kursi kosong. Setelah sepi, Pak Anto datang menghampiriku.

”Koq kamu tahu tiketnya buat besok?” tanya Pak Anto padaku. ”Padahal kan si bapak emang bener, sekarang udah tanggal 15.”
”Iya Pak. Tapi biar si kereta berangkat dari Cirebon tanggal 15 jam 12 malam, tanggal di tiket harus sesuai dengan tanggal keberangkatan dari Bandung, tanggal 14 jam setengah 9,” jawabku.
”Terus gimana donk, kalo dia maunya berangkat malam ini?” tanyanya lagi.
”Mungkin bayar suplisi,” kataku.
”Apa itu?” tanya guruku lagi.
”Tiket denda buat penumpang tidak bertiket,” jawabku.
”Oh begitu. Ya sudah, nanti kalo ada masalah lagi, bangunin saya aja,” lanjut Pak Anto.
“OK, Pak,” jawabku.

Setelah itu Pak Anto kembali ke tempat duduknya untuk tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 1. Kira-kira satu jam lagi kereta tiba di Tegal.
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)