Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kumpulan Cerpen Kereta Api
#81
Chapter 4

Waktu terus berjalan, dan gue masih terjaga dengan sepasang earphone menyumbat kedua lubang telingaku. Arloji di lengan kiri menunjukkan waktu sudah pukul 01:45 AM. Tapi, anehnya, belum terlihat rangkaian KA Gumarang dari Surabaya meluncur ke arah barat. Seharusnya, kereta tersebut sudah berangkat dari Tegal paling lambat jam 1 tadi.

Singkat kata, jam 01:50 KA Harina tiba di Brebes. Tapi, tidak seperti biasanya, kereta ”berhenti luar biasa”. Padahal, jalur sudah double track sampai ke Petarukan, dekat Pekalongan, tempat yang dikenal sebagai TKP kecelakaan KA Argo Anggrek yang menyeruduk KA Senja Utama Semarang dari arah belakang.

”Pak, kenapa berhenti?” tanyaku kepada petugas PPKA yang sedang berdiri dekat gerbong 1.
”Gumarang mau masuk dari Tegal, Dik,” jawab petugas PPKA.
”Lho bukannya udah jalur ganda?” tanyaku lagi.
”Sepur salah, soalnya banjir, jalur sebelah utara ga bisa dilewatin kereta sementara ini,” jawab petugas tersebut.

Tepat ketika kami selesai mengobrol, terdengar suara S35 dari arah timur. Itulah rangkaian KA Gumarang, yang sudah cukup, bahkan bisa dibilang sangat, terlambat. Malam itu, lokomotif yang dinas CC 203 bawa gerbong pembangkit, 2 gerbong Eksekutif, gerbong restorasi, dan 6 gerbong Bisnis. Setelah kereta tersebut meninggalkan Stasiun Brebes, giliran KA Harina melanjutkan perjalanannya. Seusai si petugas PPKA memberi sinyal aman kepada masinis, gue melambaikan tangan ke arahnya.

Ternyata memang benar, rel kereta di sisi kiri kereta tergenang air cukup tinggi, sampai-sampai terlalu berisiko untuk dilalui kereta. Untuk melintasi rel di sebelah kanan saja masinis menjalankan kereta cukup pelan. Singkat kata, jam 02:15 Harina tiba di Tegal. Disini kami bersilangan dengan KA Sembrani dari Surabaya. Terlihat lokomotif yang dinas jenis CC 204 membawa 8 gerbong kelas Eksekutif tipe pesawat jilid 2 – blue retrofit kata railfans karena warna dinding luar dan interiornya yang bernuansa biru, paling mencolok diantara semua rangkaian Eksekutif dengan livery garis kuning berombak – di samping sebuah gerbong pembangkit dan gerbong restorasi dengan corak yang sama. Setelah bersilangan dengan kereta tersebut – juga menaikkan/menurunkan penumpang, berhubung Harina berhenti normal di Tegal – ,kami melanjutkan perjalanan. Di sebuah stasiun kecil arah timur Tegal kami bersilangan dengan kereta ekspres malam ketiga relasi Surabaya-Jakarta: Argo Bromo Anggrek. Kembali gue melihat sebuah lokomotif jenis CC 203, kali ini menarik sebuah BP corak pink – khas Argo Bromo Anggrek – , juga gerbong restorasi dengan corak yang sama dan 6 gerbong kelas Eksekutif Anggrek corak baru – warna ungu dengan 3 garis dengan warna hampir sama – melaju mengejar keterlambatan akibat banjir di pantai utara malam ini. Setelah bersilangan dengan kereta terbaik di Indonesia itu, gue kembali ke tempat dudukku, single seat, lalu menyimpan iPod ke dalam tas, memiringkan sandaran kursi, lalu tidur. Tidur sampai pagi...

Tahu-tahu, Ben membangunkanku. Saat itu sudah jam 05:45, dan kereta melaju dengan kencangnya mengejar keterlambatan 1 jam lebih. Tiba-tiba gue teringat akan sesuatu.

”Udah lewat Plabuan belum?” tanyaku tiba-tiba.
“Kayaknya belum deh, soalnya gue ga perhatiin udah sampe mana,” jawab Ben.

Gue pun buru-buru mengambil kamera, dan bergegas ke bordes. Gue ga mau melewatkan moment saat kereta melewati daerah Plabuan, tempat dimana kereta melintas cukup dekat dengan pantai utara Pulau Jawa. Kata orang, daerah tersebut cukup indah di kala fajar menyingsing. Dan ternyata benar, sudah teruji oleh sepasang bola mataku sendiri. Apalagi, saat itu matahari baru terbit dari arah timur, menambah indahnya panorama alam disertai rangkaian kereta Harina yang, sekali lagi, melaju sekencang-kencangnya mengejar keterlambatan.

Singkat kata, jam 06:05 kereta memasuki Stasiun Poncol. Tetapi, kereta tidak berhenti disini. Lima menit kemudian, barulah kereta berhenti di Stasiun Tawang, pemberhentian akhir KA Harina dari Bandung. Setelah seluruh penumpang turun, rangkaian dibawa kembali ke Stasiun Poncol – tepatnya di dipo – untuk dibersihkan sebelum dinas kembali sebagai KA Rajawali tujuan Surabaya. Sambil menunggu keberangkatan KA Rajawali jam 08:25, kami berjalan menuju sebuah rumah makan, tidak jauh dari stasiun, untuk menikmati sarapan pagi. Diantara semua, gue terlihat cukup lelah. Maklum, semalam gue baru tidur jam setengah tiga.

“Eh, koq ngantuk?” tanya Adit, salah satu teman kelasku.
”Iya nih, abis ga tidur semaleman,” jawab Ben.
”Enggak ah, gue tidur koq, tapi baru jam setengah tiga,” kataku menyanggah.

Setelah selesai sarapan, kami berjalan kembali ke stasiun. Saat itu jam menunjukkan sudah pukul 07:45.
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#82
capek bacanya....
Reply
#83
Kisah ini hanya fiktif belaka. Jadi, jangan terlalu optimis jika ada beberapa atau banyak kalimat yang seolah2 mengundang keyakinan akan terjadi seperti demikian yang aku ketik....

KETIKA KRL MENGALAMI PANCAROBA
Pagi hari Senin seperti biasa aku mengawali aktifitas bekerja seperti layaknya kebanyakan orang kantoran di mana pun berada. Beranjak bermodalkan busana kemeja setelan celana bahan yang panjang. Tiada suatu pertanda yang berarti dalam menapaki sejengkal aspal yang kian bergelombang ini. Kumasuki area sebuah stasiun komuter yang kucintai ini... Kubeli karcis dengan tertib di sebuah peron dan kuterkejut dengan sebuah pengumuman ini. "AKAN SIAP DIBANGUN STASIUN PERCABANGAN YANG KAMI NAMAKAN JALUR MANDIRI ATAU PENGHUBUNG ANTAR WILAYAH JABODETABEK". Waduh!!! kejutku demikian. Bagaimana bisa? Sebuah bentang jembatan layang rel KA menyusuri petak rumah, jalan raya, komplek dan hamparan lapangan tak bertuan dengan mudahnya dijadikan tanah milik perusahaan KA. Sementara, kondisi ini turut disaingi oleh moda transportasi darat lainnya yg sedang gencarnya.

Kulihat saja beberapa tanah telah dikosongkan dan tiang2 pancang siap dioperasikan untuk pemadatan tanah bahwa petak rel ini bener akan menghubungi wilayah Ciputat - Lebak Bulus - Antasari - Kuningan hingga ketemu di wilayah Bunderan HI. Berlanjut hingga ke Roxy - Meruya - Cileduk dan berakhir di kota Tangerang. Bener2 petak rel dg lebar 1435 yang mandiri... begitulah pikirku. Selidik punya selidik, kutanyakan pada beberapa petugas stasiun kalau rencana pembangunan yang selesai dalam jangka waktu 3 tahun ini memang proyek ambisius guna melancarkan arus laju umat manusia yang biasa menempuh jalur darat yang terjebak macet, polusi udara knalpot dan kebisingan klakson kendaraan bermotor. Betapa bangganya hatiku... Jakarta-ku kini semakin maju!!

Entah mimpi ataukah bukan ini... Yang jelas lokasi yang akan terkena dampaknya itu justru siap dibangun jalan setapak dan taman yang indah di bawah bentangan rel layang yg gak kalahnya seperti petak rel Kota - Gambir - Manggarai. Nantinya proyek ini akan terhubung pula dengan wilayah Cibinong - Cibubur - Pondok Gede hingga tersambung dengan rel layang Bunderan HI. Tidak menutup kemungkinan jika subway juga dibangun akan saling terintegrasi.

Melihat perkembangan stasiun - stasiun di sepanjang green line alias lintas Serpong - Jakarta sungguh baik. Apa yang kuharapkan beneran terwujud di mana sebuah loket ticketing telah diperluas sehingga tidak terkesan sempit untuk jalur keluar - masuk stasiun. Aku coba tampar dan mencubiti pipi sendiri... ternyata aku masih belum terbangun dari tidurku ini... Kenapa susah melepas mimpiku untuk kembali ke alam nyata? Image stasiun rumahan sungguh mulai lepas bagi mrk yg biasa berdomisili di wilayah Bintaro Jaya dan Serpong. Mengapa sampai demikian? Karena stasiun Sudimara, Pd. Ranji dan Serpong mayoritas mengangkutn pr calon penumpang KRL dari wilayah sekitar komplek perumahan Bintarop Jaya dan BSD. Dengan dibangunnya pula stasiun Bintaro di Sektor 2 alias seberang Giant dan stasiun Ulujami di dekat lokasi x-Tragedi Bintaro dengan ditambah underpass di PJL yg terkenal semrawutnya itu utk arus kendaraan bermotor, maka semakin terbantulah mrk yang berdomisili tanpa harus berkali2 naik angkot, bus dan sebangsanya. Cukup dari kedua stasiun tersebut, maka tujuan dan dari Jakarta pun akan terjangkau dengan mudah tanpa harus terjebak macet parah di Tn. Kusir dan Kebayoran Lama. Itulah sekilas perkembangan dari wilayah lintas barat Jakarta terkini...

Bersambung dulu....

Reply
#84
Lho, kenapa tidak diposting di thread yang berjudul Cerpen Kereta Api? Bingung
Reply
#85
Terserah sih... Soalnya takut kebanyakan halamannya... Jadi maksud aku supaya masing2 di antara kita semua punya thread tersendiri dan ngebacanya mungkin gak pusing. Tapi trgantung gimana kebijakan mas momod dan kawan2 semua sih...

Reply
#86
(10-04-2011, 06:04 AM)Dana Komuter Wrote: Terserah sih... Soalnya takut kebanyakan halamannya... Jadi maksud aku supaya masing2 di antara kita semua punya thread tersendiri dan ngebacanya mungkin gak pusing. Tapi trgantung gimana kebijakan mas momod dan kawan2 semua sih...

Boleh juga sih, jadi lebih ter-khusus-kan dan ga terlalu panjang.

Atau begini saja, kalo emang tetep mo disatuin dengan thread induk - Cerpen Kereta Api - ya dikasih judul di awal cerita, biar itu cuma pindah chapter, jadi jelas ini cerita yang mana karangan siapa. Lebih pas sih kayaknya coba manfaatkan "Thread Subject" bar buat nulis judul plus chapter, kayak cerita saya, jadi di bagian post editor cukup isi ceritanya...

OK deh, ditunggu kelanjutannya Mas Dana, saya sementara "kereta" cerpennya lagi "mogok" di SMT, kehabisan "BBM" Ide 101 (emang ada ya bensin oktan 101?)...
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#87
Ok mas d'tRAiNeR... Terserah gimana baiknya sih. Digabung boleh, dipisah pun juga boleh...
OK... Lanjut lagi... mungkin isi otak lagi segerrr.... Playboy
Tak mau ketinggalan, keesokkan harinya dikala media massa memberitakan akan diikut sertakan para artis seperti Marshanda, DJ Winky Wiryawan, Didi Petet dan Olga Syahputra turut serta dalam peresmian pemasangan batu pertama di lokasi pembangunan, aku terkejut luar biasa. Aku pun bersiap untuk ikut serta menjadi salah satu penonton / pengunjung dari kalangan umum. Lalu ke mana rekan2 penggila KA yang lain? Bethe

Pagi itu pun di cuaca yang cukup cerah aku bergegas dengan menggunakan bus Trans Jakarta ke lokasi di daerah Cileduk. Di sebuah ruas jalan raya penghubung Tangerang Selatan dengan kceamatan Kebayoran Lama tersebut disiapkan banyak eskavator. WAW!!! Takjub aku dibuatnya. Dengan merk CAT dan Siemens apalagi merk lainnya timbul pertanyaan yang banyak di dalam pikiranku. Waduh... ternyata rekan2 penggila KA, sahabat dari sebuah komunitas lainnya ikut serta terlebih dulu sampai. Entah dengan apa mereka tiba di tujuan. Yang jelas bapak menteri x, menteri y dan dirjen z telah duduk manis. Beberapa artis seperti kang Didi Petet sedang sibuknya disodorin banyak pertanyaan oleh kawan2 dari pers. Tiada lokasi tanda2 adanya bentangan rel sama sekali. Karena itulah, di sinilah awal dari pembangunan rel dengan gauge 1435 mm ini sebagai rel mandiri.

"KRL MANDIRI akan dilakukan oleh sebuah bank dan investor kerjasama dengan negara2 maju... Kami yakin ambisi kami akan terlaksana ke depan berkat peran serta masyarakat semua!"seru kang Didi Petet. Asalkan tiada aral melintang seperti hujan, bangunan liar tiba2 dibangun dan demo besar2an dari berbagai pihak yg tidak setuju tanah mrk dijadikan lahan publ;ik spt itu, proyek 3 tahun itu akan terus berjalan dengan baik. Suguhan musik yang dinyanyikan Marshanda dg dipandu MC Olga Syahputra ikut ikut menyemarakkan siang yang cukup terik itu.

Kami berdiskusi dg pak AS bagaimana rencana KA kita ke depan. Cukup bagus! Apalagi stasiun Ancol, Kamp. Bandan Atas dan Bintaro akan segera dioperasikan secara masimal. KRL Feeder akan segera beroperasi utk rute Manggarai - Gambir - Juanda - Jakarta Kota pp. Jadi bagi yg berdomisili di Bodetabek tidak usah takut kalau naik KRL Ekonomi AC sulit ke atau dari stasiun Gambir. Asalkan berkacris KA jarak jauh, maka begitu si EKo AC singgah di Juanda, KRL Feeder akan mengantar masyarakat ke st. Gambir. Begitu pun sebaliknya. JUmlahnya terdiri dari 3 kereta per rangkaian dan beroperasi di jam 6 pagi - 9 pagi dan jam 3 sore - 8 malem. Karena siang memang sepi perjalanan KA jarak jauh dan menengah.

Bersambung lagi yah.... Playboy

Reply
#88
Pohon Alpukat

Suatu hari,
sebatang pohon Alpukat menikmati sejuknya udara sore dipinggir rel kereta api.
Tiba-tiba, keasyikannya terusik oleh sapaan sebutir biji Benalu yang diterbangkan oleh angin kian kemari.
"Selamat sore Alpukat" sapa Benalu dengan ramah.
"Oh kamu Benalu, selamat sore juga" balas Alpukat.
"Wah Alpukat, sekarang kamu sudah besar, ranting-rantingmu banyak, daunmu lebat, dan buahmu besar-besar" puji Benalu.
"Iya Benalu, itu karena akar-akar saya banyak, dan rajin menghisap sari makanan dari dalam tanah", kata Alpukat dengan bangga.

Benalu melanjutkan,
"Hampir sepanjang hari saya diterbangkan angin, rasanya badan saya capek
sekali. Bolehkah saya beristirahat disalah satu rantingmu ?"
Tanpa pikir panjang. Alpukat pun langsung mengiyakan permohonan Benalu.

"Jangankan satu Benalu kecil, lima puluh Benalu pun saya masih tidak terasa", pikir Alpukat dengan sombongnya.
Sejak saat itu, Benalu tinggal dipohon Alpukat.
Dan tanpa disadari oleh Alpukat, Benalu semakin hari senakin besar dan beranak pinak menjadi banyak.

Suatu hari, Alpukat melihat bahwa tubuhnya sudah kurus kering.
Saat itulah, Alpukat menyadari bahwa Benalu sudah merugikan dirinya.
Lalu Alpukat memutuskan untuk menyuruh Benalu pergi meninggalkan dirinya.

"Alpukat, semua akar-akar ku sudah tertancap dalam tubuhmu ! Jadi, jangan pernah bermimpi kalau aku akan memenuhi permintaanmu", kata Benalu sambil tertawa.
Semakin hari, Alpukat semakin kurus dan akhirnya mati karena Benalu terus menghisap makanan dari tubuh Alpukat tanpa belas kasihan.

Banyak orang yang bertindak seperti Alpukat ini.
Waktu dosa-dosa kecil datang menggoda, dan hadir dengan segala daya tariknya, mereka tidak langsung menolaknya.
Dengan tinggi hati dan sikap meremehkan, mereka berpikir,
"Ah,itu hanya dosa kecil saja, hal ini tidak akan mempengaruhi iman saya.
Saya akan tetap rajin berdoa".

Terbukti bahwa setiap orang yang meremehkan dosa kecil sekalipun, akan terjerat oleh dosa yang lebih besar lagi.

Satu hal yang harus kita ingat, kalau hari ini kita melakukan satu dosa kecil, dosa kecil tersebut makin lama akan makin menjadi besar dan melahirkan dosa-dosa lain, karena salah satu sifat dosa adalah melahirkan dosa baru.

Jadi, jangan meremehkan dosa, sekecil apapun !

Ibarat, sebuah baut tambatan rel yang goyang dan tidak segera diperbaiki.
Lama kelamaan akan membuat rel bergetar dan dapat membuat baut lain menjadi ikut kendor, yang pada akhirnya, dapat membahayakan rangkaian kereta dan bahkan, dapat menyebabkan kereta anjlok atau terguling bukan ?
Bagaimana dengan anda ?

*disadur dari GENI HKY, 240411.




Reply
#89
Berhubung sedang ada masalah dengan data cerpen "Tour de Java 2", maka sebagai selingan akan saya upload dulu cerpen baru berjudul "The Real Pulitzer". Selamat menikmati!

Senin, 08 November 2010. Seperti hari kerja pada umumnya, ruas jalan Gunung Batu di persimpangan dengan pintu keluar Tol Pasteur pasti dipadati kendaraan, baik itu motor, mobil, bahkan terkadang kendaraan yang lebih besar.

Sambil menunggu terurainya kemacetan, gue pun mengambil BB baruku dan ingin membuka forum S35 sambil menunggu lampu berubah hijau. Tahu-tahu Ben mengirimku sebuah pesan lewat BBM. Isinya sungguh mengejutkan...

ben_010993 Wrote:bro, gw kejebak macet nih di andir, katanya ada motor ditabrak kereta...

"Beneran nih?" pikirku, yang langsung gue kirim balik kepada Ben...

bobby_cepe Wrote:bneran tuh, keretanya gopar ya?

Tak berapa lama muncul BBM balasan dari Andir...

ben_010993 Wrote:maybe... kliatannya cuma strip bisnis, bisa aja krd pake k2 gopar

Bener-bener gue masih ga percaya dengan berita ini. Tapi, lampu sudah berubah jadi hijau, gue pun harus kembali mengendarai mobil gue.

bobby_cepe Wrote:ywd, ntar diomongin di skul aja, gw mo jalan dulu

Singkat kata, jam 6:35 gue tiba di sekolah. Tau-tau, di parkiran telah menunggu sesosok siswa, yang wajahnya tidak lagi asing buat gue.

"Lama banget sih?" tanya Ben. "Gue aja yang kehalang kereta bisa nyampe lebih cepet."
"Biasa, macet di Pasteur," jawabku singkat. "Ada fotonya ga tadi?"
"Ini, cuma ada dikit," jawab Ben sambil mengeluarkan BB-nya. "Sorry kalo burem, soalnya buru-buru disuruh jalan ama polisi."
"Ga takut ditilang?" tanya gue.
"Kan gue dianterin bareng dede," jawab Ben. "Yuk, sambil jalan!"

Kami pun mulai berjalan menuju lantai 3, tempat kelas kami berada. Di perjalanan, gue ga melepaskan pandangan dari hadapan layar BB Ben, yang memperlihatkan foto-foto saat dia melintas di PJL Andir, lokasi di mana ada sebuah sepeda motor yang tertabrak kereta, kemungkinan KA Argo Parahyangan tujuan Jakarta. Tiba-tiba, sebuah pertanyaan muncul di pikiranku...

"Trus orang yang ditabrak, gimana?" tanyaku.
"Katanya mati," jawab Ben datar.
"Yakin mati?" tanyaku masih tidak percaya.
"Ya iyalah, naik mobil aja mati, apalagi naik motor," jawab Ben, kali ini dengan nada yang dapat dipercaya.

Memang benar, lewat foto terlihat jelas motor yang ditabrak sudah hancur tak berbentuk. Tapi janggalnya, kalau memang tewas, tidak ada foto yang menunjukkan mayat korban, minimal ditutup terpal. Apa hanya terluka saja, dan sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat, mungkin Rajawali yang paling dekat?

"Ah entar gue coba tanya petugas PJL-nya, kebetulan tetangga gue," jawabku.
"Siapa, Pak Saleh ya?" tanya Ben.
"Iya, beliau kan harusnya belum ganti shift tadi pagi," jawabku.

Maka gue pun tidak sabar menunggu berakhirnya KBM hari itu. Setelah selesai, gue langsung meluncur ke rumah dengan mobil. Setelah selesai makan dan ganti baju, gue coba berkunjung ke rumah Pak Saleh, penjaga PJL Andir, yang tinggal persis di depan rumah gue. Akhirnya gue diterima oleh Pak Saleh sendiri, yang, setelah gue tanyakan perihal kejadian tadi pagi, menjelaskan detail dari kecelakaan tersebut.
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#90
"Melanggar Sinyal, Tewas Disambar Kereta", begitulah bunyi headline sebuah koran ternama di Kota Bandung. Gue masih tidak percaya, kenapa orang banyak masih percaya bahwa si korban kecelakaan, seorang pramugara maskapai penerbangan, tewas seketika. Padahal, menurut kesaksian Pak Saleh kemaren - yang gue rekam di BB dan masih tersimpan sampai sekarang - si pramugara itu hanya mengalami patah tangan dan kaki, dan kini dirawat di Rumah Sakit Rajawali, dekat dengan PJL Andir.

Singkat cerita, gue pun kembali bertemu dengan Ben. Dia pun menanyakan perihal obrolan gue dengan Pak Saleh kemarin sore.

"Bagaimana kondisi korban?" tanya Ben.
"Enggak tewas koq, sekarang lagi dirawat di Rajawali," jawabku.
"Lho, tapi di koran katanya tewas?" tanya Ben, yang kali ini tidak percaya.

Gue pun menjadi kebingungan, mana yang harus dipercaya. Apakah Pak Saleh, yang adalah saksi mata langsung dari kejadian tersebut, atau media massa, yang (maaf) hanya bertugas meliput apa yang terjadi. Ditambah penuturan guru Bahasa Indonesia saat dia masuk kelas. Dari gaya berbicaranya, sangat dapat dipastikan bahwa si pramugara - yang konon adalah teman dekatnya - tewas seketika saat dicium lokomotif KA Argo Parahyangan.

Beruntung sekali, hari ini kami pulang cepat, entah karena alasan apa. Gue pun langsung meluncur ke TKP, kali ini menggunakan motor. Alangkah kagetnya gue, ketika di tengah perjalanan gue baru sadar bahwa gue saat itu hanya memakai topi, dan bukan helm. Tapi, jam sudah menunjukkan pukul 11:10, dan gue ingin secepatnya tiba di PJL, agar tidak ketinggalan moment memotret KA Argo Parahyangan yang bakal lewat jam 11:30 lebih sedikit. Lagipula, bensin di reservoir menunjukkan sisa sedikit lagi, tidak cukup apabila gue kembali ke sekolah untuk mengambil helm. Maka, gue memutuskan untuk melanjutkan perjalanan melewati jalan tikus agar tidak ditilang polisi, plus mengurangi kecepatan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tak lama berselang, hujan pun turun. Guyurannya pun tidak kira-kira, langsung sangat deras. Sebelum gue berhasil menemukan tempat berteduh, badan gue sudah keburu basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gue pun memutuskan untuk terus menerobos hujan yang sangat deras, berbeda dengan pengendara motor lainnya yang memilih berteduh. Ternyata, bukan Cuma gue aja yang nekat menerobos derasnya hujan siang itu. Ada juga sekelompok bocah berseragam putih merah yang terlihat bersenang-senang diguyur hujan lebat. Dan bukan cuma satu kelompok, tetapi banyak sekali, dan semuanya laki-laki. Gue pun berhenti sejenak untuk memotret moment tersebut. Setelah selesai memotret, gue kembali melanjutkan perjalanan.

Singkat kata, pukul 11:30 tepat gue tiba di PJL Andir. Alangkah kagetnya ketika orang yang gue temui di dalam pos kecil bukanlah Pak Saleh, yang dinas hari itu, tetapi seorang bocah berseragam putih-biru tua, yang sama basah kuyupnya dengan gue. Dia adalah Dede, sesama railfan anak Bandung.

"Lho, De? Ngapain di sini?" tanyaku.
"Pulang cepet," jawab Dede. "Lu juga ngapain, ngebolos ya?"
"Enak aja, gue juga pulang cepet," jawabku.

Tiba-tiba terdengar lonceng penanda akan ada kereta lewat, tetapi Pak Saleh tak kunjung datang. Melihat lokomotif yang semakin mendekat dari arah timur, kami pun menjadi panik. Ketika masinis membunyikan S35 sangat panjang, akhirnya...

"Pencet aja yang di tengah!" seru Dede panik.
"Yakin yang itu?" tanyaku.
"Udah, pencet aja!" seru Dede lagi, lebih keras dari yang tadi.

Dengan penuh ketidakpastian gue pun menekan tombol yang terletak di tengah-tengah meja kontrol...
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)