Posts: 3,191
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
16
Pemberitahuan:
Pada hari Sabtu besok (18/6), akan dilakukan uji coba perdana single operation beserta tarif Commuter Line sebesar Rp 9.000 pada jalur Bogor dan Rp 8.000 pada jalur lainnya untuk evaluasi bagi pengguna sebelum sistem tarif dan perjalanan baru ini diberlakukan 2 Juli mendatang.
PT. KAI dan PT. KCJ saat ini sebenarnya dalam posisi yang serba salah dalam soal penentuan tarif sekali perjalanan, di mana kenaikan tarif tentu saja akan memicu protes dari pengguna, sementara pengadaan armada dan jumlah perjalanan untuk Commuter Line sendiri terkendala sistem kelistrikan dari PT. PLN (Persero) yang dirasa belum mencukupi.
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi
Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Posts: 909
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
3
demo aja, minta subsidi sama pemerintah. BBM aja dapet subsidi.
Posts: 3,387
Threads: 0
Joined: May 2008
Reputation:
2
(16-06-2011, 02:40 PM)aditto Wrote: Ikut menanggapi perihal 'mau ndak mau' harus mengikuti perintah atasan.
Sedikit ndak sependapat perihal 'harus mengikuti perintah atasan'. Memang benar saat ini bisa dikatakan KAI/KCJ seperti itu. Tetapi menurut saya itu mereka sendiri yang membuat.
Masalahnya adalah kebijakan makro transportasi di Indonesia yang ndak jelas (atau memang kita tidak tahu) arahnya kemana, titik beratnya apa...
Sudah jadi rahasia umum, semua kebijakan antar instansi pemerintahan saling bertolakbelakang, apalagi kebijakan yang tidak melihat data dan informasi lapangan yang keputusannya diambil HANYA dari belakang meja....
Soal kebijakan makro perkeretaapian di Indonesia saya sempat singgung di THREAD INI, namun belum ada tanggapan....
Anggaplah Anda seorang penentu kebijakan, pengambil keputusan dan akan menelurkan sebuah kebijakan yang (anggaplah) terbaik untuk kemasalahatan umat, dan keputusan itu tidak didukung oleh atasan struktural Anda dengan beratus alasan (Objektif maupun subyektif), yang ada Anda akan stress, bingung sendiri, walaupun Anda telah bersiap soal posisi dan kedudukan Anda.....
See..... complex isn't?
(16-06-2011, 02:40 PM)aditto Wrote: KAI/KCJ sebagai perusahaan yang sudah berada sangat lama di Indonesia dengan begitu besar ilmu2 perkeretaapian yang ada didalamnya, dan hanya mereka yang mengerti. Even regulator sendiri juga banyak yang harus 'berguru' dengan mereka. Terbayang kan sebenarnya mereka mempunyai bargaining powernya yang sangat kuatdengan pemerintah. Tetapi ... kenapa mereka ndak pernah memanfaatkan itu? kenapa mereka hanya manut2 saja? Apa takut kehilangan posisi ? mungkin, tapi itulah yang jelas salah.
Untuk kondisi ini menang pengalaman bukan berarti menang perang mas...
Lha wong dari awal sudah dimonopoli koq, gimana mau bersaing.... calon saingan diberangus sebelum berkembang. Lagi-lagi bicara soal kebijakan Makro Transportasi KA di Indonesia, mau atau tidaknya Multi Operator KA dengan aturan jelas, berkesinambungan dan tidak tumpang tindih serta saling mendukung.
(16-06-2011, 02:40 PM)aditto Wrote: Saya ambil contoh kebijakan aling2.
Kurang aneh apa coba, menempatkan penghalang berupa kereta kosong antara lokomotif dan kereta penumpang. Memang yang ada paling depan siapaa ... ? MASINIS ... aset bernyawa yang sangat berharga didalam dunia perkeretaapian. Tapi itu sangat tidak diperdulikan dan tidak dihargai terutama nyawanya.
Soal kebijakan aling² sudah JELAS SAYA PUN TIDAK SETUJU...
Alasan saya bisa diliad di THREAD INI
(16-06-2011, 02:40 PM)aditto Wrote: Coba kalau bilang terus terang kepada penumpang kalau memang mau naik harga. Asalkan komitmen terhadap pelayanan, rasanya ndak ada yang bakal keberatan. Seperti kemarin pas menaikkan harga ekonomi n eko ac yang sehari kemudian langsung dibatalkan. Ndak seperti ini kan penolakannya, masih bisa dikatakan adem ayem. Tapi kalau sudah urusan sama jadwal apalagi sunat menyunat jadwal ... waaaah itu bisa berabe ...
Nah, kalo ini saya setuju,
Ada transparansi soal ketersediaan armada, pengaturan jadwal juga informasi yang jelas kepada calon penumpang.... Hanya balik lagi ke mental setiap individu pemangku kepentingan. Mau ndak bersikap dewasa, dan jantan untuk membuka (anggaplah) kebobrokan diri....
Lha wong soal contek-mencontek berjamaah saja bisa bergeser jadi konflik sosial koq....
(17-06-2011, 09:23 AM)m_ilhami Wrote: demo aja, minta subsidi sama pemerintah. BBM aja dapet subsidi.
Wah, mas...
Hati-hati dengan pernyataan anda di forum bebas baik nyata maupun maya, bisa kena UU ITE loh, dengan tuduhan provokasi....
Cari cara yang eleganlah, pengumpulan tanda tangan misalnya lalu disampaikan oleh koordinatornya ke instansi yang berwenang atau secara adhoc menuntut ke departemen kehakiman soal pelayanan publik. Walaupun alurnya (lagi-lagi) panjang tapi cara itu legal dan elegan, dibandingkan dengan teriak-teriak di jalan depan kantor instansi (yang notabene) mengganggu pengguna jalan lainnya, lalu hasilnya pun akan (lagi-lagi) ditampung untuk disampaikan ke pimpinan....
Gimana?
Saya ndak membela siapa² dan ndak ada untungnya membela satu pihak karena saya bukan siapa², tapi cobalah untuk berdiskusi dan mencari jalan keluar yang terbaik, walaupun (sekali lagi.....) keputusan akhir ada di pemerintah.... Saya harap kita belajar untuk memperbaiki tata cara sosial dalam berdiskusi dengan kepala dingin, ketersediaan data dan tercapainya sebuah kesepakatan serta keputusan yang (kita anggap) adil. Mari....
Posts: 909
Threads: 0
Joined: Mar 2009
Reputation:
3
KRL jalur serpong nggak ada keterangan Sabtu/Minggu/libur batal ya? Beneran nih...TOP dong
Posts: 2,796
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
25
(17-06-2011, 09:03 AM)bonbon Wrote: kalo mau turun tarif, coba teken' pemerintah agar buat transportasi massal publik berbasis rel dan menggunakan setrum tarif industri di ubah menjadi setrum tarif yg disubsidi...tp kyknya mustahil
seperti halnya baswei yg disubsdi dari tiket sampai "merampas" 1 jalur jalan
sekedar meluruskan untuk para railfans,
bahwa tarif listrik untuk krl bukan tarif golongan industri (I), melainkan tarif golongan traksi (T/TM) dengan batasan diatas 200 kVA. harga per kWh untuk wbp adalah Rp 390 dikali K (antara 1,4 sampai 2, tergantung kebijakan). jadi berkisar antara Rp 546 - 780 per kWh. untuk sekedar perbandingan, tarif per kWh gol rumah tangga 1300 VA adalah Rp 795.
nah, seandainya untuk krl dikenai biaya industri, maka per kwah nya masuk golongan I-3/TM dengan tarif per kWh Rp 800 dikali K (1,4-2) atau sektar Rp 1120 - 1600 per kWh.
sumber : http://www.pln.co.id/
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Posts: 147
Threads: 0
Joined: Sep 2009
Reputation:
2
wah, berarti selama ini ngaku2 berat ma biaya listrik... salah dong ya. buktinya harga kwh-nya hampir serupa kayak kebanyakan rumah. Kalo memang kendala di listrik, ya harusnya ada solusi buat PLT sendiri.... kl pake BBM, memang bisa mahal... paling2 pake batubara.
Om Gege,
selama ini memang PTKA selalu dirugikan dengan PSO gak susah cair dari pemerintah, tapi kl PTKA serius sebenarnya mereka bisa memaksa pemerintah mengucurkan. caranya mungkin dengan menghentikan seluruh operasional KA misalnya dua hari, lihat kerugian apa saja yang dialami pemerintah. Cuma resikonya memang, pejabat PTKA bisa digusur.... Karena resiko ini, tentu saja gak berani.... lebih baik naikin tarif, lebih gampang.
Kalo PTKA mau juga, lepas saja aset2 rel, sinyal, stasiun, lintasan dari tanggungjawab mereka kembalikan ke pemerintah cq dephub. Karena dalam UUKA, hanya menyebutkan pemerintah menunjuk badan usaha negara dalam mengelola aset2 tersebut, nah biar pemerintah yg pusing apakah mengembalikan ke PTKA dengan pengucuran PSO, atau membentuk BLU atau perum dalam pengelolaannya. Tapi PTKA juga harus berani melepas stasiun agar dikelola pemerintah, habis banyak potensi stasiun dikelola gak jelas.... banyak kios disewain, tapi gak tahu duitnya kemana. banyak lahan2 yang bisa dijadikan tempat iklan, tapi ogah2an..... bahkan lahan parkir aja gak jelas pengelolanya.
Posts: 2,796
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
25
setuju sama om bravo gege. kebijakan makro transportasi indonesia sangat memberatkan operator kereta. selain urusan bbm, anggaran cekak, minim insentif, mekanisme pembiayaan net (IMO dan TAC) juga bermasalah.
saya pernah posting di sini dan di sini, betapa urusan IMO dan TAC membuat operator pusing tujuh keliling.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Posts: 121
Threads: 0
Joined: Oct 2008
Reputation:
3
@om gege
Saya sependapat soal kebijakan makro transportasi negara kita yang sangat kompleks. Belum lagi hubungan dengan departemen lain yang bisa jadi mempunyai kebijakan yang bertolak belakang. Apalagi ditambah sifat KAI/KCJ sebagai monopoli dibidangnya.
Saya disini hanya menyoroti poin2 yang menurut saya itu adalah porsi KAI. Saya ambil contoh di bumn sebelah yang bergerak di oil n gas. Setiap tahun terjadi tawar menawar perihal peningkatan produksi migas. Dan tidak pernah ada target yang unrealistis. Peningkatan 50persen pun ndak sampai. Target challenging tetapi masih realistis, karena si bumn inilah yang mengerti kapasitas mereka sebagai produsen migas. Dan mereka bisa menyampaikan argumen mereka, dengan justifikasi yang jelas, kepada si regulator, dan dapat diterima. Terjadilah deal yang menguntungkan kedua belah pihak, target si bumn dan regulator tercapai semua.
Kenapa saya di post sebelumnya saya sampaikan mereka lebih ahli, karena merekalah yang mengerti jeroan KAI. Sy ambil poin di kapasitas angkut. Mereka kan yang paling mengerti berapa sih kemampuan ngkut fasilitas operasi mereka denagn berbagai kombinasi jadwalnya. Apa iya KAI/KCJ mempunyai daya angkut 300 persen dari jumlah penumpang sekarang seperti target yang diberikan. Kalau saya lihat kok ndak ya, karena saya sebagai penumpang melihat kondisi sekarang saja sudah tidak cukup. Kalau mereka melihat bahwa kapasitas penumpang yang dapat diangkut diakhir 2011 adalah 3kali lipat sekarang, berarti ndak ada dong atapers n gelantungers, krn berarti jumlah penumpang sekarang masih 1/3 dari target akhir tahun, iya ndak, berarti kereta lowong dong. Tapi kenyataannya ... ?
Harusnya kan KAI/KCJ mninjau ini dahulu, sebelum berkata 'iya' terhadap target yang diberikan.
Nah porsi KAI/KCJ ini yang bagi saya tidak dijalankan oleh si KAI/KCJ ini. Seperti contoh simple usulan dari krlmania perihal papan nama kereta yang sering salah (pakuan tertulis bekasi), shg penumpang bekasi terbawa sampai depok. Ini kan hal sangat simple. Kalau memang tidak ada dana untuk buat papan nama apalagi yang elektronik, ya copot saja papan namanya. Biar penumpang tahu itu kereta apa dari pengumuman stasiun. Kasarnya walau penumpang bingung, tapi tidak menjerumuskan.
Apa jawaban pak Mateta ketika perihal ini disampaikan...? 'saya ndak janji ada perubahan ... kita lihat saja nanti dilapangan' ... wajarkah jawaban seperti itu dari seseorang yang mewakili bumn yang berorientasi laba?
Yang anehnya, kalau memang kebijakan SO ini adalah untuk mencari penumpang sebanyak2nya (bukan laba, mengacu kepada pernyataan beliau juga' kenapa jadwal perjalanan krl secara total (terutama di peak hour) kok jadi menyusut ?
Seperti saya sebutkan sebelumnya, kalau memang mau naikkan tarif, bilang saja. Itu lebih fair seperti yang mas gege juga sampaikan.
Maaf ya om gege n lainnya,
Saya bukan mengajak berdebat, tetapi saya masih mencari jawabn, kenapa kok saya merasa seperti dibodohi n dibohongi oeh perusahaan yang saya 'sayang' sebagai pengguna jasanya n sebagai seorang RF ...
Hehee ...
Posts: 144
Threads: 0
Joined: Aug 2009
Reputation:
5
Kalo saya liat dengan posisi saat ini, bargaining power KCJ masih jauh lebih besar daripada kekuatan pemerintah, dan masyarakat. Saya gak yakin nanti 2 Juli 2011 KRL akan sepi. Tarif naik, dan KRL AC akan penuh seperti biasa. Dan itulah hebatnya manajemen KCJ, mereka sadar akan posisi dan kekuatan mereka. Ya memang ini karena KCJ (KAI) berdiri sendiri (monopoli). Selama belum ada pesaing langsung, ya merekalah yang akan menguasai kekuatan tawar menawar.
The only thing necessary for the triumph of evil is for good man to do nothing.
(Edmund Burke 1729-1797)
Posts: 275
Threads: 0
Joined: Oct 2010
Reputation:
7
18-06-2011, 08:19 AM
(This post was last modified: 20-06-2011, 08:45 AM by Gege.)
~Edited by Gege~
ADAKAN SEGERA REVOLUSI DI TUBUH PT KCJ!!
MENGORBANKAN RAKYAT HANYA DEMI KEPENTINGAN SEGELINTIR MANUSIA "TAK BERADAB"
DENGAN KEADAAN SEKARANG KAMI SUDAH SANGAT TERBEBANI, APALAGI NANTI.
KENAPA GA DIPAMPANG DI TIAP STASIUN DGN SPANDUK KONYOL BERGAMBAR "icon express" TM 05 & 7000 series : MULAI 2 JULI 2011 KRL COMMUTER LINE AKAN BERHENTI DI SETIAP STASIUN DENGAN "*PENAMBAHAN TARIF DAN PENGURANGAN JADWAL"
(SEHARUSNYA PENGURANGAN TARIF DAN PENAMBAHAN JADWAL)
*sesuai dgn keinginan direksi PT KEREta Commuter Jancuk
saya setuju2 saja jika tarif flat tsb sama sistemnya sperti "3500 sampe mabok" transjakarta. Jadi bisa transit tanpa beli karcis lagi.
rekan2, bagaimana kalau kita tekan pemerintah utk menyerahkan pengelolaan KRL dari tangan pihak KCJ kepada pihak swasta. Seperti di transjakarta, dimana ada PT trans batavia (TB), LORENA (LRN), PRIMAJASA (PP), JET, JTM.
jd PT. KCJ ga bisa seenak udelnya nerapin kebijakan aneh seperti ini.
~Edited by Gege~
KPK, COBA USUT TUNTAS, ADA BAU BUSUK DI TUBUH PT KCJ. KALIAN JANGAN HANYA MEMBONGKAR KASUS NAJARUDIN. USUT PENGADAAN MA-60 MERPATI JG KRL MULAI DARI TH 2000.
SAYA YAKIN BANYAK YG BAKAL TERJERAT MASALAH [/B]
Quote:Noted by Gege :
Umpatan, cacian dan provokasi tidak akan menyelesaikan masalah, USAHAKAN BERKOMENTAR YANG BERADAB!!!
Trims.
|