Kembali lagi dengan laporan perjalanan saya menggunakan Kereta Api Argo Parahyangan, kali ini menggunakan KA 21, keberangkatan 06:30 dari Stasiun Bandung. Kali ini, saya melakukan perjalanan bersama rekan-rekan saya untuk pertama kalinya.
Sebenarnya, dalam perjalanan kami ke Jakarta ini, awalnya kami berencana untuk naik travel pada perjalanan menuju Jakarta dan naik kereta pada saat perjalanan kembali ke Bandung, menggunakan KA 26 (16:15 dari Gambir) agar tidak kemalaman tiba di Bandung (19:27). Namun, pada akhirnya kami sepakat untuk naik kereta pada perjalanan ke Jakarta karena waktu keberangkatannya berdekatan dengan jadwal travel menuju Mangga Dua (kereta 06:30 dan travel dari BTC 06:45, estimasi waktu perjalanan sama-sama 3 jam – ini menurut orang dari travelnya saat kami mencoba mencari tahu), agar waktu keberangkatan kembali ke Bandung tidak terlalu cepat, bisa menggunakan travel jam 5 atau 6 sore. Selain itu, juga karena permintaan dari rekan-rekan saya, ada yang belum pernah mencoba kereta ke Jakarta tapi sudah pernah naik Argo Wilis ke Surabaya (berkebalikan dengan saya, sudah sering berkereta ke Jakarta namun ke arah timur belum pernah)…
Cukup sudah basa-basinya, berikut trip report-nya. Selamat menikmati!
Pukul 05:30, saya meninggalkan rumah di daerah Gunung Batu menggunakan taksi, agar tidak terlambat tiba di stasiun.
Pukul 05:50, saya tiba di Stasiun Bandung. Sesuai perjanjian kami sehari sebelumnya, siapa yang tiba terlebih dahulu agar membelikan tiket untuk kami berempat sehingga tidak kehabisan tiket untuk pemberangkatan pagi itu, jam 06:30. Saya pun langsung meluncur ke loket KA Argo Parahyangan. Ternyata, salah satu dari teman saya baru saja tiba dan berdialog dengan petugas loket saat saya tiba disitu. Kami pun memutuskan untuk memesan 4 kursi yang saling berhadapan, dengan tujuan lebih mudah untuk bercakap-cakap. Hasilnya, kami mendapatkan tempat di gerbong Eksekutif 3, seat 7-8 C-D.
Mengetahui bahwa kami mendapatkan tempat di Eksekutif 3, saya pun penasaran apakah kami akan mendapatkan tempat di gerbong bernomor seri K1 0 02 14 (ex. K1-02527) BD, yang juga dikenal sebagai “Rahayu Neng Bawonoâ€Â, gerbong bermotif Batik pertama di Indonesia…
Ketika kami sedang membeli tiket, terdengar pengumuman bahwa dari arah timur masuk KA Kahuripan dari Kediri di jalur 4, sekitar pukul 05:55. Tiga menit berselang, kereta kembali diberangkatkan menuju tujuan akhir, Stasiun Padalarang.
Singkat kata, jam 06:00 kami masuk ke ruang tunggu, karena teman saya ingin ke toilet. Saya pun mencoba menghubungi rekan-rekan seperjalanan saya agar menelepon saya setiba mereka di stasiun, agar saya atau rekan saya bisa ke pintu masuk dan melapor kepada petugas pemeriksa karcis bahwa kedua orang yang baru datang itu adalah rekan-rekan kami.
Tak lama, terdengar pengumuman bersamaan bahwa segera akan masuk, dari arah berlawanan, KA Lodaya Malam dan KA Ekspres Harina, masing-masing dari Solo-Balapan (timur) dan Semarang-Tawang. Saya pun menitipkan barang-barang bawaan kepada rekan saya, setelah dia kembali dari toilet, dan bergegas ke peron jalur 3 dan 4 untuk merekam kedatangan KA Lodaya yang masuk jalur 2.
Tepat pukul 06:06, KA Lodaya Malam tiba di pemberhentian akhir, Stasiun Bandung. Yang cukup unik dalam perjalanan hari itu, KA Lodaya bukannya ditarik CC 203 atau 204 milik Dipo Induk Lokomotif Bandung, tetapi menggunakan CC 204 24 a.k.a. CC 204 11 02 milik Dipo Induk Lokomotif Sidotopo.
Entah apa sebabnya, karena jumlah gerbong yang dibawa hanya berjumlah 9 gerbong, terdiri dari (mulai dari belakang lokomotif) 1 gerbong restorasi kelas Bisnis sebagai gerbong aling-aling depan, 3 gerbong kelas Bisnis, gerbong restorasi kelas Bisnis yang beroperasi normal, 3 gerbong kelas Eksekutif reguler, dan 1 gerbong kelas Bisnis sebagai gerbong aling-aling belakang. Seharusnya, dengan 9 gerbong, KA Lodaya cukup ditarik sebuah CC 203.
Selidik punya selidik, dapet info di thread-nya Lodaya, KA ini memang sudah lama meminjam CC 204 11 02…
![[Image: 5861975871_f85f0bdbde_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5035/5861975871_f85f0bdbde_b.jpg)
06192011334 copy oleh sM!Le_221193, di Flickr
Video menyusul…
Tidak berselang lama, masuk di jalur 6 KA Ekspres Harina dari Semarang ditarik CC 201 39 a.k.a. CC 201 83 01, namun saya tidak sempat merekam detik-detik kedatangan kereta ini, juga memperhatikan formasi lengkapnya.
Setiba saya di ruang tunggu, lokomotif bernomor lambung CC 203 06 keluar dari dipo. Saya pun menebak, pasti lokomotif ini yang akan berdinas KA 21 yang akan saya tumpangi. Saya pun mencoba memotret lokomotif tersebut dari ruang tunggu. Ternyata, di belakang lokomotif berdiri seorang fotografer yang juga memotret lokomotif tersebut. Apakah seseorang diantara para pembaca trip report saya mengenali, atau bahkan dialah orang yang terdapat dalam foto saya ini?
![[Image: 5862556042_51bfda8f76_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5066/5862556042_51bfda8f76_b.jpg)
IMG_4966 copy oleh sM!Le_221193, di Flickr
Tak lama berselang, akhirnya yang saya tunggu-tunggu pun datang juga. Dialah lokomotif yang menarik KA Ekspres Harina, CC 201 39 milik Dipo Induk Lokomotif Yogyakarta. Kenapa KA Harina juga seperti KA Lodaya, tidak menggunakan lokomotif dari dipo asalnya (Harina biasanya ditarik CC 201 atau 203 milik Dipo Induk Lokomotif Semarang-Poncol)?
![[Image: 5862556734_0052165409_b.jpg]](http://farm4.static.flickr.com/3255/5862556734_0052165409_b.jpg)
IMG_4968 copy oleh sM!Le_221193, di Flickr
Setelah CC 201 39 dipotret, saya pun meminta tolong rekan saya untuk memotret saya berdiri dekat nameplate Stasiun Bandung +709. Hasilnya…
![[Image: 5862005507_45cb239c11_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5104/5862005507_45cb239c11_b.jpg)
IMG_4970 copy oleh sM!Le_221193, di Flickr
Bersambung ke part 2…
Sebenarnya, dalam perjalanan kami ke Jakarta ini, awalnya kami berencana untuk naik travel pada perjalanan menuju Jakarta dan naik kereta pada saat perjalanan kembali ke Bandung, menggunakan KA 26 (16:15 dari Gambir) agar tidak kemalaman tiba di Bandung (19:27). Namun, pada akhirnya kami sepakat untuk naik kereta pada perjalanan ke Jakarta karena waktu keberangkatannya berdekatan dengan jadwal travel menuju Mangga Dua (kereta 06:30 dan travel dari BTC 06:45, estimasi waktu perjalanan sama-sama 3 jam – ini menurut orang dari travelnya saat kami mencoba mencari tahu), agar waktu keberangkatan kembali ke Bandung tidak terlalu cepat, bisa menggunakan travel jam 5 atau 6 sore. Selain itu, juga karena permintaan dari rekan-rekan saya, ada yang belum pernah mencoba kereta ke Jakarta tapi sudah pernah naik Argo Wilis ke Surabaya (berkebalikan dengan saya, sudah sering berkereta ke Jakarta namun ke arah timur belum pernah)…
Cukup sudah basa-basinya, berikut trip report-nya. Selamat menikmati!
Pukul 05:30, saya meninggalkan rumah di daerah Gunung Batu menggunakan taksi, agar tidak terlambat tiba di stasiun.
Pukul 05:50, saya tiba di Stasiun Bandung. Sesuai perjanjian kami sehari sebelumnya, siapa yang tiba terlebih dahulu agar membelikan tiket untuk kami berempat sehingga tidak kehabisan tiket untuk pemberangkatan pagi itu, jam 06:30. Saya pun langsung meluncur ke loket KA Argo Parahyangan. Ternyata, salah satu dari teman saya baru saja tiba dan berdialog dengan petugas loket saat saya tiba disitu. Kami pun memutuskan untuk memesan 4 kursi yang saling berhadapan, dengan tujuan lebih mudah untuk bercakap-cakap. Hasilnya, kami mendapatkan tempat di gerbong Eksekutif 3, seat 7-8 C-D.
Mengetahui bahwa kami mendapatkan tempat di Eksekutif 3, saya pun penasaran apakah kami akan mendapatkan tempat di gerbong bernomor seri K1 0 02 14 (ex. K1-02527) BD, yang juga dikenal sebagai “Rahayu Neng Bawonoâ€Â, gerbong bermotif Batik pertama di Indonesia…
Ketika kami sedang membeli tiket, terdengar pengumuman bahwa dari arah timur masuk KA Kahuripan dari Kediri di jalur 4, sekitar pukul 05:55. Tiga menit berselang, kereta kembali diberangkatkan menuju tujuan akhir, Stasiun Padalarang.
Singkat kata, jam 06:00 kami masuk ke ruang tunggu, karena teman saya ingin ke toilet. Saya pun mencoba menghubungi rekan-rekan seperjalanan saya agar menelepon saya setiba mereka di stasiun, agar saya atau rekan saya bisa ke pintu masuk dan melapor kepada petugas pemeriksa karcis bahwa kedua orang yang baru datang itu adalah rekan-rekan kami.
Tak lama, terdengar pengumuman bersamaan bahwa segera akan masuk, dari arah berlawanan, KA Lodaya Malam dan KA Ekspres Harina, masing-masing dari Solo-Balapan (timur) dan Semarang-Tawang. Saya pun menitipkan barang-barang bawaan kepada rekan saya, setelah dia kembali dari toilet, dan bergegas ke peron jalur 3 dan 4 untuk merekam kedatangan KA Lodaya yang masuk jalur 2.
Tepat pukul 06:06, KA Lodaya Malam tiba di pemberhentian akhir, Stasiun Bandung. Yang cukup unik dalam perjalanan hari itu, KA Lodaya bukannya ditarik CC 203 atau 204 milik Dipo Induk Lokomotif Bandung, tetapi menggunakan CC 204 24 a.k.a. CC 204 11 02 milik Dipo Induk Lokomotif Sidotopo.
Entah apa sebabnya, karena jumlah gerbong yang dibawa hanya berjumlah 9 gerbong, terdiri dari (mulai dari belakang lokomotif) 1 gerbong restorasi kelas Bisnis sebagai gerbong aling-aling depan, 3 gerbong kelas Bisnis, gerbong restorasi kelas Bisnis yang beroperasi normal, 3 gerbong kelas Eksekutif reguler, dan 1 gerbong kelas Bisnis sebagai gerbong aling-aling belakang. Seharusnya, dengan 9 gerbong, KA Lodaya cukup ditarik sebuah CC 203.
Selidik punya selidik, dapet info di thread-nya Lodaya, KA ini memang sudah lama meminjam CC 204 11 02…
![[Image: 5861975871_f85f0bdbde_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5035/5861975871_f85f0bdbde_b.jpg)
06192011334 copy oleh sM!Le_221193, di Flickr
Video menyusul…
Tidak berselang lama, masuk di jalur 6 KA Ekspres Harina dari Semarang ditarik CC 201 39 a.k.a. CC 201 83 01, namun saya tidak sempat merekam detik-detik kedatangan kereta ini, juga memperhatikan formasi lengkapnya.
Setiba saya di ruang tunggu, lokomotif bernomor lambung CC 203 06 keluar dari dipo. Saya pun menebak, pasti lokomotif ini yang akan berdinas KA 21 yang akan saya tumpangi. Saya pun mencoba memotret lokomotif tersebut dari ruang tunggu. Ternyata, di belakang lokomotif berdiri seorang fotografer yang juga memotret lokomotif tersebut. Apakah seseorang diantara para pembaca trip report saya mengenali, atau bahkan dialah orang yang terdapat dalam foto saya ini?
![[Image: 5862556042_51bfda8f76_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5066/5862556042_51bfda8f76_b.jpg)
IMG_4966 copy oleh sM!Le_221193, di Flickr
Tak lama berselang, akhirnya yang saya tunggu-tunggu pun datang juga. Dialah lokomotif yang menarik KA Ekspres Harina, CC 201 39 milik Dipo Induk Lokomotif Yogyakarta. Kenapa KA Harina juga seperti KA Lodaya, tidak menggunakan lokomotif dari dipo asalnya (Harina biasanya ditarik CC 201 atau 203 milik Dipo Induk Lokomotif Semarang-Poncol)?
![[Image: 5862556734_0052165409_b.jpg]](http://farm4.static.flickr.com/3255/5862556734_0052165409_b.jpg)
IMG_4968 copy oleh sM!Le_221193, di Flickr
Setelah CC 201 39 dipotret, saya pun meminta tolong rekan saya untuk memotret saya berdiri dekat nameplate Stasiun Bandung +709. Hasilnya…
![[Image: 5862005507_45cb239c11_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5104/5862005507_45cb239c11_b.jpg)
IMG_4970 copy oleh sM!Le_221193, di Flickr
Bersambung ke part 2…



![[Image: 5862558162_0bde4a1f9a_b.jpg]](http://farm4.static.flickr.com/3262/5862558162_0bde4a1f9a_b.jpg)
![[Image: 5862006833_498e89fd45_b.jpg]](http://farm3.static.flickr.com/2699/5862006833_498e89fd45_b.jpg)
![[Image: 5862007235_4721ac7a8e_b.jpg]](http://farm4.static.flickr.com/3123/5862007235_4721ac7a8e_b.jpg)
![[Image: 5862059023_e24b463362_b.jpg]](http://farm3.static.flickr.com/2736/5862059023_e24b463362_b.jpg)
…
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
![[Image: 5862610988_bc2a81c96a_b.jpg]](http://farm3.static.flickr.com/2734/5862610988_bc2a81c96a_b.jpg)
![[Image: 5862611352_12efffb091_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5158/5862611352_12efffb091_b.jpg)
![[Image: 5862060273_f494f6bf0d_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5310/5862060273_f494f6bf0d_b.jpg)
![[Image: 5862612316_c8a551bf2e_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5143/5862612316_c8a551bf2e_b.jpg)
![[Image: 5862612846_cf37226c59_b.jpg]](http://farm3.static.flickr.com/2733/5862612846_cf37226c59_b.jpg)
![[Image: 5862724316_1d593d8ef4_b.jpg]](http://farm4.static.flickr.com/3162/5862724316_1d593d8ef4_b.jpg)
![[Image: 5862173583_ded449bc0d_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5224/5862173583_ded449bc0d_b.jpg)
![[Image: 5862174071_77ee3d1250_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5263/5862174071_77ee3d1250_b.jpg)
![[Image: 5862725836_a331e4d6ec_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5198/5862725836_a331e4d6ec_b.jpg)
![[Image: 5862726346_4064e17b3c_b.jpg]](http://farm4.static.flickr.com/3093/5862726346_4064e17b3c_b.jpg)
![[Image: 5862175467_2e2c47cc27_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5103/5862175467_2e2c47cc27_b.jpg)
![[Image: 5862727132_02697b439b_b.jpg]](http://farm4.static.flickr.com/3245/5862727132_02697b439b_b.jpg)
![[Image: 5862727518_c6e3b27ec5_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5224/5862727518_c6e3b27ec5_b.jpg)
![[Image: 5862728130_13380d41b0_b.jpg]](http://farm6.static.flickr.com/5073/5862728130_13380d41b0_b.jpg)
