Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Jalur Lama St. Zuid Batavia-St. Angke
#1
Sesuai Peta Batavia sebelum 1920, Dahulu di Kawasan Jakarta Kota memiliki 2 buah Stasiun Kereta Api, Yakni St. Noord Batavia yang dimiliki N.I.S (letaknya di selatan Gedung Musium Sejarah Jakarta) dan St. Zuid Batavia milik SS yg dulu nya milik B.O.S (Stasiun beos sekarang yg mana sebabnya stasiun ini dikenal orang dengan stasiun Beos). Kedua stasiun tersebut bertipe terminus (sepur badug).

Dari St. Zuid Batavia menuju Angke : diawali gerakan langsir menuju timur terlebih dahulu lalu ke barat di sisi selatan stasiun terus munuju jl. Asemka sekarang, pasar pagi, kampung pekojan lalu berbelok ke selatan menuju St. Angke.

Jadi jalur yang sekarang Kampung Bandan, atas Jl. Tongkol dan berbelok ke selatan menuju St. Angke, belum ada.

Sisa2 jalur lama ini sudah tak berbekas.

Peta Batavia 1920 tersebut saya komparasi dengan peta dari google earth, mohon koreksi dan bila sudah ada yang meng thread ini dengan hasil diskusi yang lebih terang dan jelas mohon abaikan thread saya ini. Terima kasih atas perhatiannya. Salam [/size]
Reply
#2
Masih bisa dideteksi gak ya bekas bangunan St.Zuid Batavia ini jadi apa kira-kira sekarang?
BOBOTOH PERSIB
Reply
#3
Dear Titotea, Bekas St. Zuid Batavia menjadi St. Jakarta Kota sekarang atau orang menyebutnya St. Beos (karena sebelumnya dimiliki perusahaan Kereta api B-OS (Bataviasche Ooster Spoormaatschapij).
Bekas Jalur St. Zuid Batavia - St. Angke sudah sulit ditelusuri karena sudah banyak rumah penduduk terutama di wilayah Kp. Tambora. Trims Ya..
Reply
#4
Saya baru liat tadi siang dari PSE , ada arah ke rel lain sebelum masuk st Angke . Apakah itu jalurnya om ?
[spoiler]
[Image: 15052012060.jpg] [/spoiler]
Reply
#5
(03-05-2012, 10:23 PM)Disa Poeang Wrote: Dear Titotea, Bekas St. Zuid Batavia menjadi St. Jakarta Kota sekarang atau orang menyebutnya St. Beos (karena sebelumnya dimiliki perusahaan Kereta api B-OS (Bataviasche Ooster Spoormaatschapij).
Bekas Jalur St. Zuid Batavia - St. Angke sudah sulit ditelusuri karena sudah banyak rumah penduduk terutama di wilayah Kp. Tambora. Trims Ya..

Untuk Tasiyun BEOS silahkan ke THREAD INI.

Back to topic
Ada pics penelusuran mungkin?

Note : Thread saya langsir ke Sub Forum Mblusukan
Trims.

[Image: spammingsj0.gif]
Reply
#6
(03-05-2012, 10:23 PM)Disa Poeang Wrote: Dear Titotea, Bekas St. Zuid Batavia menjadi St. Jakarta Kota sekarang atau orang menyebutnya St. Beos (karena sebelumnya dimiliki perusahaan Kereta api B-OS (Bataviasche Ooster Spoormaatschapij).
Bekas Jalur St. Zuid Batavia - St. Angke sudah sulit ditelusuri karena sudah banyak rumah penduduk terutama di wilayah Kp. Tambora. Trims Ya..

bisa di posting mas peta 1920 Zuid Batavia

kalo sta Batavia Noord itu yang sekarang jadi Gedung BNI46 persis di sebelah st JAKK sisa bekas satu jembatannya masih bisa dilihat sekarang ..

artikel terkait
Quote:Menggali Jejak Stasiun Batavia Noord dan Batavia Zuid

DALAM sejarah perkeretaapian di Indonesia, pembangunan jalur kereta api di Jakarta baru dimulai tahun 1870. Jalur pertama yang dibikin Nederlandsche Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) ini menghubungkan Kleine Boom di Pelabuhan Sunda Kelapa ke Koningsplein (Gambir). Di tahun 1873, NISM membuka jalur Batavia ke Buitenzorg (Bogor). Di Batavia, stasiun pusat kala itu adalah Station Batavia. Stasiun inilah yang kemudian dikenal sebagai Batavia Noord (Batavia Utara) dan letaknya kini ada di sekitar gedung BNI 46 Jakarta Kota.

Selain jalur Batavia-Buitenzorg, perusahaan Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (BOSM) juga membuka jalur baru yang mengantarkan penduduk dari Batavia ke Bekassie, Caravam (Karawang), bahkan hingga ke Bandung. Stasiun milik BOSM itu kemudian diperkirakan menjadi alasan mengapa nama Beos muncul. Meski ada alasan lain yang mungkin lebih tepat yaitu bahwa jalur ini disebut sebagai jalur yang melayani Batavia En Omstreken – BEOs (Batavia dan sekitarnya). Stasiun ini dikenal juga dengan nama Batavia Zuid (Batavia Selatan).

Pada tahun 1913 jalur Batavia-Buitenzorg dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh perusahaan kereta api negara (Staatsspoorwegen- SS). Batavia Zuid malah sudah menjual jalurnya kepada SS pada 1898 hingga ditutup sekaligus dibongkar pada sekitar 1926 untuk kemudian menjadi stasiun utama bernama Station Batavia Benedenstad (pada 8 Oktober 1929) atau kini menjadi Stasiun Jakarta Kota. Meski demikian, nama Beos masih juga melekat pada stasiun tersebut. Sementara itu, pada tahun 1929, Station Batavia Noord berhenti beroperasi dan kemudian bangunannya dibongkar.

Untuk merayakan 80 tahun Stasiun Jakarta Kota bikinan arsitek FJL Ghijsels itu, maka pada Minggu 8 November mendatang PT KA bersama Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) dan Sahabat Museum akan menggelar acara Plesiran Tempo Doeloe di Stasiun BEOS (Stasiun Jakarta Kota). Acara dimulai pukul 07.30 dan peserta dikenai biaya Rp 75.000/orang. Pendaftaran dilakukan ke Sahabat Museum via email ke adep@cbn.net.id.

“Kita akan jalan kaki menelusuri jejak bekas Station Batavia Zuid dan Batavia Noord. Jadi kita akan jalan ke belakang gedung BNI 46, ke halaman belakang Museum Sejarah Jakarta sampai ke Kantor Pajak. Bekas rel masih ada yang kelihatan, tapi sudah banyak yang hilang karena di sana kan jadi permukian padat,” jelas Ade Purnama, Ketua Sahabat Museum.

Selain IRPS, acara ini juga akan diisi oleh penampilan ludruk yang mengangkat tema Pelancong Djadoel, penjelasan Stasiun Jakarta Kota dari sisi arsitektur oleh Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), serta film dokumenter tentang kereta api di tahun 1929.

Seperti pernah ditulis sebelumnya, Johan Louwrens (FJL) Ghijsels adalah arsitek Belanda yang bangunannya banyak yang masih tegak berdiri di tanah bekas Batavia ini. Selain Stasiun BEOS, di Kalibesar, anak Belanda kelahiran Tulung Agung, Jawa Timur, itu menorehkan karya dalam bentuk Kantor John Peet & Co yang sekarang jadi PT Toshiba dan gedung Kantor Maintz & Co yang sekarang PT Samudera Indonesia.

Di Jalan Kunir, di tempat yang kini tertutup pagar seng dan sepertinya dibiarkan tak terpakai, bisa Anda intip ada bangunan megah di dalamnya. Itu adalah bekas gedung Geo Wehry & Co. Gedung Geo Wehry yang didesain Ghijsels juga masih berdiri di Kota Lama Padang, Sumatra Barat. Hanya saja kondisinya jauh lebih buruk dari gedung Geo Wehry di Jalan Kunir, Jakarta Barat. Bangunan lain yang juga populer dan masih digunakan adalah RS Pelni Petamburan, Jakarta Pusat, yang dulunya adalah Rumah Sakit KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij). Gedung KPM lain ada di Jalan Medan Merdeka Selatan, kini menjadi Kantor Departemen Perhubungan Laut, Gereja Katolik Meester Cornelis (Gereja Katolik St Yoseph di Matraman, Jakarta Timur), dan Gereja Protestan Paulus di Menteng.

Ghijsels memang tak bekerja sendirian. Ia tergabung dalam Algemeen Ingenieur Architectenbureau atau Algemeen Ingenieur Architecten (AIA) - sebuah biro umum sipil dan arsitektur yang didirikan pada tahun 1916.
http://www1.kompas.com/readkotatua/xml/2...tavia.zuid


[Image: stadhuisv.jpg]
koleksi jepretan ane
http://www.flickr.com/photos/jhon_ipenk/


[Image: meshoostggyt-1.jpg]
me whit ss-2v5 PInDAD
Reply
#7
(03-05-2012, 10:42 PM)Bimantara Wrote: Saya baru liat tadi siang dari PSE , ada arah ke rel lain sebelum masuk st Angke . Apakah itu jalurnya om ?

Bila ada di posisi sebelah utara St. Angke, kemungkinan betul adalah jalur lama St. Angke - St. Zuid Batavia melalui perkampungan Tambora sekarang. Memang alangkah baiknya kita mblusukan sesuai data yg ada tentunya. trims

(04-05-2012, 08:37 AM)Gege Wrote:
(03-05-2012, 10:23 PM)Disa Poeang Wrote: Dear Titotea, Bekas St. Zuid Batavia menjadi St. Jakarta Kota sekarang atau orang menyebutnya St. Beos (karena sebelumnya dimiliki perusahaan Kereta api B-OS (Bataviasche Ooster Spoormaatschapij).
Bekas Jalur St. Zuid Batavia - St. Angke sudah sulit ditelusuri karena sudah banyak rumah penduduk terutama di wilayah Kp. Tambora. Trims Ya..

Untuk Tasiyun BEOS silahkan ke THREAD INI.

Back to topic
Ada pics penelusuran mungkin?

Note : Thread saya langsir ke Sub Forum Mblusukan
Trims.

Iya Gak pa pa mas, malah lebih fokus ya... kalo di mblusukan, cara posting peta Batavia yg berkenaan dgn ini gimana caranya... maklum gaptek, trims ya..
Reply
#8
saya baru tahu kalau dari beos ke angke harus mundur dulu, lalu maju kearah asemka. saya pikir dulu relnya persis kayak di tanjung priok yang berada persis disisi stasiun. jadi kereta tidak perlu mundur tapi langsung saja lewat peron sayap sebelah selatan kearah angke.

info yang menarik.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#9
(05-05-2012, 07:31 AM)ady_mcady Wrote: saya baru tahu kalau dari beos ke angke harus mundur dulu, lalu maju kearah asemka. saya pikir dulu relnya persis kayak di tanjung priok yang berada persis disisi stasiun. jadi kereta tidak perlu mundur tapi langsung saja lewat peron sayap sebelah selatan kearah angke.

info yang menarik.

Menurut Saya St. Beos setelah di akwisisi oleh SS membuat jalur menuju angke dengan kondisi jalur seperti yg sudah Saya terangkan di atas. Karena sebelumnya sewaktu St. Beos masih milik B-OS, belum ada jalur menuju St. Angke (berdasarkan Peta Batavia 1897). Jalur St. Beos - St. Angke melewati sisi sebelah utara (melalui Kp. Bandan dst) Saya yakini dibuat setelah pembangunan St. Beos yg baru sekitar 1928, sehingga jalur St. Beos - St. Angke melewati Asemka dst di bongkar. Inipun Saya yakini untuk penataan kota yg lebih baik. Trims

berikut saya lampirkan gambar peta batavia 1912, perhatikan ada dua stasiun Noord Batavia (NIS) dan Zuid Batavia (SS). Dari St. Zuid Batavia (SS) menuju St. Angke (ke arah barat) perhatikan jalur relnya. Demikian trims.

http://www.flickr.com/photos/79816625@N05/7001089206/
Reply
#10
Thread ini menarik juga, jika dibayangkan banyak juga rahasia sejarah Kereta api di ibukota. jadi tertarik mblusuk nih...,
" Pecinta Rangkas jaya "
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)