Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
K3 AC lintas Barat Daop 1 [KA KALIMAYA]
#41
(28-10-2012, 02:57 AM)Phoenix Wrote: wah 40rb ya Bingung
agak berat juga nih, jadi kuatir bakal lenyap nih kereta karena okup rendah... soalnya bis pun tarifnya lebih murah Sedih

tapi ane kurang tau juga sih perkembangan kota Serang gimana sekarang...

Kalo pendapatan Daop 1 banyak dipengaruhi KA Barang saya pikir keberadaan KA baru ini nggak akan cuma seumur jagung. Bisa saja subsidi silang antar KA barang ke KA penumpang, kan sama2 KA komersial.



(28-10-2012, 11:48 AM)Warteg Wrote: Stasiun Maja gak berhenti ??BingungHeran

KA Patas AC ini, Kang.... jd nggak berhenti di semua stasiun.



(28-10-2012, 04:35 PM)dany cristian Wrote:
(28-10-2012, 08:05 AM)sego_pecel_madiun Wrote: itu sejenis batu permata aseli dari Banten dan yang terbaik di duniagitu,makanya nama KA nya disesuaikan dengan produk lokal tersohor. bisa dicek disiniKalimaya
Kemarin pergi Ke Serpong naik Odong2 Rangkas disusul ama Kalimaya di sta.Sudimara yang arah ke Serang, di tiap gerbong ada stiker gede NON PSO.
Ngakak
Wkwkwkwkwkwkwkwk........
emank masyarakat luas dah pada ngerti arti dari kata-kata yang di bold itu yak?

Nanti kalo diedukasi pelan2 jg akan memahami artinya koq, Kang.... Masyarakat luas jg awalnya nggak ngerti artinya "Ciyuuuuss.... miyapaaaa.....", tapi sekarang dah banyak yg tahu jg.... :p
Reply
#42
assalamualaikum,

akhirnya Daops 1 Jakarta wilayah Banten punya KRDE yang layak ^^, setidaknya permintaan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah agar Pengelola Angkutan Kereta mengaktifkan kembali jalur Banten hingga ke Bayah diberi lampu hijau dengan adanya Kalimaya

ya semoga-moga bener-bener ke Banten Selatan bisa dengan Kereta, kalau dengan mobil haduh... gak ke bayang waktu saya ke Lebak dulu...

nb : Okupansi sampai hari ini gmana ni? mungkin gak di Panjangin sampai Sta. Labuan ahaaa<<< ngayal!
Terimakasih telah Melestarikan Peninggalan Sejarah qta
Reply
#43
dengan adanya KA ini, apakah menghapus keberadaan banten Ekspress????

[Image: 30dl4ie.jpg]
Reply
#44
Saya penasaran deh, tarif untuk Ekonomi AC non-Subsidi gitu ngitungnya gimana sih ? Tiba-tiba muncul aja harga 30000 - 40000. Tarif perorang sebenarnya berapa serta keuntungan yang diambil juga berapa. Kalo ada beberapa pendekatan yang dipakai, seperti BBM Lokomotif, BBM generator, biaya akses track, biaya masinis, biaya perawatan, serta sewa dan lain2.
Misal nih kasarannya, saya ambil rute Tanah Abang - Rangkasbitung dengan kreta rangkas jaya tiket 4000 , jarak 70 km, konsumsi BBM Lokomotif 3 liter / km, harga pake 2 jenis yang Subsidi 4500 dan Non - Subsidi sekitar 10000. Berarti untuk lokomotif sendiri sudah membutuhkan duit 945000 pake Solar subsidi dan 2100000 pake Non Subsidi. Kita anggap kreta Rangkas Jaya full okupasi jadi 106 x 12 x 4000 jadi total ada 5088000 pemasukan yang didapat, jelas memakai solar baik subsidi maupun non masih ada income.

Statement diatas itu cuma perhitungan kasar, perhitungan rumitnya ada, tapi saya tidak terlalu tahu. Untuk KA Kalimaya, kalo kreta ini full penumpang pendapatan yang masuk sebesar 106 x 8 x 30000 dengan total 25 juta, tapi kita tidak mengetahui berapa penumpang yang diberangkatan tiap harinya bisa aja kurang dari segitu, kalo yang diberangkatkan hanya sekitar 80 org jelas rugi kalo kereta memakai BBM Non Subsidi.
Reply
#45
(29-10-2012, 11:22 AM)bramoy Wrote: Saya penasaran deh, tarif untuk Ekonomi AC non-Subsidi gitu ngitungnya gimana sih ? Tiba-tiba muncul aja harga 30000 - 40000. Tarif perorang sebenarnya berapa serta keuntungan yang diambil juga berapa. Kalo ada beberapa pendekatan yang dipakai, seperti BBM Lokomotif, BBM generator, biaya akses track, biaya masinis, biaya perawatan, serta sewa dan lain2.
Misal nih kasarannya, saya ambil rute Tanah Abang - Rangkasbitung dengan kreta rangkas jaya tiket 4000 , jarak 70 km, konsumsi BBM Lokomotif 3 liter / km, harga pake 2 jenis yang Subsidi 4500 dan Non - Subsidi sekitar 10000. Berarti untuk lokomotif sendiri sudah membutuhkan duit 945000 pake Solar subsidi dan 2100000 pake Non Subsidi. Kita anggap kreta Rangkas Jaya full okupasi jadi 106 x 12 x 4000 jadi total ada 5088000 pemasukan yang didapat, jelas memakai solar baik subsidi maupun non masih ada income.

Statement diatas itu cuma perhitungan kasar, perhitungan rumitnya ada, tapi saya tidak terlalu tahu. Untuk KA Kalimaya, kalo kreta ini full penumpang pendapatan yang masuk sebesar 106 x 8 x 30000 dengan total 25 juta, tapi kita tidak mengetahui berapa penumpang yang diberangkatan tiap harinya bisa aja kurang dari segitu, kalo yang diberangkatkan hanya sekitar 80 org jelas rugi kalo kereta memakai BBM Non Subsidi.

Kalo saya malah yg jd pertanyaan mendasar adalah berapa sich tarif KA semacam Raja & Banten Ekspress kalo nggak disubsidi....? Kalo kita dah tau harga produksi 2 KA itu kan paling nggak bs menganalisa perbedaan harga ketika ada produk baru (misal K3 dikasih AC, trus ada lagi K3 dikasih AC & LCD). Kira2 begitu.
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe


[Image: 10p0h7r.jpg]





Reply
#46
(29-10-2012, 10:04 AM)reynan Wrote: assalamualaikum,

akhirnya Daops 1 Jakarta wilayah Banten punya KRDE yang layak ^^, setidaknya permintaan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah agar Pengelola Angkutan Kereta mengaktifkan kembali jalur Banten hingga ke Bayah diberi lampu hijau dengan adanya Kalimaya

ya semoga-moga bener-bener ke Banten Selatan bisa dengan Kereta, kalau dengan mobil haduh... gak ke bayang waktu saya ke Lebak dulu...

nb : Okupansi sampai hari ini gmana ni? mungkin gak di Panjangin sampai Sta. Labuan ahaaa<<< ngayal!

Walaikumsalam..

Ini pakai K3 biasa kok yg ditambahin AC.
Jd bukan pakai KRDE.
Xie Xie
Reply
#47
(29-10-2012, 10:04 AM)reynan Wrote: assalamualaikum,

akhirnya Daops 1 Jakarta wilayah Banten punya KRDE yang layak ^^, setidaknya permintaan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah agar Pengelola Angkutan Kereta mengaktifkan kembali jalur Banten hingga ke Bayah diberi lampu hijau dengan adanya Kalimaya

waalaikumsalam

saya benar2 baru tahu kalo Ratu Atut juga rekuest untuk penyediaan rute ke Bayah Heran

sebagai tambahan, jalur ke Bayah menurut saya sekarang kurang tepat kalo dikatakan "rencana aktivasi jalur", karena peninggalan2 rel jembatan dsb udah ludes blas blas blas, ane hunting ga nemu sebatang rel pun Bethe bahkan pondasi jembatan juga udah dibuat rumah. Satu2nya cara ya "membuat jalur baru" Ngeledek

Dan, jika harus "buat baru", yang terbaik ya potong jalur Sukabumi-pl ratu. susur pantai Jadi Malu...

sori OOT Eh iya lupa...


(29-10-2012, 11:22 AM)bramoy Wrote: Saya penasaran deh, tarif untuk Ekonomi AC non-Subsidi gitu ngitungnya gimana sih ? Tiba-tiba muncul aja harga 30000 - 40000. Tarif perorang sebenarnya berapa serta keuntungan yang diambil juga berapa. Kalo ada beberapa pendekatan yang dipakai, seperti BBM Lokomotif, BBM generator, biaya akses track, biaya masinis, biaya perawatan, serta sewa dan lain2.
Misal nih kasarannya, saya ambil rute Tanah Abang - Rangkasbitung dengan kreta rangkas jaya tiket 4000 , jarak 70 km, konsumsi BBM Lokomotif 3 liter / km, harga pake 2 jenis yang Subsidi 4500 dan Non - Subsidi sekitar 10000. Berarti untuk lokomotif sendiri sudah membutuhkan duit 945000 pake Solar subsidi dan 2100000 pake Non Subsidi. Kita anggap kreta Rangkas Jaya full okupasi jadi 106 x 12 x 4000 jadi total ada 5088000 pemasukan yang didapat, jelas memakai solar baik subsidi maupun non masih ada income.

Statement diatas itu cuma perhitungan kasar, perhitungan rumitnya ada, tapi saya tidak terlalu tahu. Untuk KA Kalimaya, kalo kreta ini full penumpang pendapatan yang masuk sebesar 106 x 8 x 30000 dengan total 25 juta, tapi kita tidak mengetahui berapa penumpang yang diberangkatan tiap harinya bisa aja kurang dari segitu, kalo yang diberangkatkan hanya sekitar 80 org jelas rugi kalo kereta memakai BBM Non Subsidi.

barangkali untuk KA Kalimaya ini, penerapan harga yang akan datang harus pertimbangin saingan dengan roda karet. Walaupun itu nantinya berimbas pada perhitungan keuntungan atau justru malah harus disubsidi.

ga bisa pake skema itung2an kereta ke timur, yang "harga non subsidi" nya bisa dibawah roda karet. Ini jalur barat ke Serang, hambatannya
1. lebih sepi
2. lebih pendek waktu tempuhnya (2 jam KA, bus paling 2-2.5 jam, no real difference), beda dengan arah timur yang perbedaan waktu tempuh KA dengan bus cukup signifikan
3. lebih mahal pula

padahal, yang lebih butuh KA model begini justru tujuan Sukabumi yang gemuk...luar biasa gemuk. Kalo ada yang sering lewat Ciawi-cicurug pasti tahu alasannya,,,,
sayang preman roda karetnya di jalur kendaraan SI lebih galak dari preman jalur ini Ngakak
semoga suatu saat kereta lintas Banyuwangi-Banda Aceh akan terwujud saat aku masih hidup Sedih
Reply
#48
Buat RF yang penasaran dengan penampakan KA Kalimaya,ini ada foto yang masih anget,update Ngiler diambil hari Ahad,28-10-2012 di ex Halte Pondok Betung
Selamat menikmati : KA Kalimaya
[spoiler]
[Image: 2012-10-28163612edit.jpg][/spoiler]
[spoiler]
[Image: 2012-10-28163615edit.jpg][/spoiler]
masih lanjut lagi nih
[spoiler]
[Image: 2012-10-28163618edit.jpg][/spoiler]
[spoiler]
[Image: 2012-10-28163621edit.jpg][/spoiler]
[spoiler]
[Image: 2012-10-28163626edit.jpg][/spoiler]

[Image: ea67c397-dedf-443b-a5c1-0408afb83bbf_zps4948e7b7.jpg]
Kalimaya heading to Merak via Pondok Ranji station
Reply
#49
(29-10-2012, 10:34 AM)samnawi Wrote: dengan adanya KA ini, apakah menghapus keberadaan banten Ekspress????
Kalau saya rasa sih nggak... Malah yang ada mungkin Banteks yang ngajar nih KA abis2an:
1. Banteks ama Kalimaya beda jauh, padahal sesama K3 (Yang 1 K3 beneran Kelas Rakyat (Masih PSO), yang 1-nya lagi udah K3AC Komersil (Yang tarifnya gak keruan mahalnya))...
2. Dan melihat keadaan para penglaju lintas barat tujuan RK, SRG, dan MRK yang sebagian besarnya menengah kebawah, tentu mereka maunya naik transportasi yang murah. Yang penting sampai. Makanya KRD PSE/JAKK-RK dan Banteks selalu keisi ampe level yang gak keruan... Kalau Kalimaya yang harganya gak keruan buat jarak sedekat itu (Ampe 3/4-nya K2 Gopar), tentu saja sebagian besar orang pasti akan setia ama Banteks dan KRD RK

(28-10-2012, 11:01 PM)dap_cc20320 Wrote: byk jg loh yg saran knp ga sampai merak??
kasian jg masyarakat ujung barat pulau jawa ini (banten) ga ad transportasi kereta yg bnr2 nyaman.
Iya sih... Ampe SRG nanggung banget. Masih ada lagi CLG, Krenceng, baru kemudian MRK. Meskipun memang seperti yang saya sebutin diatas sebagian besar Komuter arah Banten adalah menengah kebawah yang pilihannya adalah K3 "Rakyat", tapi memang beberapa orang ada yang menginginkan transportasi KA yang nyaman dan cepat. Selain itu juga, kemungkinan orang yang mau nyebrang ke Divre III Sumatera yang nggak make kendaraan juga pasti ada...

Kalau saya berfikirannya adalah bagaimana jika diandaikan Merak Jaya dengan K1 dan K3AC ada lagi, tapi pola operasi dan manajemennya dibenerin lagi. Hanya stop MRK, SRG, RK, SRP, THB, dan JAKK...

Jadi saran saya, kalaupun Kalimaya lahir, tapi jangan sampai Kakak-kakanya KRD RK dan Banteks malah dibantai ama PT Sepur nantinya (Yang jelas gak mungkin karena melihat Okupansi Banteks yang kita semua tahu bagaimana)... Nggak yakin saya Masyarakat yang tujuannya cuman RK, apalagi yang menengah kebawah mau naik kalau tarifnya semahal itu... Lagian kalau padatnya ampe selevel KRD RK ya ama aja boong, AC pasti gak kerasa.

Maaf jika ada yang kurang berkenan, ini cuman pendapat aja... Xie Xie

Ada yang tahu tarif Banteks dan KRD RK yang up to date? Saya ngeliat di Mas Wiki Banteks ampe Merak Cuman Rp 5.500!

Reply
#50
(29-10-2012, 11:22 AM)bramoy Wrote: Saya penasaran deh, tarif untuk Ekonomi AC non-Subsidi gitu ngitungnya gimana sih ? Tiba-tiba muncul aja harga 30000 - 40000. Tarif perorang sebenarnya berapa serta keuntungan yang diambil juga berapa. Kalo ada beberapa pendekatan yang dipakai, seperti BBM Lokomotif, BBM generator, biaya akses track, biaya masinis, biaya perawatan, serta sewa dan lain2.
Misal nih kasarannya, saya ambil rute Tanah Abang - Rangkasbitung dengan kreta rangkas jaya tiket 4000 , jarak 70 km, konsumsi BBM Lokomotif 3 liter / km, harga pake 2 jenis yang Subsidi 4500 dan Non - Subsidi sekitar 10000. Berarti untuk lokomotif sendiri sudah membutuhkan duit 945000 pake Solar subsidi dan 2100000 pake Non Subsidi. Kita anggap kreta Rangkas Jaya full okupasi jadi 106 x 12 x 4000 jadi total ada 5088000 pemasukan yang didapat, jelas memakai solar baik subsidi maupun non masih ada income.

Statement diatas itu cuma perhitungan kasar, perhitungan rumitnya ada, tapi saya tidak terlalu tahu. Untuk KA Kalimaya, kalo kreta ini full penumpang pendapatan yang masuk sebesar 106 x 8 x 30000 dengan total 25 juta, tapi kita tidak mengetahui berapa penumpang yang diberangkatan tiap harinya bisa aja kurang dari segitu, kalo yang diberangkatkan hanya sekitar 80 org jelas rugi kalo kereta memakai BBM Non Subsidi.

kalo untuk itung2annya mah ribet mas, banyak faktor penentu perkaliannya dan sepertinya itu rahasianya KAI. Lagipula solar utk lokomotif itu kan beda dg solar bus, harganya pun beda. tentunya KAI udah berhitung untung ruginya mengeluarkan hrg segitu. saya kira waktu tempuh KA kalimaya msh lbh cepet ketimbang bus (pd jam sibuk), mungkin itu yg jd "jualannya" KAI melalui kalimaya. masyarakat banten dsk msh kaget kali dg hrg sgt coz biasanya mreka kan cm hrs bayar dibawah 10rb utk naek ka ke jkt. nti lama2 jg terbiasa.. mhn koreksi klo ada salah..

(29-10-2012, 11:22 AM)bramoy Wrote: Saya penasaran deh, tarif untuk Ekonomi AC non-Subsidi gitu ngitungnya gimana sih ? Tiba-tiba muncul aja harga 30000 - 40000. Tarif perorang sebenarnya berapa serta keuntungan yang diambil juga berapa. Kalo ada beberapa pendekatan yang dipakai, seperti BBM Lokomotif, BBM generator, biaya akses track, biaya masinis, biaya perawatan, serta sewa dan lain2.
Misal nih kasarannya, saya ambil rute Tanah Abang - Rangkasbitung dengan kreta rangkas jaya tiket 4000 , jarak 70 km, konsumsi BBM Lokomotif 3 liter / km, harga pake 2 jenis yang Subsidi 4500 dan Non - Subsidi sekitar 10000. Berarti untuk lokomotif sendiri sudah membutuhkan duit 945000 pake Solar subsidi dan 2100000 pake Non Subsidi. Kita anggap kreta Rangkas Jaya full okupasi jadi 106 x 12 x 4000 jadi total ada 5088000 pemasukan yang didapat, jelas memakai solar baik subsidi maupun non masih ada income.

Statement diatas itu cuma perhitungan kasar, perhitungan rumitnya ada, tapi saya tidak terlalu tahu. Untuk KA Kalimaya, kalo kreta ini full penumpang pendapatan yang masuk sebesar 106 x 8 x 30000 dengan total 25 juta, tapi kita tidak mengetahui berapa penumpang yang diberangkatan tiap harinya bisa aja kurang dari segitu, kalo yang diberangkatkan hanya sekitar 80 org jelas rugi kalo kereta memakai BBM Non Subsidi.

kalo untuk itung2annya mah ribet mas, banyak faktor penentu perkaliannya dan sepertinya itu rahasianya KAI. Lagipula solar utk lokomotif itu kan beda dg solar bus, harganya pun beda. tentunya KAI udah berhitung untung ruginya mengeluarkan hrg segitu. saya kira waktu tempuh KA kalimaya msh lbh cepet ketimbang bus (pd jam sibuk), mungkin itu yg jd "jualannya" KAI melalui kalimaya. masyarakat banten dsk msh kaget kali dg hrg sgt coz biasanya mreka kan cm hrs bayar dibawah 10rb utk naek ka ke jkt. nti lama2 jg terbiasa.. mhn koreksi klo ada salah..
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 3 Guest(s)