Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kenalilah Stasiun-mu (Prihatin Atas Kejadian Ini)
#1
Kemarin lusa aku naik KRL Ekonomi AC Serie T8500 / Tokyu 8500. Keberangkatan dari stasiun Jakarta Kota tidak pentinglah soal waktu. Karena jam ngaret warga ibukota sih dah wajar. Apalagi kalau cuma 10 menit dari jadwal semula. Sang masinis memberitahu lewat pengferas suara kalau para calon penumpang yang berada di dalam gerbong jangan sampai salah naik. Karena yang anda naikin itu KRL Ekonomi AC denngan tarif Rp 4.500,00. Apabila salah naik, maka terkena suplisi atau denda Rp 10.000,00. KRL pun berangkat tanpa rintangan dan selalu dibawa kenyamanan dan AC yang sejuk alias dingin. Karena ke arah Bekasi, maka gerbong sepi.

Namunh, setibanya di stasiun Klender. MANA NIH PERONNYA?????????????????????????? :diem loe: Gak taunya saya berada di gerbong 7 alias no. 2 dari belakang. Peronnya di sono!!! alias di sisi timur. Kalau mau ngejangkau, maka aku harus berjalan ke gerbong 5 alias 4 gerbong dari belakang. Kenapa bisa demikian???? Mau loncat tapi ketinggian karena dari gerbong terjun ke tanah harus mengorbankan kaki yang pasti bakal keseleo. Mau lari ke gerbong 5 malah pintu keburu ditutup. Alhasil aku terbawa sampai stasiun berikutnya, yaitu Buaran.
Pasrah Aja Dah Pasrah Aja Dah Pasrah Aja Dah

Setibanya di sana aku turun untuk pindah peron. Kali2 aja ada KRL yang ke arah Jakarta. Nanya ke penjaga peron yang nagih karcis merasa gak tau arah ke Pd. Bambu tujuan akhir saya. Alhasil kata penjaga peron yang melayani perjalanan KA ke arah Jakarta terserah bapak alias aku ini asalkan harus menanggung resiko sendiri dengan nada ketus dan tampang jutek! Kapan ya... Aku mikir, daripada turun di stasiun Klender ditagih suplisi Rp 10.000,00 mendingan naik Metro Mini ke arah Kampung Melayu cuma Rp 2.000,00. Meski macet di Jl. I Gusti Ngurah Rai, tapi setibanya di kolong jembatan layang aku bisa lanjutin naik Mikrolet ke tujuan akhir di Pd. Bambu.

Intinya.... buat kawan2 semua agar lebih berhati2 dan harus minimal mengenal stasiun2 tujuan kalian. Terus terang aku tidak mengenal koridor Jakarta - Bekasi pp lebih jauh. Tau2 peronnya gak ada.... Gimana tuh masinis gak kasih tau kalau keluar di stasiun Klender bakal terkena resiko demikian. Khan bisa tuh kasih tau agar para penumpang bisa berlari menuju ke gerbong no. 4 dari belakang tsb. Untungnya aku orang Jakarta yang suka jalan2 keliling Jakarta dan punya Atlas Jakarta dari zaman preopinsi Banten masih Jawa Barat.
Pasrah Aja Dah

Reply
#2
mungkin ada baiknya dibikin informasi panjang peron jalur JAKK-BKS ya,,,,

coz kalo jalur bogor mah peronnya panjang semua.....

sok tau mode : on

1. JAKK : 6 kereta ( Bukan gerbong!!!! biasakan hal ini ) Grin Grin
2. KPB : 8 kereta
3. Rajawali : 4 kereta
4. mayor : 8 kereta
5. PSE : 8 kereta
6. gang sentiong : 4 kereta
7. kramat : 4 kereta
8. pondok jati : sekarang 8 kereta Grin Grin
9. JNG : 8 kereta
10. klender : 4 kereta
11. buaran : 8 kereta
12. klender baru (pondok kopi) : 8 kereta
13. cakung : 8 kereta
14. kranji : 8 kereta
15. BKS : 2 rangkaian juga muat Ngakak

dihitung dari kereta terdepan loh....
jangan dari yang paling belakang Ngikik
Reply
#3
Dana Komuter Wrote:Kemarin lusa aku naik KRL Ekonomi AC Serie T8500 / Tokyu 8500. Keberangkatan dari stasiun Jakarta Kota tidak pentinglah soal waktu. Karena jam ngaret warga ibukota sih dah wajar. Apalagi kalau cuma 10 menit dari jadwal semula. Sang masinis memberitahu lewat pengferas suara kalau para calon penumpang yang berada di dalam gerbong jangan sampai salah naik. Karena yang anda naikin itu KRL Ekonomi AC denngan tarif Rp 4.500,00. Apabila salah naik, maka terkena suplisi atau denda Rp 10.000,00. KRL pun berangkat tanpa rintangan dan selalu dibawa kenyamanan dan AC yang sejuk alias dingin. Karena ke arah Bekasi, maka gerbong sepi.

Namunh, setibanya di stasiun Klender. MANA NIH PERONNYA?????????????????????????? :diem loe: Gak taunya saya berada di gerbong 7 alias no. 2 dari belakang. Peronnya di sono!!! alias di sisi timur. Kalau mau ngejangkau, maka aku harus berjalan ke gerbong 5 alias 4 gerbong dari belakang. Kenapa bisa demikian???? Mau loncat tapi ketinggian karena dari gerbong terjun ke tanah harus mengorbankan kaki yang pasti bakal keseleo. Mau lari ke gerbong 5 malah pintu keburu ditutup. Alhasil aku terbawa sampai stasiun berikutnya, yaitu Buaran.
Pasrah Aja Dah Pasrah Aja Dah Pasrah Aja Dah

Setibanya di sana aku turun untuk pindah peron. Kali2 aja ada KRL yang ke arah Jakarta. Nanya ke penjaga peron yang nagih karcis merasa gak tau arah ke Pd. Bambu tujuan akhir saya. Alhasil kata penjaga peron yang melayani perjalanan KA ke arah Jakarta terserah bapak alias aku ini asalkan harus menanggung resiko sendiri dengan nada ketus dan tampang jutek! Kapan ya... Aku mikir, daripada turun di stasiun Klender ditagih suplisi Rp 10.000,00 mendingan naik Metro Mini ke arah Kampung Melayu cuma Rp 2.000,00. Meski macet di Jl. I Gusti Ngurah Rai, tapi setibanya di kolong jembatan layang aku bisa lanjutin naik Mikrolet ke tujuan akhir di Pd. Bambu.

Intinya.... buat kawan2 semua agar lebih berhati2 dan harus minimal mengenal stasiun2 tujuan kalian. Terus terang aku tidak mengenal koridor Jakarta - Bekasi pp lebih jauh. Tau2 peronnya gak ada.... Gimana tuh masinis gak kasih tau kalau keluar di stasiun Klender bakal terkena resiko demikian. Khan bisa tuh kasih tau agar para penumpang bisa berlari menuju ke gerbong no. 4 dari belakang tsb. Untungnya aku orang Jakarta yang suka jalan2 keliling Jakarta dan punya Atlas Jakarta dari zaman preopinsi Banten masih Jawa Barat.
Pasrah Aja Dah
klender lama apa baru mas? kalo yang lama emang pendek peronnya...kalo yang baru udah panjang....
Back To Semboyan 35 with new spirit !
Reply
#4
tinggi banget yah dari deck? klo duduk dulu di pintu trus pelan2 turun sih bisa, cuma klo udah buru2 n panik ya susah juga.. Pasrah Aja Dah
Reply
#5
nah itu memang bayak yang komplain mengenai peron stasiun Klender Lama....terlalu pendek peron-nya.....

bagi para komuter yang sudah biasa naik KRL, nggak ada yang bakalan "ngejogrok" di kereta belakang kalaw mo turun....

MOHON PERHATIANNYA BUAT PT. Kereta Api Indonesia (Persero).............................
Reply
#6
yoi sy plg sering liat di kramat n gang sentiong..... sta. nya pndek bgt ampe nutupin PJL kl kereta berhenti.... plg kasian ih kl liat ibu2 mo buru2 turun bukannya peron malah got bawahnya.....
Reply
#7
untuk sementara di biasain ajah dulu ....

gimana kalo nanti mudik pulang kampung yg peron stasiun nya relatif lebih pendek kec sta besar
koleksi jepretan ane
http://www.flickr.com/photos/jhon_ipenk/


[Image: meshoostggyt-1.jpg]
me whit ss-2v5 PInDAD
Reply
#8
(11-08-2009, 02:11 AM)jambul_merah Wrote: yoi sy plg sering liat di kramat n gang sentiong..... sta. nya pndek bgt ampe nutupin PJL kl kereta berhenti.... plg kasian ih kl liat ibu2 mo buru2 turun bukannya peron malah got bawahnya.....

itu sih pemandangan setiap hariNgakak Yg gw ga habis pikir dari dulu, knp st. gang sengtiong hampir ga berubah dari dulu, kalo st. kramat sih mending walau cmn peronnya nambah 1.5 gerbong eh kereta jadi muat 4 kereta & di tinggi'in. benar2 di anak tirikan! Itu belum termasuk St. Rajawali loch. Beda banged sama stasiun2 JAKK - BOO.
Usulan :
1.ST.Kramat di geser/pindah ke arah utara seblum perlintasan jalan Pramuka Raya,
2.St. Gang Sentiong di geser ke arah selatan setelah perlintasan jalan Kramat Sentiong
3.Bangun Stasiun baru di Pasar Gaplok (antara st. gang sention dan pasar senen), buat "Ngusirin" pedagang2 yg jualan di rel & geser perlintasan jalan yg di dkt pasar gaplok kearah utara.
4. Kalo PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Commuter ga sanggup bangun, si swasta'in aje yg ke 3 stasiun diatas dgn sistim bagi hasil atau pakai sistim lainnya yg menguntungkan ke 2 belah pihak
Tapi usulinnya gimanah yah Xie Xie
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)