Posts: 502
Threads: 0
Joined: Jul 2009
Reputation:
5
(18-07-2009, 09:03 PM)Adam Faridl Wrote: (18-07-2009, 12:37 PM)meteo_ekspress Wrote: habis browsing di situs http://arsip.banten.go.id dapet foto kayak gini...
![[Image: PercobaanJembatandiPandeglang1904.jpg]](http://i585.photobucket.com/albums/ss292/yudhahysteria/PercobaanJembatandiPandeglang1904.jpg)
gambar diatas adalah Jembatan Kereta Api yang ada di Pandeglang lagi diuji coba untuk pertama kalinya pada tahun 1904
Ini di lintas Rangkas-Labuan atau Saketi-Bayah? Perasaan ga ada jembatan sepanjang ini dilintas Labuan-Rangkas..,
Labuan sampe rangkas kali,kan jalur saketi-bayah baru jaman jepang dibangun
BOBOTOH PERSIB
Posts: 3,387
Threads: 0
Joined: May 2008
Reputation:
2
28-09-2009, 10:44 AM
(This post was last modified: 30-09-2009, 09:22 AM by Gege.)
Tambahan mblusukan dare jalur Saketi-Bayah....
Quote:Salam RF,
Hari Rabu, 23 9 2009 lalu secara tidak sengaja saya melewati eks Jalur KA antara Bayah s/d Malingping.
Kondisi jalur hanya tinggal tiang-tiang jembatan dan tegalan yang saat ini ditanami pohon kelapa.
Andai jalur ini masih aktif sungguh sangat indah pemandangannya, menyusuri pantai Bayah yang berpasir putih dengan jarak hanya beberapa meter dari tepi pantai.
Yang sangat memprihatinkan tidak ada perhatian dari Pemda maupun Pusat, bahwa bekas jalur tsb adalah saksi dari Perang Dunia II dimana Jepang mempekerjakan Romusha untuk membangunnya.
Sungguh aset pariwisata yang tidak ternilai apabila kita dapat mengelolanya.
Berikut ada beberapa gambar yang sempat sy ambil.( resolusi sy kecilkan )
[spoiler=Silahkan diliad]
kapanlagi
20090928104341_EKS.BAYAH_4ac030ed5a6ed.jpg
kapanlagi
20090928104341_EKS.BAYAH2_4ac030ed62fe8.jpg
kapanlagi
20090928104341_EKS.BAYAH3_4ac030ed67a1b.jpg
kapanlagi
20090928104341_EKS.BAYAH4_4ac030ed6c9c7.jpg
kapanlagi
20090928104341_EKS.BAYAH5_4ac030ed7175d.jpg
[/spoiler]
Iwan Santoso
RF-Bogor
Posts: 2,796
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
25
^
btul. kalo thailand bisa menjual wisata kereta tentang jembatan kwai yang legendaris semasa pd 2 itu, kenapa kita tidak? buat saja wisata menyusuri sisa2 kekejaman romusha japan jaman pd 2 dulu.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Posts: 311
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
3
29-09-2009, 08:10 PM
(This post was last modified: 29-09-2009, 08:13 PM by jadrians.)
Death Railway Part III - Bayah Saketi
Pada rangkaian tulisan yang lalu telah dikemukakan tentang jalan KA maut alias Death Railway antara Birma-Siam dan antara Muaro Pekanbaru dengan jumlah korban fantastis yang terdiri dari tawanan perang (POW) Sekutu dan romusha. Keduanya menyangkut pembangunan jalan kereta api yang punya arti sangat strategis bagi kelanjutan ekspansi tentara Jepang pada Perang Dunia ke 2, dan dikerjakan dengan sistim kerja paksa (slave labour) romusha dan POW tadi. Pembahasan akan menjadi kurang lengkap kalau Death Railway ke tiga tidak kita singgung dalam rangkaian kisah kekejaman perang ini. Death Railway yang ke 3 adalah pembangunan jalan kereta api antara Saketi-Bayah di Banten Selatan yang dilakukan pada tahun 1942-1945.Pembangunan jalan KA Saketi-Bayah juga merupakanbagian dari strategi perang Jepangbertujuan ganda : pertama mengangkut batu bara dari tambang batu bara Cikotok yang merupakan bahan bakar kereta api dan kapal zaman itu, kedua guna menghindarkan angkutan laut yang sudah mulai terancam oleh serangan torpedo kapal selam sekutu. Pembangunannya juga dilakukan dengan menggunakan tenaga romusha tanpa POW, tapi melibatkan sejumlah tenaga ahli perkereta apian Belanda yang menjadi tawanan perang Jepang. Pekerjaan penambangan batu bara inipun dikerjakan dengan penggunaan tenaga romusha.
Bantalan kayu dan rel untuk pembangunan jalan KA ini diambil dari seluruh Jawa, sebagaimana halnya juga dengan tenaga romusha yang kebanyakan berasal dari Jawa Tengah, seperti dari Purworejo, Kutoarjo, Solo, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta, dan lain-lain.
Pembangunan jalan kereta api sepanjang 89 km ini menelan korban yang diperkirakan mencapai 93.000 jiwa romusha.
Bayah yang sibuk dengan aktivita pembuatan jalan kereta api dan penambangan batu bara inilah yang juga terkait dengan cerita seputar Tan Malaka.
Diceritakan bahwa dikota kecil Bayah inilah Tan Malaka pernah menetap.
Kota yang merupakan tempat yang aman bagi persembunyian Tan Malaka, dan tempat yang cukup tenang guna meneruskan aktivitasnya menuliskan buah-buah pemikirannya tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Walau kisah sejarah ini sangat mencekam dilihat dari korban jiwa romusha yang fantastis itu, ternyata saat ini jejak-jejak sejarah itu sudah hampir-hampir lenyap. Masyarakat banyak yang hanya pernah mendengar kisah ini dan hampir semuanya sekarang bersikap acuh tak acuh.
Tempat-tempat yang dulu dikenal sebagai sumur romusha, stasiun Kereta Api, goa-goa bekas penambangan batu bara, semua sudah sulit ditemukan. Rel-rel untuk angkutan batu bara sudah habis diangkut tukang besi untuk dijual.
Satu-satunya apresiasi yang pernah diberikan terhadap para korban ini adalah kehadiran sebuah monumen berupa tonggak setinggi 3 meter, yang terletak di sebelah SLTPN 1. Tugu yang dikhabarkan dibangun oleh Tan Malaka ini berada dalam kondisi tidak terawat dan terkesan diabaikan.
Berikut ini adalah beberapa kisah seputar jalan kereta api maut Saketi-Bayah yang diambil dari sejumlah posting di internet :
Berikut ini terjemahan dari buku yang sama, tentang
jalur Banten Selatan (Jan de Bruin)
Jalur Banten Selatan (Saketi-Bayah)
Terutama setelah tahun 1943, kesulitan hubungan laut
(akibat kegiatan kapal selam Sekutu) menimbulkan
masalah bahan bakar di Jawa. Sebelum perang, sebagian
besar lokomotif menggunakan bahan bakar batu bara, dan
sebagiannya kayu jati. Produksi kayu per tahun adalah
sekitar 300 ribu ton, sebagian besarnya dari Dinas
Kehutanan (Boschwezen = Perhutani). Untuk kepentingan
perusahaan kereta api, diperlukan 900 ribu ton kayu
bakar per tahunnya. Maka, sejak tahun 1942, Jepang
memiliki gagasan untuk memanfaatkan batu bara muda di
sekitar Bayah sebagai bahan bakar. Jepang mendapatkan
sebuah laporan dari sekitar tahun 1900 bahwa cadangan
batu bara muda di Bayah mencapai 20-30 juta ton.
Jepang memperkirakan bahwa produksi batu bara per
tahun mungkin mencapai 300 ribu ton. Namun cadangan
batu bara tersebut tersebar di lahan yang luas dan
terisolasi. Lapisan batu bara itu juga tipis, hanya
sekitar 80 cm, sehingga eksploitasi besar-besaran pada
masa damai tidak akan ekonomis. Namun ini adalah masa
perang.
Untuk bisa mengeksploitasi tambang-tambang itu,
dibangun jalur sepanjang 89 km dari Saketi (sebuah
stasiun di jalur Rangkasbitung-Labuan) ke Bayah, di
selatan Banten. Rencana jalur mulai dirancang pada
bulan Juli 1942, dan pembangunan dimulai awal tahun
1943. Bantalan kayu dan rel dikirim dari seluruh Jawa
ke Saketi. Sejak awal tahun 1943 banyak pakar
perkeretaapian Belanda dipaksa untuk menyumbangkan
keahlian dan pengetahuan mereka untuk pembangunan
jalur ini. Seperti juga di Sumatera, kerja terberat
dalam pembangunan jalur ini dilakukan oleh para
romusha. Banyak dari mereka menjadi korban karena
kekurangan makan dan penyakit tropis. Angka yang
diberikan bervariasi dari 20 hingga 60 ribu, belum
termasuk 20 ribu pekerja tambang yang tewas. Daerah
berpenduduk jarang ini masih merupakan rimba,
rawa-rawa dan bukit-bukit, penuh dengan hewan buas.
Ditambah dengan kerja keras dan ketiadaan obat-obatan,
tidak kurang dari 500 romusha setiap harinya tewas,
namun setiap harinya jumlah yang lebih besar direkrut
untuk menjadi pekerja. Pada masa pembangunan jalur ini
sekitar 25-55 ribu pekerja membangun jalur ini. Sejauh
diketahui, tidak ada tawanan perang yang dipekerjakan
untuk membangun jalur ini. Pada bulan Maret 1944 jalur
telah siap, dan dibuka pada 1 April 1944 (tepat 61
tahun yang lalu!) oleh para pejabat Jepang. Lokomotif
BB10.6 menarik kereta pertama di jalur ini.
Jalur ini berawal di stasiun Saketi, dan berakhir di
Gunungmandur, letak tambang batu bara yang terjauh.
Stasiun Gunungmandur terletak dua kilometer dari
stasiun Bayah. Jalur sepur tunggal ini memiliki
sembilan stasiun dan lima halte (yaitu Cimangu,
Kaduhauk, Jalusang, Pasung, Kerta, Gintung,
Malingping, Cilangkahan, Sukahujan, Cihara,
Panyawungan, Bayah dan Gunungmandur). Masing-masing
stasiun setidaknya memiliki dua jalur dan bangunan
stasiun kecil; Bayah memiliki lima jalur. Selain
stasiun Gunungmandur, tujuh stasiun yang lebih kecil
dilengkapi dengan sinyal dengan handel kayu. Bayah
menggunakan sinyal Alkmaar.
Setiap harinya maksimum 300 ton batu bara muda dibawa
ke Saketi. Selain batu bara, ada pula kereta api
penumpang, namun karena daerah ini berpenduduk jarang,
sebagian besar penumpang adalah pekerja kereta api
atau pekerja tambang. Setiap harinya 800 penumpang
bepergian, yang diangkut dengan 15 kereta kelas 3.
Jalur ini dibangun relatif lebih kokoh daripada jalur
Pekanbaru, dengan 20 jembatan, semuanya dengan
ujung-ujung dari batu.
Untuk pembangunan jalur Banten Selatan ini digunakan
material kereta api dari pabrik-pabrik gula yang
ditutup dan lok tram PsSM No. 12 (B16). Setelah
beroperasi, digunakan material SS dan lok BB10.
Kompas, Sabtu, 07 Agustus 2004
Menyusuri Jejak Romusha di Pulau Manuk
DEBUR ombak pantai selatan itu menjadi saksi bisu atas penderitaan ribuan orang, sekitar 60 tahun silam. Namun, kini jejak-jejak kekejaman yang menewaskan ribuan rakyat Indonesia itu mulai terhapus oleh sikap acuh tak acuh generasi zaman ini. Sejarah romusha di Pulau Manuk, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten, itu kini terancam hilang dari kenangan.
SATU-satunya apresiasi terhadap kegetiran para romusha itu hanyalah berupa tonggak monumen yang berlokasi di sebelah SLTPN 1 Bayah, tak jauh dari Kantor Camat Bayah. Itu pun kurang terawat dan terkesan diabaikan.
Pekan ketiga bulan Juli lalu, bangunan bersisi empat dengan tinggi sekitar tiga meter tersebut mulai menghitam. Rumput-rumput liar memenuhi gundukan tanah pinggir jalan raya, tempat Monumen Romusha itu dibangun.
Bendera merah-putih tidak terpasang sempurna karena kaitan bagian merah terlepas. Merah-putih yang tidak bisa berkibar seolah mengabarkan ketidakberdayaan para romusha di bawah kekejaman penjajah Jepang, tahun 1942-1945.
Pareno (87), salah satu mantan romusha itu, tertegun sejenak ketika menunjukkan lokasi stasiun, tempat parkir berbagai lokomotif kereta api zaman Jepang, di kawasan pantai Pulau Manuk. Bekas stasiun itu hanya menyisakan pal-pal pondasi yang penuh rumput dan tanaman liar.
Tidak jauh dari tempat itu, kuburan para romusha malah tidak ada lagi tanda-tandanya. Kuburan itu hanyalah tanah kosong di sela-sela semak di pantai Pulau Manuk, yang sering terempas ombak ketika laut pasang.
“Tanah di sini sudah dikapling-kapling dan kebanyakan punya orang Jakarta,†tutur Pareno yang menjadi pemandu dadakan saat menyusuri jejak romusha di tempat itu. Selain Monumen Romusha, perlu kerja keras untuk menemukan jejak-jejak romusha di Bayah.
Sumur romusha, stasiun kereta api, goa-goa bekas tambang batu bara di zaman penjajahan Jepang, kuburan romusha, makanan romusha, dan hal-hal lain yang berbau romusha seperti punah begitu saja. “Rel-rel kereta api untuk angkutan batu bara zaman Jepang sudah habis diangkut tukang besi dan dijual,†ujarnya.
Sumur romusha, tempat para romusha mengambil air untuk minum yang terletak di lahan perkebunan, belakang SLTPN 1 Bayah, kini tertutup tanaman liar. Jenis sayuran yang dahulu dikonsumsi para romusha, seperti sayur bunga karang, sayur ganggang laut, dan lodeh empot, sudah sulit didapat di Pasar Bayah.
Upacara peringatan romusha oleh masyarakat setempat, berupa atraksi atau karnaval, pun sudah lama tidak digelar. Menurut Pareno, sudah empat tahun terakhir desanya tidak menggelar peringatan itu seiring dengan meninggalnya para bekas romusha. “Anak-anak muda sekarang malu memperingati upacara itu. Mereka malu kalau diketahui keturunan bekas romusha,†ungkapnya.
Andaikata semua itu masih terawat, niscaya akan menjadi obyek wisata sejarah, melengkapi wisata pantai yang membentang di pesisir Banten Selatan. Keindahan panorama pantai akan diperkaya oleh kedalaman perenungan batin atas perjalanan sejarah negeri ini.
PULAU Manuk adalah salah satu dari beberapa lokasi di Bayah yang menjadi saksi bisu aksi penindasan Jepang terhadap para romusha. Kawasan yang berjarak sekitar lima kilometer dari kota Kecamatan Bayah atau pertigaan Terminal Bayah itu bisa dicapai dari berbagai jurusan. Dari Jakarta, Bayah bisa ditempuh melalui Sukabumi-Pelabuhanratu (Jawa Barat), atau melalui Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak (Banten). Jika melalui Pelabuhanratu, jalur yang dilewati, antara lain Cisolok-Cipicung-Cikotok-Bayah atau Cisolok-Cibareno-Bayah.
Jalur Cisolok-Cibareno-Bayah akan melewati beberapa jalan mendaki dan menurun, tetapi pengunjung akan mendapat suguhan panorama laut selatan, seperti Pantai Cibangban, Cibareno, dan seterusnya. Indahnya pantai selatan di kiri jalan, yang diselingi dengan liukan nyiur dan hamparan sawah di dekat pantai, bisa dinikmati di jalur selatan itu hingga Muarabinuangeun.
Namun, jika menyetir mobil, perlu berhati-hati dan jangan sampai terlena pada keindahan pantai selatan. Di sepanjang jalur selatan itu, masih banyak jalan berlubang kendati masih layak untuk dilalui. Di samping itu, situasi jalan di tempat-tempat tertentu pada jalur itu kadang-kadang sepi.
Jika melalui Rangkasbitung, jalur yang dilewati, antara lain, yaitu Saketi (Pandeglang)-Malingping-Bayah. Sebelum sampai Malingping, pengunjung akan melewati jalan berliku-liku di antara permukiman warga dan area perkebunan dengan kondisi jalan yang sebagian bagus, tetapi sebagian sudah rusak. Setelah melewati Malingping ke arah Bayah, pemandangan pantai selatan terhampar di kanan jalan.
Selain terkenal dengan sejarah romusha, Bayah juga tercatat dalam buku sejarah sebagai tempat persembunyian tokoh Tan Malaka. Di Banten Selatan itu, ia pernah menyamar sebagai mandor pertambangan batu bara dengan nama samaran Ilyas Husein. Tan Malaka sempat mengorganisasi para romusha, membentuk kelompok drama, dan menyelesaikan karya magnum opus-nya, Madilog.
Pada zaman penjajahan Jepang, tulis Adhy Asmara dalam Pesona Wisata Zamrud Katulistiwa Banten, kapal-kapal perang Jepang banyak yang melakukan pendaratan di seputar muara Cimadur, Pantai Bayah. Saat itu, Bayah dikenal sebagai penghasil utama batu bara, yang digunakan untuk bahan bakar kereta api, kapal laut, dan pabrik.
Penambangan batu bara, antara lain dengan pembuatan lubang-lubang tambang batu bara di Gunung Madur serta pembuatan rel kereta api Bayah-Seketi untuk mengangkut batu bara, diperkirakan memakan korban kurang lebih 93.000 romusha. Pareno mengungkapkan, sebagian besar romusha itu didatangkan dari Jawa Tengah, seperti Purworejo, Kutoarjo, Solo, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta, dan lain-lain.
SEJARAH Romusha di Bayah merupakan potensi wisata sejarah yang diabaikan. Potensi itu sebenarnya akan melengkapi potensi wisata pantai selatan dan wisata ke gua-gua alam. Namun, semua potensi tersebut kurang digarap sehingga terkesan merana.
Adhy Asmara dalam buku yang sama menyebutkan, kawasan Pulau Manuk telah ditata menjadi Desa Wisata Romusha Pulau Manuk. Akan tetapi, saat menyusuri kawasan itu, tidak terlihat adanya tanda-tanda tempat itu telah dijadikan desa wisata.
Sejarah romusha di Banten Selatan-seperti sejarah di balik Tembok Berlin (Jerman), kisah di balik Tugu Tiananmen (China), atau cerita kekejaman Nazi di Monumen Kebangkitan 1944 di Warsawa (Polandia)- sebenarnya bisa dijadikan obyek wisata untuk mengenang luka sejarah…. (MH SAMSUL HADI)
Posts: 997
Threads: 0
Joined: Jun 2009
Reputation:
17
Info yang menarik...
thanks........
Posts: 436
Threads: 0
Joined: May 2009
Reputation:
7
Posts: 311
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
3
29-09-2009, 08:42 PM
(This post was last modified: 30-09-2009, 12:17 PM by eling.)
Posts: 25
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
0
mkanya org indonesia g maju2.lha menghargai darah dan jiwa para tetuanya aja gabisa.uda enx g disuruh mbikin jalur keretaapi.cm disuruh ngrawat aja gabisa.seolah2 jerih payah para tetua cuma dianggap sampah.malang sekali nasib para mendahulu kita.semoga mereka bahagia di alam sana.amien.
Posts: 3,295
Threads: 0
Joined: Aug 2009
Reputation:
23
ayolah guys... qt sgr berindak, jgn trll byk omong. Oce!
Keep Fighting Never Give
Posts: 502
Threads: 0
Joined: Jul 2009
Reputation:
5
No comment sama Thread Ini,Coba kalo aktif kan bisa jadi jalur wisata tuh melewati pantai segala  ,Kok nggak kayak jalur Koit lainnya yang dipetakan di Atlas sekarang,Kok 2 jalur Koit bikinan jepang yaitu bayah-saketi dan Muaro-pekanbaru nggak dimasukin ke atlas ya??
BOBOTOH PERSIB
|