Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Trip Report Hunting ke Maswati naik Zephyr (20 Juli 2009)
#1
Dulu saya pernah datang ke Maswati pada saat musim hujan dengan teman. Waktu itu, saya pikir perjalanan ke dan dari sana dengan menggunakan sepeda motor tidaklah beda dengan perjalanan motor di musim hujan, pada rute jalan beraspal.
Rupanya saya keliru, perjalanan menyusuri medan off-road ke Maswati di saat hujan (dan gelapnya malam) rasanya cukup berat. Saking beratnya sampai saya langsung jatuh sakit begitu sampai di rumah.
Semenjak itu saya mulai kepikiran untuk memiliki mobil, khususnya jeep yang bisa melibas medan off-road sedang (seperti jalan tak beraspal di jalan akses stasiun Maswati).
Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun ini, akhirnya impian saya untuk memiliki mobil SUV kesampaian juga.


kapanlagi

20090721200620_1_pose_Zephyr_4a65bd4cf40c4.jpg

Dan semenjak pertama saya menerimanya, saya sudah kepikiran untuk menggunakannya ke Maswati. Apalagi jalan akses menuju ke stasiun ini adalah yang terberat nomor dua (menurut saya) setelah stasiun Cirahayu. Jadi ini merupakan tantangan yang menyenangkan buat saya.
Setelah sibuk mencari-cari waktu diantara kesibukan saya (maklum, tanggal merah saya tetap masuk kerja) akhirnya long weekend kemarin saya memutuskan untuk pergi ke sana.
Tadinya saya menghubungi beberapa kawan railfan Bandung, apakah ada yang mau ikut. Akhirnya, hanya Mahra dan adiknya Rian, yang ikut dengan saya. Itupun karena mereka ternyata bertetangga dengan saya.


kapanlagi

20090721200621_2_pose_bareng_4a65bd4d0c113.jpg
(Kiri ke kanan: Rian, saya, Mahra.)

BERANGKAT KE MASWATI
Setelah menyelesaikan urusan administrasi pekerjaan di pagi hari, sayapun kembali ke rumah untuk bersiap-siap berangkat. Begitu Mahra dan adiknya datang, kamipun langsung berangkat menuju Maswati.
Dan karena letak rumah kita dekat dengan gerbang tol Pasteur, maka sayapun langsung menuju ke sana.
Perjalanan melewati tol berlangsung dengan cukup lancar dan tanpa hambatan. Karena saya yang menyetir, maka saya tidak memperhatikan, apakah ada kereta yang lewat atau tidak. Mahrapun juga tidak melihatnya.
Kami keluar dari tol di gerbang Cikamuning, dan langsung melewati jalan utama Bandung-Purwakarta. Kami bernasib cukup baik, karena jalanan relatif sepi. Walaupun yang membuat sebal adalah kebiasaan beberapa angkot kuning yang ngetem di tengah jalan.

OFF ROAD!!
Setelah menyalip beberapa bus dan angkot, akhirnya kami tiba di gerbang perkebunan teh Maswati. Tadinya saya sempat merasa agak ragu: apakah tenaga mesin cukup kuat? Apakah medan berat akan merusak suspensi mobil saya?
Ternyata keraguan itu pudar, setelah saya mengemudikan mobil saya secara perlahan melewati jalan berbatu sejauh 7 km dari jalan utama ke stasiun Maswati. Mahra juga agak takjub melihat hamparan perkebunan teh dan karet yang menghampar sepanjang mata, tanpa ada tanda-tanda peradaban, khususnya di tengah jalan. Apalagi bagi mereka ini pertama kali mereka datang ke sini.

HUNTING MASWATI
Setelah terguncang-guncang dan nyaris bersenggolan dengan truk di tepi jurang, akhirnya kami sampai juga di stasiun Maswati. Beberapa penduduk yang ramah cukup heran melihat ada mobil SUV yang masih kinclong datang ke kampung mereka. Beberapa ada yang membantu memarkirkan, tanpa meminta bayaran.
Selesai memarkir mobil, kamipun langsung masuk stasiun, dan sowan dulu ke PPKA yang bertugas. Dan setelah itu, kami mampir dulu ke bukit di seberang emplasemen stasiun untuk makan siang.
Pada saat kami tengah makan siang, tiba-tiba datang KA Parahyangan dari Jakarta yang ditarik CC204 10. Yang aneh, kedua gerbong eksekutifnya bukan standard KA Parahyangan. Yang satu adalah K1-99513 eks-Turangga yang sudah lama jadi punya depo Bandung. Satunya lagi malah gerbong eksekutif buatan tahun 1984 punya depo Purwoketo.
Walaupun KA ini berhenti untuk bersilang dengan KA Parahyangan dari Jakarta, saya tak banyak memotret KA ini, karena masih asyik mengunyah makan siang saya.


Tak lama kemudian datanglah KA Parahyangan dari Bandung yang ditarik CC204 08. Uniknya, KA ini juga berhenti untuk memberi jalan KA Argo Gede dari Jakarta yang akan lewat. Yang aneh, sepertinya kedua KA Parahyangan itu pada saat berhenti, posisinya tidak tepat di peron stasiun. Malah mereka posisinya condong ke sisi Bandung, sehingga yang pas di peron adalah lokomotif atau gerbong terakhir.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya datanglah KA Argo Gede dari Jakarta yang ditarik oleh lokmotif CC204 12. Yang aneh, dia membawa dua gerbong makan dan salah satunya adalah gerbong makan bisnis.
Begitu Argo Gede lewat, KA Parahyangan yang berhenti melanjutkan perjalanannya. Seusai memotret KA ini, kamipun berjalan ke arah barat, ke arah tikungan Maswati yang hampir sama spektakulernya dengan tikungan Leles.


Alam di daerah ini terasa sangat cantik. Hamparan perkebunan karet sepanjang mata memandang, serta absennya suara bising kendaraan membuat kami serasa berjalan di masa lalu.
Setelah asyik melewati rel yang melintas perkebunan karet, kami menemui jembatan KA. Bagi saya menyeberangi ini tak masalah. Tapi bagaimana dengan Mahra dan Rian? Saya pun bertanya “Lewat atas atau bawah?” Mahra bertanya balik “Ada kereta nggak?” Saya menjawab “Wah saya lupa jadwalnya...”
Akhirnya kami memutuskan melewati jalan setapak di sebelah bawah jembatan. Namun yang unik, saya perhatikan, tampaknya formasi jalan setapak sudah berubah sebagian, karena sang pemilik sawah memperluas sawahnya.
Sekembalinya keatas, kami terus menyusuri rel. Mahra juga agak heran melihat kemiringan rel, serta tikungannya yang panjang dan tak ada habisnya. Lama kami menyusuri rel, sampai akhirnya kami sampai di tikungan besar Maswati. Kamipun memutuskan untk mencari spot, sambil menunggu KA Argo Gede dari Bandung pukul 14.30 yang semestinya lewat daerah itu sekitar jam 15.25.


Benar, juga tak lama setelah kami duduk di situ, di kejauhan sayup-sayup terdengar suara gemuruh KA. Dan tak lama kemudian, KA Argo Gede itu datang. Yang aneh, jumlah rangkaiannya cukup sedikit. Yaitu terdiri dari 1 BP + 1 KM + 3 K1. Bahkan lokomotifnya adalah CC201 103.
Tak lama kemudian, kami mengepak peralatan kami dan berjalan kembali ke stasiun. Namun sebelumnya, kami menyempatkan diri untuk foto bersama disini, mumpung saya membawa tripod saya (kalau pakai motor, susah bagi saya untuk membawa tripod).


Seusai foto bersama, kamipun berjalan kembali menuju stasiun. Namun baru beberapa menit berjalan, tiba-tiba terdengar suara gemuruh KA dari arah timur. Rupanya ada sebuah KA ekonomi tujuan Jakarta yang lewat. Sewaktu saya perhatikan tulisan di gerbong, tertulis “PWT” Wah! Berarti ini adalah KA Serayu dari Kroya, Semestinya KA ini lewat Maswati sekitar jam 13.30. Tapi kok malah lewat sini pukul 15.45?
Kembali melewati jembatan, kali ini saya bertanya apa mau lewat atas atau bawah. Tadinya semua setuju lewat atas, oleh karena itu saya langsung tancap gas melewati jembatan.
Namun sesampainya di seberang, saya agak geli melihat Mahra yang ternyata lewat jalan setapak bawah. Hanya Rian yang tetap di belakang saya.
Setelah kami berkumpul lagi, kami melanjutkan perjalanan kami kembali. Beberapa menit kemudian, Mahra memberitahu saya kalau dia mendengar suara KA dari arah Jakarta.
Walaupun sinyalnya merah, tapi kemudian berubah jadi kuning, menandakan kalau KA ini akan bersilang dengan KA dari arah Bandung. Tak ada yang istimewa dari KA ini, hanya KA Parahyanga biasa yang ditarik CC203 41.


Namun justru KA yang dari Bandung ini nyaris melibas kita, karena tahu-tahu saja datang, tanpa ada suara apapun, baik klakson atau deru mesin. Padahal waktu itu kami ada di tikungan Jadi pada saat kita tengah menyusuri sisi rel (kami berjalan agak ke pinggir, tapi sebenarnya masih agak dekat dengan rel) tiba-tiba terdengar suara mendecit dari rel. “Kereta!” begitu teriak Mahra, dan otomatis kamipun langsung menepi, menghindari KA Parahyangan yang ditarik CC203 07.
Kami agak heran, menurut jadwal reguler seharusnya KA ini tidak ada. Rupanya KA itu tadi adalah KA Parahyangan tambahan dari Bandung.
Setelah KA itu lewat, kami meneruskan perjalanan kami hingga sampai kembali ke stasiun Maswati.
Di stasiun kami menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak, sambil menunggu KA Argo Gede dari Bandung.
Yang unik, jika umumnya kios makanan tutup setelah KA lokal tujuan Cibatu pergi, kali ini beberapa diantaranya tetap buka. Apa karena mereka melihat mobil saya, terus mereka berpikir untuk tetap buka sampai saya pergi? Apapun alasannya, yang pasti saya bersyukur karena bisa membeli makanan dan minuman. Biasanya, karena semua kios sudah tutup, saya cenderung nebeng jatah minuman PPKA jika kehabisan air.

Sayapun bersantai sambil ngobrol dengan PPKA yang kebetulan lagi bertugas. Saya tak ingat apa topik yang waktu itu dibicarakan, yang pasti Mahra dan Rian tidak banyak ikut ngobrol, karena asyik memotreti.
Tak lama tiba-tiba terdengar suara alarm sinyal, yang menandakan kalau ada KA dari arah Rendeh. Sayapun langsung bersiap untuk memotretnya. Tapi entah kenapa, Rian justru malah lari ke arah barat stasiun. Hanya saya dan Mahra yang pergi ke arah timur.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya datanglah KA Argo Gede dari arah Jakarta lewat Maswati. Yang aneh, gerbong belakangnya adalah gerbong Harina (kalau tidak salah K1-02542 atau K1-02538).
Begitu KA Argo Gede lewat, Rianpun datang ke saya. Rupanya dia salah membaca arah kereta. Dia mengira kereta datang dari Bandung, padahal dari Jakarta!
Akibat keterlambatan itu, akhirnya kamipun gagal memotret KA Argo Gede dari Bandung yang ditarik CC204 15 di jembatan Cilangkap. Kamipun hanya berhasil memotret KA ini di dekat sinyal masuk Maswati. Sementara Mahra tak ikut, karena lagi asyik menelepon ceweknya.
Sekembalinya dari situ, kamipun pamit dengan PPKA dan pulang kembali ke Bandung.

BALIK KE BANDUG
Cerita tak berhenti di sini. Di perjalanan pulang ke Bandung, kami melihat bahwa lalu lintas di Padalarang makin lama makin semrawut karena banyak sepeda motor yang berjalan melawan arah. Saya berpikir, kalau seandainya saya menyetir truk tentara, maka saya pasti akan dengan senang hati menabrak dan melindas para pelanggar ini...
Ketika memasuki tol, kami cukup kaget melihat lalu lintas di tol dari gerbang Padalarang Barat hingga Pasteur yang tujuan Jakarta macet total!!
Wah, kami pikir nampaknya tak lama lagi, jika kemacetan tambah parah, dijamin angkutan KA bisa laku lagi.....
Setelah keluar gerbang tol Pasteur, akhirnya kamipun sampai di rumah saya, dan berakhirlah acara petualangan kami hari itu.

Wassalam.

[spoiler=Berikut picsnya]
1. CC204 08 menarik Parahyangan tujuan Jakarta.

kapanlagi

20090721200916_2_CC20408_excitement_4a65bdfc007d0.jpg

2. Argo Gede jam 14.30 dari Bandung di tikungan Maswati.

kapanlagi

20090721200916_3_ArgoGede_1430fromBD_4a65bdfc055df.jpg

3. CC204 08 berangkat dari stasiun Maswati.

kapanlagi

20090721200916_3_CC20408_depart_4a65bdfc0a49e.jpg

4. Serayu terlambat di tikungan Maswati.

kapanlagi

20090721200916_5_Serayu_telat_4a65bdfc0f219.jpg

5. Parahyangan tambahan yang muncul mendadak dari balik bukit.

kapanlagi

20090721200916_7_suddenly_Parahyangan_4a65bdfc14172.jpg

Alam daerah Maswati yang masih alami sekali.

kapanlagi

20090721201312_6_endless_tree_4a65bee82881b.jpg
[/spoiler]
Reply
#2
manteppp om fotonya , tp ps foto yg parahyangan tambahan it gak nyari spot dulu yak ?

[Image: 79HOP8.jpg]
Hasil karya saya covering lagu di SOUNDCLOUD, like ya
Reply
#3
(21-07-2009, 08:19 PM)gajayana Wrote: manteppp om fotonya , tp ps foto yg parahyangan tambahan it gak nyari spot dulu yak ?

Gimana mau nyari spot, wong dia muncul mendadak. Sudah gitu di sebelah kanan jurang yang dalam.
Reply
#4
Semenjak sibuk di warung soto saya, hunting pagi hari menjadi mustahil. Hampir setiap hari saya harus belanja. Lama-lama capek juga. Saya kangen juga hunting pagi hari di timur Bandung.
Jadi hunting pertama saya dengan Zephyr ini di Lebakjero, bisa saja menjadi hunting terakhir saya di timur Bandung untuk saat ini...
Reply
#5
Wah sayang Mas Bagus...
Karya panjenengan akan dirinduken penggemar nih...
Kalo ada waktu lage monggo hunting bareng....

NB : Warung soto??
Waduh, pingin.....

[Image: spammingsj0.gif]
Reply
#6
Saya masih tetap bisa hunting. Tetapi ya ke arah barat Bandung, yang kalau siang dan sore juga banyak keretanya.

Warung Soto saya ada di Istana Plaza, Bandung, lantai 3. Mampir aja kapan-kapan kalau mau.

Back to topic..
Reply
#7
Halo Mas Bagus. Apa Kabar nih?

Makin mantep aja foto nya nih...


Liburan long weekend tgl 18-20 Juli 2009 saya mudik ke Bandung lowh. Saya mudik ke Bandung hari sabtu tgl 18 pake Parahyangan yg jam 5 subuh trus berangkat ke Jakarta lagi tgl 20 juli pake argo gede jam 16.15. Mas bagus sempet foto kereta yang saya naiki nggak???
<a target='_blank' title='ImageShack - Image And Video Hosting' href='http://imageshack.us/photo/my-images/513/signatureduw.jpg/'><img src='http://img513.imageshack.us/img513/5100/signatureduw.jpg' border='0'/></a>

Reply
#8
Wah, nggak perhatikan yah....
Reply
#9
Setuju dengan Mas Bagus..., akses ke Maswati memang sangat parah!!
Kebetulan pas Jumat kemarin (18 Des 2009) saya istri berduaan hunting stasiun.. Di mulai dari Plered trus ke Cisomang, lanjut ke Sasaksaat dan Cilame, kemudian berakhir di Padalarang.

Tadinya abis dari Cisomang pengen juga mensasar Cikadongdong, Rendeh dan Maswati namun krn pertimbangan waktu, akhirnya abis dari Cisomang langsung ke Maswati aja.... Nanya2, akhirnya nemu juga akses ke Maswati, yaitu lewat Gerbang Perkebunan sebelum Panglejar....

Dengan PD, mobil langsung masuk ke Gerbang tsb... baru jalan 500 meter, saya nyerah...!!! Asli akses jalannya berbatu banget, dan parahhh!! Saya nggak tega sama suspensi dan ban mobil saya Tersenyuum Akhirnya batal deh ke Maswati, dan langsung cabut ke Sasaksaat....
I am infamous and like my bad boy image but don't tell anybody it's all an act... Tersenyuum
Reply
#10
Mobilnya apa mas? Saya sih ke depan pingin beli mobil Mistubishi Pajero 4WD biar bisa masuk ke Cirahayu.
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)