Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kisah Lokomotif Pembangkit
#1
Kereta barang pembangkit (BP), atau kereta makan pembangkit (KMP) mungkin sudah lazim kita mendengarnya. Tapi kalau lokomotif pembangkit? Tak banyak orang yang tahu ceritanya. Listrik sebagai kebutuhan rangkaian kereta modern memang tidak dapat dipinggirkan. Catu daya untuk menyalakan lampu, kipas, AC, atau perangkat lain di atas kereta sangat dibutuhkan.

Dahulu pada jaman PJKA, kebutuhan listrik ini disuplai melalui dinamo yang digerakkan oleh roda kereta yang kemudian disimpan di dalam batere. Namun terbukti metode ini tidak terlalu dapat diandalkan, karena batere punya keterbatasan usia pakai yang berpengaruh langsung dengan suplai listrik ke dalam kereta.

Jalan keluarnya adalah menggunakan kereta yang khusus didedikasikan sebagai pembangkit listrik. Namun tentu saja karena hal ini tidak ekonomis, karena itu pembangkit listrik ini 'dititipkan' di kereta barang. Tapi sekali lagi, bagaimana jika tidak ada barang yang diangkut, akan lebih baik lagi, bila pembangkit ini dijadikan satu dengan kereta makan. Namun upaya efisiensi ruang dalam kereta selalu diupayakan untuk terus dioptimalkan, sehingga ada gagasan bila pembangkit ini bisa ada di luar rangkaian kereta. Tapi kemana?

Nah dari sinilah gagasan lokomotif pembangkit ini lahir. Ruang dalam lokomotif bukan ruang komersial, sehingga bisa digunakan untuk menempatkan generator tambahan. CC20138 adalah kelinci percobaannya. Lok ini dipermak sedemikian rupa sehingga bisa menjadi pembangkit listrik kereta. Namun setelah itu tidak pernah terdengar lagi kabarnya, apakah uji coba itu berhasil, atau tidak seefisien BP/KMP, jika ada yang punya informasinya silahkan dibagi di thread ini.

CC20138 di dipo Jogja, dengan soket listrik di hidung panjang tepat di bawah lubang tangki pemasir. Aslinya soket ini ada di kedua sisi, tapi yang terlihat ini hanya ada di satu sisi saja.

kapanlagi

20090927221704_IMG_0247_4abf81f0a7348.JPG

CC20138 di St. Lempuyangan. Terlihat bekas soket listrik di hidung pendek di kedua sisi.

kapanlagi

20090927221704_IMG_0249_4abf81f0bd599.JPG

Foto-foto ini di-scan dari foto lama. Diambil sekitar tahun 2003 lalu. Beberapa tahun kemudian, ternyata CC20138 saya jumpai di Cirebon telah kembali dengan wajah normal.

kapanlagi

20090927224922_IMG_0523_4abf8982764cf.JPG

Soni
Reply
#2
Kalo gak salah dulu banget pernah mbaca ulasannya Pak Moch. Hendrowijono di Kompas, kalo uji coba tsb berupa pemasangan alternator/dinamo di ruang mesin CC201, alternator tsb diputar/digerakkan dgn penambahan v-belt yg dihubungkan ke bagian output mesin dieselnya.
Tapi karena keterbatasan ruang memang ukuran alternatornya nggak bisa terlalu besar sehingga output daya listriknya juga terbatas, sehingga uji coba ini hanya ditujukan utk rangkaian K3. Mungkin uji coba ini kurang berhasil...
Ya memang sih gak bakal bisa dibandingin dgn gerbong power yg 2/3 ruangannya penuh dgn mesin diesel dan genset yg outputnya juga gede banget sehingga bisa supply AC utk seluruh rangkaian.
Mungkin bisa juga kali ya, lok2 DH dan DE yg udah pada almarhum di Pengok diambil chassisnya, bodinya dimodif, trus ruang mesin dikosongkan dan diganti dgn diesel genset, kan bisa jadi gerbong power. Keren kan, kalo digandeng di blkg lok jd seakan2 DT, kalo dibelakang jd kayak push-pull, hehehe...
Mungkin cukup ekonomis, kan tinggal beli mesin diesel n genset baru, gak perlu beli chassis dan carbody lagi. Daripada discrap yg cuma dihitung kiloan.




(27-09-2009, 10:55 PM)spoorsoni Wrote: Kereta barang pembangkit (BP), atau kereta makan pembangkit (KMP) mungkin sudah lazim kita mendengarnya. Tapi kalau lokomotif pembangkit? Tak banyak orang yang tahu ceritanya. Listrik sebagai kebutuhan rangkaian kereta modern memang tidak dapat dipinggirkan. Catu daya untuk menyalakan lampu, kipas, AC, atau perangkat lain di atas kereta sangat dibutuhkan.

Dahulu pada jaman PJKA, kebutuhan listrik ini disuplai melalui dinamo yang digerakkan oleh roda kereta yang kemudian disimpan di dalam batere. Namun terbukti metode ini tidak terlalu dapat diandalkan, karena batere punya keterbatasan usia pakai yang berpengaruh langsung dengan suplai listrik ke dalam kereta.

Jalan keluarnya adalah menggunakan kereta yang khusus didedikasikan sebagai pembangkit listrik. Namun tentu saja karena hal ini tidak ekonomis, karena itu pembangkit listrik ini 'dititipkan' di kereta barang. Tapi sekali lagi, bagaimana jika tidak ada barang yang diangkut, akan lebih baik lagi, bila pembangkit ini dijadikan satu dengan kereta makan. Namun upaya efisiensi ruang dalam kereta selalu diupayakan untuk terus dioptimalkan, sehingga ada gagasan bila pembangkit ini bisa ada di luar rangkaian kereta. Tapi kemana?

Nah dari sinilah gagasan lokomotif pembangkit ini lahir. Ruang dalam lokomotif bukan ruang komersial, sehingga bisa digunakan untuk menempatkan generator tambahan. CC20138 adalah kelinci percobaannya. Lok ini dipermak sedemikian rupa sehingga bisa menjadi pembangkit listrik kereta. Namun setelah itu tidak pernah terdengar lagi kabarnya, apakah uji coba itu berhasil, atau tidak seefisien BP/KMP, jika ada yang punya informasinya silahkan dibagi di thread ini.


Soni
Reply
#3
secara teknis dan perhitungan, untuk K1, beban listrik sangat besar. 1 unit AC memerlukan daya 8 - 10 KW, dan dalam satu K1 ada 2 AC sehingga tiap K1 butuh minimal 20 KW, belum termasuk lampu atau TV. Kalo K3 jauh lebih rendah , karena hanya lampu dan kadang kalo siang pun tidak nyala...
Generator mempunyai ukuran yang tergantung daya. penempatan Generator tambahan di Lok,bisa saja, namun dayanya kecil. untuk rangkaian K3 mungkin masih mampu, namun untuk K2 dan K1, jelas kecil kemungkinan..
sebagai info, BP sekitar 500 KW. ini menurut perhitungan bahwa jumlah maksimum K1 adalah 10 Kereta ditambah M1 dan BP

[Image: banner.jpg]
Reply
#4
mungkin agak OOT neh....
Knp ga bikin inovasi aja di tiap gerbong menggunakan lampu LED ? wattnya lebih kecil ketimbang neon.
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
#5
(30-09-2009, 10:30 AM)bonbon Wrote: mungkin agak OOT neh....
Knp ga bikin inovasi aja di tiap gerbong menggunakan lampu LED ? wattnya lebih kecil ketimbang neon.

gerbong baru sekarang semboyan 21 pake LED ya??
Reply
#6
Kelihatannya utk sekarang ini teknologi LED utk penerangan masih kurang baik dibanding lampu pijar atau neon/TL, Tapi kalau sebagai lampu indikator memang sudah cukup baik.





(30-09-2009, 10:30 AM)bonbon Wrote: mungkin agak OOT neh....
Knp ga bikin inovasi aja di tiap gerbong menggunakan lampu LED ? wattnya lebih kecil ketimbang neon.
Reply
#7
Wah, ternyata banyak hal-hal yang istimewa dari perkeretaapian indonesia ya, sampai ada lokomotif pembangkit, tapi, bukankah listrik yang dihasilkan generator utama lokomotif untuk motor traksi saja? Bisa-bisa nanti si lokomotif CC 201 38 ini bisa kekurangan daya listrik, nanti bisa mogok, jadi sekarang socket listriknya di amputasi. Memang... bisa saja ada lokomotif pembangkit, namun lokomotif itu punya listrik surplus? Yang cukup memenuhi kebutuhan listrik untuk seluruh rangkaian kereta api, terutama kelas eksekutif yang rakus terhadap listrik? Atau lokomotif itu punya generator tersendiri untuk menghasilkan listrik untuk rangkaian kereta api? Sepertinya mungkin di Amerika Serikat ada lokomotif pembangkit, namun dipakai untuk kereta api jarak jauh, misalnya lokomotif kelas F7 yang disusun A-B-B-A (A untuk lokomotif berkabin, sedangkan B tidak mempunyai kabin) menarik kereta api 'Super Chief' mungkin dipakai sebagai lokomotif pembangkit. Kan ada 4 lokomotif yang dirangkai jadi satu. Kita bisa mengusulkan PT. Kereta Api, membeli/memproduksi lokomotif khusus penarik KA jarak jauh dan pembangkit. Lokomotif ini sangat ideal bila dirangkaikan dengan rangkaian KA Ekonomi seperti GBMS, Tawang Jaya, Matarmaja, Kahuripan, Kertajaya, dll... sehingga Kereta Api bisa berjalan lebih efektif dan efisien.
Reply
#8
Kereta - kereta K1,K3 dan B memang memakai LED pada S21...
untuk lampu LED emang lebih hemat, tapi mahal harganya....

memang untuk rangkaian K3, Tenaga yang dibutuhkan lebih kecil...namun sekarang hampir tiap kereta jarak jauh dikasih Kereta Makan..sedangkan genset yang dibutuhkan kecil, jadilah KMP3 ...
tapi semakin baru, ruang Genset-nya tambah kecil....
hmm ide loko dengan gen-set boleh juga tuh...cuma harus diperhitungkan lagi kapasitasnya...hehehe
tapi kalo pake lok CC sekarang, aku rasa ga muat tuh space-nya..hehehe

[Image: banner.jpg]
Reply
#9
tapi kalo misalnya pembangkit juga ditaro di lokomotif kan juga nambah beban lokomotifnya....
tau CC203 kan, loko dengan berat maksimum yang dapat ditahan rel yang ada di jawa....
kalo ditambahin lagi genset yang lumayan berat, gimana nasib relnya..........???
|warm up|


[Image: 418089_2580690805272_1494496598_32011478...2663_n.jpg]
Reply
#10
(30-09-2009, 06:31 AM)Logawa_exp Wrote: Generator mempunyai ukuran yang tergantung daya. penempatan Generator tambahan di Lok,bisa saja, namun dayanya kecil. untuk rangkaian K3 mungkin masih mampu, namun untuk K2 dan K1, jelas kecil kemungkinan..
sebagai info, BP sekitar 500 KW. ini menurut perhitungan bahwa jumlah maksimum K1 adalah 10 Kereta ditambah M1 dan BP

Omong-omong, output generator pada loko DE brp watt? & brp daya yg dibutuhkan utk 6 motor traksi?
Keep Fighting Never Give
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)