06-10-2009, 10:18 PM
Dari Radar Cirebon, 6 Oktober 2009
Menikah
di Kereta
Gelaran pernikahan tak hanya baku dilakukan di rumah mempelai, atau di sebuah gedung. Senin (5/10), pernikahan unik digelar pasangan Agus Riyadi (29) dan Rara Saraswati (21), di atas KA Wisata Nusantara dengan mengambil rute Cirebon-Brebes.
***
PUKUL 11.00 konsentrasi massa di Stasiun Kejaksan bertambah. Bila biasa stasiun penuh sesak oleh calon penumpang yang memang mau menuju daerah tertentu, kemarin (5/10), kepadatan melonjak dengan hadirnya sejumlah orang yang didominasi mengenakan batik, sebagaimana hendak mengikuti sebuah prosesi pernikahan.
Di satu sudut, pasangan pengantin mengenakan gaun merah tua jadi pusat perhatian. Saat itu keduanya akan berangkat naik KA Wisata Nusantara, diikuti rombongan kerabat dan sanak keluarga.
Setelah disemarakkan dengan tarian penyambutan, sebelum beranjak naik ke KA yang juga pernah dipakai Presiden SBY mengunjungi beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah, bersama jajaran pimpinan Daop III Cirebon, Agus dan Rara berpose di hadapan kamera para jurnalis cetak dan elektronik. Terlihat Humas Daop III Rudi Effendi dan Kepala Seksi Pemasaran Daop III, Teguh Triyono.
Di atas KA, kedua mempelai duduk di balkon VIP didampingi kedua orang tua masing-masing juga penghulu dari KUA Kecamatan Kedaawung, H Deni. Karena akad nikah telah dilangsungkan di kediaman Rara, maka saat itu digunakan untuk mendengar khutbah nikah, penandatanganan berkas nikah dan penyematan cincin nikah.
Setelah semua selesai, KA Nusantara bernomor seri 67501 berangkat menuju Stasiun Brebes pada pukul 12.00. Rangkaian KA Nusantara disertakan pula 3 gerbong kelas eksekutif bagi para undangan dan wartawan yang meliput peristiwa bersejarah tersebut. Pasalnya, baru pertama kali ada pasangan yang menikah di atas kereta api.
Di tengah perjalanan, Agus yang merupakan putera bungsu dari 3 bersaudara putera Komarudin dan Eti Nurhayati, beserta Rara sulung dari 4 bersaudara puteri M Yani dan Maya Sopha, berjalan dari satu gerbong ke gerbong lain untuk mengucapkan terima kasih pada undangan yang hadir. Tak lupa mereka memberikan suvenir berupa kalender bergambar foto-foto pre wedding. “Jangan lupa besok, (hari ini, 6/10) datang ke resepsi kami,†undang Agus.
Setibanya di Stasiun Brebes, pasangan pengantin yang baru mengikat janji suci tersebut menyempatkan berfoto di depan papan nama Stasiun Brebes kemudian dilanjutkan dengan menaiki lokomotif BB 303 49 buatan tahun 1986. Di atas lokomotif tersebut, pasangan pengantin tersebut melambaikan tangan kepada kerabat dan para penumpang yang menunggu di stasiun.
Lokomotif tersebut berjalan perlahan melintasi Stasiun Brebes. Sang mempelai pria yang sudah terbiasa berada di atas lokomotif terlihat tenang-tenang saja, berbeda dengan Rara yang justru tampak panik karena mungkin baru pertama kali naik lokomotif. Acara naik lokomotif tersebut terlihat begitu spesial, pasalnya lokomotif tersebut dihiasi aneka aksesori seperti layaknya mobil pengantin.
Lelaki yang berprofesi sebagai asisten masinis tersebut saat diwawancarai wartawan koran ini sebelum berangkat, mengatakan, ide untuk menikah di atas kereta api muncul tiba-tiba. Sebab, semula pernikahan tersebut akan dilaksanakan seperti layaknya pernikahan pada umumnya yaitu di rumah mempelai perempuan.
Tetapi, sebulan sebelum pernikahan dilaksanakan, muncul ide yang juga usulan dari beberapa rekan kerjanya untuk menikah di atas kereta. "Karena ide tersebut saya rasa menarik dan sepertinya belum pernah ada, akhirnya dikonsultasikan kepada calon istri dan ternyata keluarga juga setuju," tuturnya didampingi perempuan yang baru saja resmi menjadi istrinya.
Agus mengaku, setelahnya mendaftarkan untuk menyewa KA Nusantara, hampir satu bulan dirinya tidak mendapatkan konfirmasi dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daop III, karena bertepatan dengan momen mudik dan arus balik. Konfirmasi dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daop III baru diterima lima hari sebelum pernikahan. “Jadi, semuanya serba mendadak. Termasuk penghulu yang juga baru diberi tahun sehari sebelum akad nikah," akunya.
Agus berharap, meski pernikahannya tersebut tidak lazim dilakukan seperti layaknya pasangan lainnya, tetapi biduk rumah tangga yang bakal dilakoinya bersama istrinya dapat berjalan sesuai yang diharapkan. "Semua pasangan tentunya ingin menjadi pasangan yang sakinah, mawadah dan warrahmah," ujarnya.
Penghulu Kecamatan Kedawung H Deni, yang ditemui ditempat yang sama juga mengaku kaget dengan rencana menikah di atas kereta api yang sedang berjalan. Meski akad nikah dilaksanakan di rumah di Jl Evakuasi, tetapi untuk khotbah nikah, penandatanganan buku nikah, penyematan cincin dan resepsi pernikahan dilakukan di atas kereta.
"Saya sendiri sempat kaget karena pernikahannya tidak biasa, tetapi sebagai pelayan masyarakat tentu permintaan pengantin untuk menikah di atas kereta harus dipenuhi," katanya.
Sementara itu Humas Daop III Cirebon, Rudi Effendi, menjelaskan biaya yang digelontorkan kedua mempelai guna memanfaatkan KA Nusantara tujuan Cirebon-Brebes sebagai bagian prosesi pernikahan adalah Rp8.250.000.
Rudi mengungkapkan, penggunaan KA Nusantara untuk acara pernikahan terbuka untuk siapa saja. Dengan harga termahal Rp15.500.000 tujuan Cirebon-Surabaya. “KA Nusantara berdiam di Jakarta, namun kalau ada yang mau pakai bisa segera datang. Terserah mau ke mana, dari Cirebon bisa ke Jakarta, Bandung, Semarang, Purwokerto, Jogjakarta, Solo dan Surabaya,†terangnya seraya menyebutkan tarif yang dikenakan sekali jalan dengan akomodasi makan-minum.
Rudi menjelaskan KA Wisata Nusantara memiliki kapasitas tempat duduk ekslusif 19 orang. Kamar tidur bagi 2 orang, yang dilengkapi kaca rias, lampu tidur dan wastafel. Lelaki berkacamata itu menambahkan disebut KA Wisata Nusantara karena desain interior dan segala pernak-pernik menggambarkan seni keindahan dari berbagai pelosok nusantara. (m rona anggie/yuda sanjaya)
Menikah
di Kereta
Gelaran pernikahan tak hanya baku dilakukan di rumah mempelai, atau di sebuah gedung. Senin (5/10), pernikahan unik digelar pasangan Agus Riyadi (29) dan Rara Saraswati (21), di atas KA Wisata Nusantara dengan mengambil rute Cirebon-Brebes.
***
PUKUL 11.00 konsentrasi massa di Stasiun Kejaksan bertambah. Bila biasa stasiun penuh sesak oleh calon penumpang yang memang mau menuju daerah tertentu, kemarin (5/10), kepadatan melonjak dengan hadirnya sejumlah orang yang didominasi mengenakan batik, sebagaimana hendak mengikuti sebuah prosesi pernikahan.
Di satu sudut, pasangan pengantin mengenakan gaun merah tua jadi pusat perhatian. Saat itu keduanya akan berangkat naik KA Wisata Nusantara, diikuti rombongan kerabat dan sanak keluarga.
Setelah disemarakkan dengan tarian penyambutan, sebelum beranjak naik ke KA yang juga pernah dipakai Presiden SBY mengunjungi beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah, bersama jajaran pimpinan Daop III Cirebon, Agus dan Rara berpose di hadapan kamera para jurnalis cetak dan elektronik. Terlihat Humas Daop III Rudi Effendi dan Kepala Seksi Pemasaran Daop III, Teguh Triyono.
Di atas KA, kedua mempelai duduk di balkon VIP didampingi kedua orang tua masing-masing juga penghulu dari KUA Kecamatan Kedaawung, H Deni. Karena akad nikah telah dilangsungkan di kediaman Rara, maka saat itu digunakan untuk mendengar khutbah nikah, penandatanganan berkas nikah dan penyematan cincin nikah.
Setelah semua selesai, KA Nusantara bernomor seri 67501 berangkat menuju Stasiun Brebes pada pukul 12.00. Rangkaian KA Nusantara disertakan pula 3 gerbong kelas eksekutif bagi para undangan dan wartawan yang meliput peristiwa bersejarah tersebut. Pasalnya, baru pertama kali ada pasangan yang menikah di atas kereta api.
Di tengah perjalanan, Agus yang merupakan putera bungsu dari 3 bersaudara putera Komarudin dan Eti Nurhayati, beserta Rara sulung dari 4 bersaudara puteri M Yani dan Maya Sopha, berjalan dari satu gerbong ke gerbong lain untuk mengucapkan terima kasih pada undangan yang hadir. Tak lupa mereka memberikan suvenir berupa kalender bergambar foto-foto pre wedding. “Jangan lupa besok, (hari ini, 6/10) datang ke resepsi kami,†undang Agus.
Setibanya di Stasiun Brebes, pasangan pengantin yang baru mengikat janji suci tersebut menyempatkan berfoto di depan papan nama Stasiun Brebes kemudian dilanjutkan dengan menaiki lokomotif BB 303 49 buatan tahun 1986. Di atas lokomotif tersebut, pasangan pengantin tersebut melambaikan tangan kepada kerabat dan para penumpang yang menunggu di stasiun.
Lokomotif tersebut berjalan perlahan melintasi Stasiun Brebes. Sang mempelai pria yang sudah terbiasa berada di atas lokomotif terlihat tenang-tenang saja, berbeda dengan Rara yang justru tampak panik karena mungkin baru pertama kali naik lokomotif. Acara naik lokomotif tersebut terlihat begitu spesial, pasalnya lokomotif tersebut dihiasi aneka aksesori seperti layaknya mobil pengantin.
Lelaki yang berprofesi sebagai asisten masinis tersebut saat diwawancarai wartawan koran ini sebelum berangkat, mengatakan, ide untuk menikah di atas kereta api muncul tiba-tiba. Sebab, semula pernikahan tersebut akan dilaksanakan seperti layaknya pernikahan pada umumnya yaitu di rumah mempelai perempuan.
Tetapi, sebulan sebelum pernikahan dilaksanakan, muncul ide yang juga usulan dari beberapa rekan kerjanya untuk menikah di atas kereta. "Karena ide tersebut saya rasa menarik dan sepertinya belum pernah ada, akhirnya dikonsultasikan kepada calon istri dan ternyata keluarga juga setuju," tuturnya didampingi perempuan yang baru saja resmi menjadi istrinya.
Agus mengaku, setelahnya mendaftarkan untuk menyewa KA Nusantara, hampir satu bulan dirinya tidak mendapatkan konfirmasi dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daop III, karena bertepatan dengan momen mudik dan arus balik. Konfirmasi dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daop III baru diterima lima hari sebelum pernikahan. “Jadi, semuanya serba mendadak. Termasuk penghulu yang juga baru diberi tahun sehari sebelum akad nikah," akunya.
Agus berharap, meski pernikahannya tersebut tidak lazim dilakukan seperti layaknya pasangan lainnya, tetapi biduk rumah tangga yang bakal dilakoinya bersama istrinya dapat berjalan sesuai yang diharapkan. "Semua pasangan tentunya ingin menjadi pasangan yang sakinah, mawadah dan warrahmah," ujarnya.
Penghulu Kecamatan Kedawung H Deni, yang ditemui ditempat yang sama juga mengaku kaget dengan rencana menikah di atas kereta api yang sedang berjalan. Meski akad nikah dilaksanakan di rumah di Jl Evakuasi, tetapi untuk khotbah nikah, penandatanganan buku nikah, penyematan cincin dan resepsi pernikahan dilakukan di atas kereta.
"Saya sendiri sempat kaget karena pernikahannya tidak biasa, tetapi sebagai pelayan masyarakat tentu permintaan pengantin untuk menikah di atas kereta harus dipenuhi," katanya.
Sementara itu Humas Daop III Cirebon, Rudi Effendi, menjelaskan biaya yang digelontorkan kedua mempelai guna memanfaatkan KA Nusantara tujuan Cirebon-Brebes sebagai bagian prosesi pernikahan adalah Rp8.250.000.
Rudi mengungkapkan, penggunaan KA Nusantara untuk acara pernikahan terbuka untuk siapa saja. Dengan harga termahal Rp15.500.000 tujuan Cirebon-Surabaya. “KA Nusantara berdiam di Jakarta, namun kalau ada yang mau pakai bisa segera datang. Terserah mau ke mana, dari Cirebon bisa ke Jakarta, Bandung, Semarang, Purwokerto, Jogjakarta, Solo dan Surabaya,†terangnya seraya menyebutkan tarif yang dikenakan sekali jalan dengan akomodasi makan-minum.
Rudi menjelaskan KA Wisata Nusantara memiliki kapasitas tempat duduk ekslusif 19 orang. Kamar tidur bagi 2 orang, yang dilengkapi kaca rias, lampu tidur dan wastafel. Lelaki berkacamata itu menambahkan disebut KA Wisata Nusantara karena desain interior dan segala pernak-pernik menggambarkan seni keindahan dari berbagai pelosok nusantara. (m rona anggie/yuda sanjaya)





![[Image: 21kkvba.jpg]](http://i57.tinypic.com/21kkvba.jpg)




