Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Biaya Revitalisasi Jalur KA Sangat Mahal?
#1
Hari Kamis, 11 Maret 2009 kemarin, Harian KOMPAS memberitakan rencana revitalisasi jalur Sukabumi-Jakarta untuk kepentingan angkutan AQUA Danone yang membutuhkan dana Rp 15-20 M per KM (http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03...kereta.api). Rencananya semua rel akan diganti karena jalur tersebut masih mempergunakan R 33 yang kurang memenuhi syarat.

Jika dana untuk satu KM rel KA saja begitu mahalnya, bagaimana PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan anggaran yang ada akan mampu menghidupkan jalur-jalur mati lain di Indonesia? Saya tidak tahu berapa alokasi anggaran yang dimiliki oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) per tahun. Namun yang membuat saya miris, dana yang dibutuhkan untuk merevitalisasi jalur-jalur mati tentu akan lebih besar dari itu jika mengingat kemungkinan adanya tuntutan ganti rugi dari warga yang sudah membangun rumah di atas rel maupun yang telah bermukim di stasiun mati untuk sekian waktu lamanya. Nampaknya tidak mungkin bagi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) untuk begitu saja menggusur mereka tanpa memberikan ganti rugi.

Adanya fakta besaran dana seperti di atas ditambah segala kemungkinan tuntutan ganti rugi barangkali akan semakin membuat keinginan para edan spoor untuk menghidupkan jalur-jalur mati hanya berada dalam alam mimpi. Apalagi untuk merawat jalur yang aktif plus biaya operasional serta peremajaan loko maupun gerbong saja, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tentu membutuhkan dana yang sangat besar.

Mohon pencerahan serta tanggapan dari rekan-rekan dan sedulur-sedulur sekalian.

Salam Spoor,
Reply
#2
Biaya 2M/km itu hitungan tahun 2009 dan semisal di mulai th 2011 kemungkinan bisa lebih besar lagi, berapa besaran kalau tidak segera di mulai akan menjadi lebih berat lagi biaya kedepannya, sepertinya rasional saja dengan kondisi yang ada sekarang ini serta jalur sukabumi - Jakarta standardnya minimal menggunakan bantalan beton dan R.42, berarti bisa dilaksanakan proyek ini mengingat kedepannya mobilitas transportasi semakin fital dengan moda rel.
Jangan matikan aku bila perlu tambah dan panjangkan jalurku, biarkan kereta melaju di punggungku....SPOR RAIDER

GREEN LIVING
Salam Kereta, Nuwun
Reply
#3
kenapa tidak lokomotif nya saja yang dibuat lebih ringan?
Reply
#4
Wih besar juga ya biayanya weleh weleh berarti susah juga ya mengaktifkan jalur mati yg sudah banyak parasit tumbuh di atas rel mati
Reply
#5
maaf jika salah, untuk perawatan jalan dan rel bukannya di handel oleh DEPHUB dalam hal ini DIRJEN PERKERETAPIAN

Reply
#6
Sekarang ini yang bertanggung jawab urusan begituan adalah Dirjen KA, bukan PT KA. PT KA hanya mengurusi operasional KA. Urusan revitalisasi rel adalah urusan Dirjen KA.
Reply
#7
dari kompas, kamis 11-3-2009
[spoiler]
[Image: 24053_1382177522874_1485041322_984569_1989554_n.jpg][/spoiler]

[spoiler]
[Image: 24053_1382203923534_1485041322_984629_3728395_n.jpg][/spoiler]

Reply
#8
Sama dengan pembahasan di daerah jawa Barat dan Jawa Tengah yang akan merefitalisasi jalur mati memeng di perkirakan 15-20M /km dan ternyata tidak termasuk pembebasan/pembenahan yang ditumbuhi benalu dan itu tahun 2009, nah kalau ditahun berikutnya berarti biaya akan tambah membengkak. Klau di lintasan Sukabumu -Jakarta diperkirakan tidak sebesar itu mengingat jalur masih ada dan utuh, tinggal penggantian ukuran rel dari R.33 ke R.54, bantalan beton, perbaikan jembatan, renovasi stasiun termasuk pembenambahan jalur emplasemen dan penggunaan sinyal electrik, pasti ini sudah dibuatkan master plan oleh Dirjen KA. cepet2 aja meski dengan sistim di kredit.
Jangan matikan aku bila perlu tambah dan panjangkan jalurku, biarkan kereta melaju di punggungku....SPOR RAIDER

GREEN LIVING
Salam Kereta, Nuwun
Reply
#9
jangan persimis dulu. kalo masalah menghidupkan jalur mati biayanya tergantung juga dari apa yang nanti mau lewat diatasnya. kalo yang mau lewat itu kelas railbus, lrt, trem, ya gak usah pake r54 dan bantalan beton. jadi biayanya bisa lebih murah.

lain halnya kalo angkutan barang kelas berat, mau gak mau harus di ganti rel dan bantalannya.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#10
(13-03-2010, 08:05 AM)ady_mcady Wrote: jangan persimis dulu. kalo masalah menghidupkan jalur mati biayanya tergantung juga dari apa yang nanti mau lewat diatasnya. kalo yang mau lewat itu kelas railbus, lrt, trem, ya gak usah pake r54 dan bantalan beton. jadi biayanya bisa lebih murah.

lain halnya kalo angkutan barang kelas berat, mau gak mau harus di ganti rel dan bantalannya.


Sinkron kang...berarti biaya bisa ditekan karena jalur - jalur yang mati sekarang kebanyakan cuma light train bukan heavy duty berati bisa menggunakan R.42 bantalan besi saja dan ini bisa memakai material yang bekas dari jalur utama, dari pada di kilokan mending bisa manfaatkan serta dengan persaratan di kalibrasi ulang supaya layak pakai lagi.
Jangan matikan aku bila perlu tambah dan panjangkan jalurku, biarkan kereta melaju di punggungku....SPOR RAIDER

GREEN LIVING
Salam Kereta, Nuwun
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)