18-11-2010, 06:09 AM
VIVAnews - Pengungsi korban letusan Gunung Merapi tak perlu khawatir kekurangan pakaian selama pengungsian. Di Stasiun Tugu Yogyakarta, sudah terdapat 50 ton baju bekas layak pakai yang siap diambil.
Slamet Haryono, seorang porter di stasiun, menyebutkan, sebenarnya bantuan yang datang melalui kereta api ini bukan hanya pakaian bekas, tapi juga minuman, makanan dan pembalut. Namun bantuan jenis terakhir ini selalu terbatas sehingga sudah dibawa ke lokasi pengungsian oleh sejumlah relawan.
Jadilah kemudian yang tertinggal di stasiun hanya pakaian dan selimut bekas pakai. "Kemarin datang lagi 22 ton," kata Slamet ditemui di Stasiun, Senin 15 November 2010. Slamet dan teman-teman sesama porter kemudian menurunkan barang-barang yang termuat dalam satu gerbong itu.
Pantauan VIVAnews, barang-barang bantuan itu diletakkan begitu saja di peron stasiun. Beberapa staf PT Kereta Api hanya mengawasi orang yang mengambil. Tampak sejumlah personel TNI memasukkan pakaian itu ke dalam sebuah truk.
Terlihat pula sejumlah orang yang mengaku pengungsi yang memilih-milih pakaian. Susiati, warga Wonokerto, Turi, Sleman, yang mengungsi di Piyungan, menyatakan ikut mengambil pakaian bekas ini dengan membawa kartu tanda penduduk yang membuktikan dia berdomisili di kawasan wajib mengungsi.
Susiati bersama sejumlah tetangganya dengan bersemangat memilih pakaian-pakaian bekas. "Saya mencari selimut dan handuk untuk bayi saya," kata Susiati.
Laporan Erick Tanjung | Yogyakarta, umi
• VIVAnews
--------------
Sampai terlantar begitu yah? Payah juga sih koordinasinya. Tadi di Reportase Pagi di Trans TV (18/11) terlihat salah seorang mengenakan jaket Edan Sepur. Mungkin beliau juga panitia kali yah?
Slamet Haryono, seorang porter di stasiun, menyebutkan, sebenarnya bantuan yang datang melalui kereta api ini bukan hanya pakaian bekas, tapi juga minuman, makanan dan pembalut. Namun bantuan jenis terakhir ini selalu terbatas sehingga sudah dibawa ke lokasi pengungsian oleh sejumlah relawan.
Jadilah kemudian yang tertinggal di stasiun hanya pakaian dan selimut bekas pakai. "Kemarin datang lagi 22 ton," kata Slamet ditemui di Stasiun, Senin 15 November 2010. Slamet dan teman-teman sesama porter kemudian menurunkan barang-barang yang termuat dalam satu gerbong itu.
Pantauan VIVAnews, barang-barang bantuan itu diletakkan begitu saja di peron stasiun. Beberapa staf PT Kereta Api hanya mengawasi orang yang mengambil. Tampak sejumlah personel TNI memasukkan pakaian itu ke dalam sebuah truk.
Terlihat pula sejumlah orang yang mengaku pengungsi yang memilih-milih pakaian. Susiati, warga Wonokerto, Turi, Sleman, yang mengungsi di Piyungan, menyatakan ikut mengambil pakaian bekas ini dengan membawa kartu tanda penduduk yang membuktikan dia berdomisili di kawasan wajib mengungsi.
Susiati bersama sejumlah tetangganya dengan bersemangat memilih pakaian-pakaian bekas. "Saya mencari selimut dan handuk untuk bayi saya," kata Susiati.
Laporan Erick Tanjung | Yogyakarta, umi
• VIVAnews
--------------
Sampai terlantar begitu yah? Payah juga sih koordinasinya. Tadi di Reportase Pagi di Trans TV (18/11) terlihat salah seorang mengenakan jaket Edan Sepur. Mungkin beliau juga panitia kali yah?







![[Image: dsc05089s.jpg]](http://img530.imageshack.us/img530/7166/dsc05089s.jpg)
![[Image: dsc05088x.jpg]](http://img146.imageshack.us/img146/8205/dsc05088x.jpg)
![[Image: dsc05090t.jpg]](http://img819.imageshack.us/img819/2108/dsc05090t.jpg)