Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Jakarta Sebenarnya Perlu KA Lingkar Gak Yah?
#1
Secara keseharian warga Jabodetabek pengguna jasa KRL tentu sudah gak asing lagi dengan namanya ketepatan waktu. Yang dari Serpong, Tangerang, Bogor, Depok, Bekasi, semua bejubel memadati stasiun keberangkatan di pagi hari enggak peduli meski di atap sudah penuh krn yg di dalem sudah gak tertampung. Secara keseharian sudah pasti yg dari Tangerang dan Serpong enggak bisa menikmati perjalanan ke Gambir karena sulit dijangkau dan yg dari Bogor pun gak bisa ke Ps. Senen krn alasan yg sama, gak efisien jika dilakukan maju - mundur meski si KRL itu jenisnya EMU / electrical multiple unit.

Semakin dekat dengan stasiun di mana kantor kita berada, sekolah kita berada, toko kita berada dan kampus kita berada, maka semakin praktis ketimbang keluar dari stasiun mesti naik angkot, ojek, bus atau pun Mikrolet. Kalau saja rangkaian KA semacam Ciliwung diperbanyak sebetulnya teman2 sudah setuju apa justru perlu dipikir2 lagi? KRL Ciliwung yg beroperasi sudah 3 1/4 tahun ini pun gak berjalan baik. Selalu aku perhatiin yg keluar masuk sangatlah sedikit. Malahan yg di dalem pun saat aku dalam perjalanan bersama pr penumpang yg ada kena karcis suplisi dg berbagai alasan. Alasan transferanlah yang paling nyata salah satunya bagi pengguna KRL rute Tn. Abang - Kota yg karena KD3 Langsam masih lama datengnya oleh pihak stasiun setempat suruh naik Ciliwung aja meski karcis di tgn mrk itu bener2 utk Klas Ekonomi non AC.

Belum lagi dg seringnya gangguan sinyal, wesel, perjalanan KA yg bentrok dg KA - KA jarak menengah dan jauh. Apa pantas kalau KRL Lingkar Jakarta dioperasiin banyak? Dg gitu, yg dari Serpong bisa turun di Ps. Senen, dr Tangerang bisa turun di Gambir dan dari Bekasi pun bisa turun di Duri.

Reply
#2
justru saya pikir KA lingkar perlu diperbanyak frekuensinya, termasuk dengan kereta ekonomi biasa..
biarlah kereta dari bogor cuma sampai manggarai, asal penyusunan jadwalnya bisa memungkinkan kereta lingkar dengan ekonomi BOO-MRI nyampe baeng biar ga numpuk...
sistem di jepang bukannya seperti itu kan??
Reply
#3
Tapi siap2 berharap kalau salah satu ada gangguan sinyal masuk atau pun keluar gak ketinggalan KRL aja... Misal dr Bogor mau masuk Mri ketahan KA jarak jauh ke arah Jng dst. Secara keseharian KRL Eknomi dan Eko AC masuk spoor 3 atau pun 4 st Mri. Sementara si jarak jauh dr Gmb melanglang buana di sepur 4. Tau2 ada semisal KRL Eko Lingkar Jakarta dr Jng yg singgah di Manggarai henda siap menuju Th. Abang. Bukannya nyampe sepur 4 secepatnya, malah si Eko Lingkar Jkt dah keburu berangkat ke Tn. Abang.
hehehe... bayangan inilah yang masih menghantui kita semua pastinya sgb komuter Jabodetabek. Nah... utk ngejangkau Tn. Abang mesti nunggu KRL Eko Lingkar Jkt selanjutnya semisal 20 menit lg. Sepintas cuma bentar nunggu, tp buat warga komuter macem Jabodetabek, telat 5 menit aja amat berarti buat hitungan waktu perjalanan. Mau gak mau yg dah terlanjur naik si Eko Boo semisal diterusin sampai Jkk diterusin aja semisal turunnya di Gondangdia deh... Resiko... yah naik ojek minimalnya.

Reply
#4
^^
selama ini naik kereta lewat MRI itu ga pernah nunggu lebih dari 10 menit kalo lagi ada KA jarak jauh masuk MRI
kalo bicara gangguan, semua moda transportasi pasti punya gangguan masing2..
bisa diliat pas lagi rush hour, semacet apa jalanan jakarta??
waktu yang dibutuhkan menunggu KRL itu masih lebih cepat daripada harus berdesak2an di jalan raya..
sebenarnya masalah ini kembali lagi ke pengaturan jadwal dari KCJ sebagai operator KRL lingkar serta ketersediaan KRL di dipo BUD..
serta dari para penumpang sendiri dalam memilih jadwal kereta..
Reply
#5
Mikir Dulu
SOARA ORANG TAMBOEN

Gujes Gujes Gujes....... 

Lok Merah Biru              
Reply
#6
Menurut saya, sangat perlu. Karena dengan adanya trayek KA lingkar Jakarta bisa menjadi modal awal utk menciptakan sistem transportasi massal yg terpadu. Dan ini diharapkan bisa menjadi solusi dalam mengatasi kemacetan yang kian parah di Jakarta.
Kereta mu, Kereta ku, Kereta kita semua..

[Image: iokl8h.jpg]
Reply
#7
Sangat perlu,KRL & KA jarak jauh bertambah, relnya segitu-gitu juga. KRL dari BOO kalau sampai MRI lumayan mengurangi kepadatan MRI-GMR-JAKK.Apalagi kalau pagi semua KA masuk JKT, mau KRL atau KA jarak jauh.cuma kapan bisa terwujud??Bingung

[Image: stasiunkeretaapibogor.jpg]
Reply
#8
Bukankah KRL-I Ciliwung sudah mirip KRL Lingkar Jakarta?

Begini saja, kalo persoalannya sekitar kesibukan di MRI, bagaimana kalo dibangun MRI 2, kira-kira 500 m ke selatan dari MRI yang sekarang, biar disitu jadi terminusnya KRL dan KRD dari arah BOO plus salah satu pemberhentian KRL Lingkar Jakarta, jadi tidak terganggu KA-KA jarak jauh yang dari GMR/JAKK/THB ke JNG atau sebaliknya. Apalagi dengan disimpannya rangkaian KA jarak jauh semisal ABA, Bima, dan Sembrani di MRI, dikhawatirkan ketika rangkaian masuk/keluar "kandang" mengganggu aktivitas "bongkar muat" KRL Lingkar jika melakukan pemberhentian di MRI yang sekarang...

Ini hanya sekedar pemikiran saya, yang bukan orang Jakarta, jadi kenyataan yang terjadi di MRI sehari-hari belum tentu sesuai dengan yang saya paparkan sekarang...
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#9
Integrasi antara stasiun2 dengan transportasi lainnya sangat penting. Salah satu kurang berkembangnya KRL lingkar karena ini. Akses dari dan menuju satasiun agak ribet, kecuali Stasiun Sudirman dan Karet.
Reply
#10
Sangat perlu,dan kalau bisa adakan juga KRL Thru service seperti di jepang
BOBOTOH PERSIB
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)