Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
kapan ya, indonesia mempunyai Standarisasi Taspat Rel dan kereta seperti Jepang...
#1
Tokyu 
menurut saya, indonesia sepertinya belum berani menaikan standarisasi kecepatan maksimum di trakc lurusss seperti jepang.
kecepatan lokomotif 120km/jam. di track lurus hanya 90-100 km/jam, coba di bikin maksimum 118km/jam, wahh...bakalan cepet tu perjalananNgiler.

sepertinya jalur KTS-MN-Slo-Yk-KTA-Kroya banyak track lurusnya, nahh...coba di beri taspat maksimum, wahhh pasti kedatangan KA Lok Merah Biru dapat di perpendekNgilerNgiler.

Bagaimana menurutmu kawan??Ada Ide..!
Reply
#2
(31-07-2011, 09:50 PM)rifan sempre Wrote: menurut saya, indonesia sepertinya belum berani menaikan standarisasi kecepatan maksimum di trakc lurusss seperti jepang.
kecepatan lokomotif 120km/jam. di track lurus hanya 90-100 km/jam, coba di bikin maksimum 118km/jam, wahh...bakalan cepet tu perjalananNgiler.

sepertinya jalur KTS-MN-Slo-Yk-KTA-Kroya banyak track lurusnya, nahh...coba di beri taspat maksimum, wahhh pasti kedatangan KA Lok Merah Biru dapat di perpendekNgilerNgiler.

Bagaimana menurutmu kawan??Ada Ide..!

Gak semudah itu menaikkan taspat, banyak faktor yg harus diperhatikan dalam menentukan taspat, antara lain:
1. Lebar rel (baca: gauge). Jika gauge yg dipake lebih kecil dari gauge standar, maka taspatnya tidak akan secepat jika menggunakan gauge standar, apalagi yg lebih besar. Ingat bahwa menentukan gauge didasari oleh kebutuhan angkutan & medan jalan yg dilalui. Karena rel d Indonesia ada yg harus melewati jalan berbukit2/bergunung2 dg tanjakan/turunan terjal & banyak belokan yg tajam serta kontur tanah yg cenderung labil, maka gauge yg dipake ya 1067mm, ini sudah dipertimbangkan oleh perusahaan kereta api Belanda SS sejak awal, mereka tidak mau mengikuti standar NIS yg 1435mm karena pertmbangan di atas.
2. Kontur tanah, cuaca & iklim setempat. Walaupun gauge yg dipake Jepang sama kayak Indonesia (kecuali Shinkansen), tapi karena kondisi tanah Indonesia yg lebih labil dibandingkan Jepang (karena tanah Indonesia terutama di dataran rendah Jawa kebanyakan berupa endapan lumpur yg terbawa oleh arus sungai hingga membentuk daratan), maka wajar kalo taspatnya lebih rendah dari Jepang sono, selain itu curah hujan yg tinggi & angin juga menyebabkan taspatnya lebih rendah.
3. Kondisi sarana perkeretaapian. Hal ini sangat berpengaruh terhadap taspat, mengingat lokomotif di Indonesia kalo digeber hingga >100 kph akan menyebabkan mesin cepat rusak, wajar karena Indonesia itu kan iklimnya tropis, suhunya lebih panas dibandingkan negara2 iklim subtropis, sedang/dingin, sehingga mesin yg terlalu digeber di suhu yg panas akan membuat mesin rusak. Selain itu, bogi yg dipake oleh kereta juga turut berpengaruh dalam menentukan taspat.
4. Masih banyak lagi yg harus diperhatikan dalam penentuan taspat.

Sekian komentar saya, tolong dimaafkan kalo ada salah/kurang/yg tersinggung, (kalo kurang tolong ditambahi) CMIIW.Bye Bye
Buah dari perjuangan adalah kebahagiaan
Semakin keras kita berjuang bagi hidup kita, semakin manis pula buahnya
Semakin santai perjuangan kita, semakin pahit pula buahnya


FLICKR Stephanie Anastasia stasiunkastephanie
Reply
#3
Wink 
(31-07-2011, 10:13 PM)stasiunkastephanie Wrote:
(31-07-2011, 09:50 PM)rifan sempre Wrote: menurut saya, indonesia sepertinya belum berani menaikan standarisasi kecepatan maksimum di trakc lurusss seperti jepang.
kecepatan lokomotif 120km/jam. di track lurus hanya 90-100 km/jam, coba di bikin maksimum 118km/jam, wahh...bakalan cepet tu perjalananNgiler.

sepertinya jalur KTS-MN-Slo-Yk-KTA-Kroya banyak track lurusnya, nahh...coba di beri taspat maksimum, wahhh pasti kedatangan KA dapat di perpendekNgilerNgiler.

Bagaimana menurutmu kawan??

Gak semudah itu menaikkan taspat, banyak faktor yg harus diperhatikan dalam menentukan taspat, antara lain:
1. Lebar rel (baca: gauge). Jika gauge yg dipake lebih kecil dari gauge standar, maka taspatnya tidak akan secepat jika menggunakan gauge standar, apalagi yg lebih besar. Ingat bahwa menentukan gauge didasari oleh kebutuhan angkutan & medan jalan yg dilalui. Karena rel d Indonesia ada yg harus melewati jalan berbukit2/bergunung2 dg tanjakan/turunan terjal & banyak belokan yg tajam serta kontur tanah yg cenderung labil, maka gauge yg dipake ya 1067mm, ini sudah dipertimbangkan oleh perusahaan kereta api Belanda SS sejak awal, mereka tidak mau mengikuti standar NIS yg 1435mm karena pertmbangan di atas.
2. Kontur tanah, cuaca & iklim setempat. Walaupun gauge yg dipake Jepang sama kayak Indonesia (kecuali Shinkansen), tapi karena kondisi tanah Indonesia yg lebih labil dibandingkan Jepang (karena tanah Indonesia terutama di dataran rendah Jawa kebanyakan berupa endapan lumpur yg terbawa oleh arus sungai hingga membentuk daratan), maka wajar kalo taspatnya lebih rendah dari Jepang sono, selain itu curah hujan yg tinggi & angin juga menyebabkan taspatnya lebih rendah.
3. Kondisi sarana perkeretaapian. Hal ini sangat berpengaruh terhadap taspat, mengingat lokomotif di Indonesia kalo digeber hingga >100 kph akan menyebabkan mesin cepat rusak, wajar karena Indonesia itu kan iklimnya tropis, suhunya lebih panas dibandingkan negara2 iklim subtropis, sedang/dingin, sehingga mesin yg terlalu digeber di suhu yg panas akan membuat mesin rusak. Selain itu, bogi yg dipake oleh kereta juga turut berpengaruh dalam menentukan taspat.
4. Masih banyak lagi yg harus diperhatikan dalam penentuan taspat.

Sekian komentar saya, tolong dimaafkan kalo ada salah/kurang/yg tersinggung, (kalo kurang tolong ditambahi) CMIIW.Bye Bye
terimakasih infonya....Xie Xie

untuk di ttrak berkelok2 sudah pasti taspat turun.
iya jga ya...klo lokonya di paksain ntar cepet ngos-ngosan jga..

saran saya, sebaiknya pada track yang lurus....diganti rell type 60 dan di beri taspat maximum 100km/jam minimum 75km/jam.( mengingat banyak track lurus taspat masih 40-65).Sakit
Reply
#4
(31-07-2011, 11:14 PM)rifan sempre Wrote:
(31-07-2011, 10:13 PM)stasiunkastephanie Wrote:
(31-07-2011, 09:50 PM)rifan sempre Wrote: menurut saya, indonesia sepertinya belum berani menaikan standarisasi kecepatan maksimum di trakc lurusss seperti jepang.
kecepatan lokomotif 120km/jam. di track lurus hanya 90-100 km/jam, coba di bikin maksimum 118km/jam, wahh...bakalan cepet tu perjalananNgiler.

sepertinya jalur KTS-MN-Slo-Yk-KTA-Kroya banyak track lurusnya, nahh...coba di beri taspat maksimum, wahhh pasti kedatangan KA dapat di perpendekNgilerNgiler.

Bagaimana menurutmu kawan??

Gak semudah itu menaikkan taspat, banyak faktor yg harus diperhatikan dalam menentukan taspat, antara lain:
1. Lebar rel (baca: gauge). Jika gauge yg dipake lebih kecil dari gauge standar, maka taspatnya tidak akan secepat jika menggunakan gauge standar, apalagi yg lebih besar. Ingat bahwa menentukan gauge didasari oleh kebutuhan angkutan & medan jalan yg dilalui. Karena rel d Indonesia ada yg harus melewati jalan berbukit2/bergunung2 dg tanjakan/turunan terjal & banyak belokan yg tajam serta kontur tanah yg cenderung labil, maka gauge yg dipake ya 1067mm, ini sudah dipertimbangkan oleh perusahaan kereta api Belanda SS sejak awal, mereka tidak mau mengikuti standar NIS yg 1435mm karena pertmbangan di atas.
2. Kontur tanah, cuaca & iklim setempat. Walaupun gauge yg dipake Jepang sama kayak Indonesia (kecuali Shinkansen), tapi karena kondisi tanah Indonesia yg lebih labil dibandingkan Jepang (karena tanah Indonesia terutama di dataran rendah Jawa kebanyakan berupa endapan lumpur yg terbawa oleh arus sungai hingga membentuk daratan), maka wajar kalo taspatnya lebih rendah dari Jepang sono, selain itu curah hujan yg tinggi & angin juga menyebabkan taspatnya lebih rendah.
3. Kondisi sarana perkeretaapian. Hal ini sangat berpengaruh terhadap taspat, mengingat lokomotif di Indonesia kalo digeber hingga >100 kph akan menyebabkan mesin cepat rusak, wajar karena Indonesia itu kan iklimnya tropis, suhunya lebih panas dibandingkan negara2 iklim subtropis, sedang/dingin, sehingga mesin yg terlalu digeber di suhu yg panas akan membuat mesin rusak. Selain itu, bogi yg dipake oleh kereta juga turut berpengaruh dalam menentukan taspat.
4. Masih banyak lagi yg harus diperhatikan dalam penentuan taspat.

Sekian komentar saya, tolong dimaafkan kalo ada salah/kurang/yg tersinggung, (kalo kurang tolong ditambahi) CMIIW.Bye Bye
terimakasih infonya....Xie Xie

untuk di ttrak berkelok2 sudah pasti taspat turun.
iya jga ya...klo lokonya di paksain ntar cepet ngos-ngosan jga..

saran saya, sebaiknya pada track yang lurus....diganti rell type 60 dan di beri taspat maximum 100km/jam minimum 75km/jam.( mengingat banyak track lurus taspat masih 40-65).Sakit

Liat dolo fungsinya, bro. Di Jawa, R54 sudah cukup karena kereta yg lewat kebanyakan buat angkutan penumpang, lah kalo pake R60 apa gak bakal mubazir? R60 dipake kalo lebih banyak angkutan barang2 berat, seperti di divre III Sumsel/Lampung.

Kata siapa taspat rel lurus cuman 40-65 kph doang? Mungkin Anda jarang2 hunting di stasiun kecil ataupun naik kereta ekspres. Kenyataannya, taspat di trek lurus malah diatas 70, bro, rata2 80-90 kph, malahan sebelum kebijakan pengurangan taspat di trek lurus, di beberapa tempat, seperti SBI-SMT/SLO-YK-KTA, pernah sampe >100 kph, tapi semenjak PLH Cireks di Telagasari taun lalu, sekarang di trek lurus gak boleh lebih dari 100 kph. Kalo mau taspat maksimum, ya selesaikan proyek DT se-Jawa, baru bisa mpe 100 kph.
Buah dari perjuangan adalah kebahagiaan
Semakin keras kita berjuang bagi hidup kita, semakin manis pula buahnya
Semakin santai perjuangan kita, semakin pahit pula buahnya


FLICKR Stephanie Anastasia stasiunkastephanie
Reply
#5
Tenang bro..
Skrang mau taspatnya berapapun, semua tergantung masinis.
Masinis sudah tahu sbenarnya harus berapa kecepatan yang dilalui di suatu jalur..
Kmrin waktu naek Argo Anggrek coba iseng2 ukur kecepatan sekalian observasi..
Surabaya - Semarang 90-95 km /jam dan rata2 sekitar 90-an km /jam aja...
Kecepatan maksimumnya adalah 112 km/jam di petak Jatibarang - Haurgeulis - Cikampek..
Kondisi track super lurus dengan lengkung minim namun bergemuruh..
Kereta dalam kondisi telat sehingga sampai di Gambir jam 19.00 dari jadwal 17.54..
Sehingga kebanyakan masinis Cirebon anyak gas pool di petak ini
Reply
#6
(01-08-2011, 07:58 AM)stasiunkastephanie Wrote:
(31-07-2011, 11:14 PM)rifan sempre Wrote:
(31-07-2011, 10:13 PM)stasiunkastephanie Wrote:
(31-07-2011, 09:50 PM)rifan sempre Wrote: menurut saya, indonesia sepertinya belum berani menaikan standarisasi kecepatan maksimum di trakc lurusss seperti jepang.
kecepatan lokomotif 120km/jam. di track lurus hanya 90-100 km/jam, coba di bikin maksimum 118km/jam, wahh...bakalan cepet tu perjalananNgiler.

sepertinya jalur KTS-MN-Slo-Yk-KTA-Kroya banyak track lurusnya, nahh...coba di beri taspat maksimum, wahhh pasti kedatangan KA dapat di perpendek

Bagaimana menurutmu kawan??

Gak semudah itu menaikkan taspat, banyak faktor yg harus diperhatikan dalam menentukan taspat, antara lain:
1. Lebar rel (baca: gauge). Jika gauge yg dipake lebih kecil dari gauge standar, maka taspatnya tidak akan secepat jika menggunakan gauge standar, apalagi yg lebih besar. Ingat bahwa menentukan gauge didasari oleh kebutuhan angkutan & medan jalan yg dilalui. Karena rel d Indonesia ada yg harus melewati jalan berbukit2/bergunung2 dg tanjakan/turunan terjal & banyak belokan yg tajam serta kontur tanah yg cenderung labil, maka gauge yg dipake ya 1067mm, ini sudah dipertimbangkan oleh perusahaan kereta api Belanda SS sejak awal, mereka tidak mau mengikuti standar NIS yg 1435mm karena pertmbangan di atas.
2. Kontur tanah, cuaca & iklim setempat. Walaupun gauge yg dipake Jepang sama kayak Indonesia (kecuali Shinkansen), tapi karena kondisi tanah Indonesia yg lebih labil dibandingkan Jepang (karena tanah Indonesia terutama di dataran rendah Jawa kebanyakan berupa endapan lumpur yg terbawa oleh arus sungai hingga membentuk daratan), maka wajar kalo taspatnya lebih rendah dari Jepang sono, selain itu curah hujan yg tinggi & angin juga menyebabkan taspatnya lebih rendah.
3. Kondisi sarana perkeretaapian. Hal ini sangat berpengaruh terhadap taspat, mengingat lokomotif di Indonesia kalo digeber hingga >100 kph akan menyebabkan mesin cepat rusak, wajar karena Indonesia itu kan iklimnya tropis, suhunya lebih panas dibandingkan negara2 iklim subtropis, sedang/dingin, sehingga mesin yg terlalu digeber di suhu yg panas akan membuat mesin rusak. Selain itu, bogi yg dipake oleh kereta juga turut berpengaruh dalam menentukan taspat.
4. Masih banyak lagi yg harus diperhatikan dalam penentuan taspat.

Sekian komentar saya, tolong dimaafkan kalo ada salah/kurang/yg tersinggung, (kalo kurang tolong ditambahi) CMIIW.
terimakasih infonya....Xie Xie

untuk di ttrak berkelok2 sudah pasti taspat turun.
iya jga ya...klo lokonya di paksain ntar cepet ngos-ngosan jga..

saran saya, sebaiknya pada track yang lurus....diganti rell type 60 dan di beri taspat maximum 100km/jam minimum 75km/jam.( mengingat banyak track lurus taspat masih 40-65).Sakit

Liat dolo fungsinya, bro. Di Jawa, R54 sudah cukup karena kereta yg lewat kebanyakan buat angkutan penumpang, lah kalo pake R60 apa gak bakal mubazir? R60 dipake kalo lebih banyak angkutan barang2 berat, seperti di divre III Sumsel/Lampung.

Kata siapa taspat rel lurus cuman 40-65 kph doang? Mungkin Anda jarang2 hunting di stasiun kecil ataupun naik kereta ekspres. Kenyataannya, taspat di trek lurus malah diatas 70, bro, rata2 80-90 kph, malahan sebelum kebijakan pengurangan taspat di trek lurus, di beberapa tempat, seperti SBI-SMT/SLO-YK-KTA, pernah sampe >100 kph, tapi semenjak PLH Cireks di Telagasari taun lalu, sekarang di trek lurus gak boleh lebih dari 100 kph. Kalo mau taspat maksimum, ya selesaikan proyek DT se-Jawa, baru bisa mpe 100 kph.

Lempar Loko ettsssss klo naik KA sering ya... namanya juga Railfans...., klo hunting jarang, soalnya ane lebih seneng menikmati ke PElayannan KA......Grin Grin
klo jalur madiun - jakata pasti....
buat jalur malang-kertosono. malang-sgu. track lurus taspat 45-60.

okayy..thanks infonyaXie Xie
[Image: overstappen.png]
(01-08-2011, 12:57 PM)JaY Wrote: Tenang bro..
Skrang mau taspatnya berapapun, semua tergantung masinis.
Masinis sudah tahu sbenarnya harus berapa kecepatan yang dilalui di suatu jalur..
Kmrin waktu naek Argo Anggrek coba iseng2 ukur kecepatan sekalian observasi..
Surabaya - Semarang 90-95 km /jam dan rata2 sekitar 90-an km /jam aja...
Kecepatan maksimumnya adalah 112 km/jam di petak Jatibarang - Haurgeulis - Cikampek..
Kondisi track super lurus dengan lengkung minim namun bergemuruh..
Kereta dalam kondisi telat sehingga sampai di Gambir jam 19.00 dari jadwal 17.54..
Sehingga kebanyakan masinis Cirebon anyak gas pool di petak ini

salut buat jalurr utara + Masinisnya dahh..Top Banget
kira2 kapan yak...jalur kantong kertosono-Kd-TA-BL-ML-BG-Sgu kayak jalur utra??NgilerNgiler
Reply
#7
~edited by stasiunkastephanie~

(01-08-2011, 12:57 PM)JaY Wrote: Tenang bro..
Skrang mau taspatnya berapapun, semua tergantung masinis.
Masinis sudah tahu sbenarnya harus berapa kecepatan yang dilalui di suatu jalur..
Kmrin waktu naek Argo Anggrek coba iseng2 ukur kecepatan sekalian observasi..
Surabaya - Semarang 90-95 km /jam dan rata2 sekitar 90-an km /jam aja...
Kecepatan maksimumnya adalah 112 km/jam di petak Jatibarang - Haurgeulis - Cikampek..
Kondisi track super lurus dengan lengkung minim namun bergemuruh..
Kereta dalam kondisi telat sehingga sampai di Gambir jam 19.00 dari jadwal 17.54..
Sehingga kebanyakan masinis Cirebon anyak gas pool di petak ini

salut buat jalurr utara + Masinisnya dahh..Top Banget
kira2 kapan yak...jalur kantong kertosono-Kd-TA-BL-ML-BG-Sgu kayak jalur utra??NgilerNgiler

[/quote]

Susah bro kalo KTS-BL-ML-BG dinaikin taspatnya, ada beberapa pertimbangan kenapa taspat KTS-BG tidak dinaikin, yaitu:
1. Untuk lintas KTS-BL emang lintasnya cukup datar, tapi karena sebagian tanah itu merupakan tanah urukan kali Brantas, maka kondisi tanah di beberapa tempat cukup labil, selain itu rel yg belum dikonversi ke R54 juga menyebabkan taspat di sana rendah. Emang, kalo relnya bisa diupgrade, tapi itu cuman membuat kenaikan taspat menjadi 60-70 kph aja, gak bisa lebih dari itu karena kondisi tanahnya sendiri.
2. Lintas BL-ML-BG ini yg agak/malah mustahil untuk menaikkan taspat di atas 50-60 kph, mengingat trek BL-ML-BG itu kan banyak kelokan & tanjakan/turunan (mengingat trek BL-ML-BG itu kan melewati perbukitan/pegunungan, seperti BD-TSM-BJR/BD-PWK), lah kalo dipaksa naik di atas 55 aja bakal sering anjlok tuh kereta, dg taspat yg sekarang aja kadang lintas ini ada aja KA yg anjlok, apalagi dinaikin, bakal tiap minggu ada anjlokan KA di lintas ini.
3. Selain faktor di atas, faktor lainnya yaitu jalur yg masih ST (baca: 1 jalur) & jalur ini dikuasai KA Lokalan seperti Penataran/Rapih Dhoho yg menyebabkan masinis lebih berhati2 agar tidak terjadi PLH backside/head-to-head.

Itulah sedikit komen dari saya, moga2 berkenan, CMIIW.Bye Bye
Buah dari perjuangan adalah kebahagiaan
Semakin keras kita berjuang bagi hidup kita, semakin manis pula buahnya
Semakin santai perjuangan kita, semakin pahit pula buahnya


FLICKR Stephanie Anastasia stasiunkastephanie
Reply
#8
Lightbulb 
(01-08-2011, 06:32 PM)stasiunkastephanie Wrote: ~edited by stasiunkastephanie~

(01-08-2011, 12:57 PM)JaY Wrote: Tenang bro..
Skrang mau taspatnya berapapun, semua tergantung masinis.
Masinis sudah tahu sbenarnya harus berapa kecepatan yang dilalui di suatu jalur..
Kmrin waktu naek Argo Anggrek coba iseng2 ukur kecepatan sekalian observasi..
Surabaya - Semarang 90-95 km /jam dan rata2 sekitar 90-an km /jam aja...
Kecepatan maksimumnya adalah 112 km/jam di petak Jatibarang - Haurgeulis - Cikampek..
Kondisi track super lurus dengan lengkung minim namun bergemuruh..
Kereta dalam kondisi telat sehingga sampai di Gambir jam 19.00 dari jadwal 17.54..
Sehingga kebanyakan masinis Cirebon anyak gas pool di petak ini

salut buat jalurr utara + Masinisnya dahh..Top Banget
kira2 kapan yak...jalur kantong kertosono-Kd-TA-BL-ML-BG-Sgu kayak jalur utra??NgilerNgiler

Susah bro kalo KTS-BL-ML-BG dinaikin taspatnya, ada beberapa pertimbangan kenapa taspat KTS-BG tidak dinaikin, yaitu:
1. Untuk lintas KTS-BL emang lintasnya cukup datar, tapi karena sebagian tanah itu merupakan tanah urukan kali Brantas, maka kondisi tanah di beberapa tempat cukup labil, selain itu rel yg belum dikonversi ke R54 juga menyebabkan taspat di sana rendah. Emang, kalo relnya bisa diupgrade, tapi itu cuman membuat kenaikan taspat menjadi 60-70 kph aja, gak bisa lebih dari itu karena kondisi tanahnya sendiri.
2. Lintas BL-ML-BG ini yg agak/malah mustahil untuk menaikkan taspat di atas 50-60 kph, mengingat trek BL-ML-BG itu kan banyak kelokan & tanjakan/turunan (mengingat trek BL-ML-BG itu kan melewati perbukitan/pegunungan, seperti BD-TSM-BJR/BD-PWK), lah kalo dipaksa naik di atas 55 aja bakal sering anjlok tuh kereta, dg taspat yg sekarang aja kadang lintas ini ada aja KA yg anjlok, apalagi dinaikin, bakal tiap minggu ada anjlokan KA di lintas ini.
3. Selain faktor di atas, faktor lainnya yaitu jalur yg masih ST (baca: 1 jalur) & jalur ini dikuasai KA Lokalan seperti Penataran/Rapih Dhoho yg menyebabkan masinis lebih berhati2 agar tidak terjadi PLH backside/head-to-head.

Itulah sedikit komen dari saya, moga2 berkenan, CMIIW.

[/quote]

untuk jalur ML-BG memang trun kalau dari lawang-bangil dan naik arah sebaliknya.

BG-ML tanjakan tapi lurus, BD-TSM-BJR berkelok - kelok dan naik turun.
jalan berkelok2 (BD-TSM-BJR) kecepatan max 40-50km/jam, lha klo jalan lurus trus turun/naik taspatnya maksimal brapa ya bang???Bingung
Reply
#9
Jalur Malang - Bangil mempunyai taspat 80km/jam dan Bangil - Surabaya mempunyai taspat 90 km/jam..
Sehingga Kereta Jatayu waktu itu benar2 primadona...
Namun karena kondisi lintasan yang waktu itu masih bantalan kayu dengan R42 tiba2 dilindas sama loko sekelas cc203, jadi acak jadul dech..
Untuk sekarang ini ngga lebih dari 60 km/jam..
Menurut saya bukan karena faktor geografis, mengapa, karena di tahun 1995 aja taspat udah segitu kencengnya, pastinya sudah dilakukan pengukuran yang benar.. Mungkin adalah faktor penggantian bantalan kayu ke beton sepanjang Malang - Bangil.
Bagi kalian yang sering ke Stasiun Malang, sekarang jalur 4,5,6,7,8,9 kan sudah bantalan beton serta R42 kecuali weselnya, coba lihat pemasangan betonnya, aduh, bisa bikin rel patah karena benar2 ngga simetris...
Reply
#10
Lightbulb 
(02-08-2011, 09:32 PM)JaY Wrote: Jalur Malang - Bangil mempunyai taspat 80km/jam dan Bangil - Surabaya mempunyai taspat 90 km/jam..
Sehingga Kereta Jatayu waktu itu benar2 primadona...
Namun karena kondisi lintasan yang waktu itu masih bantalan kayu dengan R42 tiba2 dilindas sama loko sekelas cc203, jadi acak jadul dech..
Untuk sekarang ini ngga lebih dari 60 km/jam..
Menurut saya bukan karena faktor geografis, mengapa, karena di tahun 1995 aja taspat udah segitu kencengnya, pastinya sudah dilakukan pengukuran yang benar.. Mungkin adalah faktor penggantian bantalan kayu ke beton sepanjang Malang - Bangil.
Bagi kalian yang sering ke Stasiun Malang, sekarang jalur 4,5,6,7,8,9 kan sudah bantalan beton serta R42 kecuali weselnya, coba lihat pemasangan betonnya, aduh, bisa bikin rel patah karena benar2 ngga simetris...
Bukannya dulu JATAYU memakai cc203/201 dan bisa kecepatan tinggi.
lah...skarangkan semua jga memakai loco cc untuk KA penataran, Tapi knapa taspatnya tetep gag bisa kayak dlu??

Semisal jaman JATAYU memakai bantalan kayu bisa mencapai taspat segitu dari pada beton , mending bantalannya ga perlu di ganti.beton..., Betul gag??Bingung

saya sering bertanya kepada pegawai KAI Tentang waktu tempuh KA penataran, knapa tidak seperti dlu yang hanya membutuhkan waktu 1,5 jam Dan alasannyaaaaaa "KARENA ada PORONG Lumpur lapindo"
Lah... gag masuk akal banget.......Paling lumpur lapindo yang kena Tanggulangin ma porong doang., lahhh....petak yang lain kann bisa di geber tu taspatnya....., Anehhh...Bethe
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)