Posts: 460
Threads: 0
Joined: Sep 2011
Reputation:
11
kenapa ya di Ind belum masuk lok dengan TM-AC. Padahal TM-AC mempunyai keuntungan daya tarik dengan berat lok sama, lebih besar dari TM- Dc.
Coba saya jelaskan.
Daya TE yang bisa dicapai kira2 25% dari berat lok (jika semua gandar di power).
Di TM-DC TE dan putaran TM tergantung dari Tegangan yang di apply oleh Alternator dan ini tergantung dari putaran mesin Diesel. Jadi semua TM tidak bisa lain, dikasih tegangan yang sama. Jika salah satu gandar selip dan yang lain tidak, masinis tetap musti mengurangin power mesin diesel. Kalau tidak TM yang selip akan rusak krn rpm akan naik out of control. Karena itu lok dengan TM-DC hanya bisa beroperatie dengan TE sekitar 20-25% berat lok.
Sekarang TM-AC. TE tergantung tegangan yang di apply juga tetapi rpm tergantung frekwentie arus bolak balik. Jadi kalau selip rpm tidak naik out of control dan tidak rusak. Karena itu TE lok bisa mendekati 30% berat loko.
Keuntungan lain TM- AC, tidak pakai commutator yang sering rusak ato habis.
Posts: 74
Threads: 0
Joined: Oct 2011
Reputation:
1
Alhamdulilah dapet Pertamax
Kalo yg saya tahu kelebihannya TM-AC ada di perawatannya, yaitu tidak memerlukan sikat arang yg biasa digunakan di TM-DC spt CC 201, CC 203 CMIIW
belum ke Cirebon kalau belum naik KA ARGO JATI
Posts: 219
Threads: 0
Joined: May 2011
Reputation:
6
kupikir CC 205 TM sudah AC?
Posts: 74
Threads: 0
Joined: Oct 2011
Reputation:
1
(30-04-2012, 08:37 AM)mdnboy Wrote: kupikir CC 205 TM sudah AC?
CC 205 udah pake AC-AC mas ...
belum ke Cirebon kalau belum naik KA ARGO JATI
Posts: 132
Threads: 0
Joined: Apr 2012
Reputation:
11
Kecepatan putaran TM AC (motor induksi) dapat dikendalikan dengan presisi. Pada motor induksi, kecepatan putaran rotornya tidak akan melebihi kecepatan putar medan stator. Jadi jika terjadi slip pada roda, putaran motor induksi hanya naik 1-5% dari putaran normal. Berbeda dengan TM DC dimana secara efektif putarannya tidak dapat dikendalikan karena tergantung pada beban motor. Semakin tinggi beban, semakin lambat putarannya. Masalahnya jika terjadi slip. Saat slip beban pada motor berkurang, putaran motor bertambah, slip tambah besar, karena slip tambah besar maka beban tambah turun, putaran naik lagi. Kalau tidak segera ditangani, motor bisa runaway sampai "mrotoli".
Itulah mengapa loko yg pake' TM AC memiliki adhesi yg lebih besar dari TM DC, karena kecepatannya dapat diatur sedemikian hingga sangat dekat dengan batas slip tanpa resiko runaway slip.
Pada TM AC, arus listrik hanya melewati kumparan medan, dan kumparannya langsung "hard wired" tanpa brush. Sedangkan pada TM DC, arus listrik harus lewat kumparan medan, brush, kumparan rotor dan brush lagi. Karena itu resistansi parasitik pada TM AC lebih rendah dari TM DC. Resistansi ini berpengaruh pada panas yg dihasilkan. TM AC dapat dialiri arus penuh tanpa overheat, sedangkan TM DC hanya dapat dialiri arus penuh dengan batas beberapa menit saja sebelum overheat. Karena arus menentukan torsi motor (dan traksi loko), itulah mengapa TM AC memiliki traksi yg relatif lebih besar dari TM DC pada kecepatan rendah.
TM DC pakai brush dan cincin komutator, sdgkan TM AC nggak. Ini termasuk keunggulan terbesar. Brush yg dari grafit itu termasuk barang konsumsi (menang didesain cepat aus) karena grafit juga dijadikan sebagai pelumas. Debu dari grafit yg aus juga bersifat konduktif, jadi biar gak konslet, TM harus dibersihkan scr periodik. Kontak komutator juga menimbulkan masalah karena arus putus-sambung dengan cepat dan langsung dihubungkan dengan kumparan yg bersifat induktif, hal tsb menyebabkan terjadinya arcing (lucutan bunga api) yg semakin nambah keausan.
Kenapa TM DC masih dipakai?
Harga TM AC memang kemungkinan lebih murah dari TM DC. Tapi tidak demikian dengan power electronic-nya. Pada lok TM DC, arus AC dari alternator disearahkan, kemudian masuk switchgear, lalu langsung ke TM, jadi alurnya AC-DC langsung. Sementara pada lok TM AC, arus AC dari alternator disearahkan, masuk filter, masuk inverter, masuk filter lagi, baru masuk TM, jadi alurnya AC-DC-AC. Inverter ini lumayan mahal, apalagi yg didesain untuk loko yg notabene pendinginan, perawatan & kualitas udaranya suboptimal, belum getaran yg super hebat. Saat ini harga lok AC sekitar 50% lebih mahal dari lok DC. Lumayan lah, duit buat beli 2 lok AC bisa buat beli 3 lok DC.
Keunggulan TM AC di bidang adhesi dan traksi hanya terasa pada kecepatan rendah dan/atau beban besar, dimana performa kereta lebih dibatasi oleh traksi, untuk kecepatan tinggi dan/atau beban kecil (biasanya >20 km/h), keunggulan tsb tidak ada artinya krn performa kereta lebih dibatasi oleh daya (HP). Udah betul tuh, GT38AC cuma dipakai drag freight di Sumatera.
MENEROBOS PERLINTASAN
DAPAT DIJATUHI
HUKUMAN MATI DI TEMPAT
Posts: 1,780
Threads: 0
Joined: Nov 2008
Reputation:
5
(30-04-2012, 09:50 AM)ArdWar Wrote: Kenapa TM DC masih dipakai?
Harga TM AC memang kemungkinan lebih murah dari TM DC. Tapi tidak demikian dengan power electronic-nya. Pada lok TM DC, arus AC dari alternator disearahkan, kemudian masuk switchgear, lalu langsung ke TM, jadi alurnya AC-DC langsung. Sementara pada lok TM AC, arus AC dari alternator disearahkan, masuk filter, masuk inverter, masuk filter lagi, baru masuk TM, jadi alurnya AC-DC-AC. Inverter ini lumayan mahal, apalagi yg didesain untuk loko yg notabene pendinginan, perawatan & kualitas udaranya suboptimal, belum getaran yg super hebat. Saat ini harga lok AC sekitar 50% lebih mahal dari lok DC. Lumayan lah, duit buat beli 2 lok AC bisa buat beli 3 lok DC.
Bukannya TM AC kalo menggunakan arus AC tinggal nyambung ajah, kenapa musti de searahkan dulu jadi DC kemudian masuk inverter jadi AC lagi?
Jadi bingung... Maklum masih awam......
Pengin naik kereta ke Pangandaran lagi
Jalur hidup bisa mati, tapi jalur yang mati lebih baik dihidupkan lagi
Posts: 132
Threads: 0
Joined: Apr 2012
Reputation:
11
Kecepatan putar TM AC itu bergantung pada frekuensi arus AC-nya. Karena kecepatan optimal kereta bergantung pada beban tarik, jadi frekuensi harus dimodulasi secara real-time sesuai kondisi beban dan medan. Jadi utk mengubah-ubah frekuensinya yg paling efektif ya pake inverter yg dikendalikan mikroprosesor, jadi serba otomatis. Selain itu pemakaian inverter juga memungkinkan adanya fitur wheelslip control.
Kalau langsung alternator-motor, kecepatan putar TM di-fix oleh kecepatan putar mesin diesel. Nggak lucu kan kalau throttle diubah2 scr manual cuma buat ngubah kecepatan, apalagi mesin 7FDL yg loadingnya lama bgt.
MENEROBOS PERLINTASAN
DAPAT DIJATUHI
HUKUMAN MATI DI TEMPAT
Posts: 1,780
Threads: 0
Joined: Nov 2008
Reputation:
5
(30-04-2012, 10:52 AM)ArdWar Wrote: Kecepatan putar TM AC itu bergantung pada frekuensi arus AC-nya. Karena kecepatan optimal kereta bergantung pada beban tarik, jadi frekuensi harus dimodulasi secara real-time sesuai kondisi beban dan medan. Jadi utk mengubah-ubah frekuensinya yg paling efektif ya pake inverter yg dikendalikan mikroprosesor, jadi serba otomatis. Selain itu pemakaian inverter juga memungkinkan adanya fitur wheelslip control.
Kalau langsung alternator-motor, kecepatan putar TM di-fix oleh kecepatan putar mesin diesel. Nggak lucu kan kalau throttle diubah2 scr manual cuma buat ngubah kecepatan, apalagi mesin 7FDL yg loadingnya lama bgt.
Oooo gitu toh... makasih... 
kirain bisa dipake gear ratio untuk mengatur kecepatannya...
Pengin naik kereta ke Pangandaran lagi
Jalur hidup bisa mati, tapi jalur yang mati lebih baik dihidupkan lagi
Posts: 460
Threads: 0
Joined: Sep 2011
Reputation:
11
hah lok ac 50% lebih mahal karena elektronik? Mustahil.
Elektronik tidak lain cuman beberapa transistor ato thyristor di switch dari computer. TM nya yang ac malah lebih murah jadinya harga lok malah musti lebih murah. Tanpa kecuali di Europa, tram kota, metro semua TM AC.
@ pak Ardwar, apa yang musti di filter? Gak ada. Coba lihat smps power supply.
Posts: 132
Threads: 0
Joined: Apr 2012
Reputation:
11
Ni orang pasti blum pernah berurusan dgn power electronic. Ngendalikan arus segitu gede, apalagi ke beban induktif itu sulit. Belum lagi IGBT-nya, emang kayak transistor power yang cuma sepuluh ribuan? Nggak lah, puluhan juta iya. Analoginya harga inverter rumahan yg 3,5 kW sekitar USD 500, kalau 3,5 MW berarti USD 500 ribu (bagian mana yang murah? mahal iya).
SMPS tanpa filter & snubber? Bagus tuh kalau IGBT-nya bisa tahan.
NB: Kenyataannya emang lok AC jauh lebih mahal dari lok DC. Kalau gak percaya, coba search harga ES44AC vs. ES44DC, atau SD70ACe vs. SD70M-2. Atau coba search AC vs. DC traction, hampir semua komplain masalah harga.
Kalo gak salah ES44AC harganya USD 2,3 juta. Sementara ES44DC cuma USD 1,5 juta.
MENEROBOS PERLINTASAN
DAPAT DIJATUHI
HUKUMAN MATI DI TEMPAT
|